
Ke-duanya terbawa suasana. Tiba-tiba kecupan di tengkuk itu menyadarkan Luna, hingga dengan gerakan kasar ia melepaskan pelukan itu. Dengan rasa marah ia pergi meninggalkan pria itu.
Scoot mengutuk dirinya karena tidak bisa menahan diri. Pria itu duduk dengan mengusap wajahnya berkali-kali. Ia sudah membuat wanitanya kembali marah.
"Kau bodoh Scoot. Kau sendiri yang membuat keadaan menjadi kacau," umpatnya kepada dirinya sendiri.
Sementara luna membersihkan dirinya. Bayangan kebersamaan mereka tadi membuatnya diam seribu bahasa. Sampai-sampai kejadian itu terjadi begitu saja. Mulai saat ini ia harus bisa waspada, dan tak ingin kejadian itu terulang kembali.
Luna tidak tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya. Ia belum siap untuk membuka hati, mengingat bagaimana masa lalunya terdahulu. Kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, sampai saat ini masih terngiang-ngiang.
Walau pria itu mengungkapkan perasaannya, bahwa dia sudah mencintai dirinya, namun rasa bimbang masih tertanam besar dalam hatinya.
Untuk saat ini, biarkan waktu yang menjawab. Luna pun tak munafik dengan apa yang dirasakannya. Mulut dan hatinya bertolak belakang.
Perilaku manis pria itu mampu mengikis lumutan yang membelit hatinya dengan perlahan. Hampir saja ia tengelam akibat pesona pria yang status suaminya itu.
Luna pun segera menyudahi ritual mandinya. Lama-lama pikirannya bisa kacau ke mana-mana. Lagi pula ia kedinginan akibat diguyur hujan.
"Ya ampun sekarang sudah pukul lima lewat. Aku harus segera menyiapkan makan malam," ucapnya sembari memperhatikan jam dinding dengan karakter princess disney favorit Angel. Seusai menyisir rambutnya, Luna pun keluar kamar menuju dapur.
Luna selama ini satu kamar dengan Angel, ia belum siap satu kamar kembali dengan Scoot. Trauma di masa lalu menghantui dirinya.
Sebenarnya Scoot ingin menolak dengan keputusan wanitanya, namun ia pun tak bisa memaksa. Tinggal sama Luna sudah membuatnya bahagia, ia harus bisa bersabar meluluhkan hati Luna yang masih membeku seperti balok es yang perlu di cairkan. Maka untuk mencairkan es tersebut butuh perjuangan.
Tiba di dapur Luna langsung berkutat, memasak request Angel dan juga suaminya. Ya, setiap hari putri dan suaminya meminta Luna masakan sesuai selera masing-masing.
Luna pun tak mempermasalahkan permintaan itu, malah sebaliknya ia sangat senang karena memasak adalah hobinya sejak remaja, dan setiap ada kesempatan ia browsing mencari resep terbaru di sosial media.
Hanya butuh waktu setengah jam untuknya menyelesaikan beberapa menu. Menatanya di atas meja makan.
__ADS_1
"Kok Angel belum pulang ya?" gumamnya sembari melirik jam dinding di area ruang makan. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Setengah jam lagi mereka akan makan malam seperti malam-malam biasanya.
"Selamat malam Mom," sapaan Angel membuat lamunan Luna buyar, ia pun menoleh ke sumber suara. Mendapati sosok putrinya sudah tampil rapi dengan mengenakan baju tidur.
"Kau sudah pulang sayang? Panjang umur karena Mom baru saja membicarakanmu," ucap Luna sembari tersenyum.
"Amin. Tadi Angel mampir ke tempat Oma, kebetulan hujan, jadinya menunggu hingga reda." Angel menjelaskan apa yang terjadi.
"Hmm, pantas saja putri Mom sudah wangi dan cantik." Luna memuji sembari mengecup pipi Angel.
Angel tersenyum, lalu cekikan geli akibat mendapat gelitik di perutnya. "Stop Mom, Angel tidak tahan!" teriak Angel sembari minta ampun, namun pr membuat Luna menghentikannya hingga menciptakan kegaduhan di ruang makan.
"Ampun sayang, Mom tidak tahan!" kini giliran Luna yang berteriak geli akibat lehernya di gelitik oleh Angel.
