PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 25


__ADS_3

Usai makan malam Scoot pergi ke ruang kerjanya untuk waktu satu jam karena ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan malam ini. Sementara Angel masuk ke dalam kamarnya, mengerjakan tugas sekolah.


Scoot meregangkan otot-otot leher dan juga jari-jemarinya, seusai menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum beranjak, lagi-lagi bayangan wajah Luna menutup akses penglihatannya.


"Apa yang terjadi kepadaku? Semenjak kepergiannya, hari-hariku terasa sepi. Apakah karena rasa bersalah, ataukah ada rasa yang lain?" Scoot berbicara dalam hati dengan kepala menyandar pada sandaran kursi.


Tidak ingin berpikir macam-macam lagi, ia segera beranjak, berjalan menuju kamar Angel. Seperti permintaan putrinya itu, malam ini ia bersedia menemani Angel. Bagaimanapun permintaan itu tidak dapat ia tolak, mengingat Angel adalah harta yang paling berharga.


Senyuman hangat mengembang di bibir sensual itu, memandangi putri kecilnya sedang sibuk dengan peralatan belajar, sampai-sampai tak menyadari kedatangannya.


"Akh! Dad, buat Angel kaget saja," pekik Angel dengan jantung berdegup karena tiba-tiba mendapat pelukan dari belakangnya.


"Kau sangat serius!" Scoot meletakan dagunya di pundak putrinya.


"Iya Dad, ini adalah mata pelajaran favorit Angel," cicitnya sembari menutup buku mata pelajarannya, lalu memainkan jari-jemari kekar yang saat ini memeluk dirinya. "Dad, Mom Luna tinggal di mana?" entah kenapa tiba-tiba Angel mengingat sosok wanita itu.


"Hmm, bagaimana jika kita tidur saja? Dad, sedikit kelelahan dan sudah mengantuk." Ya, Scoot sengaja mengalihkan pertanyaan Angel karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena anak itu polos hingga tidak membahasnya lagi bahkan melupakan pertanyaannya sendiri.


Kini mereka sudah berbaring di tempat tidur, dengan Scoot membelai rambut panjang Angel dengan tatapan penuh sayang.


"Apa besok Dad, sibuk lagi?"


"Iya sayang, besok Dad sibuk hingga tidak dapat ke Mansion."


Mendengar jawaban sang Daddy, membuat raut wajah Angel menjadi sendu. Sebelumnya ia berharap bisa tidur ditemani pria itu.


"Maaf sayang, Dad janji akan meluangkan waktu penuh untuk kau tapi sekarang Dad benar-benar sibuk." Ya, Scoot sibuk memikirkan Luna, hingga melupakan waktu untuk putrinya sendiri.


"Baiklah, Dad janji ya?" rengek Angel dengan nada manja sembari mengecup pipi pria tampan itu.


"Oke, Baby! Tidurlah, Dad tidak akan ke mana-mana hingga esok pagi."


Angel mengangguk dengan mata berat. "Selamat malam Dad, semoga mimpi yang sangat indah," ucap Angel dengan nada tersendat dan menutup mata.

__ADS_1


"Selamat malam juga sayang." Scoot kembali melabuhkan kecupan selamat malam di kening Angel.


Tidak berselang lama, Angel telah tertidur pulas. Deru nafas halus berhembus, menandakan bahwa ia sudah terlelap. Scoot memiringkan tubuhnya, menyanggah kepalanya, menatap wajah teduh Angel saat tertidur.


"Kau sudah semakin besar sayang, tumbuh menjadi anak yang cantik dan cerdas. Dad, sangat menyayangimu," gumam Scoot sembari merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah putrinya.


Klek!


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, membuat Scoot menoleh ke arah pintu. Rupanya itu adalah Laura, ia berjalan dengan gaya seperti menggoda. Di tangannya memegang sebuah napan.


Dengan spontan Scoot membuang pandangannya semula, mendapati sekilas tubuh Laura yang saat ini mengenakan pakaian kurang bahan.


"Apakah dia sudah tidur?" tanya Laura sembari meletakan napan di atas meja belajar. "Ini ku buatkan kopi, bukankah biasanya sebelum tidur kau selalu meneguk secangkir kopi dulu?" Laura melangkah, lalu mengulurkan secangkir kopi itu.


"Aku sudah mengantuk, akan lebih baik kau saja yang meminumnya," ujar Scoot dengan nada datar.


"Aku sudah berusaha meracik sesuai yang kau suka. Ayolah, kali ini saja Kakak ipar!" Laura memaksa tanpa beranjak menjauhi, malah semakin dekat.


