
Tak menghiraukan keterkejutan Luna, Scoot melangkah. Menatap kasur berukuran solo, lalu memandang seluruh ruangan sempit itu dengan dahi mengerut.
"Huk... huk....." Scoot batuk panjang, dan tak lama disertai bersin.
"Bagaimana bisa kau tinggal di tempat seperti ini?"
"Bukan urusanmu! Yang penting bisa terlindung dari hujan maupun matahari." Luna berdecak kesal.
"Kenapa kepalaku jadi sakit seperti ini?" pria itu bergumam sembari memegang kepalanya, sementara Luna masih berdiri menjauh.
Scoot terus-terusan batuk dan disertai bersin, hingga membuat Luna sedikit panik. Dan pada akhirnya pertahanannya runtuh, ia melangkah mendekati sosok yang tengah batuk dengan tangan memegang segelas air minum.
"Minum dulu, kebetulan persediaan obat habis." Luna mengulurkan gelas itu tepat di hadapan suaminya. "Tenang saja, aku tidak mencampur racun pada minuman ini!" Luna sengaja mengatakan hal itu karena gelas itu tak kunjung di sambut oleh suaminya.
"Bisa kau bantu? Tanganku kebetulan sakit."
Luna menyipitkan mata, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki tampan itu. Tidak ingin berlama-lama, Luna meletakan gelas itu di atas kasur dan melangkah keluar. Ia memutuskan akan tidur di luar, biarkan saja suaminya malam ini menempati kamar miliknya.
"Luna, kau mau kemana?" panggil Scoot. Sementara Luna, acuh dengan panggilan itu.
Scoot beranjak dari kasur, berjalan keluar ingin menyusul Luna. Langkahnya terhenti ketika menemukan sosok itu sedang duduk dengan tatapan kosong ke depan.
"Baiklah, aku akan keluar. Kembalilah ke kamarmu." Usai mengatakan itu Scoot membuka pintu rumah. "Izinkan aku menumpang di teras hingga matahari terbit," imbuhnya dan kembali menutup pintu.
Di luar cukup dingin, di mana sekarang adalah musim dingin. Scoot memeluk tubuhnya sendiri, duduk di kursi kayu yang ada di teras.
Sementara Luna mendongak karena sejak tadi wanita itu memalingkan wajah, engan untuk menatap walau sekilas saja.
Beberapa menit Luna beranjak, mondar-mandir dengan sejuta pikiran. Bingung harus bagaimana. Hatinya tergerak ingin mengintip dari celah jendela, apakah suaminya itu benar ada di luar.
Dengan gerakan halus dan hati-hati, Luna menyibak gorden. Darahnya berdesir mendapati sosok itu tengah duduk menyandar dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" keluh Luna karena tak pernah melihat sikap Scoot yang berubah. Selama ini mereka irit bicara dan lihatlah tadi bagaimana pria itu mengoceh.
Karena tidak ingin sesuatu terjadi Luna membuka pintu dengan pelan-pelan. Benar saja di luar sangat dingin, ya tempat yang menjadi pilihan mereka adalah bercuaca dingin.
Luna menatap Scoot dengan intens, bibir itu memucat. Itu membuktikan bahwa suaminya kedinginan.
"Bangunlah, tidak baik tidur seperti ini." Luna berbicara tetapi tak ada respon dari pria itu. Luna menjadi kesal sendiri karena tak ditanggapi. Ia pun menggertakkan gigi saking geramnya.
Luna menghembuskan nafas dari mulutnya, lalu berbisik di telinga suaminya. "Pindah ke dalam, di sini sangat dingin. Kau bisa sakit!" Luna sengaja menekankan kata sakit, hingga mata itu perlahan terbuka.
"Luna, dingin!"
Jantung Luna berdetak lebih cepat dua kali, di mana pria itu memeluk erat tubuhnya.
*
Usai sarapan pagi, keluarga itu kembali mengobrol. Sementara Scoot masih tertidur di kamar Luna. Luna mengalah karena Scoot terserang demam tinggi.
"Sayang, maafkan kami. Mom maupun Dad, tidak bisa melakukan apapun. Sebagai manusia kita tidak boleh egois, ini tempat kecil dan tidak ada penginapan di sini, maka dari itu kami mengizinkan suamimu untuk menginap." Mom Britney menjelaskan.
