
Pukul lima sore. Luna bersama putrinya baru saja selesai membuat cake request Angel. Pulang sekolah tadi, tiba-tiba Angel meminta dibuatkan cake.
Luna menyempatkan berdiam diri sejenak di balkon. Menikmati suasana sore di kota tersebut. Cuaca yang cerah membuat hatinya ikut cerah.
Sudah satu bulan mereka kembali hidup bersama-sama, namun hatinya masih dingin. Mengingat masa lalu membuatnya sulit untuk menerima Scoot kembali. Ia serahkan semuanya pada waktu, biarkan waktu yang menjawab.
Minggu depan mereka akan pindah, sesuai apa yang dijanjikan suaminya. Tentu saja Luna senang karena tinggal di apartemen membuatnya bosan, tak dapat melakukan aktivitas apapun.
Luna adalah sosok yang suka berkebun, seperti menanam bermacam bunga dan tumbuhan lainnya. Lihat saja di Mansion yang pernah mereka tinggalkan, banyak bunga tumbuh dengan subur dan terawat, karena Luna meluangkan waktu teratur untuk merawatnya.
"Mom, ayo mandi." Ajakan Angel membuat Luna tersadar dari lamunannya. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kau sudah selesai sayang?" Luna mengusap lembut rambut indah milik Angel.
"Sudah Mom, PR-nya gampang sekali," sahut Angel dengan penuh semangat. Ya, tadi ia menyempatkan diri untuk menyelesaikan PR-nya.
Malam ini mereka akan makan malam di luar, seperti yang dijanjikan Scoot. Sebenarnya Luna menolak, namun bukan Scoot Brylee namanya, pria itu memiliki sejuta alasan.
Mereka bergegas membersihkan diri, mandi bersama sudah menjadi kebiasaan. Mengingat di apartemen hanya memiliki satu kamar, adapun kamar mandi di sebelah dapur, namun mereka tidak menggunakannya, kecuali pada saat mendesak saja.
Kini dua wanita cantik beda usia itu memanjakan diri di ruang televisi. Angel yang serius menonton film kartun favoritnya, sementara Luna sibuk dengan smartphone. Ada sesuatu yang ia share di sana.
Empat puluh menit berlalu. Sosok yang sejak tadi mereka tunggu, kini menghampiri ke-duanya dengan bibir tersenyum. Bahkan saking asiknya dengan kesibukan masing-masing, tidak menyadari kedatangannya.
"Sayang, sepertinya asik sekali!" Scoot duduk sembari mengusap kepala Luna, hingga membuat Luna kaget setengah mati. Ia pun terbangun dari posisi barangnya.
"Ya ampun aku hampir saja jantungan. Kau mengejutkan ku," protes Luna masih dengan nafas memburu sembari mengusap dadanya berkali-kali.
"Maaf, kalian sih terlalu serius. Coba saja yang datang pencuri, aku tidak tahu apa yang terjadi." Ujar Scoot dengan khawatir, masa dua wanitanya ini sama sekali tidak mendengar kedatangannya.
Luna bungkam karena ini memang kesalahannya, masa sama sekali tidak menyadari kedatangan suaminya, ia terlalu asik dengan apa yang ia kerjakan di benda pipih tersebut.
__ADS_1
"Dad, kapan datang?" kini Angel yang baru menyadari, ya memang posisi Angel membelakangi mereka, dengan berbaring di atas karpet.
"Sepuluh menit yang lalu. Kau terlalu asik, hingga menyambut kepulangan Dad pun kau enggan," protesnya dengan wajah cemberut di buat-buat.
Angel terkekeh geli melihat ekspresi itu, lalu beranjak dan mendaratkan kecupan di ke-dua pipi pria itu.
"Dad, bau." Goda Angel sembari berlari kecil ke tempat semula.
Mendapat kritikan membuat Scoot mengendus hidungnya diberbagai bagian dari tubuhnya. "Harum begini dibilang bau. Sayang, apakah aku bau?" tanyanya kepada Luna yang hanya sebagai penonton saja dari tadi.
"Mana ku tahu," sahutnya dengan cuek.
