PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 28


__ADS_3

Mata Luna melebar, jantungnya berdegup kencang mendengar jawaban dari atas pertanyaannya, suara yang tidak asing di telinganya. Tapi tak pantas membuatnya mengalihkan pandangannya ke langit.


"Alam semesta menjawab? Benarkah ini?"


"Terlalu bodoh!"


Sekali lagi suara itu membuat dua bola mata Luna memutar. Apakah ini hanya halusinasi atau salah dengar, pertanyaan dalam benak Luna.


"Luna!"


Deg!


Panggilan lembut serta cengkraman lembut di ke-dua pundaknya membuat Luna membeku, matanya masih melebar tanpa berkedip untuk beberapa detik.


Karena tak tahan lagi, Luna berusaha membalikkan tubuhnya dan saat itu juga jantungnya seakan berhenti berdetak. Mendapati sosok yang ingin dia kubur dalam-dalam.


"Ka-kau!" gumam Luna dengan lidah keluh tak percaya.


Luna memundurkan langkahnya hingga cengkraman itu terlepas sembari menggelengkan kepala berkali-kali, mencerahkan kembali pikiran dan pengelihatan jika semua ini adalah halusinasi saja.


"Kau sengaja hadir dalam halusinasi ku untuk menertawakan berapa malangnya nasibku? Apa dua tahun ini penderitaan ku belum cukup? Semua kau renggut, termasuk anak anak tak berdosa itu! Pergi! Pergi dari kehidupan ku, kita tak punya ikatan apapun lagi!" Luna berteriak histeris sembari menggelengkan kepala.


Tubuh kokoh itu kembali mengulurkan tangan, mendekap ke-dua bahu Luna. Pada saat itu juga Luna tersadar dengan apa yang terjadi, ini adalah nyata, bukan sebuah halusinasi


"Kau, kau! Bagaimana bisa ada di sini?" Luna menutup mulutnya tak percaya, berusaha terlepas dari sentuhan tangan itu.


Pria itu tetap diam tanpa mengalihkan tatapan sendu kepada Luna dengan penampilan kacau. Mata yang sembab, sisa air mata masih terlihat jelas.


"Kau lupa siapa aku?"


"Scoot!"


Tatapan mereka saling beradu cukup lama hingga Luna tersadar dan bergegas berlari ingin masuk ke dalam rumah, tetapi itu langsung dihentikan oleh Scoot, dengan cara menarik tangannya.


"Lepas, aku mohon pergi dari sini! Bahkan dari hidupku!" Luna berteriak dan memohon agar pria yang menjadi masa lalunya itu pergi jauh-jauh.


"Aku ingin berbicara!"

__ADS_1


"Bicara apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas? Apa salahku?" teriakan ini lebih keras lagi hingga membuat tetangga keluar dari dalam rumah.


"Apa yang kalian lakukan? Suara kalian membangunkan bayi kami. Ini bukan hutan, seenaknya berteriak di malam hari. Bayi kami baru saja mau tidur tetapi karena suara Anda membuatnya kembali menangis." Seorang pria berkata tegas, dari raut wajahnya sangat marah.


"Maaf Kak," ucap Luna karena merasa bersalah, mereka baru saja menempati rumah ini tetapi sudah membuat masalah.


"Tolong ya Nona, jika ingin bertengkar jangan di sini. Anda bukan hidup sendiri, kiri kanan ada tetangga yang perlu ketenangan."


"Kami minta maaf. Istri ku lagi ngambek karena malam ini aku tidak dapat melayaninya, jadinya dia memaksakan!" seketika mata Luna membulat dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang dikatakan pria yang tengah memaksa merengkuh pinggangnya.


"Seharusnya Anda beruntung memiliki seorang istri yang terbuka dan tidak munafik. Beda sekali dengan istri saya, jika bukan saya yang berinisiatif terlebih dahulu." Pria yang dapat ditafsirkan berkepala tiga itu malah curhat, hal itu membuat Luna maupun Scoot saling memandang.


"Kak, ini tak seper—"


"Sayang, baiklah aku akan memenuhi keinginan mu. Tolong jangan ngambek lagi ya?" Scoot mengusap lembut wajah Luna.


