
Beberapa minggu kemudian
Di ruang persidangan.
Luna beserta keluarga sudah turut hadir. Mereka baru saja tiba dari kota X, dan langsung menuju kantor pengadilan agama.
Di tempat duduknya Luna sejak tadi hanya bisa meremas telapak tangannya. Ia sangat berharap Scoot juga bisa hadir, agar keputusan sidang tak berbelit-belit. Ia sudah lelah memikirkan status mereka yang tak kunjung ada titik terangnya.
"Luna sayang," panggilan lembut itu membuat Luna mendongak ke samping.
"Mom, Dad." balas Luna kepada ke-dua mertuanya yang baru saja datang.
Mereka saling berpelukan, melepaskan rasa rindu. Terlebih lagi Mom Ara, wanita itu sampai menangis dalam pelukan Luna.
Luna mengusap air mata mertuanya, lalu tersenyum hangat. Bercerita sedikit karena wanita itu selalu bertanya tentang keadaan mereka yang tiba-tiba menghilang.
Mom Ara, kembali menyakinkan Luna dengan keputusan itu. Wanita itu berharap Luna mengubah keputusannya, namun ia hanya bisa mengusap dada karena keputusan itu tak bisa ditarik lagi. Luna benar-benar sudah yakin 100% ingin berpisah.
Sebagai orang tua mereka tidak bisa memaksakan karena yang menjalankannya adalah anak-anak mereka.
Para hakim dan saksi sudah memasuki rua g sidang, namun pria yang sejak tadi ditunggu-tunggu belum juga menampakan diri. Luna menjadi tidak tenang, bukan karena memikirkan Scoot tetapi ia tidak ingin sidang kali ini gagal lagi.
"Maaf aku sedikit terlambat." Suara bariton itu membuat lamunan Luna membuyar, dengan gerakan cepat mengubah posisi duduknya.
Scoot berjalan menuju kursi yang ada di sebelah Luna. Tatapannya dingin tanpa ekspresi, sama sekali tidak menyapa Luna.
Luna tertegun, menoleh sekilas ke samping. Di mana saat itu juga Scoot menoleh, hingga tatapan mereka bertemu.
Ekspresi dingin Scoot membuat dada Luna sesak, pria yang beberapa minggu lalu yang sempat membuatnya kesal kini kembali seperti pribadi Scoot yang pertama kali dia kenal.
Luna masih mengingat jelas dengan kata-kata yang diucapkan Scoot waktu itu sebelum pulang. Scoot memohon agar Luna menarik gugatan cerai dan meminta kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Pada saat itu tidak ada kebohongan dari pria itu, namun tak lantas membuat Luna mengubah keputusannya, wanita itu bersikeras ingin berpisah. Buktinya kini mereka berada dalam sidang.
"Keputusan ini lebih baik." Luna membatin, berusaha kuat dan tak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang, bahwa keputusannya tidaklah salah. Namun mulut dan hati tidaklah sejalan.
Sidang segera di mulai. Keluarga ke-dua pihak hanya bisa mengusap dada, menyaksikan putra-putri mereka dalam keputusan itu.
Tibalah di mana saatnya Luna di persilahkan bersaksi, namun tiba-tiba suara anak perempuan mengurungkan langkahnya.
__ADS_1
"Mommy, Mom." Panggilnya, disertai tangisan.
Luna dan semua orang menoleh ke belakang, di mana sumber suara itu terdengar.
"Angel!" gumam mereka ketika mengenali sosok tersebut.
Angel yang ditatap, berlari kencang hingga memeluk kaki Luna. "Mom, Angel minta maaf. Angel sudah jahat kepada Mom," lirih Angel sembari menarik-narik ujung baju kemeja yang dikenakan Luna.
Kehadiran Angel di tengah persidangan membuat Luna terenyuh, rasa rindu yang selama ini membuatnya ingin sekali memeluk anak itu.
Luna meraih tangan Angel, agar lepas dari pelukan di kakinya, hal itu membuat raut sedih di wajah cantik itu.
Luna pun berjongkok, hingga ketinggian mereka sejajar. Mengusap wajah Angel yang dibanjiri air mata. Lalu dalam sekejap ia memeluk erat tubuh itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" bisik Luna.
Angel tak bisa menjawab, anak itu terus saja menangis. Scoot yang berada di dekat mereka merasakan hatinya terenyuh, melihat dua wanita sedang melepas rindu.
"Mom, Angel mohon jangan bercerai."
Deg!
Semua orang yang ada di ruang sidang tersentak kaget mendengar suara lantang yang berasal dari Angel.
Angel yang polos berjalan ke depan.
