PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 41


__ADS_3

"Aku ingin ke toilet. Kalau boleh tahu posisi toilet di mana ya?" entah kenapa Luna ingin sekali ke toilet, padahal ia tidak kebelet.


"Sayang, apa kau marah?" bukannya menjawab, pria itu malah bertanya sesuatu yang membuat Luna bingung untuk menjawab.


Luna mengalihkan pusat pandangannya ke arah suaminya dengan dahi mengerut. "Marah? Emang apa yang terjadi?" bukannya menjawab, namun Luna juga balik bertanya. Jujur ia tak mengerti dengan pertanyaan itu.


"Karena, karena aku sempat menyinggung masa lalu. Sekali lagi aku minta maaf."


Luna pun segera membuang pandangannya ke arah lain. Jujur saja pada saat pria itu mengenang masa lalunya hatinya sedikit ngilu.


Pernikahan mereka dulu tidak ada namanya resepsi, semuanya sederhana dan tertutup. Hanya dihadirkan ke-dua belah pihak keluarga pada saat dilangsungkan pemberkatan.


"Yang lalu biarkan berlalu, jadi jangan dibahas kembali. Sekarang posisi kita berbeda, aku tidak ingin liburan ini menjadi kacau," ucap Luna dengan tegas, walau dalam hatinya sulit mengatakan itu.


Scoot mengangguk, ia tahu bahwa wanitanya kesal, namun ia tidak ingin memperkeruh keadaan, berusaha menjaga perasaan masing-masing. Ia tidak ingin kesempatan kali ini sia-sia, jujur tadi ia benar-benar tidak sadar atas ucapannya.


Pria itu beranjak berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Luna yang tadinya melamun, sontak kaget. "Katanya mau ke toilet, biar aku mengantarmu," ujarnya dengan senyuman.


Tangan Luna pun terulur, dan spontan saja berada dalam genggaman pria itu. Scoot membawa istrinya ke toilet yang lebih dekat dari tempat pesta.


Mereka tiba di toilet masing-masing, dan tidak lupa memperingati Luna agar menunggu dirinya jika ia belum keluar.


Lima menit berlalu, ke-duanya keluar secara bersamaan. Scoot sedikit lama karena di dalam perlu mengantri.


"Apa kau ingin ke atas? Menikmati angin malam." Tanya Scoot, karena sebenarnya ia bosan dalam pesta tersebut. Inginnya mereka berduaan saja tanpa di ganggu oleh sahabat sekaligus kolega bisnisnya.


Luna berpikir sejenak, sepertinya ini kesempatan yang baik untuk menikmati pemandangan air laut di malam hari. Karena penasaran, Luna pun mengangguk.


Sebelum memutuskan ke sana mereka terlebih dahulu menemui tuan rumah, untuk mengucapkan selamat berbahagia kepada ke-dua mempelai.


Dengan hati-hati Scoot membawa wanitanya, ternyata akses menuju ke geladak atau deck kapal cukup ramai. Itu artinya di sana penuh.


Tiba di sana Scoot memanggil petugas, untuk menyediakan tempat duduk untuk mereka. Tentu saja dengan mudah ia mendapatkan apa yang diinginkannya karena tamu utama dalam pesta itu adalah Scoot Brylee.


Luna berdiri di pinggiran pembatas, menikmati keindahan lautan di malam hari. Angin malam cukup dingin tak lantas membuatnya beranjak dari tempat berdirinya.

__ADS_1


Sementara suaminya dengan suka rela berada di sampingnya. Senyuman kebahagiaan tak lepas dari bibirnya.


Luna yang menikmati keindahan air laut, sementara pria itu menikmati wajah cantik wanitanya, bahkan engan untuk berpaling walau sekilas saja.


Menyadari sesuatu, tangan Scoot membuka kancing jas yang ia kenakan, memakaikan ke tubuh Luna yang pasti kedinginan. Luna sontak kaget karena tidak menyadari, sejak tadi ia menikmati keindahan air laut. Sampai-sampai melupakan sosok yang setia berada di sampingnya.


"Nanti kau kedinginan," ucap Luna sembari menatap jas yang menutupi pundaknya.


"Kau lebih membutuhkannya."


