
Mata Luna kembali terbuka atas pertanyaan yang dilayangkan suaminya. Luna mengigit bibir bawahnya untuk menahan nafas yang memburu.
"Kau sudah tidur sayang?" satu kali lagi pertanyaan itu me. buat Luna lega, ini kesempatan untuk dirinya berpura-pura sudah tidur. Anggap saja tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh suaminya itu. Jujur saja ia tidak tahu harus menjawab apa mengenai hatinya saat ini.
Luna pun pura-pura terlelap, hingga pria itu menyudahi mengajak dirinya untuk berbicara.
Bukan Scoot namanya jika ia tak melewatkan kesempatan itu. Scoot mengecup dahi Luna cukup lama, lalu merapikan selimut itu agar tidak menutupi sebagian wajah cantik istrinya.
"Selamat malam sayang, semoga mimpi indah."
*
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa mereka sudah melewati kebersamaan selama tiga bulan. Selama itu juga Scoot masih berjuang untuk meluluhkan balok es yang tidak mudah dicairkan.
Seperti pagi ini, keluarga kecil itu sedang menikmati sarapan pagi seperti hari-hari biasanya.
Usai sarapan pagi Angel berpamitan berangkat ke sekolah lebih awal karena ada kegiatan di sekolah.
Seperti biasa, Luna menyiapkan tas kerja dan memakaikan dasi suaminya. Awalnya memang Scoot yang memaksa, namun seiring berjalannya waktu itu sudah menjadi tugas setiap pagi Luna. Tidak ada salahnya karena itu memang menjadi kewajiban seorang istri.
"Sayang, tolong datang lebih cepat ya? Karena kebetulan jadwal ku hari ini renggang," ujarnya. Ya, selama ini tugas Luna juga setiap hari mengantar makan siang untuk suaminya, hingga di perbolehkan pulang setelah jam pulang kantor.
Sebenarnya Luna bosan, namun apa boleh buat karena ada perasaan aneh. Ketika bersama pria itu ada kenyamanan yang tak biasa.
Perlakuan manis, sabar, perhatian, peduli pria itu mampu meruntuhkan benteng pertahanan Luna, namun biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
"Baiklah," sahut Luna sembari memberikan tas kerja kepada suaminya.
"Tapi jangan bawa makanan karena kita akan makan di luar. Sekali-kali tidak masalah bukan?"
Luna mengangguk sebagai jawabannya.
Siang menjelang
Seperti kesepakatan mereka kini sudah berada di restoran langganan. Ke-duanya memesan menu yang berbeda, sesuai makanan kesukaan masing-masing.
"Sayang, kau sangat cantik hari ini." Puji pria itu dengan senyuman penuh cinta.
__ADS_1
Luna tersipu malu, bahkan wajahnya merona merah. Bukan hanya kali ini pria itu memuji, namun tetap saja membuatnya salah tingkah.
Pesanan pun datang, ini menjadi keuntungan bagi Luna karena sejak tadi debaran jantungnya sulit dikondisikan.
Mereka pun makan dalam diam, bukan berarti diam. Pandangan Scoot tak lepas dari wajah cantik Luna.
"Sayang, bagaimana weekend kali ini kita mengunjungi Dad dan Mom. Dari pada kita mengharapkan kedatangan mereka yang tak kunjung datang." Ya, ke-dua mertuanya selalu mengatakan akan mengunjungi, namun kenyataan itu tak kunjung juga. Hingga Scoot memutuskan untuk mengunjungi mertuanya.
Luna langsung menghentikan suapannya, mendengar apa yang dikatakan suaminya membuatnya kaget dan tidak menyangka.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Luna karena ia tahu bahwa suaminya sangat sibuk.
"Itu tidak masalah, aku bosnya di sini. Kita hanya menginap dua hari saja, mengingat sekolah Angel."
Luna mengangguk setuju, bahkan sangat senang mendengar kabar gembira ini. Jujur saja ia sangat merindukan ke-dua orang tuanya. Semenjak pertemuan mereka di rumah sakit tiga bulan lalu, di sana lah terakhir mereka bertemu. Selama ini hanya sekedar berbicara melalui via telepon.
"Terima kasih ya?" ucap Luna dengan rasa haru.
Scoot tersenyum. "Apa kau senang?"
Luna mengangguk sebagai jawabannya. Lalu kembali melanjutkan makanannya yang sempat terhenti.
