PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 13


__ADS_3

15 menit mereka tiba di rumah sakit.


Mike langsung membawa Angel ke kamar VVIP milik keluarga, karena rumah sakit ini adalah milik Brylee. Sedangkan dokter spesialis anak sudah menunggu di depan pintu kamar rawat.


Angel langsung ditangani. Di salah satu tangannya terpasang selang infus. Angel mengalami hidrasi cairan akibat muntah hingga terpaksa di pasang selang infus.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Luna.


"Nona muda mengalami keracunan makanan. Untung saja segera di bawa ke rumah sakit, mengingat kondisi Nona muda begitu lemas. Tapi jangan khawatir karena semuanya tidak ada yang membahayakan." Terang dokter.


"Apa yang terjadi?" suara penuh khawatir di ambang pintu kamar membuat semuanya menoleh ke sumber suara. Itu adalah suara Mom Ara yang di dampingi oleh Dad Ben.


Dengan langkah panjang wanita cantik itu mendekati tempat pembaringan Angel, mendapati Angel yang masih menutup mata.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" lirih Mom Ara dengan perasaan khawatirnya sembari mengecup dahi Angel.


Luna menjelaskan sesuai dengan keterangan dokter yang mengatakan Angel mengalami keracunan makanan.


Mom Ara memijit ujung keningnya, bisa-bisa para koki keteledoran dalam hal ini.


"Luna tidak tahu apa yang dimakan Angel," ucap Luna merasa bersalah karena tidak sempat memperhatikan makanan Angel selama di pesta tadi.


Brak!


Pintu kamar rawat begitu terdengar hingga membuat semuanya mengarah pandangan ke arah pintu. Dimana di sana mereka mendapati dua sosok tengah masuk ke dalam kamar.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" cecar Scoot.


"Keracunan makanan," sahut Mom Ara tanpa ingin memandang ke arah putranya, rasa kesal masih bersemayam dalam hatinya.


"Keracunan? Siapa-siapa saja koki yang terlibat dalam menghidangkan makanan? Biar aku pecat semuanya!" ujar Scoot dengan raut wajah murka.


"Ini bukan sepenuhnya kesalahan para koki, buktinya kita dan ratusan para tamu undangan baik-baik saja. Jangan terlalu egois!" ucap Mom Ara dengan tatapan sinis, sungguh putra sulung mereka ini seenaknya saja.


Scoot langsung menatap Luna yang sejak tadi diam sembari tak henti-hentinya mengusap punggung tangan Angel dengan raut wajah sendu.


"Apa yang kau lakukan di pesta? Memperhatikan apa yang Angel makan saja tidak becus!" Scoot melontarkan kalimat kasar itu kepada Luna, yang berhasil membuat Luna mendongak.

__ADS_1


"Jangan salahkan Luna karena kejadian ini diluar dugaan!" sela Mike dengan geram.


Scoot melirik Mike dengan tatapan tak biasa. "Aku bukan bicara denganmu! Jangan ikut campur!"


Mike tertawa mengejek. "Kau adalah keluargaku jadi apa salahnya aku dan yang lainnya ikut campur! Sangat aneh!"


"Kau!"


"Egois!"


Scoot spontan mengepalkan tangan, rahang kokoh itu mengeras. Begitu juga dengan Mike, pria itu tersulut emosi.


"Aku minta maaf," lirih Luna hingga perdebatan dua saudara itu terhenti.


"Ini bukan kesalahan Kakak ipar, jadi tidak ada yang perlu minta maaf. Orang yang tidak berpikir luas yang hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa tahu kebenarannya!" sindir Mike.


"Sepertinya kau sangat menyukai dia? Sangat terlihat sejak tadi kau membelanya saja!" tuduh Scoot seperti ejekan.


"Ya, kau benar! Pria mana yang tidak tertarik atau bahkan menyukai wanita seperti Luna? Buka matamu lebar-lebar, bahwa wanita yang kau sematkan peran pengganti itu adalah wanita sempurna!" teriak Mike, meluapkan emosinya. "Sayangnya dia adalah istri dari Kakakku!" sambungnya.


Luna sendiri tertegun mendengar apa yang dikatakan Mike.


"Seperti tidak ada wanita lain! Kau berhasil menggoda ke empat Adikku!" tuduhnya kepada Luna yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.


