
Satu bulan kemudian
Hubungan Luna dengan Scoot dan juga Angel tidaklah membaik, terlebih lagi antara Luna dan Angel. Ke-duanya menjaga jarak, terlebih lagi Angel. Luna hanya bisa pasrah, berusaha tetap bertahan sampai dimana titik kelelahannya.
Sudah satu minggu belakangan ini Laura di izinkan tinggal di Mansion, itu semua memenuhi keinginan Angel. Sekali lagi membuat Luna pasrah dan tak bisa berkata apapun, walau dari lubuk hatinya sangat menentang keinginan tersebut.
Seperti pagi ini, Luna hanya bisa tersenyum kecut, menonton bagaimana reaksi Angel kepada Laura, yang tak lain adalah saudara kembar almarhum Mommy-nya.
"Apa yang kau lakukan?" suara bariton yang bersumber dari arah belakang mengagetkan Luna yang begitu serius memperhatikan Angel dan juga Laura di ruang keluarga.
Luna menghela nafas kasar, ia sangat kesal karena ketenangannya terganggu, hingga engan untuk mengucapkan sepatah kata.
"Di mana kau menyimpan dasi warna hitam?"
Pertanyaan itu, mau tidak mau membuat Luna buka suara. "Mana aku tahu, tanyakan saja kepada wanita itu! Bukankah belakangan ini, wanita itu yang mengurus segala keperluan kalian?" usai mengatakan sindiran itu Luna berlalu begitu saja tanpa ingin mendengar sahut dari lawan bicaranya, walaupun sudah bisa ia prediksikan hanya umpatan yang dilontarkan suaminya itu.
Tangan Scoot terkepal, ingin sekali memberi pelajaran kepada Luna tapi entah kenapa keinginannya itu tak bisa ia lakukan.
Ya, belakangan ini Laura lah yang menyiapkan keperluan Ayah dan anak itu. Bisa di sematkan sosok Laura adalah madu untuk Luna. Awalnya Luna ingin protes, tapi lama berpikir, hingga ia tidak mempersalahkan.
Scoot juga begitu dekat dengan Laura, kadang ada waktu luang mereka berbincang-bincang di ruang keluarga, dan tentunya ada Angel juga.
Setelah kejadian yang membuat Luna trauma, mereka pisah kamar. Luna lebih memilih menempati kamar tamu. Awalnya Scoot marah tapi karena gengsi nya terlalu besar, membuatnya engan peduli.
Scoot menuruni tangga, bergabung dengan Laura dan juga putrinya yang sedang asik bercanda gurau.
"Dad," panggil Angel ketika menyadari sosok Scoot yang langsung duduk di sofa.
"Kau sudah sarapan?"
"Sudah, Dad."
"Apa kau mau sarapan?" tanya Laura sembari tebar pesona.
"Tidak, sebentar lagi aku akan berangkat."
"Dad, mau kemana? Bukankah sekarang libur?" tanya Angel dengan bibir mengerucut, karena sepertinya rencana untuk mengajak Daddy-nya jalan-jalan pasti gagal.
"Dad, akan ke luar negeri selama tiga hari."
"Kok tiba-tiba sih!" Angel protes karena biasanya dari awal pasti sudah dikasi tahu.
"Dad, menghadiri acara tahunan dengan para pebisnis. Kebetulan Uncle Justin tidak bisa karena akan menangani perusahaan cabang," jelas Scoot hingga membuat Angel ber oh ria.
"Baiklah, aku akan menyiapkan barang yang ingin kau bawa." Laura spontan bangkit.
"Tidak perlu karena aku hanya membawa satu potong pakaian." Scoot mencegah Laura yang ingin beranjak dari ruang keluarga.
Laura mengangguk, sedikit kekecewaan dalam benaknya.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan," sapa Justin.
Scoot mengangguk
"Dad, pergi dulu. Jaga dirimu," ujar Scoot berpamitan kepada Angel.
"Jangan khawatir Dad, kan ada Mommy," cicit Angel sembari mengecup ke-dua belah pipi sang Daddy.
"Jaga Angel, jika ada masalah jangan segan untuk menghubungiku!"
"Baiklah, kau jangan khawatir," sahut Laura sembari tersenyum.
Sementara Justin hanya diam saja. Perasaannya tiba-tiba ke sosok Luna yang hampir belakangan ini jarang ia temui.
*
Usai menceritakan sesuatu kepada Angel, Laura keluar dari ruang arena bermain Angel. Ia akan keluar untuk dua jam ke depan karena ada kepentingan.
Di dalam sana Angel menangis, mengepal ke-dua tangannya. Geram meluap begitu saja, hingga membuatnya tidak tahan untuk berdiam diri di sana.
Angel berjalan cepat ke arah kolam renang, di mana di sana ada sosok Luna yang berdiam diri.
