PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 16


__ADS_3

Sementara di rumah sakit. Angel bangun dari tidurnya dengan raut wajah ceria. Ceria karena mendapati sosok Laura yang duduk manis menjaga dirinya sepanjang malam, itulah menurut Angel. Anak itu masih sangat polos, dan belum bisa mencerna keadaan yang sesungguhnya.


Rupanya tidak lama selang kepergian Luna maupun Scoot, Laura datang ke rumah sakit. Kemungkinan besar mereka tidak bertemu ketika berada dalam lift yang berbeda. Luna, Scoot menggunakan lift khusus, sedangkan Laura menggunakan lift umum.


"Sayang, saatnya makan, biar bisa minum obat," ucap Laura sembari tersenyum.


"Bubur? Apakah Mommy sendiri yang buatkan?"


Laura menggeleng karena ia juga mendapati sarapan Angel sudah dihidangkan di atas nakas. Laura yakin itu adalah dari pihak rumah sakit.


"Angel, harus kuat makan biar lekas sembuh." Laura menyuapi Angel.


"Lidah Angel, pahit Mommy." Angel menelan dengan mata menyipit, menahan sedikit rasa pahit. Tentu saja indra perasa cukup pahit, mengingat kemarin malam ia memuntahkan seluruh makanan yang sudah dicerna.


"Sayang, Angel harus makan banyak, biar lekas sembuh," bujuk Laura tetap menyuapi Angel.


Angel mengangguk, menuruti apa yang dikatakan Laura.


"Anak pintar, kini waktunya minum obat." Bubur satu mangkok buatan Luna habis juga, dan kini Angel minum obat.


"Apa Mommy sendirian yang menunggu Angel sepanjang malam? Kok Dad, tak kelihatan?"


Laura spontan membeku, sedikit bingung harus menjawab apa. Mengingat dia tidaklah menemani Angel. Setelah Angel tidur ia bergegas meninggalkan rumah sakit, bahkan Scoot saja tidak mengetahui kepergiaannya, karena pria itu memilih keluar.


Ya, usai kepergiaan kedua orang tua dan juga Luna. Tak berselang lama Scoot juga menyusul keluar, ke ruangan kerjanya. Ia hanya berbicara singkat kepada Laura, jika hendak pulang tidak perlu menunggu dirinya kembali.


Rasa kantuk membuat Scoot memutuskan kembali ke kamar rawat Angel, ia menghabiskan waktu dengan laptop kurang lebih 40 menit.


"Mommy,"


"Iya, sayang. Dad, menjelang pagi kembali ke Mansion," ucap Laura seperti yang dikatakan suster ketika ia baru saja tiba. Laura bertanya dimana Scoot, dan sang suster mengatakan jika Scoot baru saja keluar.


Angel mangut-mangut, tanpa banyak bertanya lagi.


*

__ADS_1


Menjelang siang


Luna hanya bisa menunggu kepulangan Angel di Mansion. Ia tidak ikut untuk menjemput Angel ke rumah sakit. Dad Ben dan Mom Ara yang akan membawa Angel pulang ke Mansion.


Sementara Scoot sekarang berada di luar kota, tiba-tiba ada masalah yang harus diselesaikan di sana. Tidak bisa ditangani oleh asistennya, mau tidak mau ia turun tangan.


Luna juga tak mengetahui hal itu, ia baru saja diberi tahu oleh Luke sang asisten suaminya.


Luna menunggui Angel didalam kamar milik Angel. Tidak berselang lama rombongan datang. Luna tersenyum getir melihat sosok Laura juga menjemput Angel, bahkan ikut sampai ke Mansion.


"Dad, Mom," sapa Luna sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Iya, sayang," sahut Mom Ara, disambut dengan senyuman manis.


Sementara Angel sama sekali tidak menyapa Luna, hanya memandang sekilas saja, seakan dirinya tak terlihat. Tapi tak lantas membuat Luna untuk pergi, sebelum mengetahui keadaan Angel.


Luna menyeret kakinya mendekati Angel yang saat ini menyandar di atas ranjang. Menatap dengan dalam.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Luna sembari mengusap pundak Angel dengan lembut.


