
Setelah kejadian itu Luna tidak pernah bertemu dengan Angel. Luna memilih mengurung diri di kamar.
Di tengah malam Luna terbangun, merasa lapar yang tiba-tiba. Sedikit aneh memang, padahal ia tidak melewati makan malam.
Karena tidak bisa ditoleransi membuat Luna menyeret ke-dua kakinya menuju dapur. Tampak dari kejauhan lampu di dapur masih menyala, padahal biasanya dapur gelap tanpa pencahayaan. Luna berpikir bahwa yang berada di dapur kemungkinan Fanny. Fanny baru kembali setelah minta cuti satu bulan karena orang tuanya sakit, dan menjelang malam dia tiba.
Dengan buru-buru Luna berjalan. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tidak sengaja memergoki Scoot sedang memeluk Laura tepat di meja kitchen set.
"Hmm," Luna sengaja berdehem hingga ke-dua orang itu tersentak kaget. Spontan saja Scoot mundur menjaga jarak dengan Laura. "Maaf aku hanya ingin mengambil air, lebih baik melakukannya di tempat yang tertutup!" sindir Luna dengan ketua, entah kenapa matanya memanas melihat apa yang dilakukan Scoot.
Dengan santai Luna berlalu, menuangkan air ke dalam gelas, lalu meneguk sampai tandas. Rasa lapar yang meluap tadi secara cepat menghilang begitu saja, yang malah sebaliknya ia merasakan mual. Sangat mual melihat dimana tadi Scoot memeluk Laura, entah itu disengaja atau tanpa disengaja, Luna tak peduli.
Luna membungkam mulutnya dengan telapak tangan, tidak tahan hingga ia terpaksa berlari ke arah wastafel yang kebetulan sosok Scoot berdiri di sana.
Luna memuntahkan isi perutnya berkali-kali. Melihat Luna muntah, Laura pergi karena baginya sangat menjijikan. Sementara Scoot masih diam tanpa ingin membantu Luna.
"Ya, Tuhan kenapa mual begini?" keluh Luna tidak jelas, tetapi masih dapat didengar oleh Scoot.
Luna mengelap mulutnya. Ia berusaha kuat, sedikit terhuyung memang tapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Scoot.
"Siapkan sesuatu yang dapat mengganjal perut, kebetulan aku melewati makan malam," titah Scoot tanpa perasaan dengan keadaan Luna.
Ya, Scoot baru saja tiba dari luar kota. Karena ingin makan makanya ia langsung bergegas menuju dapur. Tanpa diduga ternyata Laura sedang berada di dapur, karena kaget dengan deheman Scoot membuat Laura sontak teriak.
Apa yang dilihat oleh Luna tidaklah seperti yang ada dalam pikirannya.
"Kenapa menyuruhku?"
"Kau!"
"Aku tidak bisa, apa kau tidak melihat barusan saja aku mun—"
"Alasan saja. Jika sakit minum obat!" usai melontarkan kalimat kesal itu Scoot berlalu begitu saja.
Luna menghela nafas panjang, sebenarnya ia tidak tega menolak tapi hatinya sedang diselimuti kekesalan. Seakan masalah datang bertubi-tubi menghampirinya.
Luna ingin bicara langsung kepada Laura, tapi sangat sulit untuk berbicara dengannya karena selalu nempel kepada Angel. Bagaimanapun Laura adalah sosok yang menghancurkan hubungannya dengan Angel, tidak masalah jika hubungannya dengan Scoot, tapi ini menyangkut putri tiri yang sangat dia sayangi.
*
Keesokan harinya. Luna berinisiatif mencuri waktu untuk bicara empat mata dengan Laura. Scoot maupun Angel sudah berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
"Aku ingin bicara!" sentak Luna mencekal pergelangan tangan Laura hingga membuat tubuhnya berbalik.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu," sahut Laura dengan ketua, ia tahu bahwa Luna pasti akan menyinggung hal yang pasti menyangkut dirinya.
"Aku tidak peduli, tetapi kau tidak bisa menghindari ku lagi!" Luna tetap kekeh dan tak membiarkan Laura pergi, masuk ke dalam mobilnya.
"Ingat posisimu!" bentak Laura sangat berani, seakan dia adalah Nyonya di Mansion tersebut.
Luna terkekeh, mengejek dengan kalimat yang dilontarkan Laura. "Seharusnya kau yang sadar akan posisimu di sini. Yang jelas statusku adalah Nyonya di Mansion ini, sedangkan kau hanya sekedar Adik dari almarhum mantan suamiku!" cecar Luna dengan bibir melengkung, senyuman mengejek yang tercipta di sana.
"Kurang ajar!" umpat Laura ingin menampar Luna tetapi hal itu tidak Luna biarkan hingga mencengkram pergelangan tangan Laura dengan keras.
"Siapa kau hendak berani menamparku? Kau orang luar bagiku! Camkan bahwa aku tidak biarkan siapapun yang mengotori wajahku!" peringatan tegas disampaikan Luna dengan tatapan tajam menyala, meluapkan amarah yang selama ini ia pendam.
Laura mengeram, menghentakkan tangannya dengan kasar, hingga cengkraman itu terlepas.
"Apa sudah selesai?"
"Belum!" Luna menjulurkan ke-dua tangannya, mencengkram ke-dua bahu Laura dengan tatapan tajam. "Apa tujuanmu memfitnah diriku? Kau mencuci otak Angel, kau sungguh manusia bermuka dua!"
"Haha, jika kau pintar tidak perlu menanyakan apa tujuanku!"
"Akan aku beritahukan siapa kau sesungguhnya!" ancam Luna hingga membuat tawa itu spontan terhenti.