"Sayang," gumam Luna dengan sontak kaget melihat kedatangan Angel.
"Kamu jahat, sangat jahat!" tangis Angel sembari melemparkan pukulan bertubi di tubuh Luna.
"Hentikan, Angel!" bentak Luna pada akhirnya, tidak bisa menahan diri.
Angel menelan ludah mendengar bentakan Luna, bentakan yang baru pertama ia dapatkan selama mengenali Luna.
"Katakan di mana jahatnya Mom? Semua yang Angel inginkan Mom, terima. Katakan di mana kesalahan Mom?"
"Kamu jahat, kamu telah membunuh Mommy kandung Angel. Kamu pembunuh! Angel sangat benci sama kamu!" teriak Angel.
Deg!
Pernyataan yang Angel lontarkan benar-benar membuat Luna kaget luar biasa. Bagaimana bisa anak seusia Angel mengatakan hal konyol tersebut.
"A-apa?" gumam Luna dengan bibir bergetar tak percaya.
Angel terus saja meraung, menangis tanpa henti.
"Sayang, dengar Mom baik-baik. Mom, —"
"Jangan menyentuh Angel!"
Seketika kedua tangan Luna menggantung, mengurungkan niatnya untuk menyentuh ke-dua pipi penuh air mata itu.
"Siapa yang mengatakan hal bohong itu?"
__ADS_1
"Mommy Laura!"
Deg!
Luna membungkam mulutnya, sangat terkejut dengan pengakuan Angel. Bukan hanya Luna saja tetapi Angel sendiri kaget, menyadari bahwa ia sudah keceplosan.
Luna terkulai lemas, merosot ke lantai. Ternyata selama ini Laura telah mencuci otak anak tirinya. Sekarang Luna benar-benar yakin bahwa kedatangan Laura tidaklah bertekad baik. Wanita mana yang tega memfitnah dirinya dengan hal itu. Kenal saja dia tidak, apa lagi sampai membunuh. Bukankah Lucy meninggal karena berjuang untuk melahirkan Angel? Tetapi dengan mudahnya Laura memfitnah dirinya.
Ingin sekali Luna menjelaskan kenapa Angel tetapi semua itu tak ada gunanya karena otak Angel sudah terlebih dahulu di hitamkan.
Luna hanya bisa menangis melihat kepergian Angel. Meninggalkan dirinya seperti ini, difitnah dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Kau begitu polos sayang," lirih Luna.
*
Sebelumnya
"Mommy, temani Angel main," ajak Angel ketika Laura sedang masuk ke dalam kamarnya.
Laura menghela nafas kasar, sangat terlihat jelas di raut wajahnya tidak suka, tetapi sayangnya Angel tidak bisa membedakan.
"Baiklah," sahutnya dengan malas.
Angel membawa Laura melangkah menuju arena bermain yang tergeletak beberapa meter dari kamarnya.
Di dalam sana mereka bermain sembari bercanda gurau. Tiba-tiba keinginan tahu Laura tentang sosok Luna yang bisa masuk ke dalam keluarga Brylee.
"Sayang, apa Angel menyayangi Mom Luna?" pertanyaan Laura berhasil menyita perhatian Angel.
Angel berpikir sejenak, mengingat singkat momen di mana dulu mereka berkenalan. Angel mengingat sedikit pada momen itu, tapi ingatannya kuat di mana pertama kali mereka bertemu.
"Sayang,"
"Tentu saja Angel menyayangi Mom, tetapi Angel kecewa karena Mom tidak tulus menyayangi Angel," akui Angel dengan mata berkaca-kaca.
Laura mengepalkan salah satu tangannya, mendengar pengakuan Angel membuatnya kesal. Lalu dalam sekejap ia membuat rencana, rencana agar nama Luna tertutup di hati keponakannya tersebut.
Sebenarnya Laura penasaran alasan kenapa Angel kecewa, tetapi untuk hal itu ia akan bertanya di lain waktu. Untuk saat ini, inilah waktu yang tepat untuknya merancang rencana busuk.
Laura mengangkat tubuh Angel ke pangkuannya, dengan posisi saling berhadapan. "Apa Angel tahu siapa Mom Luna?" karena polos Angel menggeleng. "Apa Angel tahu kenapa Mommy kandung Angel meninggal?"
"Kata Dad, pada waktu melahirkan Angel," sahut Angel seperti yang dikatakan Daddy-nya.
Laura menggeleng
"Mom Luna adalah pembunuh Mommy Lucy," bisik Laura.
Pada saat itu Angel luar biasa kaget, sampai-sampai ia beranjak dari pangkuan Laura. Tetapi bukan Laura namanya jika sesuatu yang ingin dicapainya gagal. Angel anak kecil yang polos masuk ke dalam jebakan kebohongannya
__ADS_1