PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 22


__ADS_3

Kepergian Luna bukan hanya dirasakan oleh Dad Ben, Mom Ara tetapi berlaku juga untuk Scoot. Bukankah seharusnya ini hari yang paling bahagia bagi pria itu? Bisa saja ia bersenang-senang di luaran sana, merayakan hari bahagianya. Tetapi tidak, pria itu seakan jatuh dalam kemelut.


Scoot menatap nanar dua buah kartu ATM dan beberapa kotak perhiasan di atas kasur. Itu adalah pemberian darinya untuk Luna.


Scoot mengusap rahangnya, mengetahui bahwa jumlah nominal dari dua buah kartu ATM tersebut masih utuh. Jadi selama dua tahun itu Luna tidak pernah menggunakan uang pemberiannya.


Ya, benar saja Luna tidak pernah menggunakan uang dari pemberian suaminya karena kebutuhannya sudah terpenuhi. Ia jarang berbelanja pakaian, tas, sepatu, adapun itu pemberian Mom Ara.


Masalah biaya keperluan Mansion, seperti kebutuhan dapur dan lain sebagainya, gaji pelayan itu memang sudah di atur oleh asisten kantor. Justin yang mengatur segalanya.


Scoot beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Merendahkan tubuhnya dengan air dingin, untuk mendapat kebugaran sedikit bagi kulitnya.


Bayangan, kejadian di mana dia tidak sengaja mendorong Luna, hingga mengakibatkan janin tak berdosa itu tak bisa diselamatkan.


Bayangan ucapan demi ucapan Luna siang tadi, masih terngiang jelas di benaknya. Tangisan Luna itu berhasil menggetarkan hatinya, bahkan perasaan aneh untuk pertama kalinya.


Scoot mengusap wajahnya berkali-kali, tidak mengerti atas perasaannya. Kenapa hatinya engan menerima keputusan Luna, keputusan sepihak.


"Ada apa denganku? Bukankah seharusnya aku senang? Dia hanya ku anggap peran pengganti Lucy, dan sekarang ada sosok Laura. Tetapi anehnya, kenapa hatiku ini sedikitpun tak tersentuh oleh kehadirannya. Semua yang ada pada Lucy, ada pada Laura." Scoot menjadi bingung sendiri. Jujur saja, hatinya tak tersentuh oleh Laura, padahal wajah Laura mengingatkan dirinya dengan almarhum mantan istrinya.


*


Di kamar miliknya, Angel berkali-kali menanyakan alasan Luna pergi dari Mansion kepada Laura.


"Mommy, kenapa Mom pergi dengan membawa banyak koper?" ini pertanyaan kesekian kalinya.


Laura pada akhirnya jengah hingga berusaha menjawab pertanyaan Angel.


"Mungkin saja dia merasa bersalah. Bersalah karena membuat Mom Lucy meninggal, maka dari itu dia di usir oleh Dad." Laura kembali mencuci otak Angel.


"Pantas saja, apa seharusnya Mom di penjara? Kalau pembunuh kan harus di penjara, seperti di chanel kartun yang sering Angel tonton," cicit Angel dengan semangat.


"Ini masalahnya beda sayang, ya sudah stop tanyakan itu lagi. Bukankah ini keberuntungan bagi kita? Tidak ada lagi orang jahat di sekeliling kita."

__ADS_1


Angel mengangguk polos. Sementara Laura tersenyum penuh kemenangan. Satu masalah telah tuntas, langkah selanjutnya mendekati Scoot.


"Sayang, janji jangan katakan apapun tentang ini ya?" bujuk Laura, ada ketakutan baginya.


"Kenapa Mommy?"


"Hanya cukup kita berdua saja. Takutnya Mom Luna menyakiti Dad dan juga Opa, Oma. Apa Angel, tidak takut?" Laura menakut-nakuti Angel agar anak polos itu tidak menceritakan perihal itu kepada siapapun. Bisa-bisa rencananya berantakan.


"Oke, Mommy!" Angel tertawa lepas hingga matanya menyipit sembari mengacungkan ibu jarinya.


"Anak pintar!" Laura mengelus kepala Angel sembari tersenyum smirk, memandang ke langit-langit kamar bernuansa biru muda.


*


Di perusahaan Brylee Group


Pintu ruangan di buka begitu saja hingga membuat Scoot mendongak, sedikit kaget. Spontan saja ia memandangi Justin dengan sinis karena masuk tanpa mengetuk pintu.


