PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 55


__ADS_3

Luna keluar dari kamar mandi, mendapati suaminya sudah berpakaian rapi. Keningnya mengerut karena setahunya prianya itu enggan pergi ke kantor.


"Sayang, aku harus ke kantor siang ini," ujarnya karena paham dengan tatapan Luna.


"Apa ada sesuatu?"


"Ini masalah Justin dengan Fanny. Baiklah aku harus menceritakan kepadamu tentang hubungan mereka yang tak pernah kita sadari." Ucapan Scoot membuat rasa penasaran tumbuh dalam benak Luna.


"Ada hubungan apa diantara mereka?"


Scoot menceritakan garis besarnya saja, tidak sulit menjelaskan kepada Luna karena wanita itu cepat nangkap. Sungguh Luna terbelalak kaget karena selama ini tak pernah berpikir jika mereka punya hubungan, bahkan sudah sedalam itu.


"Ya, ampun aku tak pernah berpikir. Pandai sekali mereka menyembunyikannya dari kita semua. Sayang, ambil tindakan secepat mungkin, kasian Fanny jika sesuatu terjadi kepadanya." Luna menghela nafas, ia pun meminta bantuan kepada suaminya agar masalah ini cepat diselesaikan. Dengan garis besarnya, Justin harus bertanggungjawab.


"Beres sayang, semua sudah diatur. Kemungkinan bulan depan mereka melangsungkan pernikahan." Scoot memang sudah menegaskan Justin untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatannya itu. Bagaimanapun baik Fanny maupun Justin adalah bagian dari tanggungjawab mereka.


Luna mengangguk


"Baiklah aku hanya sebentar, hmm apa kau ingin ikut?"


Luna menggeleng. "Sayang, apa gunanya aku ikut? Lagi pula si kembar membutuhkan aku." Luna sungguh tak mengerti dengan pemikiran prianya itu, yang kadang tak masuk akal.


"Tentu saja ada gunanya, aku tidak bisa jauh darimu sayang." Scoot memeluk istrinya itu dengan manja. Luna menjadi gemes dengan tingkah laku prianya itu.


*


Hari ini berita di media menggemparkan jagat pebisnis keluarga Brylee. Dengan tersebar luasnya foto panas milik pribadi Scoot dengan Lucy, dan Laura mengakui bahwa dirinyalah yang terdapat di foto tersebut.


Brak!


Dentuman meja begitu keras membuat Justin maupun Maura kaget. Pria itu benar-benar murka dengan tingkah kurang ajar Laura dan juga kekasihnya Samuel. Ternyata wanita ini tidak ada takut-takutnya dengan ancaman yang pernah Scoot layangkan kepada mereka.

__ADS_1


Dengan rahang mengeras Scoot memerintahkan Justin untuk menghancurkan perusahaan Brow. Kali ini ia tidak main-main lagi dengan ancamannya, ia ingin membuat Laura maupun Samuel hancur sampai ke akar-akarnya.


"Atur jumpa pers hari ini juga. Aku tidak ingin nama besar keluarga Brylee tercoreng hanya berita sampah seperti ini! Satu hal lagi bekukan paspor atas nama Laura Brow maupun Samuel Johnson. Pastikan mereka berdua tetap berada di kota ini!"


"Baik Tuan," sahut Justin maupun Maura secara bersamaan.


Scoot menghubungi Luna karena siang ini mereka akan jumpa pers untuk meluruskan berita sampah yang beredar. Tentu saja pria itu menyakinkan Luna karena tidak ingin istri tercintanya itu terbawa perasaan dengan berita yang beredar.


Scoot juga menjelaskan kepada seluruh keluarga, bahwa berita itu tidaklah benar. Keluarga mempercayainya karena sesungguhnya mereka udah tahu betul kelicikan Laura, yang ingin menghancurkan rumah tangga Scoot dan Luna.


Menjelang siang


Luna telah tiba di kantor beberapa menit yang lalu. Mereka akan mengadakan jumpa pers di lobby kantor. Para awak media dari berbagai agensi sudah memenuhi lobby perusahaan Brylee Group.


"Sayang," panggil Scoot sejak kedatangan Luna, bagaimana tidak panik karena wajah istrinya itu datar-datar saja, tidak seperti biasanya.


