
"Namun, dapatkah aku melakukan itu? Andai saja aku lakukan, maka aku akan kehilangan wanitaku untuk selama-lamanya. Aku memilih mengalah dari pada aku kehilangan wanitaku!"
Luna tertegun di balik daun pintu, langkahnya berhenti ketika tidak sengaja menguping pembicaraan dari dalam.
Pernyataan Scoot membuatnya kaget, sampai-sampai napan yang ada di tangannya hampir jatuh, jika saja dengan cepat ia selamatkan.
"Sabar Tuan!" Justin pun berpamitan karena suasana hati Tuan-nya tersulut amarah.
Sampai di ambang pintu, Justin sontak kaget dengan sosok Luna. Luna memberi kode dengan kepala menggeleng agar Scoot tidak mengetahui bahwa dirinya tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.
Tanpa bersuara Justin mengangguk sebagai jawabannya. Justin pun berlalu menyisakan pasangan suami-istri itu.
Luna berusaha memenangkan keterkejutannya dengan apa yang tadi ia dengar. Luna menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Menata hatinya sebentar dan ia pun memutuskan untuk segera masuk, seperti orang yang baru saja datang.
"Hmm," Luna berdehem untuk menetralkan suasana, anggap saja tidak terjadi sesuatu apapun.
Mendengar deheman dari wanitanya, membuat Scoot membalikkan badan, lalu mengembangkan senyuman seperti biasanya. Sangat berbeda ketika tadi ia sedang berbincang dengan Justin, aura wajah itu melukiskan bahwa ia sedang marah besar.
"Apa aku menganggu? Justin mengatakan kau ada pekerjaan mendadak," ucap Luna sembari meletakan napan di atas meja sofa. Berusaha mengikuti alur.
"Sayang, aku minta maaf karena pulang lebih cepat. Ya, karena file itu harus segera di kirimkan, makanya aku memutuskan pulang. Sekali lagi maaf ya?"
"Tidak masalah, pekerjaan adalah prioritas utama. Ini aku buatin kopi, segera di minum."
"Terima kasih sayang," ujarnya dan ikut mendudukkan dirinya di sebelah Luna, meraih cangkir dan menyesapnya perlahan.
"Apa pekerjaanmu belum selesai? Kalau gitu aku mau masak untuk makan malam kita," ucap Luna, masih mengikuti alur.
"Tetaplah di sini."
Hening, itulah yang terjadi. Baik Luna maupun Scoot sibuk dengan pikiran masing-masing. Scoot yang menyesap kopi, sementara Luna mengusap lututnya.
"Kenapa kakimu? Sakit?" tanya Scoot, ketika melihat gerak gerik Luna.
"Sedikit keram, mungkin karena tak terbiasa terlalu lama berdiri," sahut Luna masih mengusap lututnya.
Pria itu meletakkan kembali cangkir itu, lalu mengubah posisi duduknya, dengan menghadap kepada Luna. Tanpa meminta, Scoot mengangkat ke-dua kaki Luna dan menaruhnya di atas ke-dua pahanya. Dengan gerakan pelan, kaki Luna di pijat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Luna sontak kaget dan berusaha menarik kakinya.
"Hanya memijat saja. Apakah menyentuh kakimu saja aku tidak boleh?" sindiran halus itu keluar begitu saja dari mulut pria tampan itu.
Luna menelan ludah, tidak tahu jika kalimat itu hanya sekedar menyindir dirinya. "Bukan begitu, tapi ini hanya sakit biasa," lirih Luna tertunduk.
Scoot menarik nafas, namun nafas itu ditahan dalam-dalam. Sungguh emosinya tak bisa ditahan, sampai-sampai sindiran itu keluar begitu saja. Untung saja istrinya itu wanita yang polos, bahkan tak peka.
Seperkian menit hanya ada keheningan. Luna yang menikmati pijitan tersebut, sementara Scoot fokus pada pijatan itu. Saking nikmatnya, Luna tanpa sadar memejamkan mata dengan kepala bersandar.
Scoot menggapai kotak tisu, lalu menarik beberapa lembar tisu. Beringsut mendekati Luna, hingga spontan mata Luna terbuka. "Wajahmu kotor, biar aku bersihkan."
Luna kaget karena di bilang wajahnya kotor, bukankah sebelum ke sini wajahnya bersih tanpa sedikitpun noda seperti yang dituduhkan pria itu.
Dengan semangat empat lima, Scoot membersihkan seluruh wajah Luna. Ingin menghapus jejak sentuhan pria itu, ia tidak sudi dengan sisa-sisa dari pria itu.
