PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 52


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kini usia kehamilan Luna memasuki pada bulan terakhir. Sesuai instruksi dokter, minggu depan akan melakukan operasi sesar. Bukan menjadi pilihan semasa hidupnya, namun ini adalah pertimbangan dan langkah yang harus di Terima karena Luna mengandung bayi kembar dua dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.


Selama kehamilan Luna, Scoot sebagai suami idaman siap 24 jam berada di samping Luna. Bahkan suaminya itu jarang ke kantor dengan alasan tidak ingin meninggalkan dirinya.


Luna sama sekali tidak memperdebatkan masalah tersebut, jujur saja ia juga selalu ingin berada di samping suaminya. Tidak ada rasa bosan atau apapun, ke-dua pasangan itu saling melengkapi.


Kebahagiaan mereka semakin sempurna, bayi yang ada dalam kandungan Luna adalah berjenis laki-laki dan perempuan, yang artinya kembar dua. Pasangan ini mengikuti jejak orang tuanya yang memiliki anak kembar, walau perbedaan jenis dan jumlah berbeda.


Mengenai Scoot. Pria itu sangat protektif selama kehamilan Luna. Seperti malam ini Luna ingin makan sesuatu, padahal sudah tengah malam hari.


"Aku ikut ya?" Luna merengek ingin ikut.


"Sayang, angin malam tidak baik buat tubuhmu. Makannya di rumah saja ya?" sejak tadi prianya itu membujuk, namun wanitanya itu tetap kekeh ingin makan langsung di tempatnya, katanya beda rasa jika makan di rumah.


Luna menggeleng dengan mata berkaca-kaca.


"Ssst!" melihat hal itu selalu membuatnya luluh dan mengalah. Ya, sifat Luna memiliki perubahan-ubah yang disebabkan oleh hormon kehamilannya.


Seketika senyuman mengembang di wajahnya, sebelumnya tadi cemberut hingga mau menangis.


"Tunggu, kau harus mengenakan mantel dan kaos kaki." Dengan cekatan Scoot mengambil mantel dan juga kaos kaki tebal, lalu mengenakannya di tubuh Luna dengan perut membesar. Luna hanya pasrah diperlakukan manis seperti itu. Scoot benar-benar menjadikan dirinya ratu di rumah dan hatinya.


Berbeda dengan mendiang istri pertamanya. Sikap dan perlakuan sekarang sangat bertolak belakang. Pria itu lebih mengutamakan pekerjaannya dibandingkan selalu berada di samping istri yang tengah hamil buah hati mereka. Bahkan lebih mirisnya, hanya satu kali menemani istrinya kontrol kehamilannya.


Sementara dengan Luna tidak pernah ia lewati, bahkan ia lebih mengingatkan jadwal untuk kontrol.


Karena penyesalan di masa lalu membuatnya tidak ingin mengulangi kesalahan lagi, apa lagi dengan orang yang sangat ia cintai melebihi apapun.

__ADS_1


Di tempat yang ditunjukkan Luna, mobil menepi. Ini bukan kali pertamanya mereka mengunjungi tempat ini. Jangan mengira jika mereka kesebuah restoran berbintang, itu tidak benar karena tujuan mereka adalah ke pasar malam yang menjual aneka ragam jajanan.


Mulanya Scoot menentang dengan keinginan Luna pada saat pertama menginginkan makanan yang di jual di lokasi seperti itu, namun tidak bisa menolak dan memilih mengalah. Sampai-sampai ia mengumpat calon buah cinta mereka karena menginginkan hal yang tidak pernah ada di benaknya.


"Sayang, mau yang itu lagi." Luna menunjukan berbagai makanan berupa sate tusuk dengan mulut mengunyah . Dengan menggelengkan kepala suaminya menuruti. "Sayang, aa...." Luna menyuruh suaminya membukakan mulut, lalu memasukkan potongan makanan tersebut. "Enak kan?"


"Ini terlalu panas sayang, lidahku terasa melepuh!" ya, ternyata makanan itu cukup panas hingga terasa terbakar di lidah suaminya.


"Maaf ya, aku kira tidak panas. Julukan lidahmu," pinta Luna.


Seketika mata Scoot membulat dengan apa yang dilakukan Luna. Bukan tiupan yang ia dapatkan melainkan lebih dari itu.


"Bagaimana sudah sembuh?" Luna menghisapp lidahh itu tanpa berpikir panjang dan malu dengan orang disekitarnya.


