Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Rafka Manja dan Bawel


__ADS_3

...Happy reading 🥰...


...jangan lupa follow author, ya😁😁...


Seorang gadis tengah berjalan sambil tersenyum ke arah pemuda di sampingnya. Tangan mereka saling bertautan, seolah tak ingin lepas barang sedetikpun.


"Dari sini kamu mau ke mana?" tanya Rafka seraya membuka pintu mobil.


Hubungan keduanya tak dirahasiakan dari publik. Azalia berusaha untuk tidak terusik dengan tatapan dan juga bisikan orang lain. Ia selalu mengingat perkataan Rafka, bahwa kebahagiaan diciptakan bukan dicari.


Kehidupan Azalia tak ada bedanya, ia masih sering mendapatkan amukan serta kekerasan fisik. Namun, ia menolak bantuan Rafka. Biarlah dirinya akan menerima semuanya sampai tiba pada waktu di mana ia akan keluar dari rumah itu.


"Jalan-jalan dulu bisa nggak? Aku lagi tak ingin kembali ke rumah," jawab Azalia.


Kendaraan beroda empat yang dikendarai oleh Rafka keluar dari parkiran kampus dan melaju perlahan membelah jalanan ibu kota.


"Bisa. Apa yang nggak bisa buat kamu. Tapi, kita solat Asar dulu, ya. Udah azan, tuh. Bawa mukena, 'kan?"


Azalia mengangguk dan Rafka langsung membawa mobilnya ke masjid yang saat ini masih mengumandangkan azan Asar.


Keduanya berpisah untuk mensucikan diri dan masuk ka masjid. Rafka membawa perubahan baik ke dalam diri Azalia.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa ia akan dipertemukan oleh pemuda baik dan soleh.


Keduanya bermunajat kepada Allah untuk hal-hal yang baik saat selesai melakukan salat Asar. Tak ada yang tahu hal baik apa yang mereka langitkan.


"Mau jalan ke mana?" tanya Rafka.


Saat ini mereka kembali melanjutkan perjalanan yang Rafka sendiri tak tahu ke mana tujuan kekasihnya.


"Ke toko kue yang ada di depan mal bisa nggak?" Azalia bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Kamu mau makan kue?"


"Nggak juga. Memangnya kenapa?"


"Ini kita kenapa malah jadi saling bertanya, sih?" Rafka terkekeh dengan obrolan mereka.


"Iya, ya. Udah, pokoknya antar aku ke sana dulu." Azalia tampak menimbang apakah ia harus bertanya atau tidak.


"Ka?" Azalia ingin mengetahui sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.


"Ada apa? Kenapa malah melamun?" tanya Rafka seraya melirik Azalia.


"Kamu sudah berapa kali nggak masuk kelas. Kalau aku tanya pasti kamu bilang ada yang harus diselesaikan. Dosen juga tidak pernah bertanya kamu ke mana. Sebenarnya kamu ke mana dan sibuk apa?" Azalia memandangi pemuda yang telah mengisi hatinya karena perhatian yang sering ia dapat.


Hatinya tiba-tiba merasakan sakit, pikirannya telah berputar bayang-bayang yang bukan-bukan.


Sementara, Rafka terpaku mendengar pertanyaan itu. Bukan ia ingin merahasiakan hal itu dari Azalia. Tapi, ia tak ingin gadis di sampingnya akan merasa bersalah. Ia tak ingin wajah cantik itu bersedih karena dalam hatinya sudah berjanji bahwa ia hanya akan membuat senyum itu terbit di bibir Azalia.


"Ka? Kamu kenapa diam? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku? Apa jangan-jangan kamu ... seling–"

__ADS_1


"Aku nggak pernah selingkuh dari kamu, Lia. Percayalah padaku. Sekarang kita turun, kamu mau beli kue, 'kan?" Rafka mencoba mengalihkan pembicaraan.


Perihal ia diskors hanya dirinya, Pak Alham, juga beberapa dosen yang saat itu ada dalam ruangan yang mengetahuinya. Oleh sebab itu, suasana kampus terlihat seperti biasa. Tak ada gosip apapun lagi selepas kejadian Azalia pingsan kecuali hubungan mereka.


"Aku nggak mau turun sebelum kamu jawab pertanyaan aku!" desak Azalia sambil mengalihkan pandangannya ke arah toko kue di sampingnya.


"Lia, percayalah padaku. Aku tidak mengkhianati kamu. Bagaimana bisa aku menduakan kamu sementara hatiku telah bertahta namamu." Rafka tak berbohong, memang itulah kenyataannya.


"Lalu, kenapa kamu tak mau menjawab pertanyaan aku? Apa namanya kalau bukan selingkuh? Aku sudah bisa menerima kamu, Ka. Aku mencintai kamu. Kenapa ... kenapa di saat aku sudah membuka hati, kamu malah menyembunyikan sesuatu yang membuat aku merasa diduakan," tutur Azalia dengan derai air mata yang entah sejak kapan membanjiri pipi mulusnya.


Bukannya marah atas tuduhan itu, Rafka malah tersenyum dan langsung mengusap kepala gadis yang tengah menangis sambil menutupi wajahnya. Ia tak berani memeluk Azalia sebab masih ingat akan batasannya.


Azalia menatap pemuda beralis tebal tersebut dan mendapati sang empu malah tersenyum ke arahnya.


"Katakan sekali, Lia," pinta Rafka lembut.


"Apa? Kamu selingkuh?"


"Bukan itu." Rafka menggeleng. "Katakan sekali lagi kalau kamu sudah mencintaiku, Azalia. Katakan bahwa aku tidak salah dengar," pinta Rafka sekali lagi.


"Kamu salah dengar," kilah Azalia tak berani menatap Rafka.