"Kau tak menyambut kedatangan ku seperti yang dilakukan Angel tadi?" goda Scoot dengan mengedipkan mata.
Luna tersenyum getir. "Apa dulu pernah seperti itu? Tidak bukan? jadi sebaiknya jangan ngaco," ucap Luna menekankan, lalu membuang muka.
Scoot menghela nafas sesak, apa yang disinggung istrinya memang benar. Jangankan mengharap wanita itu menyambut kepulangannya dari bekerja, bahkan untuk menyapa Luna saja ia enggan ketika waktu mereka bersama-sama dulu, dan kali ini ia berharap sesuatu yang tidak mudah didapatkan.
"Kalian bersiap-siaplah. Dad, membersihkan diri dulu." Scoot pun beranjak, masuk ke dalam kamar.
Luna menyadari kepergian suaminya, menaruh benda pipih itu di atas meja sofa. Ia menghela nafas panjang. "Apa aku sudah keterlaluan ya? Anehnya dia sama sekali tidak marah, sikapnya berubah total, seperti seseorang yang tak pernah aku kenal. Tidak Luna, kau jangan terkecoh!" Luna berperang dengan hatinya.
*
Di restoran
"Sayang, mau pesan apa?" tanya Luna kepada Angel.
"Mau ini, ini Mom." Angel menunjukkan beberapa menu hidangan di buku daftar menu.
Luna mengangguk, dan memberitahu pesanan apa saja kepada waitres.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak menanyakan pesanan untukku?" tanya pria tampan itu.
Luna mengigit bibir bawahnya, lalu mau tidak mau ia menurut karena tidak enak kepada waitres.
"Mau pesan apa?"
Scoot tersenyum senang, walau ia tahu Luna melakukannya karena terpaksa. Dengan senyuman mempesona ia menunjukan beberapa menu. Hingga senyuman itu membuat waitres salah tingkah.
"Ada apa Mbak?" tanya Luna karena menyadari.
"Maaf Nona, saya terlalu fokus dengan ketampanan Tuan," ucap sang waitres tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.
"Baiklah, sudah jelas bukan," ucap Luna dengan dingin, entah kenapa perkataan sang waitres itu membuatnya menjadi marah. Sementara Scoot tersenyum, ia ingin tahu bagaimana reaksi wanitanya itu. Apakah ada rasa cemburu? Walau hanya sedikit saja.
"Mom, wanita tadi mengatakan Dad tampan. Apa Mom tidak marah?" tanya Angel, rupanya anak itu memperhatikan.
"Buat apa Mom marah," sahut Luna sembari melirik ke arah suaminya. Melihat senyuman pria itu membuat Luna mengumpat dalam hati. "Pantas saja kita dibawa makan di sini," cibirnya tanpa sadar, itu mengartikan bahwa ada rasa cemburu di hatinya.
Scoot mengigit bibir bawahnya. "Apa kau cemburu sayang?" ia sengaja menggoda. "Di hatiku hanya ada Mezzaluna Brylee!" pria itu mengusap wajah Luna dengan lembut.
"Terlalu lebay!" gumam Luna sembari menepis tangan itu, dan pria tampan itu masih tetap tersenyum.
Tiba di apartemen sudah pukul sebelas malam karena Angel bersikukuh ingin mampir ke pusat pembelanjaan, dengan tujuan ke wahana permainan.
Angel bahkan di gendong masuk ke apartemen karena ia sudah ketiduran dalam perjalanan.
"Maaf ya membuatmu jadi kelelahan," ujar Scoot dengan lembut. Sumpah demi apapun Luna tak percaya dengan sosok pria yang kini berada di di sampingnya.
"Kebahagiaan Angel adalah bagian dari kebahagiaanku. Apapun yang dia inginkan, sebisa mungkin aku wujudkan, semasih itu dalam hal yang positif." Luna pun beranjak, ingin membasuh wajahnya. Tanpa di sangka suaminya mengikuti. "Kenapa kau mengikuti ku?" Luna bertanya dengan dahi mengerut.
"Aku juga ingin menggosok gigi, apa salahnya bersama istri sendiri."
__ADS_1
Luna hanya bisa menghembuskan nafas kasar.