Luna membeku, jantungnya meletup-letup merasakan belaian lembut yang tak pernah ia rasakan selama ini.


"Tolong hargai orang lain." Usai mengatakan hal yang menganggu, pria itu segera masuk tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak, sudah ma—"


Suara Mike dari ambang pintu membuat ke-duanya sadar dengan apa yang tengah terjadi. Dengan spontan Luna menjauh, masih dengan tatapan tak percaya.


"Kak Scoot!" Mike sontak kaget, mendapati sosok Kakak iparnya ada di depan hunian mereka.


"Pergi sekarang!" usir Luna sembari menunjukkan arah jalan meninggalkan halaman rumah.


"Aku ingin bicara, izinkan aku untuk masuk!" bukannya mendengar, pria itu malah menawarkan permintaan yang tentunya membuat Luna semakin kesal, tetapi beda dalam hati.


Luna tersenyum getir, mendengar permintaan suaminya itu. Benarkah pria kaya raya itu sudi memasuki hunian tak layak yang kini di depan matanya.


"Tidak salah? Ini bukan tempat orang kaya seperti Anda! Silahkan pergi!" Luna kembali mengingatkan.


"Kakak, turunkan nada suara Kakak, nanti menganggu ketenangan para tetangga." Mike berjalan sembari menenangkan Luna agar kemarahan yang saat ini meluap dapat di kondisikan.


Tanpa ingin membuang waktu lagi, Luna menarik tangan Mike, membawanya masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan keberadaan Scoot.

__ADS_1


Sementara Scoot masih diam mematung, memandangi dua saudara tersebut, meninggalkan dirinya.


"Kak, apa sebaiknya kita persilahkan Kak Scoot untuk masuk? Ini hampir larut malam." Mike menghentikan gerakan tangan Luna yang ingin menutup pintu.


"Dia hanya orang asing. Tidak baik menerima orang asing untuk bertamu, lagi pula tempat ini bukan selevel orang kaya." Sindir Luna begitu pedas, hingga membuat Scoot tercengang mendengarnya.


"Aku masih suamimu, dan kau masih istri sah ku!"


Luna menelan ludah, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Ada apa ribut-ribut?" derap kaki dan suara dari arah dalam membuat Luna maupun Mike menoleh ke sumber suara. "Kalian belum tidur?" Mom Britney kembali bertanya, belum tahu apa yang terjadi.


Wanita paruh baya itu melangkah, menggapai pintu, ingin menutup pintu tetapi keinginannya diurungkan setelah pandangannya tak sengaja mendapati pria yang pernah menjadi kepercayaannya selama dua tahun belakangan ini.


Tubuh lelah itu tiba-tiba membeku, dengan sorot mata yang sayu tanpa bisa berkata-kata, seakan lidahnya keluh hanya untuk sekedar menyapa.


"Mommy!" panggilan dari pria itu membuat lamunan Mom Britney membuyar, ia sempat mengira bahwa salah lihat atau hanya halusinasi semata.


"Kau Nak!" Mom Britney, baru benar-benar yakin ketika mendapat genggaman tangan kokoh tersebut menyentuh tangannya.


"Boleh aku masuk?"


Mendengar permintaan itu membuat wanita itu menoleh ke samping, di mana saat ini Luna masih berdiri dengan tatapan membuang muka.


"Luna, tidak ingin orang asing itu bertamu!" usai melontarkan kalimat kasar itu Luna bergegas masuk dengan perasaan campur aduk. Luna masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu.


Mom Britney maupun Mike saling diam, tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi tidak mungkin mengusir Scoot, dan di sisi lain sama juga menggali luka kembali bagi Luna.


Mom Britney melirik Mike hingga tatapan mereka beradu, untuk mencari solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan ini.


"Nak, tunggu sebentar. Mom akan bertanya kepada Daddy, bagaimanapun Daddy yang wajib memutuskan. Mom sendiri tak masalah tetapi—"


"Ada apa ini?"


Ucapan Mom Britney terpotong oleh Dad Lukas yang tiba-tiba menghampiri.


"Kau!"

__ADS_1


__ADS_2