"Baru bersih," ujarnya setelah menurutnya sudah bersih.
Ke-dua alis Luna tertarik ke atas ketika pandangannya ke tisu bekas membersihkan wajahnya, namun lembaran tisu itu bersih tanpa noda, hanya saja kusut.
Pria itu kembali fokus pada pekerjaannya, memijat kembali.
"Menanyakan apa?" ya anggaplah sekarang ia polos dan tidak dapat memahami apa maksud dari pertanyaan itu. "Sayang," pancingnya.
"Itu, itu tentang Wilis!" akhirnya Luna tidak dapat menahan dirinya untuk mengatakan itu karena merasa mengganjal dalam hatinya, apa lagi tadi mendengar perbincangan diantara dua pria ini.
Scoot mengigit bibir bawahnya dengan tatapan ke samping, sepertinya pria itu berpikir. Dan Luna harap-harap cemas menunggu apa tanggapan suaminya itu.
"Apa kau masih mencintainya?" pertanyaan itu lolos dari mulut Scoot. Mungkin ini kesempatan untuk mengetahui hati Luna. Tentu saja Luna kaget mendengar pertanyaan yang tak ia snagka-sangka.
Dengan spontan Luna menggeleng berulang-ulang. "Hubungan diantara kami telah usai," ucapnya dengan pandangan ke bawah, tanpa berani membalas tatapan Scoot.
"Aku menanyakan perasaanmu! Bukan hubungan kalian," tukasnya karena tadi ia tidak melihat Luna merespon dengan gerakan kepala.
"Bukankah aku sudah menjawabnya?" sontak saja Luna kesal karena pria itu tak peka.
Scoot mengerutkan dahinya, dengan bola mata turun naik. Berpikir bahwa setahunya Luna belum menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa kau tidak melarang ku berbicara dengannya? Dan kenapa kau pulang meninggalkan aku?" cecar Luna entah itu atas kesadarannya ia pun menarik paksa ke-dua kakinya. "Seharusnya kau langsung membawa aku pergi! Tapi kau malah memberi ruang untuk kami berbicara!" imbuhnya dengan nafas memburu.
Demi apapun Scoot kaget dengan apa yang dikatakan Luna. Bukankah seharusnya wanitanya itu senang, diberi ruang untuk berbincang dengan pria di masa lalunya, namun anehnya wanitanya ini seperti marah.
"Aku pulang lebih cepat karena alasan pekerjaan."
"Bohong!" potong Luna menegaskan.
Scoot bungkam, tak bisa berkata-kata karena tuduhan itu mengena di hatinya.
"Kau pulang karena tidak tahan melihat, bukan? Kenapa harus membohongi diri sendiri? Buktikan bahwa kau tulus mencintaiku!"
Kembali lagi membuat Scoot membeku.
"Jawab!"
"Aku tidak boleh egois, karena hasil keegoisanku ini menyebabkan penyesalan yang tak kunjung usai. Aku hanya tidak ingin kau meninggalkan ku lagi, walau kenyataannya tidak rela. Orang yang kita cintai, dimohon-mohon untuk kembali."
Scoot mengungkapkan perasaannya ketika melihat Luna bersama Wilis berinteraksi, bahkan wanitanya itu menangis hanya demi pria itu.
"Hatiku hancur ketika mendapati kau menangis demi pria itu," lirih Scoot dengan tatapan sendu.
Luna kaget, kenapa pria itu tahu. Bukankah suaminya itu mengatakan akan menunggu di mobil.
Ya, pada saat itu Scoot memang ke parkiran, namun karena Luna cukup lama membuatnya bermaksud untuk menyusul. Namun kemudian niatnya ia urungkan ketika mendapati Luna maupun Wilis menangis secara bersamaan, bahkan Wilis berani mengusap wajah Luna.
Melihat hal yang tak disengaja membuatnya memutuskan pulang untuk menenangkan hatinya yang terluka. Walau ia tak dapat mendengar percakapan diantara mereka, namun dari interaksi mereka ia dapat menyimpulkan ada sesuatu yang tersimpan.
"Aku gagal meluluhkan hatimu!"
"Siapa bilang?"
"Buktinya pria itu—"
"Kau berhasil!"
"Maksudnya?"
__ADS_1
Luna senyam-senyum seperti ada yang lucu. Sementara Scoot menatap dengan dahi mengerut, walau tak dipungkiri jantungnya berdegup menunggu jawaban pasti dari wanitanya. Scoot tidak ingin menebak-nebak.