"Pak Hakim, Angel mohon jangan buat Dad dan Mom Angel bercerai. Jika Angel salah, hukum Angel saja." Mohon Angel, kembali lagi membuat semuanya terkejut dengan apa yang dilakukan anak seusia Angel.
Angel kembali menangis.
"Ini salah Angel, makanya Mom marah. Mom, Angel minta maaf dan jangan tinggalkan Angel lagi. Angel sangat menyayangi Mom."
"Hua...... " tangis Angel pecah.
Kini pertahanan Luna runtuh, menyaksikan sosok kecil itu memohon di hadapan semua orang sembari menangis. Angel yang begitu polos tak menyadari apa yang sedang terjadi.
Luna beranjak, memeluk tubuh Angel, menenangkan agar tangisan keras itu memenuhi ruangan sidang.
"Sayang, jangan menangis lagi," bisik Luna ikut meneteskan air mata untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Angel, minta maaf Mom. Angel sudah jahat kepada Mom," lirihnya sesegukan.
Luna menggelengkan kepala berkali-kali, bahwa ini semua bukanlah salah Angel. Ia pun semakin mengeratkan pelukan itu, hingga wajah Angel tak terlihat.
"Tenang sayang, tolong jangan menangis lagi. Mom, sudah maafkan Angel, tapi janji jangan menangis lagi. Oke?" bisik Luna dengan terharu.
Luna membawa Angel di kursi yang ia duduki, ia mendudukkan Angel dalam pangkuannya. Sidang menjadi hening, semua terenyuh melihat tontonan tersebut, bahkan banyak yang meneteskan air mata.
Luna tidak tahu harus bagaimana, hatinya menjadi dua bagian. Sulit untuk memutuskan dari salah satunya.
"Dad, minta maaf kepada Mom. Dad, juga sudah jahat dan memarahi Mom. Makanya Mom pergi dan ingin cerai." Perkataan Angel seperti orang yang sudah remaja, sekali lagi membuat semua orang tercengang. Bagaimana anak berusia enam tahun lebih itu, paham dengan kata cerai.
Scoot yang disemprot oleh putrinya tersentak kaget. Sejak tadi ia tertegun dengan apa yang dilihatnya. Di mana momen yang sangat menyesakkan dada.
Scoot beranjak, lalu berlutut di hadapan Luna. Tentu saja membuat semua orang tercengang, terlebih lagi Luna. Sementara Angel beranjak dari pangkuan Luna hingga memberi ruang untuk Scoot menggenggam tangannya.
"Aku minta maaf. Beri kesempatan untukku memperbaiki hubungan kita. Aku tidak menginginkan perceraian ini!" Scoot memohon tanpa mengalihkan tatapannya kepada Luna.
"Apa yang kau lakukan? Segera bangkit!" ucap Luna dengan jantung berdegup kencang.
"Aku tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban."
Luna tiba-tiba pusing, apa yang sudah diprediksi tak sesuai rencana. Kenapa semuanya me jadi kacau seperti ini.
"Maafin Dad, Mom. Angel, ingin tinggal bersama Mom dan juga Dad," cicit Angel membuat Luna maupun Scoot saling menatap dalam diam.
"Ya Tuhan, terima kasih mengirimkan malaikat untuk menggagalkan perpisahan mereka." Doa Mom Ara.
"Mohon perhatian, saya ingin menanyakan apakah sidang tetap berlanjut?" ucap ketua hakim.
Luna memejamkan mata. Melirik Angel yang masih memohon, dan terakhir melirik suaminya yang masih berlutut tanpa melepaskan tatapan sendunya.
"Luna, ikuti apa kata hatimu, agar tidak ada rasa menyesal dikemudian hari. Kami sebagai orang tua mendukung apapun keputusanmu Nak." Seruan dari Dad Lukas, pria itu tidak ingin dikemudian hari putrinya menyesal atas keputusan yang terpaksa.
"Mom, Angel sangat menyayangi Mom Luna, tidak ada yang lain." Sekali lagi ucapan sendu Angel membuat Luna membeku.
Luna menarik nafas panjang, menegangkan tubuhnya. Menarik tangannya dalam genggaman suaminya, melihat hal itu membuat hati Scoot miris, ia sudah tahu keputusan Luna.
"Berdirilah! Tidak pantas kau melakukan hal itu, apa lagi dihadapan banyak orang," ucap Luna.
__ADS_1
Scoot terpaksa berdiri dengan raut wajah penuh luka.
Luna menelan ludah. "Saya tegaskan, bahwa keputusan gugatan cerai saya tarik. Saya dan suami kembali rujuk!" ucapan tegas Luna sontak membuat keluarga kaget, terlebih lagi Scoot, sampai-sampai rasanya salah mendengar.