PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 20


__ADS_3

Hening itulah yang tergambar saat ini. Semuanya larut dalam kesedihan dan pikiran masing-masing kecuali Scoot yang tidak bisa ditebak apa perasaannya saat ini. Mengetahui istrinya mengalami keguguran. Apakah dia peduli? Mengingat selama ini dia memang tidak menginginkan seorang anak yang dilahirkan dari rahim Luna. Beda halnya dengan ke-dua orang tuanya, mereka terpukul atas kejadian ini.


"Kami minta maaf, sebenarnya kami mengetahui dibalik alasan putra kami menikahi putri kalian. Maaf karena kami menyembunyikan fakta yang sesungguhnya, kami berharap suatu saat dengan seiringnya waktu ada mukjizat dalam bahtera rumah tangga mereka. Tapi hari ini semuanya terjawab!" ungkap Mom Ara dengan perasaan bersalah.


Mommy Britney menyeka air matanya. Mengumpulkan kekuatan sesaat, dadanya seakan sulit untuk bernafas.


"Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Luna maupun menantu kami Scoot, mereka tidak bersalah karena torehan takdir yang menyatukan mereka. Jujur, tak dipungkiri bahwa saya kecewa kepada mereka berdua, tega menghancurkan kepercayaan kami, tetapi kembali lagi karena kita tidak bisa melawan takdir."


Mommy Britney kembali mengusap air matanya. Menatap Luna dengan tatapan perih, sedangkan yang ditatap hanya bisa terbaring lemah, memandang ke langit-langit bernuansa serba putih.


"Sayang, apa kau kira kebahagiaan bisa ditukar dengan uang? Apakah didikan Mom dan Dad, ada yang salah?" Mom, lebih memilih hidup sederhana dibandingkan hidup dalam kepalsuan! Apa kau paham Luna? Hah?" seketika luapan emosi wanita paru baya itu tak bisa terbendung lagi hatinya sangat sakit menerima kenyataan. Pernyataan Scoot beberapa jam yang lalu sangat melekat jelas dalam benaknya.


Dengan cepat Daddy Lukas menarik istrinya, memeluknya agar tidak melakukan hal di luar kendali. Luna semakin merasa bersalah telah menorehkan kekecewaan mendalam pada ke-dua orang tuanya.


"Lun, minta maaf Mom," lirih Luna. Luna ingin bangun tetapi segera dicegah oleh Mom Ara karena kondisi Luna belum stabil apa lagi ia baru saja mengalami keguguran.


"Jangan bergerak sayang," bisik Mom Ara dengan air mata mengenang di pelupuk matanya. Lalu ia beranjak mendekati Scoot yang sejak tadi berdiri mematung.


Plak plak!


Tamparan kembali melayang di wajah kokoh nan tampan itu. Bukan hanya tamparan tetapi pukulan bertubi-tubi tepat di dadanya.


"Apa kau puas? Kau puas Scoot, anak kurang ajar!" teriak serta caci maki Mom Ara kepada Scoot dan disaksikan oleh ke-dua besan serta menantunya.


Scoot tak bergeming, bahkan mengelak pukulan yang dilayangkan. Anggap saja sosoknya saat ini adalah patung pajangan.


"Aku orang pertama yang mendukung perceraian mereka. Akan aku urus secepatnya!" usai mengatakan itu Mom Ara bergegas dengan langkah panjang keluar dari kamar rawat sampai-sampai melupakan suaminya yang juga menyaksikan luapan emosinya.


"Tinggalkan Luna," lirih Luna seperti memohon.


Mau tidak mau mereka menuruti keinginan Luna. Mungkin kejadian ini membuat Luna sedikit syok, dan perlu menenangkan diri.


Sementara Scoot masih berdiri di tempat. Tidak mengindahkan perintah Luna. Hingga membuat Luna membuang muka.


"Bagaimana keadaanmu?" kalimat yang sejak tadi ingin dilontarkan akhirnya terucap juga.


Luna tersenyum kecut mendengar pertanyaan tidak penting itu. "Luar biasa baik, jadi sebaiknya segera tinggalkan aku!"

__ADS_1


"Kenapa kau tidak memberitahu bahwa kau sedang hamil?" entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Luna kembali tersenyum kecut, kali ini ia menatap Scoot. "Apa kau peduli? Bukankah dari awal kau mencegah hal-hal seperti ini? Jikalau pun kau mengetahui bahwa di rahimku ini tumbuh darah daging mu, aku tidak yakin janin ini akan bertahan hidup. Tuhan telah berbaik hati mengambilnya begitu cepat, sebelum seseorang yang tak menginginkan kehadirannya melenyapkannya!" Luna meluapkan amarahnya, pada sejatinya ia sangat terpukul kehilangan anak tak berdosa itu, walaupun pada awalnya tak diharapkan. Entah kenapa janin ini bisa berkembang, padahal ia selalu mencegah setelah berhubungan.


Dalam sejenak ingatannya tiba-tiba mengingat, pada terakhir mereka melakukannya, dimana pada saat itu Scoot menyetubuhinya dengan kasar. Oleh karena itu ia lupa, begitu juga dengan Scoot.


Scoot mengusap wajahnya, apa yang dikatakan Luna itulah kenyataannya.


