
Luna terpaku dengan perkataan Angel. Hatinya seperti dihantam sesuatu hanya mendengar ucapan singkat itu.
Tanpa rasa peduli Angel melenggang, meninggalkan Luna yang masih terpaku dengan raut wajah sendu, menatap kepergiaannya.
"Angel, Mom minta maaf. Bukan itu maksud Mom, sayang." Lirih Luna ingin sekali mencegah kepergian Angel tapi untuk saat ini ia akan mengalah.
Luna menyeret kakinya untuk duduk sembari melipat kedua telapak tangannya. Menundukkan kepalanya di atas meja.
Karena ingin menyusul Angel segera, Luna beranjak dari tempat duduknya. Lagi pula ia juga merindukan kedua mertuanya yang sudah cukup lama mereka tidak dipertemukan.
Belum juga sempat kakinya melangkah, suara bariton itu membuat langkahnya terhenti.
"Jangan kemana-mana sebelum aku pulang dari kantor. Ingat dengan statusmu sekarang!"
Luna mengepalkan kedua tangannya dengan nafas memburu karena menahan marah. Kemarahan semalam belum juga reda dengan apa yang dilakukan Scoot kepadanya.
"Aku bisa pergi sendiri, lagi pula aku bukan bersenang-senang di luar sana!" ucap Luna berusaha tenang tapi pandangannya ke bawah. "Bukankah hari ini libur?" imbuhnya dengan tatapan sinis tetapi tidak ditunjukkan.
Scoot menatap tajam
"Kau memang keras kepala!"
Luna mendongak. "Iya kau benar, apa sekarang kau menyesal sudah menikahi wanita keras kepala seperti ku?" cemooh Luna sembari tersenyum seperti mengejek. "Makanya sebelum bertindak pikirkan dulu," imbuhnya dengan nada amat rendah seperti menahan sesuatu karena jika sudah menyangkut masa lalunya dadanya begitu sesak.
Sekali lagi membuat Scoot menahan marah. Perkataan Luna berhasil membuatnya tersinggung karena begitulah kenyataannya. Dia menikahi Luna tanpa tahu bagaimana kepribadiannya.
Tidak ingin amarahnya semakin membuncah, Scoot pergi dengan langkah panjang penuh emosi. Sangat terlihat jelas rahang kokoh itu mengeras serta buku-buku jari tangannya.
__ADS_1
Luna tersenyum getir sembari memandangi punggung kokoh itu pergi meninggalkan ruang makan. "Tidak mengenal waktu, sungguh tidak punya perasaan," umpat Luna pada dirinya sendiri.
Air mata itu tak dapat ia bendung lagi hingga berhasil membasahi pipinya pagi ini.
"Aku sangat membencimu," gumam Luna sembari mengusap air mata itu.
Selera makannya seakan hilang hingga membuatnya beranjak kembali dari meja makan. Dengan perasaan kesal Luna berjalan menuju taman. Mungkin di sana hatinya sedikit terobati.
Kini di tepi kolam renang Luna mendudukkan dirinya dengan kedua kaki di masukan ke dalam kolam renang.
"Mom, Dad, Luna rindu," gumam Luna mengingat kedua orang tuanya. Sudah satu tahun ini mereka tidak bertemu. Setahun yang lalu terakhir mereka bertemu, itupun ketika Daddy-nya masuk rumah sakit. Ingin sekali Luna mengunjungi kedua orang tuanya tetapi Scoot tidak membiarkan hal itu. Untuk mengobati rasa rindu itu, Luna hanya bisa berkomunikasi melalui sambungan telepon, dan sekali-kali videocall.
*
Di Mansion
"Sayang, kenapa Dad dan Mom tidak ikut?" tanya Oma Ara.
Angel sontak terdiam untuk sesaat. "Katanya nanti malam menyusul, Oma," sahut Angel.
"Ini pasti kelakuan anak itu, sama sekali tidak merindukan orang tuanya," ucap Oma Ara kepada Scoot karena ia sudah tahu jika putra sulungnya itu yang melarang.
"Tenang sayang." Sang suami menenangkan sembari mengusap pundak wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, sebaiknya Angel sarapan dulu. Sepertinya sarapan Angel sudah jadi," ucap Oma Ara sembari tersenyum, mengusap wajah mengemaskan itu.
