
Usai makan malam mereka memutuskan ke kamar masing-masing. Cuaca sejuk membuat mata lekas mengantuk. Baik Luna maupun Scoot tidak banyak bicara.
Berjam-jam sudah dilewatkan, namun rasa mengantuk tidak kunjung datang. Padahal sebelumnya rasa kantuk tak bisa dielakkan lagi. Baik Luna maupun Scoot masih terjaga, sulit untuk memejamkan mata.
Lama memandangi langit-langit kamar, Luna pun beranjak dari tempat tidur. Melangkah ke arah nakas, untuk mengambil air minum, namun persediaan air minum ternyata habis.
Dengan terpaksa ia keluar untuk mengambil air minum, takutnya sewaktu-waktu Angel terjaga dari tidurnya karena haus, maka dari itu ia segera mengambil air minum.
Luna berjalan sembari menguap, ada rasa kantuk, namun sulit di pejamkan. Tiba-tiba langkahnya terhenti mendapati sosok pria tengah duduk melamun di kursi meja makan.
Luna menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan langkahnya. "Hmm, kau belum tidur?" tanya Luna hanya sekedar sapaan semata. Tidak enak juga melewati begitu saja.
Scoot yang kaget menoleh ke sumber suara, dan mendapati sosok yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya tengah berjalan dengan tangan memegang teko.
"Ada apa sayang?" bukannya menjawab pertanyaan Luna, pria itu malah balik bertanya.
Luna tertegun sejenak ketika panggilan sayang kembali dilontarkan, sampai-sampai ia tidak menyadari jika suaminya sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang," Scoot mengusap pundaknya, hingga Luna pun tersadar.
"A-aku, ya persediaan air minum kami kebetulan habis, aku ke sini untuk mengambilnya sebelum Angel terjaga dari tidurnya," ucap Luna tiba-tiba merasakan kegugupan tanpa sebab.
Scoot mengangguk paham.
"Aku ingin bicara, sebentar saja."
Tanpa banyak bicara, Luna mengangguk. Dan kini mereka menempati meja makan, dengan posisi duduk berdampingan.
Scoot menegakkan tubuhnya, melirik ke arah Luna. Sementara Luna memusatkan tatapannya di atas meja makan.
"Ada undangan pesta pernikahan dari salah satu kolega yang diadakan lusa. Mereka melangsungkan resepsi pernikahan di kapal pesiar, selama dua hari. Aku bermaksud membawa dirimu karena peraturannya harus membawa pasangan bagi yang sudah menikah," ungkap Scoot dengan perasaan bimbang, ia sangat berharap Luna menerima ajakannya.
Luna terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Lupakan saja, aku pun tidak memaksa jika memang tidak bisa," ujarnya karena Luna hanya diam saja, hingga ia dapat mengartikan diamnya Luna.
Pria itu juga sadar dengan posisinya saat ini. Luna ada di sini adalah karena Angel, tidak lebih dari itu. Seharusnya ia tidak pernah memberitahukan hal itu, jika hanya rasa kecewa yang didapatkan.
Suasana menjadi hening, baik Scoot maupun Luna diam. Scoot yang berharap Luna memberi jawaban, sementara Luna sendiri masih bingung.
"Apa itu harus ya?" lirih Luna dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan suaminya.
Mendengar pertanyaan itu membuat Scoot. merubah posisi duduknya menyamping ke arah Luna.
"Maksudnya?"
"Maksudku, apa aku wajib ikut gitu?" ucap Luna sembari membuang muka karena tidak tahan dengan tatapan pria mempesona itu.
"Bagiku wajib karena kau adalah istriku, namun aku tidak memaksa jika kau memang keberatan. Lupakan saja karena Justin saja yang mewakili keluarga." Ya, Scoot tidak bisa memaksa, walaupun dalam hatinya ingin sekali memaksa.
Luna mengigit bibir bawah, ia masih bingung karena hubungan mereka masih dingin. Sementara tempat yang ingin dituju adalah kesan romantis, sangat cocok untuk pasangan suami-istri.
