
Baik Scoot maupun Luna sudah berada di tengah-tengah awak media, siap untuk memberi keterangan dengan apa yang lagi beredar, seputar berita tentang foto panas tersebut.
Namun ada kekhawatiran yang meliputi hati Scoot, yaitu sikap Luna yang berbeda, seakan marah dengan berita yang beredar.
"Suamiku, kau atau aku yang terlebih dahulu membuka suara?" tanya Luna sembari melirik Scoot sekilas, bahkan menekankan kata suami.
"Tuan, apa benar Tuan punya hubungan khusus dengan Nona Laura? Dan untuk Nona Luna, bagaimana tanggapan Nona mengenai isu yang menerpa bahtera rumah tangga Nona dan Tuan?" tiba-tiba pertanyaan dari salah satu wartawan membuat baik Luna maupun Scoot saling melirik.
Tatapan Scoot tajam kepada wartawan yang berani melayangkan pertanyaan omong kosong itu, andai saja tidak ada Luna bersamanya, mungkin saja pria berkaca mata itu mendapat pukulan di mulutnya karena sudah berani melontarkan pertanyaan seperti itu.
Sementara Luna santai saja, bahkan raut wajah itu tetap menebarkan senyuman. Berbanding terbalik dengan pria yang duduk di sampingnya, yang di mana pria itu duduk tidak tenang.
"Suamiku, tenanglah! Semuanya baik-baik saja," ucap Luna dengan lantang di hadapan para awak media sembari meraih telapak tangan Scoot. Tentu saja perlakuan itu membuat Scoot tercengang karena perbincangan mereka tadi sempat memanas.
Scoot mengangguk sembari menebarkan senyuman senangnya, namun dalam hati masih was-was.
__ADS_1
"Berita atau apapun yang saat ini beredar, tidaklah benar. Ini adalah berita sampah!" ujar Scoot dengan lantang.
"Benar begitu Nona?" sekali lagi wartawan itu berani bertanya, seakan ia lupa sedang berhadapan dengan siapa. Rekan-rekannya sendiri menjadi panik.
"Untuk jawaban itu saya serahkan kepada yang bersangkutan karena orang itu yang lebih tahu," ucap Luna dengan santai, ucapannya itu membuat semua orang menerka-nerka saling memandang satu sama yang lainnya. "Silahkan tanyakan apapun yang membuat Anda-anda penasaran dengan berita yang beredar. Nona Laura maupun Tuan Samuel akan menjawab semuanya!" ucapan Luna yang terakhir membuat semuanya tercengang karena tidak paham. Namun rasa penasaran itu terjawab ketika Justin bersama Fanny membawa seorang wanita dan pria ke hadapan awak media.
"Sayang," bisik Scoot sontak kaget dengan apa yang direncanakan wanitanya, tanpa ia ketahui.
"Aku masih marah!" balas Luna sembari membuang muka.
"Stop!" dengan spontan Luna menepis tangan suaminya yang hampir saja menyelusup di balik dress yang ia kenakan.
"Nona Laura, ayo jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Anda berani menyebarkan isu tak sedap, jadi para awak media ingin mendapatkan kebenaran dari berita yang sudah tersebar luas. Silahkan Anda jelaskan!" ucap Luna dengan raut wajah setenang mungkin.
Laura berusaha setenang mungkin. Wanita licik itu pandai menguasai keadaan, sedikitpun wajah malu atau takut tak didapati pada ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Apa yang sudah beredar, itulah kenyataannya. Di foto itu sudah jelas antara aku dan juga mantan Adik ipar ku sendiri." Akui Laura dengan percaya diri sembari menatap sinis kepada Luna yang tengah tersenyum setelah mendengar perkataannya.
"Jika saya membantah bahwa wanita di dalam foto yang Anda sebar luaskan itu adalah kembaran Anda, yang tak lain adalah mendiang Lucu, istri pertama suami saya! Apa tanggapan Anda, Nona Laura? Bisa jelaskan kepada kami semua?" dengan santainya Luna melontarkan pernyataan yang membuat semua orang saling melirik. Sementara baik Laura maupun Samuel gugup dengan pertanyaan Luna yang menyudutkan posisi mereka.
"Omong kosong! Jangan terlalu bodoh! Kau melindungi suamimu!" Laura meradang, bahkan menunjuk-nunjuk tangannya ke arah Luna.
"Omong kosong, bodoh! Itu tepat di sematkan pada dirimu Laura. Apa kau kira aku percaya dengan berita yang tersebar? Tidak, kau salah strategis karena aku lebih mempercayai suamiku, dari pada Anda-anda berdua."
Laura masih meradang, tanpa merasa malu jadi pusat perhatian orang.
"Katakan sejujurnya! Apa tunggu aku patahkan leher kalian berdua dulu, baru di kasi tahu? Katakan Laura sebelum kesadaran ku habis!" bentak Scoot, hingga pria dengan rahang kokoh itu bangkit dari tempat duduknya.
Baik Laura maupun Samuel saling memandang. Ada perasaan takut diantara mereka dengan ancaman Scoot.
"Akan aku hancurkan kalian sampai ke akar-akarnya!" sekali lagi ancaman itu bergema, terutama bagi Laura maupun Samuel.
__ADS_1
Dengan perlakuan lembut, Luna meraih tangan suaminya. Meminta prianya segera duduk kembali.