"Maaf atas kelancangan saya Tuan." Justin seakan bisa membaca arti tatapan sinis itu. "Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu tetapi—"


Justin terdiam, memandang atasannya itu dengan lekat-lekat.


"Apa kau tidak mendengar?" seru Scoot dengan ketus.


"Sidang pertama akan dilaksanakan tanggal 1 bulan Oktober Tuan. Saya mendapat informasi dari pengacara Nyonya, bahwa Nyonya tidak dapat menghadiri sidang pertama." Justin menjelaskan seperti informasi yang dia dapatkan.


Scoot menghentikan pekerjaannya, lalu menatap Justin dengan mata menyipit. "Kenapa? Apa ini tandanya dia ingin membatalkan perceraian itu?" tanya Scoot dengan semangat berapi-api, sampai-sampai ia lupa dengan situasi mereka saat ini.


Justin mengernyitkan dahi melihat atasannya yang tak seperti biasa. Bahkan ini pertama kalinya pria itu sangat bersemangat, apa lagi mengenai Luna. Karena Justin cukup kaget, membuatnya terdiam.


"Kau masih hidup Justin?" sentak Scoot dengan nada meninggi, bahkan pria itu beranjak dari kursi kebesarannya. Melihat Justin tidak menjawab pertanyaannya.


"Iya Tuan, maaf bisa Tuan ulangi sekali lagi?" ujar Justin gagap, bahkan kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

__ADS_1


"Kau! Berani bernegosiasi dengan ku? Apa yang kau pikirkan sejak tadi?" Scoot mengamuk murka karena ia merasa percuma berbicara tetapi sana sekali tak ditanggapi oleh asisten pribadinya itu.


"Maafkan saya Tuan." Justin hanya bisa menunduk dengan raut wajah ciut.


"Lupakan!" Scoot kembali duduk.


"Ada yang ingin saya sampaikan Tuan."


Hmm


"Nyonya, beserta keluarga sudah meninggalkan kota X. Bahkan Mike juga sudah mengundurkan diri dari campus."


Brak!


Seketika Justin tersentak kaget, mendengar bunyi dentuman meja kerja. Untung saja kaca meja kerja itu terbuat dari kaca pilihan hingga tidak pecah maupun retak.


"Jadi mereka kembali ke rumah susun?" tanya Scoot dengan tidak sabarnya.


Justin menggeleng


"Tidak Tuan, bahkan saya juga belum dapat informasi tentang keberadaan Nyonya beserta keluarga." Ya, hanya sebatas ini informasi yang diterima oleh Justin dari orang suruhannya. Belum tahu dimana keberadaan Luna sekeluarga.


"Keluar! Cari tahu dimana keberadaan mereka. Buat apa aku mengaji kalian jika urusan sekecil ini saja tidak becus!" amuk Scoot dengan rahang mengeras.


Justin hanya bisa menunduk, berlalu tanpa mengucap sepatah kata lagi, karena ia sudah hafal betul bagaimana watak atasannya ini.


"Seharusnya Tuan bahagia atas kepergian Nyonya, tetapi semua itu tak terdapat pada dirinya. Tuan mengkhawatirkan Nyonya! Hmm baru sadar sekarang setelah berlian lepas dari genggaman." Justin bersungut-sungut dalam hati selepas keluar dari ruangan itu.


Scoot mengusap wajahnya. "Sebegitu besar keinginan mu untuk berpisah. Sebegitu benci kau padaku, sampai-sampai rumah pemberian ku juga kalian tinggalkan, begitu juga dengan Mike, rela mengundurkan diri dari kampus." Scoot kembali mengusap wajahnya, tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Bayangan wajah Luna membuatnya tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Bayangan wajah Luna ketika mereka berbicara empat mata, dimana wanita itu mengungkapkan seluruh hatinya.


"Apa Mom maupun Dad, tahu dimana keberadaan Luna?" Scoot berbicara kepada dirinya sendiri, berharap ke-dua orang tuanya tahu.

__ADS_1


Tanpa ingin berlama-lama lagi, pria itu meraih kunci mobil yang tergantung pada tempatnya. Hari ini semua pertemuannya dengan berbagai klien, akan di tangani oleh Justin. Tujuan utamanya adalah ingin mendapatkan petunjuk keberadaan Luna.


__ADS_2