PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 49


__ADS_3

"Lancang sekali mulutmu itu!" sengit wanita yang melayangkan tamparan cukup keras itu.


"Mom," gumam Scoot maupun Luna sontak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Mom Ara.


"Siapa kau beraninya menuduh menantuku?" bentak wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam. Ya, Mom Ara sudah tahu kebusukan Laura, karena itu membuatnya sangat murka, belum lagi mendengar Laura memaki Luna.


Laura yang mendapat tamparan keras tiba-tiba itu mengeram marah, namun wanita itu tak bisa berbuat apapun. Ia mengusap bekas tamparan yang meninggalkan bekas.


"Bubar!" teriak Scoot menegaskan karena mereka menjadi bahan tontonan, tanpa ingin mendapat masalah semua pengunjung meninggalkan restoran.


"Dasar wanita licik!" cecar Mom Ara masih tersulut emosi.


Luna mengusap pundak mertuanya. "Sudah Mom, sudah. Tidak perlu Mom mengotori tangan Mom, biarkan saja dia!" ucap Luna berusaha menenangkan.


"Tidak sayang, dia sudah keterlaluan menuduh mu. Dan satu lagi kau pun menghasut cucuku, dasar wanita licik!" Mom Ara masih mencecar, menumpahkan emosinya.


Baik Luna maupun Scoot saling menatap, menenangkan wanita paruh baya tersebut memang butuh kesabaran.


Sementara Samuel melirik Laura diam-diam, begitu juga dengan Laura. Dari tatapannya mengisyaratkan agar Samuel melakukan sesuatu sesuai rencana.


"Kau siapa?" tanya Laura kepada pria itu. "Kenapa masih berduaan dengan istri orang?"


Mendengar pertanyaan Laura itu membuat semuanya menatap kepada Samuel.


"Aku hanya memenuhi undangan Nona Luna," ujar Samuel yang berhasil membuat Luna, suaminya maupun mertuanya terkejut, dan mereka saling memandang.


"Kau lihat sendiri? Kelakuan istri maupun menantu yang kalian sayangi itu? Bahkan pria ini begitu asing!" cecar Laura menggebu-gebu, dengan senyum liciknya.


"Apa kau bilang?" tanya Luna yang ikut kaget, tidak paham dengan apa yang dikatakan pria itu.


"Jangan bersandiwara lagi Nona. Nona sendiri yang menghubungi saya."

__ADS_1


"Jangan asal bicara!" bentak Luna, entah kenapa akhir-akhir ini ia suka kali membentak. "Sayang, Mom jangan percaya. Itu tidak mungkin, bahkan kita tidak sengaja bertemu tadi diluar," ucap Luna meyakinkan suami dan juga mertuanya.


"Sok suci!" sinis Laura merasa menang.


"Tutup mulutmu! Jangan ikut campur! Dan kau, apa aku percaya dengan mulut kosong kau itu? Kau sudah berani bermain-main dengan seorang Scoot Brylee, berarti kau sudah siap hancur sampai ke akar-akarnya!"


Mendengar ancaman itu membuat Samuel maupun Laura membeku, namun dengan segera mereka berusaha tenang.


"Aku sudah salah menilai, ternyata ada sesuatu terselubung!" ucap Luna terlihat kecewa karena pria itu ada maksud dengan menyelamatkan dirinya tempo hari.


Luna menggenggam tangan suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Sayang, kau percaya kan?" lirih Luna.


"Luna!"


Di rumah sakit


Luna baru saja ditangani. Kejadian di restoran tadi membuat Luna tidak sadarkan diri. Dengan panik Scoot maupun Mom Ara membawa Luna ke rumah sakit.


Sementara Scoot tidak henti-hentinya menggenggam tangan Luna. Luna baru saja sadar dari pingsannya.


"Nona, mengalami kelelahan dan itu sudah terbiasa terjadi kepada Ibu hamil," terang dokter dengan tenang.


"Apa? Hamil?" seru sepasang suami-istri itu sontak kaget.


"Menantu ku hamil?" lirih Mom Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Nyonya, Tuan. Apakah sebelumnya kehamilan ini belum diketahui?"