Mata Luna membulat mendengar tuduhan yang merendahkan harga dirinya itu. Ia tak pernah menduga bila Scoot sampai menuduhnya ke hal seperti itu. Ini sudah kelewatan batas menurutnya.


"Lihatlah betapa kejamnya pria yang kau nikahi Luna! Suami mana yang semudah itu menuduh istrinya?" umpat Mike penuh ejekan.


"Kau!" tunjuk Scoot sembari melangkah maju.


"Stop!" suara bariton tegas itu membuat semuanya terdiam, termasuk Scoot maupun Mike. "Ini bukan saatnya untuk berdebat!"


Dengan segera Mom Ara, mengusap pundak suaminya. Ia tidak ingin pria itu tersulut emosi atas perdebatan anak-anaknya.


"Huk, huk!" Angel batuk dengan berusaha membuka mata. Tepat dimana keheningan orang-orang di sekitarnya.


"Sayang, Angel sudah bangun? Katakan mana yang sakit? Mana yang sakit sayang?" ucap Luna bertubi sembari memeriksa tubuh Angel dengan raut wajah, antara senang dan sedih campur aduk melihat bangunnya Angel.

__ADS_1


Angel diam tanpa berkedip menatap Luna.


"Sayang, Mom minta maaf," ucap Luna, tanpa sadar air mata meluncur di kedua pipinya.


Semua orang tertegun melihat apa yang Luna lakukan dimana wanita itu begitu khawatir, hingga mengeluarkan air mata hanya demi menangisi keadaan Angel, putri tirinya.


Terlebih lagi Scoot, selama ini ia tidak pernah melihat Luna menangis. Tapi kali ini wanita itu menunjukkan sisi lemahnya kepada seluruh keluarga besar Brylee.


"Pergi!" lirih Angel dengan bibir bergetar, sembari menepis pegangan Luna pada tubuhnya.


Deg!


Dada Luna bagai di hantam tombak tumpul, yang menimbulkan rasa sakit luar biasa, tanpa mengeluarkan darah. Kalimat singkat yang dilontarkan Angel berhasil merontokkan seluruh organ tubuhnya.


"Pergi! Mom tidak sayang Angel! Angel benci Mom, Angel sangat benci."


"Sayang," lirih Luna dengan bibir bergetar. Air mata yang belum kering kembali membasahi seluruh wajahnya. Perkataan Angel yang tak pernah terduga membuat seluruh jiwanya pergi.


"Oma," tangis Angel, minta perlindungan Mom Ara, bahkan anak bermata indah itu terbangun dari pembaringannya.


Mom Ara dengan sigap mendekap Angel, mengusap kepalanya, memberi ketenangan agar Angel tidak banyak bergerak karena bisa saja tangan terpasang jarum infus mengeluarkan darah.


"Sayang, tenanglah," bisik Mom Ara sembari menciumi pucuk kepala Angel.


"Angel, tidak ingin ada Mom di sini Oma," lirih Angel disertai isak tangis.


Luna memejamkan mata, lagi-lagi kalimat menyakitkan itu kembali dilontarkan Angel. Tidak menginginkan dirinya berasa di sisiNya, bahkan dengan terang-terangan mengusir dirinya.


Semua mengalihkan pandangannya ke arah Luna, kecuali Scoot dan juga Laura. Sementara orang yang di pandang hanya bisa menunduk, menahan tangisnya agar tidak menimbulkan suara.


"Mommy," seketika Angel baru menyadari sosok Laura yang sejak tadi berdiri di belakang Scooter.


Sementara Luna mendongak ketika putri yang sangat ia sayangi itu menyerukan Mommy. Seketika senyuman yang terukir dalam sekejap luntur, mendapati kenyataan bahwa Angel memanggil Laura.


"Cup cup, tenanglah sayang," bisik Laura sembari mengecup pucuk kepala Angel yang sedang meluknya. "Angel, berbaring lagi ya? Tidak boleh bergerak dulu. Hmm, lihat ini dipasang jarum infus," ucap Laura dengan nada amat lembut.


Tanpa bersusah payah membujuk, Angel mengikuti apa yang dikatakan Laura.

__ADS_1


__ADS_2