"Baiklah, apa salahnya? Anggap saja liburan, lagi pula ini kesempatan berharga, dapat berlibur di atas kapal pesiar." Kata Luna karena ini kesempatan untuknya naik kapal pesiar.
"Tapi bagaimana dengan Angel? Apa lagi dua hari di sana," tanya Luna, sementara Scoot masih diam.
"Kau serius?"
Luna mengangguk tanpa senyuman.
"Terima kasih sayang, Angel kita titipan kepada Oma-nya."
Luna kembali mengangguk. Lalu ke-duanya memutuskan kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan yang beda. Scoot yang senang dan bahagia, sementara Luna masih berpikir tentang sebuah pesta tersebut.
*
Tepat pukul enam sore pasangan Scoot dan Luna tiba di pelabuhan. Mereka pun segera memasuki kapal pesiar, bukan hanya mereka. Ratusan tamu undangan dengan pasangan masing-masing berbondong-bondong tiba di sana tepat waktu.
__ADS_1
Dengan sigap Scoot menggenggam tangan Luna tanpa ingin melepaskannya. Luna yang kaku hanya bisa pasrah, ia harus bisa berdamai dengan keadaan dan posisinya saat ini. Suaminya adalah orang berpengaruh besar di sini, jadi ia tidak ingin membuatnya kecewa. Nama baik keluarga besar Brylee harus ia jaga, biarlah masalah pribadi untuk saat ini di kesampingkan dulu.
Scoot di sapa oleh beberapa kolega bisnisnya, namun ada satu keunikan, ia tidak membiarkan istrinya membalas uluran tangan mereka, hal itu membuat para kolega bisnisnya tersenyum. Luna hanya bisa menghela nafas, jujur hatinya merasa nyaman.
Kedatangan pasangan ini menebarkan pesona, hingga membuat setiap orang terkesima. Pria yang tampan dan gagah, dan wanita yang cantik dan ramah membuat poin kesempurnaan mereka.
"Sayang, apa kau lelah?" bisiknya karena sudah sadar dengan posisi mereka berdiri.
"Sedikit," sahut Luna dengan jujur.
"Baiklah, kita akan duduk di sana. Sepertinya beberapa menit lagi acara akan di langsungkan." Scoot pun membawa wanitanya ke tempat yang sudah di sediakan untuk para tamu undangan.
Sembari menyesap minuman bebas alkohol, Luna memperhatikan sekeliling ruangan pesta. Ia baru kali ini memasuki kapal pesiar, kapal tersebut tidak terlalu mewah, namun baginya ini adalah pengalaman pertamanya.
"Oya, apa kapalnya sudah berlayar?" tanya Luna malu-malu, dari pada mati penasaran apa salahnya bertanya, lagi pula dengan suami istri.
Scoot tersenyum mendengar pertanyaan wanitanya. "Sudah sayang, sepuluh menit yang lalu," ujarnya sembari mengecup punggung tangan wanitanya.
Luna hanya bisa pasrah, tidak mungkin beranjak dari sana dengan wajah kesal. Scoot merasa menang karena ini kesempatan untuk lengket dengan wanitanya.
Pesta berjalan dengan lancar, dan saatnya pesta dansa. Siapapun wajib untuk berdansa dengan pasangan masing-masing.
"Kau ingin berdansa?"
"Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Lagi pula aku tidak suka," ucap Luna dengan pandangan ke pasangan dansa.
Scoot mengangguk paham, dan ia sendiripun tidak menyukai dansa.
"Kau sendiri?" Luna bertanya karena sedikit penasaran.
"Pernah sekali seumur hidup, pada saat resepsi pernikahan ku dengan mendiang Mommy-nya Angel, itupun aku dipaksa mendiang," ujar Scoot tidak sadar.
Seketika Luna tersenyum kecut, tiba-tiba dadanya sesak mendengar pengakuan pria yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Scoot menelan ludah, ketika menyadari perkataannya. Dengan mata menyipit ia melirik wanitanya yang saat itu kebetulan menunduk, sembari menggenggam gelas berisi minuman.