PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 51


__ADS_3

Keesokan harinya


Pukul delapan Scoot bersiap-siap akan berangkat ke kantor, sementara Luna masih tidur, bahkan wanita hamil muda itu belum sarapan.


Scoot beranjak dari dari tempat duduknya, dan ingin melangkah ke luar dari ruang kerja, namun langkahnya terhenti ketika kedatangan ke-dua orang tuanya.


"Dad, Mom!" Scoot menyapa dengan ekspresi datar.


"Ada apa dengan mu?" bukannya membalas sapaan, Mom Ara malah melayangkan pertanyaan.


"Kita bicara di dalam. Tidak masalah kau sedikit terlambat ke kantor," ujar Dad Ben sembari membawa wanitanya masuk dan duduk di sofa panjang.


Scoot pun tidak menolak karena ia juga ingin menyampaikan isi hatinya, bisa saja ke-dua orang tuanya ini memberi solusi.


"Mom, ingin bertanya. Ada apa denganmu? Kemarin setelah kita mengetahui Luna hamil, apa yang kau lakukan? Kau malah keluar tanpa mendekap istrimu, seharusnya kau bahagia dengan kabar gembira itu, namun apa yang kau lakukan? Mom, kecewa Scoot!" cecar Mom Ara, menumpahkan kekesalan sejak kemarin di pendam, dan ini saatnya ia meluapkan.


"Tenang sayang, tidak perlu teriak begitu!" suaminya menenangkan sembari mengusap pundak wanitanya.


Pria paruh baya itu menghela nafas, menegakkan tubuhnya lalu kembali menatap putra tertuanya.


"Apa kau tahu sewaktu Dad, mengetahui kehamilan Mommy kalian? Dad, sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Dad, sangat berterima kasih kepada Mom kalian karena mengandung anak-anak keturunan Dad. Rasa bahagia itu semakin besar ketika kami mengetahui bahwa dalam kandungan Mom ada lima bayi. Itu adalah anugerah yang luar biasa, dan tidak semua orang diberi kesempatan seperti itu."Cerita Dad Ben, mengenang masa lalu puluhan tahun silam.


Scoot tertunduk, mencerna setiap kalimat yang dilontarkan ke-dua orang tuanya dengan perasaan haru.


"Jadi, ceritakan apa yang mengganjal di hatimu?"


Scoot menatap ke-dua orang tuanya silih berganti. Tanpa banyak tanya lagi pria itu beranjak bangkit, melangkah pergi meninggalkan ke-dua orang tuanya.


Baik Dad Ben maupun Mom Ara saling memandang dengan tatapan penuh tanya, kekesalan pun semakin memuncak.


"Dasar anak tak punya perasaan!" umpat Mom Ara karena mengira putra mereka langsung berangkat ke kantor.


"Scoot!" panggilannya dengan aura marah.

__ADS_1


Tanpa merespon panggilan orang tuanya, Scoot bergegas bahkan berlari kecil menuju kamar mereka.


Klek!


Pintu kamar terbuka pada saat pintu kamar mandi juga ikut dibuka. Dua sosok yang sejak kemarin hubungannya dingin saling memandang dengan sorot mata sendu.


Luna yang masih mengenakan bathrobe, berdiri mematung di ambang pintu. Ingin sekali menyapa suami yang ia rindukan, namun ia tidak berani melakukannya karena merasa melakukan salah yang menyebabkan Scoot bersikap dingin.


Tanpa sepatah kata, Scoot melanjutkan langkahnya dan langsung memeluk Luna. Memeluk sembari menghujaninya dengan kecupan demi kecupan seperti orang yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang yang sangat dicintai. Luna yang merasa aneh hanya bisa diam dengan memejamkan mata karena baru setengah hari ia merindukan sentuhan suaminya itu.


"Sayang, ada apa?" lirih Luna yang masih dalam dekapan suaminya. Luna akhirnya mengeluarkan suara karena menyadari pria yang mendekapnya dengan erat itu sesegukan seperti orang yang sedang menangis.


"Aku minta maaf sayang, sungguh minta maaf!" Scoot berkali-kali melayangkan ucapan yang sama.