Seperti orang terhipnotis prianya hanya bisa mengangguk. Sementara Luna melanjutkan makanan yang menjadi pilihannya hingga puas.


"No sayang, apa kau lupa tempo hari Angel sakit perut mengkonsumsi makanan itu."


"O iya aku lupa, maksud sudah tua!" Luna menepuk keningnya karena melupakan kejadian itu, dimana putri mereka mengalami muntaber. Maklum dari lahir menjadi orang kaya yang tak mengenal jajanan tradisional seperti saat ini ia santap. Beda dengannya yang terlahir dari orang tak berada, yang sudah pastinya mengenal berbagai macam jajanan tersebut.


"Siapa bilang istriku sudah tua? Menurutku kau semakin awet muda dan cantik sekali, apa lagi dengan perut buncitnya ini." Godanya.


"Sayang, kau menyindirku? Ya, aku jelek dengan perut besar ini. Tidak secantik dengan wanita di sana. Pasti dari tadi kau mencuri pandang kan?" cecar Luna dengan cemberut, entah kenapa tiba-tiba moodnya berubah cepat.


Scoot menelan ludahnya, sudah menyesal membuat istrinya ngambek. Dengan tersenyum ia mendekap Luna, dan mencium bibirnya.


"Siapa bilang, bahkan aku tidak tahu dengan wanita yang kau maksudkan. Apa kau tidak melihat dari tadi suamimu ini memperhatikanmu tanpa mengalihkan padangan?"

__ADS_1


"Iya sayang, aku hanya bercanda hehe...." seketika Luna tertawa keras sembari memasukan makanan demi makanan di mulutnya.


"Sayang, kau mengerjai suamimu? Awas ya kau harus membayarnya ketika kita di rumah. Aku ingin mengunjungi atau memberikan suntikan vitamin kepada anak-anak kita, hmm!"


"Dengan senang hati sayang!" Luna cekikikan karena menurutnya moodnya ini terlihat konyol. Sementara penjual makanan itu hanya mampu senyum-senyum sendiri tanpa berani ikut campur, namun senyuman itu mengandung beban.


"Ada apa Paman?" tanya Luna ketika menyadari pria paruh baya yang tak lain adalah penjual jajanan.


"Saya harus melihat keharmonisan Nona sama Tuan, saya menjadi ingat sama istri saya," sahutnya dengan raut wajah sedih, sepertinya banyak memikul beban.


"Memangnya Bibi ke mana Paman?" entah kenapa membuat Luna sedikit penasaran.


"Ada di rumah Nona, terbaring sakit."


Baik Luna maupun Scoot saling memandang, dan tak lama kembali memperhatikan pria paruh baya itu sedang mengusap pelupuk matanya. Di sana mereka dapat melihat ada jejak air mata.


"Yang sabar ya Paman? Jika boleh tahu Bibi sakit apa? Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?"


"Tumor payudara Nona, sebenarnya bulan lalu ditetapkan untuk di operasi, namun kami tidak punya uang. Jadi istri saya hanya bisa menahan sakit dengan obat seadanya saja." Ceritanya dengan raut wajah putus asa.


"Paman, berikan alamat tempat tinggal Paman. Besok akan ada orang suruhan kami yang mengurus segalanya. Untuk itu sebaiknya Paman segera berkemas-kemas, dan kembali pulang. Masalah dagangan Paman jangan khawatir, kami yang akan membelinya semua." Setelah mengatakan itu, Scoot segera menghubungi asisten pribadinya. Luna pun merasa lega karena prianya memiliki rasa kepedulian yang besar, tanpa terlebih dahulu ia suruh.


Puas menikmati makanan yang diinginkan, ke-duanya memutuskan segera pulang. Sepanjang jalan Luna terkantuk-kantuk, itu membuat pria di kemudi khawatir. Dengan kecepatan sedikit ia melajukan kendaraannya.


Tiba di kediaman mewah itu, Scoot membukakan pintu mobil. "Sayang, kau ngantuk sekali." Luna mengangguk, dan pada saat itu juga ia spontan menggendong Luna karena kasian.


"Sayang, aku berat," gumamnya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Kau meragukan kegagahan suamimu ini? Suamimu ini bukan hanya gagah di ranjang, melainkan dalam segala bidang. Jadi ini hanya masalah kecil." Pria itu kembali menggoda hingga membuat mata Luna kembali terbuka. Wajah itupun memerah, tersipu malu.


__ADS_2