PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 35


__ADS_3

Aroma menggugah selera tercium ketika Luna membuka pintu kamar. Lalu menutupnya kembali karena Angel masih tidur. Sementara ia bangun lebih cepat, untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Siapa yang memasak? Apa dia mempekerjakan pelayan?" gumam Luna sembari melangkah pelan. "Di mana dia?" ia kembali bergumam ketika melihat sofa kosong, hanya ada bantal dan selimut di atas sofa panjang.


Luna pun memutuskan segera ke dapur, mungkin saja suaminya itu sedang berada di kamar mandi. Langkahnya terhenti, di mana ia mendapati sosok yang tengah berkutat dengan peralatan dapur.


Luna lama diam, memperhatikan kesibukan pria itu. Sementara Scoot sama sekali tidak menyadari bahwa wanitanya sedang memperhatikan kesibukannya.


"Selesai. Semoga kalian suka," ucapnya dengan bibir tersenyum sembari memutarkan badan dengan sebuah piring di tangannya.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanyanya, walau sebenarnya kaget atas kedatangan Luna.


Luna yang ditanya pun berusaha menetralkan dirinya, tadi ia sempat memperhatikan Scoot dengan bibir tersenyum, hingga pertanyaan pria itu membuatnya tersadar.


"A-aku kebetulan haus," ucapnya sembari mengusap lehernya, dan membuang muka dengan cepat.


"Tunggu biar aku ambilkan, kau duduklah dulu." Dengan gerakan cepat ia meletakan piring berisi mie goreng shefood di atas meja makan, lalu beralih mencurahkan air hangat ke dalam gelas.


Luna menurut saja, duduk sembari memperhatikan gerak-gerik suaminya itu.


"Minumlah, di pagi harus harus minum air yang hangat kukuh. Hmm bagaimana tidurmu?" ia menyerahkan air minum tersebut, dan disambut oleh Luna.


"Seperti biasa," sahut Luna dengan malas. "Ada apa?" tanya Luna karena Scoot menatapnya tanpa berkedip.


"Kau sangat cantik, walaupun baru bangun tidur." Puji Scoot hingga membuat Luna hampir saja menyemburkan air dalam mulutnya.


"Baru sadar?" sindir Luna, entah kenapa ia senang mengikuti alur permainan suaminya itu. "Bukankah selama ini bayangan wajah istrimu yang ada di hatimu?"


Mendengar sindiran itu membuat Scoot bungkam, tidak tahu harus mengatakan apa, karena apa yang dituduhkan Luna itulah kenyataannya.


Sementara Luna tersenyum getir, serta membuang muka karena jujur saja ada perasaan sakit yang menyesakkan dada.


"Untuk selanjutnya biarkan aku saja yang menyiapkan sarapan. Kau sudah lelah bekerja," ucapnya setelah merasakan dadanya kembali normal.


Scoot melengkungkan bibirnya. "Kau peduli kepadaku?" tanyanya dengan percaya diri, mengartikan bahwa Luna mempedulikan dirinya.


Mata Luna mendelik, kenapa pria dingin itu sekarang banyak omong.


"Karena itu sudah menjadi kewajiban seorang istri!" usai mengatakan itu, Luna beranjak dan kembali masuk ke dalam kamar, untuk membangunkan Angel.

__ADS_1


Scoot menghembuskan nafas kasar, atas jawaban yang menyimpang dari pemikirannya. Beranjak dan menyusul Luna karena ia juga harus bersiap-siap.


"Kau atau kami yang lebih dahulu mandi?" tanya Luna tanpa menatap lawan bicaranya, karena ia sedang menyiapkan baju sekolah Angel.


Scoot yang ditanya malah senyam-senyum. Ternyata pria itu memikirkan sesuatu.


"Dad, apa ada yang lucu? Mom, bertanya Dad atau kami yang lebih dulu mandi?" lamunannya sadar ketika Angel melayangkan pertanyaan. Luna pun ikut menoleh karena mendemgar perkataan Angel.


Hmm


Scoot berdehem, menetralkan kembali jiwanya yang hampir berkelana jauh.


"Bagaimana jika kita mandi sama-sama? Bukankah menghemat waktu?"


Mata Luna melotot, sementara Angel mengerucutkan bibirnya.


"Dad, mana boleh seorang perempuan dan laki-laki mandi bersama. Pantang tahu," cicit Angel , mengeluarkan jurus cerewetnya.


"Siapa bilang? Dad dan Mom saja sering mandi bersama!"


"Scoot!" teriak Luna sembari membungkam mulut berbahaya pria itu menggunakan telapak tangannya. Luna memlototi dengan tajam, dan bahkan berbisik agar suaminya itu diam.