"Untuk apa? Justru aku yang minta maaf. Katakan apa kesalahanku hingga kau bersikap dingin? Aku tidak bisa begini, aku sangat sedih sayang." Luna pun tidak bisa menutupi kesedihannya kali ini.


Melihat wanitanya kembali menangis membuat pria itu menguraikan pelukan mereka. Dadanya sesak sampai ke ulu hati mendapati wanitanya menangis dengan pilu.


"Jangan menangis, kau tidak ada salah sama sekali. Yang disalahkan di sini adalah ketakutan bahkan trauma yang menutupi mataku!" Scoot mengusap air mata itu hingga bersih, dan mengecup ke-dua mata indah wanitanya.


Scoot menghela nafas berat, lalu membawa Luna untuk duduk di tepi ranjang. Ia tidak ingin istrinya kelelahan berdiri cukup lama, apa lagi ia sedang berbadan dua.


"Apakah dia baik-baik saja?"tanyanya sembari mengusap dengan lembut perut Luna di balik kain bathrobe. Menciumnya cukup lama.


Luna membeku, tidak bisa berkata-kata karena ini adalah momen yang sejak pertama dia harapkan ketika mendengar kabar gembira itu.


"Nak, Dad minta maaf!"


Luna terenyuh bahkan air matanya kembali menodai pipi halus itu. Air mata kebahagiaan yang tidak dapat diukur oleh apapun.


Luna menundukkan wajahnya, mencium pucuk kepala suaminya dengan bahagia. "Aku sudah menduga-duga bahwa kau tidak menginginkan kehamilan ini, seperti yang sudah-sudah di awal. Sungguh ingatan di masa lalu membuat aku meragukan cintamu, namun kini aku percaya bahwa kau memiliki alasan yang belum juga aku ketahui." Luna mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Scoot, menyudahi ciuman itu. Ia mendongak, membalas tatapan wanitanya. "Jangan berpikiran seperti itu lagi sayang," ucapnya tanpa melepaskan tatapannya.

__ADS_1


Luna mengangguk


"Apa kau tahu pada saat mengetahui kehamilan mu? Jantungku berdebar hingga sulit untuk dipadamkan, bahkan duniaku menjadi gelap. Apa kau tahu kenapa aku merasakan hal itu? Itu karena pada akhirnya aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian! Kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan Mommy-nya Angel tidak bisa di selamatkan. Aku trauma dalam ketakutan sayang, bukan bermaksud menolak takdir." Scoot menjelaskan dibalik alasan sikapnya itu.


Pria itu menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak siap jika kau juga meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku tidak bisa sayang, kau adalah hidupku hingga menua."


Luna cukup kaget dengan alasan suaminya, ternyata ada trauma mendalam yang sampai sekarang belum bisa di hilangkan.


Luna menarik tangan suaminya, agar kembali duduk di sampingnya. Scoot pun tidak menolak, mereka saling mengenggam.


"Sayang, buang jauh-jauh ketakutan mu itu. Setiap manusia memiliki takdirnya sendiri, jalannya sendiri yang sudah digaris bawahi oleh Sang Pencipta. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja, yang bisa kita jalani adalah bersyukur dan selalu berdoa untuk kelancaran ke depannya. Stop berpikir yang negatif!" Luna memberikan pengertian yang lugas.


"Demi apapun aku sangat takut sayang." Luna kembali dibawa ke dalam pelukan.


"Sayang, percayalah semua akan baik-baik saja. Calon buah hati kita anak yang pintar, jadi dia akan sehat di dalam sana."


Scoot mengangguk yakin, walau sulit membuang perasaan itu.


"My husband i love you....!


"I love you too my wife...!


Ciuman mendarat di bibir Luna, dengan senang hati ia membalasnya hingga menjadi ciuman menuntun.


Glek!


Di balik pintu kamar dua sosok yang sejak tadi memperhatikan mereka menjadi kikuk, ketika adegan di akhir.


"Apa?" bisik Mom Ara ketika suaminya memberi kode.


"Mom, yuk kita cetak Adik perempuan untuk Quintuplets!"

__ADS_1


"Sayang.....!"


__ADS_2