"Dia bukan suami Luna lagi Mom, jadi stop mengatakan dia suami Luna."
Hmm
Deheman itu membuat mereka terdiam untuk sesaat. Ketegangan tadi berusaha mereka sembunyikan.
"Maaf kehadiranku membuat keadaan menjadi kacau. Dad, Mom terima kasih. Aku akan pergi sekarang." Ya, deheman itu berasal dari Scoot. Sejak tadi ia mendengar apa yang dibahas oleh keluarga istrinya. Bahkan dadanya sesak setiap mendengar keluhan Luna yang menentang keras kehadirannya di sana, dan ingin mengubur dalam-dalam masa lalunya.
"Nak, sebaiknya kau sarapan dulu. Sepertinya kau masih butuh istirahat," ucap Mom Britney. Wanita itu tidak tega melihat keadaan Scoot yang kesakitan. Terlihat jelas dari raut wajah tampan itu memucat.
"Ya, kau sarapan dulu. Baiklah kami mau bekerja, sampaikan salam kami kepada Tuan dan Nyonya Brylee," kata Dad Lukas sembari menepuk pundak Scoot.
__ADS_1
Scoot mengangguk. "Dad sama Mom kerja apa?" Scoot tak menyangka dua paruh baya itu masih bekerja, sementara kesehatan ke-duanya dalam kondisi stabil. Selama ini keluar masuk rumah sakit.
Mom Britney tersenyum. "Kerja apapun Nak, yang penting halal." Usai mengatakan itu ke-dua mertuanya bergegas meninggalkan Luna dan Scoot. Sedangkan Mike, sejak pagi sudah pergi bekerja sebagai pemetik buah-buahan.
Keadaan menjadi hening, Luna maupun Scoot bungkam. Luna yang masih duduk, sedangkan suaminya masih dalam posisi berdiri.
"Apa ini yang kau inginkan? Bahagia melihat ke-dua orang tuamu bekerja keras di terik matahari sana? Seharusnya di masa tua mereka seharusnya—"
"Itu bukan urusan Anda!" Luna langsung memotong ucapan itu dengan tangan terkepal.
"Tentu saja akan menjadi urusanku karena mereka adalah mertuaku!" Scoot tak kalah sengit, Luna telah memancing emosinya.
Luna berdiri dengan tatapan tajam, disertai bibir melengkung. "Itu dulu tetapi sekarang hubungan kita hanya sebagai orang asing. Kami lebih bahagia hidup seperti ini jadi apa masalahmu? Pergi sekarang juga! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi!" teriak Luna sembari menunjuk ke arah pintu keluar dengan mata berkaca-kaca.
Scoot tertegun menatap Luna yang meluapkan emosinya. Wanita yang ia anggap sebagai peran pengganti sangat terluka.
"Aku mohon, beri kebahagiaan sekali saja. Tolong lepaskan aku, mulai hari ini kita tak punya hubungan apa-apa lagi." Mohon Luna, tanpa sadar meneteskan air mata. "Terima kasih sudah mengajariku dengan kehidupan yang keras." Luna mengusap air matanya, tertawa miris, ingin membuktikan bahwa dia adalah wanita kuat.
Scoot menarik nafas kasar, apa yang dikatakan Luna menyesakan dada. Melihat wanita cantik itu menangis hatinya miris, seakan teriris pisau tumpul yang perlahan menancap sampai ke ulu hatinya.
"Aku minta maaf!"
Luna terkekeh keras dengan berurai air mata. Sudah berusaha ia menahan agar air mata sialan itu tak keluar, tetapi nyatanya ia hanyalah wanita lemah.
Kata maaf yang dilontarkan suaminya itu tak akan mengubah segalanya. Semuanya hanya masa lalu, masa lalu pahit yang ingin dikubur dalam-dalam.
"Lepas!" teriak Luna memberontak. Scoot memeluk tubuhnya dari belakang, membuat wanita itu menjerit histeris. Tetapi tak pantas membuat Scoot melepaskannya.
"Aku minta maaf!" entah sudah berapa kali kalimat itu dilontarkan olehnya, hingga membuat telinga Luna sakit.
"Lepas! Mau kau apa?"
__ADS_1
"Dirimu!"