"Jangan kurang ajar!" ucap Luna dengan marah karena pria itu menghisap daun telinganya. Lalu menyusul Angel dengan rasa marah.


"Shitt, kenapa aku tidak bisa menahan diri?" keluhannya dengan tatapan ke pintu kamar mandi.


Dengan berbagai macam drama, akhirnya keluarga kecil baru tumbuh ini menikmati sarapan hasil olahan Scoot.


Lumayan enak, bahkan dua wanitanya nambah. Itu membuat Scoot tersenyum senang, walau dua wanitanya itu pelit memuji cita rasa masakannya.


"Angel, Dad ingin bertanya. Kenapa tiba-tiba kau kembali kepada Mom Luna?"


*


Di salah satu apartemen mewah, seorang wanita sedang menikmati secangkir teh hangat di balkon kamar. Menikmati semilir angin malam.


"Honey, maaf membuatmu menunggu." Kecupan mesra sekilas di bibirnya membuat wanita itu tersenyum bangga.


"Kenapa? Kenapa lama sekali?" protesnya.

__ADS_1


"Tiba-tiba klien ingin bertemu. Hmm apa kau sudah makan?"


Wanita cantik itu menggeleng. "Menunggu dirimu honey," sahutnya dengan manja.


Pasangan kekasih itupun menikmati jamuan malam, mereka memesan makanan hingga tidak perlu makan di luar. Setelah makan mereka kembali ke kamar.


"Bagaimana kabar dari sana?"


"Mereka gagal cerai, dan bahkan informasi yang aku dapatkan, mereka kembali tinggal bersama. Sepertinya Scoot sudah mencintai wanita itu!"


"Tidak bisa dibiarkan! Enak saja dia mengambil hak milik Kakakku. Aku akan segera pulang," ucapnya dengan nada meninggi, rasa marah terlihat jelas.


"Honey, lupakan saja rencana mu itu!"


Wanita itu menggeleng dengan senyuman penuh arti. "Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Scoot sudah menolak ku mentah-mentah, dan tunggu saja pembalasanku!" Laura mengepalkan tangannya dengan senyuman menyeringai.


Ya, wanita itu adalah Laura Brow, sedangkan lelaki bersamanya adalah tunangannya bernama Samuel Johnson, sekretaris di perusahaan keluarga Laura.


"Apa kau menyukainya?" selidik Samuel.


Laura menghembuskan nafas. "Wanita mana yang tak tertarik dengan pria setampan dan segagah Scoot Brylee." Sahutnya dengan tatapan ke langit-langit kamar.


Pria itu mengepalkan tangan, bisa-bisanya kekasihnya itu mengagumi seorang pria lain, sementara dia adalah tunangannya.


"Lalu apa statusku di sini? Aku mencintaimu Laura!" protesnya sembari mengusap lembut wajah Laura.


Laura mengigit bibir bawahnya. Sebenarnya dia tidak terlalu mencintai Samuel, namun ia juga tidak tega menolak pada saat pria itu menyatakan cinta. Samuel juga telah banyak berkorban untuk dirinya, hingga ia bisa berada di sini.


"Ingat, dia itu suami orang. Apa kekuranganku?" keluh Samuel dengan nada penuh sendu.


Laura menelan ludah. Ia tidak munafik jika sosok Samuel begitu hangat. Hubungan mereka saat ini tidak ubahnya seperti pasangan suami-istri. Bahkan mereka tinggal bersama-sama, hanya saja Laura selalu menolak untuk di nikahi.


Laura, menatap Samuel, mengenggam tangannya. "Patuhi rencana awal kita, aku sangat dendam kepada Scoot." Ya, Luna sangat marah ketika dirinya dihina pada saat rencananya gagal. Bahkan Scoot merendahkan dirinya, hal itu membuat Laura ingin membalaskan dendam.


Samuel menggeleng dengan senyuman kecut, bahkan pria itu mengetahui apa yang dilakukan kekasihnya.


"Sudahkah, aku lelah!" ujar Samuel, segera membaringkan tubuhnya, memunggungi Laura. Pria mana yang tidak kecewa dan sakit hati, melihat wanitanya bermain perasaan dengan orang lain.


Laura tak peduli karena wanita itu memiliki jiwa keras kepala, sangat berbanding jauh dari Kakaknya Lucy. Mungkin karena pengaruh lingkungan sekitar. Mereka bertumbuh dengan perbedaan jauh, hal itulah membuat seorang Laura memiliki hati yang iri dan dendam.

__ADS_1


__ADS_2