PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 23


__ADS_3

Hanya butuh waktu 15 menit Scoot menempuh perjalanan menuju Mansion utama. Tiba di Mansion ia segera turun dari mobil, berharap salah satu orang tuanya berada di Mansion.


"Apakah Dad atau Mom ada?" tanya Scoot kepada salah satu pelayan yang kebetulan sedang menjalankan tugas pekerjaan di ruang utama.


"Selamat pagi Tuan. Tuan maupun Nyonya sedang berada di taman, Tuan."


Setelah mendapat keberadaan ke-dua orang tuanya Scoot melangkah panjang menuju taman belakang, tempat favorit ke-dua orang tuanya.


Dari kejauhan pandangannya tertuju, di mana ke-dua orang tuanya sedang bermesraan. Langkahnya terhenti sejenak, memandang bagaimana ke-dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, hidup penuh dengan cinta.


Mom Ara, berada dalam pangkuan Dad Ben sembari menikmati cemilan, saling bercengkrama, menceritakan banyak hal yang tak dapat dengan jelas di dengar olehnya.


"Hmm," deheman itu menyadari dua paruh baya itu, hingga membuat mereka melirik ke sumber suara. Melihat sosok itu membuat ke-duanya saling memandang dengan dahi mengerut. Kedatangan Scoot tak seperti biasanya, bahkan di saat jam kerja seperti ini.


Mom Ara, beranjak dari pangkuan suaminya setelah mendaratkan kecupan mesra di dahinya karena ia hafal betul bahwa prianya ini sedikit kesal atas gangguan yang datang, walaupun orang itu adalah putranya sendiri.


"Ada masalah apa?" kali ini tidak ada kelembutan setelah kejadian yang menimpa Luna, sampai saat ini wanita itu masih kesal dengan putranya sendiri, bahkan tatapan dingin itu dapat dirasakan oleh Scoot.


"Palingan masalah Luna atau masalah Laura," bukan Scoot yang menjawab tetapi Dad Ben, sana dengan tatapan dingin.


"Jika itu tujuan utamamu lebih baik pulang saja karena kami tidak ingin membahas masalah itu, yang ada rasa kecewa ini semakin dalam." Mom Ara langsung berprasangka.


"Luna," seru Scoot dengan lidah keluh.


"Ada apa dengan Luna? Bukankah sekarang kalian sudah tidak memiliki ikatan lagi? Dia sudah pergi dari kehidupanmu jadi untuk apa lagi kau masih membahasnya?" Mom Ara benar-benar terbawa perasaan, hatinya cepat sensitif jika nama Luna kembali dibahas karena rasa bersalah masih menyelimuti hatinya sampai detik ini.


"Sayang, tenang!" suaminya menenangkan, melihat wanita tercintanya sedang tersulut emosi, sangat terlihat jelas di sela nafasnya yang turun naik.


"Bagaimana bisa tenang sayang, jika putramu ini masih membahas putri kita."


Seketika Scoot tercengang mendengar kalimat yang dilontarkan oleh sang Mommy.

__ADS_1


Dad Ben mengusap punggung tangan itu dengan penuh cinta, hingga Mom Ara berhasil meredamkan amarah.


"Apa yang ingin kau tanyakan tentang Luna? Apa sekarang kau merasa menyesal? Penyesalan selalu datang di akhir." Pria itu tahu bahwa sekarang putranya ini merasakan penyesalan, ia dapat membaca raut wajah yang ditonjolkan Scoot. Seketika kenangan masa lalu yang curam kembali memukul dadanya, di mana dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama, bahkan paling parah dengan apa yang dialami putranya tersebut.


"Orang seperti itu tak akan pernah merasakan penyesalan sayang, jadi itu sangat mustahil. Di hidupnya hanya ada bayangan almarhum istrinya, hingga semua orang yang sedikit mirip dianggap istrinya. Dia memang cerdas dan seorang CEO terkenal tetapi dalam hal ini bo—, ah sudahlah tak ada gunanya lagi." Cemoohan Mom Ara.


"Jika aku mengatakan menyesal, apa Mom juga tidak percaya?" akhirnya Scoot menimpali, sejak tadi dirinya tak diberi kesempatan untuk berbicara.