"Rasakan Mom, haha..." Angel terkekeh merasa menang. Angel bahkan tahu titik terlemah Luna, hingga membuat Luna tak mampu berkutik saking geli nya.
"Mom, kalah," cicit Angel dengan senyuman penuh kemenangan.
"Kau curang sayang." Luna protes dengan wajah cemberut sembari mencubit halus pipi Angel.
Mereka pun memutuskan untuk makan malam, mereka sedang menunggu Scoot yang tak kunjung datang ke ruang makan, hingga membuat Luna terpaksa untuk memanggilnya, mungkin saja pria itu sedang berkutat di ruang kerjanya.
Tujuan Luna langsung ke ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar utama yang ditempati Scoot.
Ternyata pintu ruangan kerja tertutup rapat. Luna mengetuk terlebih dahulu, walaupun itu tempat kerja suaminya sendiri. Namun jawaban dari dalam tak kunjung datang.
Karena penasaran, Luna pun membuka pintu tanpa dipersilahkan masuk. Daun pintu terbuka, di saat itu juga Luna mendapati sosok itu tengah tidur di sofa.
"Pantas saja tidak menjawab, rupanya dia sedang tidur." Luna bergumam sembari berpikir sejenak tepat di ambang pintu. "Di bangunin atau tidak ya?" Luna bertanya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Luna memutuskan untuk membangunkan suaminya karena waktunya untuk makan malam. Usai makan malam bisa dilanjutkan kembali.
Luna menepuk pelan punggung lengan suaminya. "Scoot, bangun. Makan malam dulu," bisik Luna sembari mengigit bibir bawahnya, namun tak lantas membuat pria itu bangun.
Lama-lama membuat Luna tak sabar, apa lagi putri mereka sedang menunggu di meja makan, dan waktu pun berjalan.
"Ayo bangun, makan malam dulu!" Luna sengaja menepuk dengan keras hingga tubuh itu menggeliat, perlahan mata itu terbuka.
Luna spontan mundur, menjaga jarak yang tadinya cukup dekat. Sementara Scoot, masih menetralkan kesadarannya yang belum sepenuhnya sadar.
"Angel, sudah menunggu di meja makan. Tadinya kami menunggu, namun kau tak kunjung datang, dan akhirnya aku masuk ke ruang kerjamu karena tidak ada jawaban dari dalam. Maaf karena sudah lancang masuk ke ruang pribadimu tanpa izin," ucap Luna panjang lebar dengan wajah menunduk.
Mendengar keterangan wanitanya yang panjang lebar, membuat kesadaran Scoot sepenuhnya kembali. Pria itupun bangun dari tidurnya sembari mengucek ke-dua matanya.
"Maaf membuat kalian menunggu, aku tidak sadar hingga bisa tertidur."
Luna mengangguk tanpa ingin menatap lawan bicaranya, begitu juga yang dilakukan Scoot. Entah ada perasaan kikuk di antara ke-duanya setelah kejadian tadi sore.
Mereka pun memutuskan keluar, dengan langkah panjang menuju ruang makan. Dari jarak jauh Luna melihat putri mereka sedang uring-uringan, dengan kepala bertumpu di atas meja makan.
Luna menghela nafas kasar karena ia hafal betul kenapa Angel seperti itu. Ia pun sadar telah membuang waktu cukup lama membangunkan suaminya.
"Sayang, maaf ya lama menunggu," ucap Luna sembari mengusap kepala Angel dengan perasaan kasian.
"Kenapa lama sekali? Angel sampai mau tidur," protesnya dengan wajah cemberut.
"Baiklah, sekarang kita makan. Biar Mom yang ambilkan." Luna pun dengan cekatan mengambil makanan untuk Angel. Selesai menyajikan piring Angel, tangan Luna tergerak ingin menjangkau piring milik suaminya tetapi dengan cepat ia tarik kembali karena Scoot lebih cepat memasukan makanan ke dalam piringnya.
Luna pun akhirnya duduk dengan perasaan aneh. Biasanya pria itu terus mengoceh, namun malam ini ada keanehan. Tidak ada obrolan apapun, hingga menciptakan makan malam terasa hambar.
__ADS_1