"Tinggalkan aku! Saat ini juga aku katakan bahwa hubungan kita berakhir. Tinggalkan aku!" teriak Luna tanpa sadar dengan keadaannya hingga mengakibatkan pendarahan di dalam sana tidak stabil.


"Akhh," Luna merintih kesakitan sembari mencengkram bawah perutnya.


Scoot khawatir dan berusaha menenangkan Luna tetapi ditepis oleh Luna, bagian engan mau disentuh. Scoot pun segera memanggil dokter.


*


Satu minggu kemudian


Kondisi Luna sudah membaik, ia sudah diperbolehkan pulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mengingat perawatan insentif selama di rumah sakit dengan obat-obatan mahal hingga cepat pulih.


Selama itu juga ke-dua orang tuanya menjaga Luna. Semalam Luna sudah mantap mengambil keputusan, berbicara dengan hari dingin kepada ke-dua orang tuanya beserta ke-dua mertuanya.


Tanpa menunggu Scoot menjemput, mereka membawa Luna ke Mansion. Luna hanya ingin mengambil pakaian dan akan menyerahkan sesuatu yang pernah diberikan Scoot padanya.


Luna juga ingin melihat Angel untuk terakhir kalinya. Maka dari itu ia sangat berharap bertemu dengan Angel. Selama dia dirawat, sekalipun Angel tidak pernah mengunjungi dirinya.


Tiba di Mansion


Luna segera masuk ke dalam kamar miliknya dengan Scoot. Minta bantuan kepada Fanny untuk mengemasi barang-barang miliknya.


Luna membuka lemari yang menjadi tempat barang berharga. Mengambil dua kartu ATM serta beberapa buah kotak perhiasan.


"Fan, apa sudah semuanya?" tanya Luna ketika Fanny menyerahkan dua koper besar.


"Sudah Nyonya," sahut Fanny dengan raut wajah sedih.


"Cukup panggil Luna saja karena sebentar lagi aku bukan Nyonya mu lagi," ucap Luna sembari tersenyum geli, mendengar panggilan itu.

__ADS_1


Fanny spontan saja menangis, ia sangat begitu dekat dengan Luna dan sekarang mereka akan berpisah.


"Aku minta maaf ya jika selama ini ada yang salah? Baik-baik di sini, tolong jaga Angel dengan baik."


Fanny hanya bisa mengangguk lemah.


Luna kembali ke ruang tamu dengan tangan memegang sesuatu. Di ruang tamu sudah berkumpul keluarga. Ternyata Scoot baru saja datang dari rumah sakit, tetapi sayangnya mereka berpapasan.


Luna mendudukkan dirinya, meletakan beberapa benda di atas meja. Itu semua benda pemberian Scoot selama mereka menjalani pernikahan peran pengganti.


"Ini aku kembalikan barang-barang pemberianmu. Semuanya utuh, jika kurang percaya dicek saja." Ucap Luna yang ditujukan kepada Scoot.


Scoot tertegun


"Aku sudah mengajukan perceraian kita. Maaf aku mendahului karena tidak ada tindakanmu!"


Scoot tercengang kaget, dengan apa yang sudah diputuskan Luna. Walau dari awal ia sudah mengetahui, tapi ia tak menyangka Luna bersikeras untuk bercerai.


Luna mengedarkan pandangannya, melihat disekitar tapi tak menemukan sosok Angel. Padahal ia tahu jika Angel sudah kembali dari sekolah.


"Dad, Mom tunggu sebentar, Luna ingin berpamitan dengan Angel."


Luna beranjak dari tempat duduknya, tetapi langkahnya terhenti ketika dengan tiba-tiba Angel datang bersama Laura.


Angel sedikit bingung melihat dua buah koper tergeletak di sana.


Luna mendekati Angel dengan senyuman yang biasa ia tunjukan, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan ketinggian Angel. "Sayang, jaga dirimu baik-baik. Mom, mengabulkan keinginanmu! Mom, tidak akan pernah menganggu bahkan menemui Angel lagi. Bukankah sekarang sudah ada sosok yang tepat untuk Angel? Sekali lagi Mom, minta maaf. Bolehkah Mom, sekali ini saja memeluk Angel?" Luna memohon agar diberi kesempatan untuk memeluk Angel.


Angel diam tak menjawab, entah kenapa hatinya menjadi sedih. Angel tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Luna, bahkan anak itu tidak tahu jika selama satu minggu ini Luna dirawat di rumah sakit.


"Baiklah jika Mom, tidak boleh memeluk Angel." Luna pasrah, dengan hati diselimuti kesedihan.


"Peluklah," gumam Angel.


Luna sontak kaget hingga mengurungkan niatnya untuk bangkit. Tidak ingin Angel berubah pikiran, ia langsung mendekap tubuh mungil tersebut. Mencium pucuk kepalanya bertubi. Pelukan yang tak ingin dilepaskan, itulah yang dipancarkan Luna.


Semua anggota keluarga merasa haru, kecuali Laura. Aura wajahnya memanas melihat pemandangan itu. Ingin sekali ia menarik Angel begitu saja, tapi tentunya tidak mungkin ia lakukan.

__ADS_1


"Mom, sangat menyayangi Angel," bisik Luna sembari menyeka air matanya, ia tidak ingin menangis dihadapan Angel.


__ADS_2