PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 14


__ADS_3

Tiba-tiba dokter kembali masuk ke kamar rawat untuk memeriksakan keadaan Angel. Hingga semuanya terpaksa tenang selama proses pemeriksaan.


Suster kembali menggantikan botol infus, dan menyuntikan lewat botol infus.


"Oma, Angel ingin pulang saja," rengek Angel karena dia tipe orang yang tidak menyukai aroma rumah sakit.


"Tidak boleh Nona, untuk malam ini Nona masih dalam pemilihan. Besok siang baru diperbolehkan," terang sang dokter.


Usai menerangkan dengan halus, dokter beserta suster undur diri kembali bertugas.


"Pokoknya Angel mau pulang," rengek Angel kembali, bahkan anak itu menangis.


"Sayang, apa Angel tidak mendengar apa yang dijelaskan Pak dokter tadi?" akhirnya Luna tidak tahan untuk membujuk Angel, walaupun ia tahu jika kenyataannya tidak sesuai yang diharapkan.


"Iya sayang, apa yang dikatakan Mom Angel benar," imbuh Mom Ara.


Angel terdiam, seperti memikirkan sesuatu.


"Baiklah, tapi Angel maunya Mommy itu yang menemani Angel!"


Deg!


Luna maupun Laura kaget mendengar dan melihat arah tunjukan Angel yang tepat pada Laura.


"Mommy, maukah menemani Angel?" tanya Angel begitu berharap, bahkan sorot matanya begitu teduh. "Angel, hanya mau ditemani Dad dan Mommy Angel," sambungnya.


"Iya sayang, Aunty akan menemani Angel sampai esok," sahut Laura sembari tersenyum.


Sementara Luna hanya bisa membeku dengan dada begitu sesak, mendapati kenyataan yang saat ini di depan matanya.


Lain halnya dengan empat bersaudara, mereka langsung melenggang meninggalkan kamar rawat dengan pikiran masing-masing. Bahkan tanpa sepatah katapun mereka lontarkan.


Mom Ara mendekati Luna, mengusap pundaknya dengan kepala mengangguk, ingin mengajak Luna berbicara.

__ADS_1


"Mom ingin bicara," ucapnya kepada Luna dan juga Scoot. Mom Ara berjalan menuju sofa sembari menggenggam tangan suaminya. Mau tidak mau Luna maupun Scoot mengikuti. Sementara Laura menenangkan Angel dengan cara mengusap kepalanya.


Mom Ara menghela nafas kasar, kepalanya menjadi pusing dengan keadaan malam ini. Seharusnya ia bersama sang suami beserta keluarga besarnya bahagia dimana malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka tetapi keadaan merubah segalanya.


"Mom, tidak tahu apa yang terjadi kepada kalian. Tapi tidak dapat dipungkiri kalau hubungan kalian tidaklah dikatakan baik-baik saja. Yang mengganjal di hati Mom adalah sikap Angel, sikap Angel yang tak pernah kami lihat selama ini. Sebenarnya ada apa?" tutur Mom Ara dengan ketus.


Luna maupun Scoot terdiam. Melihat keduanya hanya diam saja membuat Mom Ara menjadi geram tetapi berusaha tenang karena posisi mereka saat ini sedang di rumah sakit.


"Scoot, kau adalah kepala keluarga di rumah tangga kalian. Apapun masalahnya selesaikan dengan hati dingin. Bukankah kau sendiri yang memilih kehidupanmu dari awal?" papar Dad Ben, sebenarnya ia ingin sekali memarahi putra sulungnya itu andai saja saat ini mereka hanya berdua. Ia ingin membukakan mata putranya itu, bahwa Scoot selama ini mensia-siakan peran Luna.


Mom Ara langsung mengenggam tangan Dad Ben sembari menggelengkan kepala perlahan, tidak ingin suaminya terpancing emosi. Apa lagi saat ini tensi darah Dad Ben tidak normal.


"Sayang, kamu pulang bersama Mom ya? Jangan khawatirkan Angel karena Daddy-nya yang akan menjaganya," ucap Mom Ara kepada Luna yang sejak tadi menunduk dengan mata sembab.


"Luna akan pulang sendiri Mom," sahut Luna sembari tersenyum kecil, tetapi tidak dengan hatinya saat ini.


"Baiklah. Jika begitu Mom sama Dad, pulang!"