"Hargai usahaku Kakak ipar," bujuk Laura dengan nada seperti memohon.


Scoot menghela nafas kasar, lalu bangun dari pembaringannya. Mau tidak mau ia meraih cangkir itu dan langsung menyesapnya sampai tandas. Senyuman menyeringai di bibir Laura karena usahanya berjalan dengan lancar.


"Terima kasih Kakak ipar." Laura kembali meraih cangkir itu dengan raut wajah berseri-seri. Umpannya sedikit lagi akan ditangkap, hanya menunggu waktu beberapa menit. Untuk itu ia tidak akan beranjak dari kamar Angel.


"Bisa kau tinggalkan kami?" titah Scoot merasa tidak nyaman berasa satu ruangan, apa lagi pakaian yang dikenakan Laura adalah sebuah lingerie transparan, itu membuatnya tidak nyaman, bukan karena terpesona tetapi rasa jijik yang dia rasakan. Luna saja selama ini tidak pernah menggenakan pakaian kurang bahan seperti yang dikenakan Laura, tetapi dapat membangkitkan lelakinya.


"Aku belum mengantuk, apakah kedatanganku sangat menganggu?"


Scoot tidak menjawab, tiba-tiba perubahan di tubuhnya sangat menganggu. Pria tampan itu mengeram dalam diam, matanya memerah dengan otot-otot tegang.


Laura menyadari sesuatu yang sejak tadi ditunggu, mulai bereaksi. "Ada apa?" tanya pura-pura khawatir, bahkan jari lentik itu sengaja menyentuh kulit wajah Scoot.


"Arghh, apa yang kau campurkan pada minuman itu?" geram Scoot langsung menuduh Laura.

__ADS_1


"Maksudmu apa? Bukankah hanya sekedar kopi hitam?" anggap lah Laura wanita yang sangat polos, melebihi kepolosan Luna.


Scoot bangkit, menjauhi tempat tidur dengan aura panas dan tak terkendali. Tatapannya tak lepas dari Laura akibat rangsangan itu.


"Ada apa denganmu? Kau sakit?" Laura kembali bertanya, bahkan dengan sengaja memepet tubuhnya ke tubuh Scoot.


"Aku tidak tahan!" teriak Scoot dengan erangan, menuju pintu kamar tetapi soalnya pintu itu tak bisa dibuka.


"Kakak ipar apa kau butuh bantuan? Aku siap memenuhi apapun bantuan yang kau minta," bisik Laura di telinga pria itu sembari mengigit halus daun telinga memerah itu.


Spontan saja Scoot, meremas ke-dua bahu Laura dengan tatapan penuh nafzzu. Nafasnya memburu hebat, menahan gejolak yang begitu besar.


"Aku ada di sini," bisik Laura sembari mengecup bwbir sensual yang berada dalam genggamannya.


Scoot benar-benar tidak tahan lagi, memopong tubuh Laura masuk ke kamar mandi. Mendaratkan tubuh Laura di atas meja wastafel, menanggal lingerie itu dari tubuh Laura. Mulai mencumbu, tapi tiba-tiba bayangan wajah Luna terlintas saat ia menempelkan bwbirnya ke bwbir Laura.


Brak!


"Awww," pekik Laura.


Scoot keluar dari kamar mandi dengan sempoyongan, menahan gejolak yang membara. Langsung menuju pintu kamar, dengan kesadaran yang tersisa, pandangannya pada sebuah kunci yang tergeletak di lantai. Dengan sigap ia meraih dan membuka pintu, tetapi tidak berhasil karena Laura tiba-tiba memeluknya sangat erat dari belakang.


"Apa kurangnya aku? Aku bahkan lebih sempurna dari Kak Lucy maupun Luna. Ayolah, aku bisa memuaskan mu malam ini dan seterusnya. Aku mencintaimu Scoot, aku rela melemparkan tubuhku demi rasa cintaku ini!" tangis Laura, bahkan sudah kehilangan urat malunya.


"Brengsek! Kau sungguh wanita tak punya harga diri! Kau berani menjebak ku?" Scoot menghentakkan tubuh Laura agar menyingkir dari tubuhnya, lalu menatap Laura dengan tatapan merendahkan. "Sangat memalukan! Jika Angel terbangun—"


"Dia tidak akan bangun dengan cepat karena—"


Plak!


"Brengsek!"


Usai melayangkan tamparan keras, Scoot langsung keluar. Untuk sekarang tidak ada waktu memberi pelajaran besar untuk Laura. Ia ingin merendamkan dulu pengaruh obat ini, dengan kesadaran yang tersisa ia menghubungi Justin.

__ADS_1


__ADS_2