"Oke, Oma," sahut Angel, lalu turun dari pangkuan Opa Ben.
__ADS_1
Keduanya saling memandang tubuh Angel yang mulai menghilang dari balik dinding pembatas ke arah ruang makan.
Mom Ara mengeluh jika sudah menyangkut putra tinggal mereka. Dari kelima putra kembar mereka, Scoot yang sulit di nasehati. Jiwa mafia dari aliran sang Daddy mengalir pada darahnya.
"Sampai kapan mereka menjalani kehidupan seperti itu? Mom kasian dan merasa bersalah kepada menantu kita Luna karena sudah gagal mendidik dia," keluh Mom Ara menyalahkan dirinya sebagai orang tua.
Dad Ben menarik nafas, selama ini ia sudah cukup sesak jika istrinya selalu mengeluh tentang kehidupan putra sulung mereka. Walau tinggal di luar negeri wanitanya itu tak lepas memikirkan rumah tangga yang dijalani oleh Scoot dan juga Luna.
"Dia memang keras kepala. Apapun yang kita katakan sama sekali tak ada gunanya, sungguh berbeda dari Adik-adiknya," pungkas Mom Ara masih membicarakan Scoot.
"Dad, yang salah Mom. Salah satu putra kita mengikuti jejak Dad terdahulu."
Mendengar suaminya itu merasa bersalah, Mom Ara menghela nafas panjang. "Sayang, Dad sudah menjadi pahlawan buat Mom dan anak-anak. Mom sama sekali tidak menyalahkan Dad," ucapnya sembari memeluk lelaki kesayangannya itu. Walau sudah kepala lima tapi kemesraan selalu mewarnai bahtera rumah tangga mereka. Seharusnya Scoot menyontohkan keharmonisan rumah tangga kedua orang tuanya tetapi untuk Luna itu sama sekali bertolak belakang.
Mereka sangat menyayangi Luna, bahkan sudah menganggap Luna putri mereka sendiri. Sangat berbalik dengan kasih sayang mereka dulu kepada menantu pertama mereka. Karakter almarhum Lucy berbeda jauh dari sosok Luna. Lucy yang gemar menghamburkan uang dengan berbelanja, tidak bisa memasak dan mengurus rumah. Sementara Luna gadis serba bisa, hanya saja dia bukan seorang wanita karir seperti Lucy. Luna juga sangat dekat dengan kedua mertuanya, terutama Mom Ara.
Mereka tahu bahwa Luna sangat menyayangi Angel yang hanya anak tirinya, tetapi Luna menganggap Angel adalah putrinya sendiri. Bahkan mereka tahu dibalik bertahannya Luna karena ada sosok Angel. Bersabar menjalani rumah tangga yang tidak tahu kapan ada kebahagiaan.
"Tidak ada yang perlu disalahkan Dad, Mom. Setiap orang tua akan menginginkan anak-anak mereka bahagia, dengan kehidupan yang menjadi pilihan mereka masing-masing. Dasar Kak Scoot saja yang belum sadar." Akhirnya Mike putra bungsu mereka bersuara, sejak tadi hanya menyimak saja. "Kak ipar secantik dan perfect itu disia-siain, sayang sekali aku bertemu dengannya setelah menjadi Kakak ipar," imbuhnya, sekaligus memuji dan mengagumi Luna.
"Menantu Mom sama sekali tidak cocok bersanding dengan mu! Melirik saja engan, lihatlah gaya rambutmu itu seperti tidak pernah keramas bertahun-tahun," cicit Mom Ara kepada putra bungsu mereka yang memiliki rambut gondrong.
"Mom jangan salah sangka, gini-gini Mike Brylee dikagumi oleh mahasiswi di kampus," ujarnya dengan bola mata malas. Mike adalah dosen di salah satu universitas milik keluarga sendiri, sekaligus menjabat sebagai direktur, dibawah kekuasaan Scoot.
Hmm!
Dad Ben dan Mom Ara hanya bisa berdehem sembari mencabikan bibir. Walau Mike berpenampilan seperti seorang preman tetapi sosoknya begitu hangat. Mendengar apapun nasehat yang diselipkan oleh kedua orang tuanya. Sangat bertolak belakang dengan profesi yang dia dalami, seharusnya profesi Polisi atau TNI yang cocok melihat penampilannya itu.
__ADS_1