Laura menepis ke-dua tangan Luna, lalu bergantian meraup wajah Luna begitu kasar, membuat Luna meringis kesakitan. "Lakukan saja, jika kau ingin melihat Angel mati!" usai mengatakan itu Laura membuka pintu mobil.
Deg!
"Aku belum selesai!" Luna berusaha menahan pintu mobil, menghalangi Laura untuk masuk.
"Aku tegaskan jangan berani mengatakan apapun karena keselamatan Angel dalam genggamanku!"
Mata Luna melotot tak percaya dengan ancaman yang dilontarkan Laura, bagaimana wanita ini menjelma menjadi jahat sekali. Jika sudah menyangkut Angel, maka itulah kelemahan Luna.
Laura tersenyum penuh kemenangan, masuk ke dalam mobil. "Suamimu sungguh pria perkasa, aku sangat ketagihan!" usai mengatakan hal tabu itu pintu mobil segera di tutup oleh Laura. Sementara Luna membeku dengan apa yang barusan saja diucapkan Laura.
Luna meremas dadanya, pengakuan Laura membuat matanya memanas. Bagaimana bisa mereka melakukan zinah di belakangnya, apa lagi status mereka masih suami-istri.
"Kalian sungguh menjijikan!" geram Luna sembari memandangi mobil Laura yang mulai keluar dari gerbang Mansion. Entah apa tujuan Laura sebenarnya, ia juga tidak tahu betul.
Luna berjalan masuk dengan kaki gontai menuju taman belakang. Merenung hidupnya harus dibawa ke mana. Tidak ada yang bisa menjadi teman bicaranya saat ini. Luna tidak tahu harus mengadu sama siapa. Sementara ancaman Laura membuatnya sangat takut, apa lagi Laura orangnya nekat.
"Aku harus apa? Apakah ini saatnya aku menyerah?" gumam Luna sembari meremas perutnya, sedikit keram yang ia rasakan.
Luna memutuskan akan berbicara dengan Scoot, ingin mengakhiri semuanya. Ia tidak dibutuhkan lagi, buat apa bertahan jika hanya rasa hina dan sakit yang dirasakan.
__ADS_1
Siang menjelang
Luna keluar dari kamarnya, tiba-tiba ia ingin makan sesuatu. Dengan terpaksa ia harus keluar Mansion. Kebetulan Fanny dan pelayan lainnya sedang tidak berada di Mansion.
Tepat di ruang tamu langkahnya terhenti melangkah, begitu juga dengan sosok yang baru datang. Tatapan mereka bertemu dalam diam. Seketika Luna menatap dengan jijik, ingatan Laura menyadarkan dirinya.
"Aku ingin bicara, beri waktu beberapa menit saja," ucap Luna, mungkin ini waktu yang tepat untuk mereka membicarakan hubungan yang telah merenggang. Luna tidak peduli dengan alasan kenapa Scoot pulang di waktu jam makan siang.
"Aku tidak ada waktu!"
Luna mendesis mendengar jawaban yang ingin ia hindari.
"Ceraikan aku sekarang juga, atau aku sendiri yang mengajukan perceraian ke pengadilan?"
Scoot mendongak, menatap tajam dengan apa yang dilontarkan Luna.
"Kita akhiri sandiwara ini, bukankah sekarang sosok dan posisiku sudah tergantikan? Angel yang selama ini membuatku bertahan telah menutup ruang, tidak ingin melihat diriku di sini. Jadi aku tekankan, mari kita akhiri!" cecar Luna dengan tegas.
"Tidak semudah itu!"
Luna terkekeh, menertawakan ucapan Scoot. Luna baru sadar sekarang bahwa pria yang ia nikahi bukanlah pria biasa.
"Apakah penderitaan ku belum cukup? Hingga kau engan untuk melepaskan ku?"
"Kau begitu besar hati, apa karena statusmu adalah menantu dari keluarga Brylee? Hingga berani bernegosiasi dengan seorang Scoot Brylee? Ingat aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk keluargamu, camkan itu! Adikmu tidak akan sampai berada di Fakultas Kedokteran jika bukan berkat diriku. Ke-dua orang tuamu siapa yang membiayai perubahan mereka hingga sekarang? Aku bukan?"
Luna memejamkan mata, mencerna semua apa yang dikatakan Scoot. Tentu saja semua yang disinggung olehnya adalah fakta, tetapi kenapa pria itu begitu tega menguraikan satu-persatu. Apa ini jebakan untuk Luna agar tetap bertahan? Tidak, itulah kata hati Luna.
Luna meremas dadanya, berusaha tetap tenang. Tidak ingin terlihat rapuh di hadapan pria kejam ini, kejam menorehkan luka tetapi tidak mengeluarkan darah.
"Kita akan bercerai!" ucap Luna dengan tegas.
Scoot melangkah maju, memepet tubuh Luna hingga terbentur dinding.
"Jangan sentuh Aku, dengan tangan menjijikan itu!" teriak Luna dengan histeris, tidak ingin disentuh oleh tangan Scoot ketika sudah mengetahui kenyataan.
"Luna!" teriak Scoot menggelegar, memenuhi ruang keluarga. Ini kali pertama Scoot menyerukan nama Luna.
"Jangan sentuh Aku!" Luna menepis tangan Scoot yang ingin meraup wajahnya. Karena kehilangan kendali Scoot menarik tubuh Luna dan menghempasnya tidak tepat sasaran, hingga tubuh Luna mengenai meja sofa, tepat pada perutnya.
"Akh," Luna menjerit kesakitan sembari memegang perutnya, hempasan itu begitu keras.
"Kak Lun!"
__ADS_1
"Luna!"
Seruan bersahutan memecah keheningan. Darah segar mengalir di ************ Luna.