Mom Ara menggeleng, lalu dengan spontan beringsut memeluk Luna dengan rasa hari. "Sayang, akhirnya apa yang Mom tunggu-tunggu terkabul juga." Mom Ara memeluk Luna sembari menangis. Sementara Luna juga ikut terharu karena jujur saja ia juga merindukan sesosok tumbuh di rahimnya.


Scoot yang sejak tadi kaget, seketika ekspresinya datar, bahkan genggaman di tangan Luna dilepas begitu saja. Sorot mata itu mengandung arti penuh tanya. Mengingat keterangan dokter tentang kehamilan Luna semakin membuatnya syok.

__ADS_1


Tanpa mengatakan sepatah katapun pria itu beranjak, keluar dari ruang rawat, tanpa ingin berpamitan.


Melihat apa yang dilakukan Scoot membuat pelukan antara menantu dan mertua itu melonggar, ke-duanya saling menatap dengan sorot mata penuh tanya.


Raut wajah yang berseri-seri tadi tidka bertahan lama karena kini keceriaan di wajah Luna berubah sendu. Luna kecewa melihat reaksi Scoot, bukankah seharusnya pria itu bahagia mendengar kabar yang luar biasa ini, namun tidak begitu yang dirasakan prianya.


"Ada apa dengannya?" keluh Mom Ara karena menyadari sikap putranya itu.


"Mom, sepertinya suamiku tidak menginginkan kehamilan ini. Buktinya tanpa sepatah katapun tidak terucap, dan pergi meninggalkan Luna," lirih Luna sembari menangis.


"Sayang, jangan banyak pikiran karena itu tidaklah benar. Apa kau lupa apa yang dikatakan dokter? Usia kehamilan mu masih terbilang muda, dan juga lemah, jadi jangan banyak pikiran, apa lagi sampai stres." Mom Ara mengusap pundak Luna dengan penuh kasih sayang.


Luna mengangguk, bagaimana ia tidak berpikir jika dengan tiba-tiba suaminya bersikap dingin. Seharusnya pria itu merangkul dirinya dengan ucapan manis, sebagaimana suami-suami pada umumnya.


"Mom, sebaiknya kita pulang saja. Luna baik-baik saja," ucap Luna berusaha tersenyum, mengisyaratkan jika ia baik-baik saja.


Mom Ara menggeleng. "Kau belum boleh di izinkan pulang sekarang sayang, tunggu tiga jam lagi. Kalau begitu kau sebaiknya istirahat, dan Mom ingin keluar sebentar," ucapnya.


"Baiklah Mom."


"Cucu Oma, jaga Mommy dulu ya? Oma mau keluar sebentar, ingin menghubungi Opa." Wanita paruh baya itu mengajak calon cucunya berbicara sembari mengusap perut Luna yang masih datar. Mom Ara sangat bahagia mendengar kabar bahagia itu, kabar yang sejak bertahun-tahun dirindukannya. Bahkan kabar kehamilan Luna sebelumnya membuatnya syok karena musibah yang tak terduga, namun dalam kesempatan kali ini keinginannya terkabul kembali.


"Iya Oma," Luna membalas sebagai jawaban dari calon buah hatinya. Jujur kabar gembira ini adalah kabar yang spesial baginya karena ini adalah bukti buah cinta mereka. Namun tidak dengan prianya, bahkan pria itu meninggalkan dirinya di momen bahagia ini.


Mom Ara meninggalkan Luna, sementara Luna memejamkan mata. Bulir bening itu kembali bergulir dengan perlahan, membasahi wajahnya.


"Sayang, kehadiran kamu adalah hadiah terindah bagi Mom," lirih Luna sembari mengusap perutnya perlahan, berusaha untuk tersenyum. Kabar gembira ini tentu sangat berbeda dari kehamilan yang terdahulu.


Tidak ingin berpikir lebih jauh, Luna berusaha memejamkan matanya. Ia teringat dengan keterangan dokter, yang mengatakan bahwa kandungannya lemah. Luna tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali, untuk itu ia berusaha menjaga kandungannya sebaik mungkin. Anak tak bersalah dengan kehadirannya yang tiba-tiba ini harus mendapat kasih sayang.


Sementara di ruang Direktur Scoot berdiri menghadap jendela kaca terbentang lebar, dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


Kabar kehamilan Luna dan keterangan dokter membuatnya cukup syok.


__ADS_2