Pertama Angel diam saja dengan pandangan ke arah lain. Luna mengusap pundak itu berkali-kali, menahan rasa amat sesak, berharap menunggu jawaban dari Angel.


"Mommy mau kemana?" seketika Angel menyadari.


"Aunty, ingin ke dapur sayang," sahut Laura berbohong.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya?"


Laura mengangguk disertai senyuman untuk meyakinkan Angel.


Sepeninggalan mereka, keadaan menjadi hening. Yang biasanya selalu heboh ketika mereka sedang berduaan seperti ini. Tapi lihatlah sekarang, mereka seperti orang asing yang tak mengenal satu sama lain.


Luna membelai rambut panjang indah milik Angel dengan tatapan sedih. "Sayang, Mom—"


"Angel baik-baik saja." Angel langsung memotong, membuat Luna tertegun. Karena tak tahan lagi membuat Luna memeluk Angel, memeluk penuh kasih, mencurahkan kerinduan beberapa hari yang lewat.

__ADS_1


"Lepas Mom," lirih Angel dengan nada menahan tangis, berontak kecil ingin dilepaskan dalam dekapan Luna. Mendengar apa yang dilontarkan Angel semakin membuat dada Luna amat sesak, sampai ke ulu hati.


"Lepas!"


Spontan saja Luna menguraikan pelukannya. Menatap Angel dengan sorot mata sendu. Sementara Angel menangis tanpa ingin melihat ke arah Luna.


"Sayang, katakan apa yang harus Mom lakukan? Mom, memang salah, tapi percayalah bila itu tidaklah benar sayang." Luna berusaha menyakinkan Angel dengan kejadian tempo hari.


"Apa salah Angel? Angel, baru sadar jika selama ini Mom tak pernah tulus menyayangi Angel!" ungkapan Angel tersebut semakin membuat dada Luna tergoncang. Anak berusia enam tahun lebih itu sangatlah pandai berbicara, tetapi salah dalam mengartikannya.


Luna menggeleng sembari menangkup wajah Angel dengan ke-dua tangannya. "Tidak sayang, itu tidaklah benar. Mom, sangat menyayangi Angel. Katakan apa yang harus Mom, lakukan untuk menebus kesalahan Mom, pada Angel? Katakan sayang. Apapun yang Angel katakan, Mom akan menurutinya," desak Luna dengan mata berkaca-kaca.


Sesaat Angel terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Lalu ia mendongak, hingga tatapan mereka beradu.


"Angel, sangat menyayangi Mom, tapi tidak untuk sekarang, karena Mom sudah membuat Angel kecewa." Angel berkata dalam hati.


"Mulai saat ini jangan menganggu Angel!"


Deg!


"Sa—"


"Jangan pernah lagi menemui Angel! Sekarang Mommy asli Angel sudah kembali."


Luna membeku, kalimat yang dilontarkan Angel sangat menyakitkan, bahkan lebih sakit dengan apa yang pernah dilakukan Scoot kepadanya.


"Tinggalkan Angel!" teriak Angel sembari menunjuk ke arah pintu kamar.


"Angel!" Luna bergumam tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, dimana sikap Angel sudah kelewatan batas. Luna berpikir sesaat, ia dapat memastikan jika otak anak yang selalu sopan dan menjaga etika ini telah dicuci dengan hal yang buruk.


"Ini yang Angel mau."


"Sayang, maaf untuk soal ini Mom tidak bisa. Minta hal yang lain," ucap Luna tanpa sadar meneteskan air mata.


Angel menggelengkan kepala berkali-kali. Menolak dengan apa yang dikatakan Luna, hingga membuat kedua tangan Luna yang sejak tadi mendekap bahu Angel merosot ke bawah.

__ADS_1


"Angel, mohon!"


Luna memejamkan mata mendengar Angel sampai memohon seperti itu, dengan ke-dua tangan bersujud. Sungguh peran artis cilik dalam sinetron pantas diperankan oleh anak seusia Angel. Benar-benar sebuah akting luar biasa, tapi kenyataan itu bukanlah sebuah akting atau sandiwara, tetapi nyata dalam kehidupan.


__ADS_2