Rafka tersenyum, lalu berkata, "Aku akan menceritakannya. Tapi, aku mohon berhentilah menangis. Kamu jelek kalau nangis, ada ingusnya, tuh."


Azalia langsung mengelap bagian bawah hidungnya. "Nggak ada ingusnya, kamu bohong." Azalia dengan kesal langsung berbalik dan memukul Rafka sehingga pemuda itu tertawa.


"Iya, becanda. Maaf, ya. Sekarang aku akan cerita." Rafka menarik napasnya mencoba untuk terbuka kepada kekasihnya. Dilihatnya Azalia menanti dengan tak sabaran. "Nungguin, ya," canda Rafka.


"Rafkaaa! Aku nggak mau ngomong lagi sama kamu. Antar aku pulang!" Azalia benar-benar kesal dengan Rafka.


"Nggak!"


"Katanya nggak mau ngomong lagi. Itu barusan apa?" Rafka mencolek pipi Azalia yang kembali membuang pandangannya.


"Rafkaaa, ih! Kamu, mah, nyebelin!" Azalia langsung keluar dari mobil dan memasuki toko kue.


"Lah, katanya nggak jadi beli kue. 'Trus itu malah masuk. Mau heran, tapi ini perempuan." Rafka menggeleng, lalu turun dan mengejar Azalia.


***


"Lia, jangan ngambek, dong. Kamu manis tahu, kalau senyum. Melebihi manisnya kue-kue ini." Rafka terus berusaha agar Azalia mau menatapnya.


Saat ini mereka tengah melihat-lihat kue yang ada di etalase. Selain mereka, ada juga beberapa pengunjung yang turut ikut mencari kue keinginan mereka.


"Lia, lihat aku, dong."


"Lia, aku tampan, 'kan?"


"Lia, kue cokelat ini kayaknya cocok di kamu."


"Lia, aku lapar."

__ADS_1


"Lia, aku ha–enak." Azalia langsung menyumpal mulut Rafka dengan kue kering yang malah dinikmatinya. Beruntung ada kue untuk dicoba sebelum memesannya.


Sementara, Rafka langsung memberikan komentar terhadap kue yang masuk ke mulutnya. Wajahnya sangat menggemaskan, membuat beberapa orang yang melihatnya terkekeh dan terpana akan ketampanannya.


"Lapar, 'kan? Makan itu saja dan diam," kesal Azalia membuat Rafka mengangguk patuh.


Sungguh, telinganya sangat sakit saat mendengar rengekan dari Rafka yang seperti anak kecil. Apalagi ia dan Rafka menjadi pusat perhatian oleh karyawan dan pengunjung di toko tersebut.


"Lia," panggil Rafka menarik ujung baju Azalia. Matanya menatap gadis itu seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.


"Apalagi, Rafka?" Azalia sudah benar-benar kesal. 'Benar kata Bunda Raya,' batinnya menangis.


"Kue itu enak. Beli itu, ya?" tunjuknya ada kue tadi yang ia makan.


"Serius mau?" Azalia memastikan.


"Iya. Beli, ya. Itu doang, kok. Nggak lebih." Rafka menunjukkan dua jarinya yang membentuk V dan tersenyum semanis mungkin.


Ia bingung, pasalnya yang akan membayar adalah Rafka, tetapi untuk apa bertanya. Azalia mengiyakan saja permintaan Rafka daripada pemuda itu akan buat ulah kembali.


Selama dua jam, Rafka tak sungkan bersikap manja. Berbeda jika sedang dalam mode serius.


Lama mereka berkeliling di toko tersebut, tetapi Azalia belum juga menemukan kue yang ia mau. "Kamu cari kue yang bagaimana, sih?" Rafka mendengkus karena kakinya sudah pegal.


"Nggak tahu. Aku bingung cari kue yang bagaimana," sahut Azalia cuek sambil matanya masih terus menatap deretan kue yang cantik-cantik.


Rafka melongo mendengar penuturan Azalia. dua jam berada di toko tersebut dan Azalia dengan cueknya berkata seperti. "Kalau nggak tahu kenapa masuk? Kamu mau beli kue ini untuk sia–"


"Bisa diam nggak! Telinga aku sakit, Rafka." Azalia melotot membuat nyali Rafka langsung menciut. 'Galak banget, sih. Hampir mengalahkan Bunda galaknya,' gerutu Rafka dalam hati.


Sebenarnya, Azalia sudah menemukan kue yang diinginkan. Namun, gadis itu ingin mengerjai Rafka karena sudah membuat kesal saat di mobil tadi.


Bohong jika ia mengatakan tak capek. Azalia bukanlah tipe perempuan yang suka berbelanja, apalagi sampai menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling di sebuah toko. Ini adalah pengalaman pertamanya.


"Mas, bisa tolong bungkuskan kue rasa vanila stroberi yang ada di etalase sebelah sana?"


"Bisa, Mbak. Mau dibungkus berapa?" tanya karyawan toko tersebut.


"Bungkus dua saja, Mas. Dia yang bayar," tunjuknya pada Rafka.


"Baik, mohon ditunggu, ya, Mbak."


Azalia mengangguk dan berlalu meninggalkan Rafka yang masih bengong di tempat. Selama satu jam lamanya, dia menunggu dan mengikuti kemauan gadis itu hanya untuk membeli dua bungkus kue. 'Gila, parah, kalau bukan karena cinta aku takan mau menemani kamu lagi, Lia. Udah capek keliling dan kamu hanya beli dua,' kesalnya dalam hati sambil menatap punggung Azalia yang masih melihat-lihat kue.


...to...


...b...


...e...


...continue...

__ADS_1


...................


...🥰...


__ADS_2