
Pukul tiga sore setelah bangun tidur, Luna memutuskan akan menanam bunga yang sudah bertumpuk di taman rumah mewah yang mereka tempati baru dua hari itu.
Dengan semangat empat lima ia berjalan sembari berdendang dengan janjian favoritnya, dengan tangan membawa minuman dan beberapa cemilan. Anggap saja saat ini ia melupakan sejenak beban berat dalam hidupnya.
Cuaca yang masih panas tak menghalangi aktivitasnya. Bahkan wanita itu suka sekali berjemur di terik matahari.
Karena Angel ada les piano, jadi ia sendiri yang mengerjakannya, padahal sebelumnya mereka sepakat akan menanam bunga bersama-sama.
Satu-persatu bibit bunga itu di pindahkan pada pot, tak terasa keringat bercucuran membasahi sekujur dahi dan wajahnya.
Luna berhenti sejenak untuk sekedar minum, dan kembali lagi berkutat pada kegiatannya.
Hmm
Tepukan mendadak di pundaknya membuat pot yang ada di tangan Luna terjatuh dan tak sengaja menimpa punggung kakinya, mengakibatkan ia menjerit.
"Sayang, maaf. Mana yang sakit?" spontan saja pria yang mengejutkannya berjongkok, dan mengusap bekas terkena pot.
Luna baru bisa bernafas lega karena yang mengejutkan dirinya adalah suaminya. Atas ulah konyol pria itu menyebabkan jantungnya berdegup kenyang, sakit kagetnya.
"Kenapa sih jail banget? Kenapa harus mengejutkan ku?" keluh Luna dengan wajah sinis sembari menenangkan dadanya yang memburu. "Mau aku jantungan?" Luna pun melangkah pergi dengan langkah jinjit karena kakinya sedikit sakit.
Scoot bangkit, lalu menyusul Luna dengan perasaan bersalah. Akibat perbuatan yang tak disengaja, membuat wanitanya sakit dan marah.
Kini mereka duduk di sebuah kursi yang terdapat di tepi kolam renang. Luna membersihkan sisa kotoran tanah pada punggung kakinya. Bekas memerah menjadi pusat perhatian Scoot. Tanpa berkata apapun ia beranjak, berjalan masuk ke dalam rumah.
Luna yang melihat itu menjadi kesal, ia berharap pria itu memperhatikannya tapi pikiran konyolnya lenyap begitu saja ketika pria itu meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata.
Dengan berdecak Luna memakan cemilan sampai penuhi mulutnya. Ia mengunyah dengan wajah cemberut.
"Berikan kakimu!"
Seketika Luna menghentikan kunyahan cemilan yang sudah masuk dalam mulutnya. Sekali lagi pria itu datang dengan tiba-tiba, tanpa ia sadari.
Karena Luna tak kunjung memberikan kakinya, membuat Scoot bertindak sendiri.
"Kau mau apa?" lirih Luna dengan raut wajah panik karena kakinya sudah berada di pangkuan suaminya.
Tanpa merespon pertanyaan Luna, pria itu mengoleskan obat berupa salep. Luna mendesis, sedikit perih memang karena ada goresan kecil. Berkat hembusan berkali-kali membuat rasa pedih itu menghilang.
__ADS_1
Luna tertegun hingga ia menatap Scoot dengan intens. Ada rasa hangat dalam hatinya, pria ini benar-benar berubah.
"Bagaimana, apa masih perih?" pertanyaan itu membuat kesadaran Luna kembali, dengan cepat ia menetralkan pikirannya. Untung saja suaminya itu tak memergoki dirinya yang sedang curi pandang.
"Ini hanya luka kecil, rasa sakit tidak seberapa dibandingkan—" ketika sadar dengan ucapannya, Luna sengaja tidka melanjutkan karena mengenang masa lalu membuat hatinya kembali berkabung.
Scoot yang paham dengan jalur bicara Luna hanya bisa tersenyum getir. Ia sama sekali tidak tersinggung.
Kaki Luna diturunkan dengan gerakan pelan, lalu ia mengulirkan tangan untuk mengusap keringat yang membasahi wajah Luna menggunakan punggung tangannya.
Luna seakan berhenti bernafas. Jantungnya berdebar-debar hanya merasakan sentuhan lembut di wajahnya.
"Kenapa repot-repot melakukannya? Aku bisa mencari pelayan untuk menyelesaikan semuanya. Lihat kau banyak sekali mengeluarkan keringat," ujarnya sembari menyelipkan helaian rambut Luna di telinganya.
Sekali lagi membuat Luna sulit bernafas. Ia saat ini seperti patung yang tak bisa bergerak sama sekali, bahkan tidak tahu apa yang dikatakan pria itu.
"Angel, mana?" seketika Luna sadar dan memundurkan wajahnya dengan dada bergemuruh.