Luna yang di gitukan hanya bisa menarik nafas karena jengah dengan ulah suaminya itu. Namun wanita itu harus dapat menahan dirinya.


"Sayang, kenapa diam saja? Bicaralah!"


"Kau tidak tulus mencintaiku! Bisa-bisanya kau mengkhianati ku! Apa kurangnya aku? Anak sepasang sudah aku berikan, Angel sudah ku anggap anak sendiri, terus dimana kekuranganku? Apa karena aku berasal dari keluarga miskin?" lirih luna dengan mata berkaca-kaca.


Scoot membeku mendengar ucapan pilu itu.


"Apa karena Laura kembaran Lucy? Kau belum bisa melupakan sosok Lucy!" Luna tidak tahan lagi , hingga air mata itu bergulir membasahi ke-dua pipi halus itu.


Scoot menggeleng, semakin mengeratkan genggamannya. "Sayang, buang jauh-jauh pikiran tidak benar itu! Demi apapun aku berani bersumpah, jika sekarang ini cintaku kepadamu adalah murni dan tulus. Masalah foto itu bukanlah Laura, itu adalah Lucy. Entah dari mana Laura menemukan foto-foto itu! Bahkan aku sendiri tidak tahu jika—"


"Cukup!" Luna meradang, sedikit terbawa perasaan ketika ingatannya pada foto-foto yang sudah beredar di media sosial. Di mana itu mungkin foto koleksi mereka pada masanya. Bagaimanapun matanya memanas melihatnya, namanya juga manusia biasa.


Luna beranjak bangkit, mengusap air matanya. Melangkah ke arah kaca terbentang luas yang mengelilingi ruangan itu. Memandang lurus ke depan, pandangan yang menakjubkan di bawah sana tertata berbagai gedung dan bangunan lainnya.

__ADS_1


Hati Scoot perih mendengar maupun melihat wanitanya menangis, mencurahkan isi hatinya. Scoot pun bangkit berdiri, mendekati Luna yang kelihatan rapuh.


"Jangan sentuh aku!"


Mata pria tampan itu terbelalak kaget mendengar suara wanitanya, hingga keinginannya untuk memeluk di urungkan.


Luna membalikkan badan, hingga tatapan mereka bertemu.


"Apa kau tahu Scoot? Aku sangat mencintaimu. Namun apa yang aku dapatkan? Di mana janji-janji manis mu? Aku kecewa!" ucap Luna dengan lantang, masih bersamaan dengan air matanya.


Tok tok


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk.


"Masuk!"


Klek!


"Tuan, Nona! Saatnya jumpa pers di mulai," ucap Justin dengan dahi mengerut karena tidak sengaja pandangannya kepada Luna yang tengah menangis.


Scoot mengangguk tanpa banyak bertanya. Melihat situasi itu membuat Justin ingin segera keluar.


Luna mengusap air matanya. Tanpa sepatah kata masuk ke dalam kamar, ingin merapikan riasan wajah dan penampilannya yang mungkin saja sudah sangat buruk. Sementara Scoot menunggu dengan perasaan sendu, sampai-sampai tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Kau sangat bodoh Luna!" gumam Luna di depan cermin.


Mendengar pintu kamar mandi di buka membuat lamunan Scoot membuyar. Lalu dengan spontan memeluk Luna.


"Sayang," hanya itu yang keluar dari mulut pria tampan itu. Memeluk Luna begitu eratnya, seakan mereka akan berpisah untuk melakukan perjalanan jauh. Luna memejamkan mata, ia berusaha menahan diri agar tidak luluh untuk membalas pelukan itu.


"Aku sulit bernafas," ucap Luna. "Tenang saja, aku tidak akan tega mempermalukan dirimu di publik. Jadi jangan takut karena berita tersebut. Aku akan menyangkalnya, demi orang yang sangat aku cintai, walau hati ini sesungguhnya sakit." Usai melemparkan ucapan penuh arti itu Luna berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Scoot kembali membeku, bahkan saking terkejutnya, ia tidak menyadari jika wanitanya sudah keluar. Namun Luna mengurungkan niatnya untuk memasuki jumpa pers tanpa Scoot di sampingnya, nanti apa kata para awak media.


"Apa kau tetap di sini? Mari kita luruskan permasalahan itu!"


__ADS_2