Luna mengangguk


"Setelah Angel benar-benar terlelap, pulanglah. Biar Daddy-nya yang menjaga, tidak baik juga bagi kalian menginap satu ruangan," tegur Mom Ara sangat menentang keinginan Angel.


"Iya Tante," ucap Laura tidak semangat, awalnya ia sangat senang dengan permintaan keponakannya itu, tetapi kini semuanya sirna.


Usai mendapat jawaban Laura, Mom Ara dan juga Dad Ben keluar.


Luna beranjak bangkit dari tempat duduknya, melirik sejenak pembaringan Angel. Tanpa sepatah kata ia berjalan menuju pintu dengan kedua kaki gontai.


Scoot memandangi punggung Luna hingga menghilang di balik pintu tanpa ingin mencegahnya. Lalu ia pun beranjak masuk ke kamar mandi. Sementara Laura tersenyum sendiri tanpa ada yang tahu arti senyuman tersembunyi itu.


Luna membawa langkahnya ke rooftop rumah sakit, ingin menyendiri untuk sesaat. Ia memutuskan tidak akan pulang, bagaimana bisa ia membiarkan Angel saat ini tanpa dirinya yang mendampinginya, walau kehadirannya tak diinginkan bahkan kata kasarnya tak dibutuhkan.


Di atas sana dengan tubuh dingin Luna kembali meneteskan air mata. Menangis sesuka hati karena tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya. Mencurahkan dada yang sejak tadi ingin meledak.

__ADS_1


"Selama ini aku bertahan karena kamu sayang, tetapi sekarang kehadiran Mom tak diinginkan lagi. Mom harus apa Angel? Mom sudah terlalu sayang kepada Angel, hingga hati ini perih ketika Angel menolak kehadiran Mom. Mom minta maaf, Angel percaya karena ucapan Mom tempo hari tidaklah benar, sesuai hati Mom!" lirih Luna sembari memeluk kedua lututnya.


Satu jam kemudian


Luna tidak tahan lagi dengan dinginnya malam. Rasa dingin itu hingga tembus di tulang-tulangnya, memutuskan dirinya kembali masuk.


Langkahnya kembali menuju kamar rawat. Tepat di depan pintu ia berpapasan dengan suster yang baru saja keluar dari dalam.


"Nyonya, jika ada sesuatu segera hubungi kami," ucap suster.


"Iya Sus," sahut Luna.


"Mari Nyonya!"


Luna mengangguk


Sepeninggalan suster, Luna tersenyum getir. Ingin menertawakan dirinya sendiri ketika orang-orang memanggilnya dengan formal begitu. Dua tahun silam ia hanyalah seorang pengasuh.


Dengan tangan lemah Luna membuka pintu penuh kehati-hatian. Tidak ingin Angel terbangun dari tidurnya, agar ia bisa menjaga Angel tanpa anak itu menyadarinya.


Tepat setelah menutup pintu kembali, Luna bernafas lega karena mendapati dua sosok itu tengah terlelap tanpa menyadari kedatangannya yang mengendap-endap.


Luna melirik Scoot sekilas yang sedang tidur di atas sofa panjang dengan tatapan ketus, bagaimana ada seorang Ayah yang bisa tidur nyenyak ketika sedang menjaga putrinya.


Luna meraih kursi, mendekatkan ke brankar pembaringan Angel. Duduk dengan tatapan sendu, memandangi wajah tenang Angel.


Sangat lama ia perhatikan wajah terlelap itu, hingga dimana bibir mungil itu melengkung. Angel tersenyum dalam tidurnya, mungkin saja dalam mimpinya begitu indah.


Tangan Luna terulur untuk mengusap wajah Angel, menciumnya dengan penuh kasih sayang. Tanpa berpikir bahwa Angel bukanlah anak kandungnya.


"Lekas sembuh sayang, Mom sangat menyayangi Angel. Jangan benci Mom ya?" lirih Luna tanpa bisa ditahan lagi air mata itu dengan tenangnya meluncur membasahi seluruh wajahnya.


Luna berusaha menutup mulutnya agar tangisnya tidak menimbulkan suara, ia tidak ingin Angel terbangun, begitu juga dengan Scoot.

__ADS_1


Sementara di sofa sana Scoot tertegun tanpa memutuskan pandangannya ke arah sosok Luna yang memperlihatkan kedua pundaknya bergetar akibat menahan tangis. Awalnya Scoot cukup kaget dengan sosok Luna. Rupanya ia tersadar dalam tidurnya setelah 10 menit Luna masuk.


__ADS_2