"Terima Kasih ya?" tanpa sadar bibir Luna melengkung.


"Hanya itu?" Scoot sengaja menggoda.


Salah satu alis Luna terangkat karena tidak mengerti.


"Sayang, boleh aku memelukmu? Aku sedikit iri dengan mereka."


Mata Luna membulat mendengar permintaan yang menurutnya berat hati. Ia mengedarkan pandangan di sekitar, benar saja apa yang dikatakan suaminya itu bahwa pasangan begitu romantis dengan kisah mereka masing-masing.


Mereka menikmati makanan dengan sesekali mengobrol, hingga tidak terasa sampai habis.


Scoot membeku ketika merasakan usapan dari ibu jari wanitanya yang mengusap ujung bibirnya. "Kau seperti anak kecil saja," cibir Luna tanpa sadar seusai membersihkan sisa makanan di ujung bibir suaminya langsung menggunakan ibu jarinya.


Scoot tak bisa berkata-kata apapun, perlakuan sekecil ini saja sudah membuatnya sangat bahagia. Luna meraih tisu, mengusap mulutnya.


"Lain kali aku akan makan sengaja belepotan, biar mendapat perhatian manis mu sayang." Batinnya, merencanakan sesuatu hal yang konyol.


Malam semakin larut, mereka memutuskan ke kamar yang sudah di siapkan oleh para tamu undangan.


Tiba di kamar Luna menjadi bimbang karena mereka tidur dalam satu kamar. Untuk menenangkan dirinya, ia mondar-mandir tidak jelas, sementara Scoot sedang berada di dalam kamar mandi.


"Bagaimana ini? Aku belum siap," gumamnya dengan memainkan jari-jemarinya yang mulai kedinginan.


Klek!

__ADS_1


Pintu kamar mandi membuat kegugupan Luna semakin menjadi, wanita itu berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"Sayang, ada apa?" tanya Scoot, menyadari ada hal yang aneh pada istrinya.


Luna hanya bisa menggeleng, tidak mungkin juga ia memberitahukan apa yang ada dalam pikirannya.


"Atau kau berpikir tentang tidur satu ranjang? Kau tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan—"


Luna menggeleng kembali, hingga ucapan itu tidak dilanjutkan lagi. "Tidak masalah," lirih Luna bohong karena sejatinya ia ingin menolak dengan keadaan mereka.


Ke-duanya berbaring dengan dibatasi guling di tengah-tengah. Scoot tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh wanitanya. Andai saja hubungan mereka seperti pasangan pada umumnya, tentu saja malam ini menjadi makan romantis.


"Kau sudah tidur?" Scoot melirik ke samping, memandangi punggung Luna yang diselimuti kain tebal. Sungguh wanitanya ini waspada jika ada sesuatu yang tiba-tiba menyerangnya.


"Belum, memangnya ada apa?" lirih Luna dengan mengigit bibir bawahnya.


"Sayang, apa kau belum bisa memaafkan kesalahan ku?"


"Kenapa sih dia bahas masalah itu lagi?" keluh Luna dalam hati.


"Bukankah dari awal sudah ku katakan tidak ada yang bersalah dalam hal ini? Jadi untuk apa minta maaf dan perlu di maafkan."


Scoot bergerak, gerakan itu sangat terasa karena tempat tidur itu cukup untuk dua orang. Jantung Luna semakin berdebar-debar, ia meremas erat selimut yang melilit di tubuhnya hingga leher.


"Rambutmu harum sekali, aku sangat menyukai aroma itu." Rupanya pria itu membelai rambut panjang Luna, sesekali menciumnya.


Luna menelan ludah, tubuhnya seakan sulit bergerak. Sementara pria itu masih menikmati aroma yang diciptakan dari rambut istrinya.


"Aku sudah mengantuk, jadi biarkan aku tidur." Luna beralasan sudah mengantuk, hanya untuk menghindari suaminya.


Scoot pun melepaskan usapan pada rambut Luna, sesaat ia terdiam, ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Mereka sudah melewati waktu selama satu bulan, jadi ia ingin tahu bagaimana perasaan Luna sekarang.


"Terus, apakah kau sudah membalas cintaku?"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2