Luna menelan ludahnya dengan memalingkan wajah. "Angel, ada kelas piano."
Scoot mengangguk dengan pandangan ke barisan pot bunga yang sudah tersusun rapi. Sementara Luna menjadi kikuk sendiri, ia menjadi salah tingkah.
"Mau ke mana?" langkahnya terhenti karena pertanyaan itu.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku," sahut Luna.
"Tidak, kaki mu masih sakit. Akan ada pelayan yang akan menyelesaikan semuanya. Kau masuk dan beristirahatlah." Scoot juga ikut bangkit.
Luna menggeleng sejenak, lalu berjalan kembali menuju bunga yang masih menumpuk.
"Dasar keras kepala!" pria itu bergumam karena wanitanya tak mengindahkan ucapannya. Karena ingin selalu bersama, ia pun menyusul.
Luna kembali menanam bibit bunga dengan cekatan. Dan suaminya memperhatikan sejenak, ia mendalami step demi step. Lalu ikut membantu seperti yang dilakukan Luna.
"Apa yang kau lakukan? Hentikan! Nanti baju kemeja mu kotor," Luna langsung menghentikan kegiatannya karena kaget melihat suaminya ikut menanam bunga.
"Tidak masalah. Apa salahnya membantu istri kita sendiri," pungkasnya sembari melipat lengan kemejanya sampai ke siku.
Karena tak ingin berdebat, Luna pun mengalah. Ia kembali fokus agar pekerjaan itu cepat selesai. Begitu juga dengan Scoot, pria tampan itu sangat bersemangat.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara mereka berhasil menyelesaikan.
"Huh, akhirnya selesai juga." Luna menghembuskan nafas lelahnya sembari mengusap dahinya, hingga noda tanah mengotori dahinya.
"Capek juga ya?" keluh Scoot, juga mengusap wajahnya.
Luna tertegun melihat keringat serta kotoran tanah di wajah suaminya. Tanpa sadar itu cekikan, membuat salah satu alis suaminya tertarik.
"Wajahmu sangat lucu," cicitnya sembari mengusap wajah Scoot dengan punggung tangannya. Akibatnya pria tampan itu memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut itu. Sementara Luna masih membuka mulutnya. "Lihat wajahmu sangat kotor." Luna memperlihatkan tangannya hasil membersihkan wajah suaminya.
"Terima kasih sayang." Scoot membalas dengan senyuman bahagia.
Luna pun tersadar, hingga ia memundurkan tubuhnya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri.
"Apa tanaman ini tidak perlu di siram?"
"Tentu saja di siram, agar tidak layu. Hmm, boleh minta tolong?" lirihnya dengan mata menyipit.
"Katakan apa yang harus aku lakukan?" sungguh permintaan ini kebahagiaan tersendiri bagi pria itu.
"Di sana ada keran air, bisa minta tolong sambungkan ke selang ini," ucap Luna sembari menunjukkan letak keran air serta selang yang ada di dekatnya.
Scoot mengangguk, lalu bergegas melakukan apa yang diarahkan oleh wanitanya dengan semangat empat lima. Seumur hidupnya, baru kali ini melakukan pekerjaan seperti ini. Yang biasanya ia berada di ruangan mewah ber-AC, namun hari ini ia bergulat dengan kotoran tanah, serta sesekali terkena terik matahari.
Mereka menyirami bunga hasil tanaman tadi secara bergantian. Baik Luna maupun Scoot begitu kelihatan ceria, Luna yang awalnya menjaga jarak, kali ini lupa dengan kedekatan atau keakraban mereka.
Tiba-tiba petir berkumandang cukup keras, menggetarkan Ibu kota Russia, membuat ke-duanya kaget, secara bersamaan memandang ke langit. Cuaca yang awalnya cerah, kini diselimuti awan mengelap. Detik kemudian rintik hujan mulai membasahi bumi, bahkan tak tanggung-tanggung derasnya.
Dalam sekejap tubuh ke-duanya basah kuyup. Dengan cepat Scoot menarik tangan Luna untuk berteduh di gazebo.
"Kenapa bisa hujan sih?" gerutu Luna karena dengan capek mereka menyirami bunga, tapi nyatanya turun hujan.
"Sayang, sudah kehendak Tuhan," sahut Scoot sembari mengusap wajahnya.
Luna mengerucut bibirnya, itu membuat wajahnya semakin imut. Tanpa tahan lagi Scoot mendekap ke-dua pundak Luna, dan memeluknya dari belakang. Luna membeku, tapi anehnya ia membiarkan pria itu memeluk erat tubuhnya.
###
Scoot berusaha meluluhkan hati wanitanya. Jadi di bab-bab selanjutnya hanya mengisahkan tentang mereka dulu.
__ADS_1
Hari ini akan ada 1 bab langi menyusul.