"Tidak!" sahutnya dengan tegas.


"Aku tidak memaksa jika Mom harus percaya, tapi tujuanku ke sini ingin menanyakan, di mana keberadaan Luna beserta keluarganya?"


"Pertanyaan yang bodoh!" ucap Mom Ara dengan sinis.


"Mungkin menurut Mom, ini pertanyaan yang bodoh atau konyol karena aku benar-benar tidak tahu di mana keberadaan mereka." Scoot berusaha bersikap tenang, tidak ingin tersulut emosi, bagaimanapun dua paru baya ini adalah orang tuanya yang harus dihormati.


"Tentu saja mereka berada di rumah pemberianmu."


"Apa? Sayang, kemana mereka?" seketika Mom Ara tersentak kaget setelah mendengar keterangan dari putranya, menyatakan tentang hilangnya Luna beserta keluarganya.


"Dad, bahkan baru mengetahuinya sayang," sahut suaminya dengan raut wajah terkejut.


"Di mana keberadaan Luna Dad, Mom? Jangan bersandiwara?" Scoot menuduh jika ke-dua orang tuanya sedang bersandiwara dan menyembunyikan keberadaan Luna, karena menurutnya hanya ke-dua orang tuanya lah yang dapat melakukan itu, hingga sulit untuk mendapat informasi.


"Lihatlah dia! Sangat gampang menuduh. Hanya kau yang bisa bersandiwara selama dua tahun," ucap Mom Ara dengan marah karena Scoot sendiri tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Sayang, tenang."


"Katakan Dad, di mana kalian menyembunyikan istriku?"


"Istri? Haha, baru sadar sekarang? Di mana selama ini? Di mana Scoot? Kau menyia-nyiakan wanita seperti Luna, wanita yang sangat baik!" kini tangisan Mom Ara tak dapat dibendung lagi, air mata mengalir deras di ke-dua pipinya. "Cari Luna, sayang," lirihnya dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Dad Ben mengusap punggung itu dengan lembut sembari membisikan sesuatu, agar Mom Ara tenang.


"Kami bahkan baru tahu sekarang, kami mengira mereka tinggal di rumah pemberianmu. Karena dari awal mereka sepakat akan tinggal di sana, dan bahkan sampai detik ini kami belum menghubungi karena ingin memberi waktu untuk Luna. Tolong tinggalkan kami, kesehatan Mommy-mu akhir-akhir ini menurun, akibat masalah yang menimpa kalian. Nanti malam, temui Dad di R'cafe."


"Scoot minta maaf Mom," kalimat itu terlontar juga dari mulut pria dingin ini. Tetapi tidak membuat wanita itu beranjak dari pelukan sang suami.


Scoot terpaksa beranjak, meninggalkan ke-dua orang tuanya dengan perasaan bersalah. Karena keegoisan dirinya banyak menyakiti orang-orang di sekitar.


Memang benar yang dikatakan Dad Ben, bahwa penyesalan akan datang selalu diakhir.


*


Di pinggir kota kecil, tepatnya di bangunan tua, Luna baru saja usai membereskan kamar kecil yang akan menjadi tempatnya untuk beristirahat. Luna melangkah, berdiri di jendela kamar. Memandang lurus ke depan, dengan beraneka ragam pikiran.


Luna harus siap hidup dari nol kembali. Mencari nafkah untuk ke-dua orang tuanya. Ini sudah keputusan yang diambil Luna, jadi harus siap menerima berbagai macam kerikil yang akan dilalui.


"Kak, ayo kita makan." Panggilan di depan pintu kamar membuat lamunan Luna membuyar, itu adalah panggilan dari Mike.


Luna segera menyeka air mata yang sempat mengalir, akibat kerinduannya kepada Angel. Ia tidak ingin keluarganya melihat kerapuhan dirinya.


Luna berjalan membuka pintu kamar, mendapati Mike yang masih berdiri di sana.


"Kakak, kenapa?"


Luna hanya bisa menggeleng.


"Kakak, habis menangis?"


"Mata Kakak kelilipan," sangkal Luna.


"Aku calon dokter Kak. Hapus, jangan sampai Dad maupun Mom menyadarinya," ucap Mike sembari menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


__ADS_2