Kini mereka memasuki toko dengan merek terkenal. Itu adalah toko langganan keluarga. Dengan kikuk Luna membantu memilih karena suaminya itu ingin membeli dengan pilihan Luna.
"Ini bagaimana?" Luna memberikan kemeja berlengan panjang warna biru sekaligus pasangannya dengan celana warna hitam.
"Apapun yang menjadi pilihanmu pasti itu cocok buatku," ujar Scoot dengan senang hati mencobanya.
Luna menunggu di depan ruang ganti. Dengan sabar wanita itu menunggu sembari melihat-lihat pajangan lainnya.
"Bagaimana?" Scoot keluar dengan gaya maco nya. Luna seketika terkesima melihat berapa gagah serta tampannya pria itu yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Kau sangat tampan." Luna terkagum hingga tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Sementara Scoot kaget karena ini pertama kalinya Luna memuji dirinya yang tak diragukan lagi ketampanannya.
"Benarkah?"
Luna mengangguk mengiyakan karena masih belum sadar. "Ini sangat cocok, tapi jika kau kurang suka bisa digantikan yang lainnya," ucap Luna karena takutnya pilihannya tidak tepat.
__ADS_1
"Aku menyukainya, dan cari yang lain lagi. Untuk kau, biar aku yang memilih."
Luna menggeleng. "Tidak, aku tidak menginginkannya." Luna menolak karena tujuannya ke sini bukan untuk berbelanja. Yang di lemari saja masih banyak yang belum pernah di pakai.
"Ayolah, untuk kali ini saja biarkan aku membelikanmu pakaian." Scoot bersikukuh untuk meluluhkan hati Luna.
"Terserah!" akhirnya Luna menyerah karena tidak enak juga berdebat di hadapan para pelayan.
Scoot tersenyum penuh kemenangan. Ide cemerlang langsung menerangi isi kepalanya. Ia pun beranjak mencari sesuatu yang ada dalam idenya.
"Oya, kau butuh berapa pasang lagi?" pertanyaan Luna membuat langkah Scoot terhenti.
"Baju kemeja lima potong. Setelan baju santai lima potong," ujarnya.
Luna mengangguk, lalu segera mencari sesuai seleranya, namun gerakannya terhenti ketika mendengar bisikan dari suaminya. "Sekalian ****** ***** dua kotak!"
Seketika mata Luna melotot tak percaya mendengar apa yang dikatakan suaminya itu. Hingga membuat wajahnya merona merah. Seharusnya Scoot yang malu, namun Luna sendiri yang malu. Bagaimana mungkin ia melakukan itu, walau bagi seorang istri itu adalah hal yang sudah biasa.
Luna menelan ludahnya, ingin protes, namun pria itu sudah hilang dari posisinya.
"Benar-benar membuatku pusing. Apa dia tidak bisa memilih sendiri? Bukankah selama ini dia sendiri yang melakukannya?" umpat Luna dalam hati dengan wajah masam, namun itu tak bertahan lama karena keadaannya adalah dikelilingi oleh banyak orang.
Tiga puluh menit berlangsung, mereka menyudahi dan segera pulang karena tidak ada lagi yang diperlukan.
Keluar dari toko langkah ke-duanya terhenti ketika seseorang memanggil nama Luna.
"Luna!" panggilan seseorang itu. Baik Luna maupun Scoot menoleh ke sumber suara.
"Wil!" gumam Luna sontak kaget melihat siapa sosok yang memanggil namanya.
Ya, pria itu adalah orang spesial di masa lalu Luna. Dia adalah Wilis. Wilis berjalan, lalu berhenti ketika jarak mereka saling berhadapan.
Wilis menatap Scoot sekilas, lalu kembali menatap Luna dengan senyuman sendu. "Luna bagaimana kabarmu?" tanya Wilis sekedar menyapa.
Luna bungkam, hatinya bimbang. Ia takut dengan pria di sampingnya, mengingat dulu Scoot sangat murka ketika dirinya bertemu dengan Wilis.
"Aku menunggu di mobil. Bicaralah, sebaiknya kalian butuh bicara!" usai mengatakan itu Scoot melenggang pergi dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sementara Luna tertegun melihat sikap suaminya yang sedikit aneh. Bukankah seharusnya pria itu marah? Namun Scoot memberi waktu untuk mereka berbicara. Ada sedikit kecewa yang dirasakan Luna, mengingat sikap suaminya seperti tidak peduli.