
Sebelum baca, follow dulu authornya😘😅
...Happy Reading 🥰...
Letak bangunan yang sangat strategis adalah impian banyak orang. Papa Rusdi sengaja memberikan apartemen di tempat strategis.
Saat memasuki apartemen, Azalia begitu terpana. Bagaimana tidak, ia hanya akan tinggal sendiri, tetapi apartemen itu terdiri dari dua lantai. Masing-masing lantai memiliki satu kamar. Ruang tamu cukup membuatnya nyaman dengan satu set sofa. Terdapat pula ruang dapur dan makan yang sudah tersedia peralatan rumah tangga. Sangat lengkap seolah sudah dipersiapkan memang.
Kulkas pun sudah tersedia bahan makanan. "Pa, ini semua untuk aku?" tanya Azalia menatap papanya yang tersenyum.
"Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu," sahut papa Rusdi.
"Tapi–"
"Sudah, sekarang kita ke atas. Ayo," potong Papa Rusdi dan melangkah menaiki tangga.
Azalia semakin takjub dengan lantai kedua. Ada satu set sofa dan televisi yang besar menempel di dinding. Mungkin itu ruang keluarga, begitu pikirnya.
Matanya tertuju pada pintu kamar yang tertutup, lekas ia membukanya dan kembali ia membuka pintu balkon. Ia tersenyum seraya merentangkan tangan dan menutup mata. Mencoba menikmati angin malam yang begitu dingin.
"Kamu senang?"
Azalia membuka mata, lalu menoleh dan mengangguk sangat antusias. "Banget, Pa. Terima kasih sebelumnya. Ini bahkan jauh lebih dari yang aku bayangkan. Tapi, Pa ...." ada keraguan di binar matanya yang teduh.
"Ada apa?" tanya Papa Rusdi lembut.
"Papa tinggal bersama aku aja, ya? Aku hanya sendiri dan apartemen ini teramat luas bagiku."
"Papa juga ingin tinggal bersama kamu. Memulai semuanya dari awal. Tapi, Papa harus menyelesaikan masalah Papa dengan Mama Lana. Untuk sementara kamu di sendiri dulu. Oh, iya, apa kamu mau kerja di perusahaan Papa? Kamu bebas memilih untuk menjadi apa." Papa Rusdi menatap lekat wajah cantik anaknya. Anak yang sudah ia benci karena kesalahan mantan istrinya.
"Terima kasih, Pa. Aku sudah punya usaha sendiri. Seminggu lalu, aku mendirikan toko pakaian dan bisa melayani belanja online. Doaka aku, semoga usaha ini sukses," tutur Azalia.
"Benarkah? Kamu hebat kalau begitu. Semangat, ya. Semoga sukses, Papa akan mendukung apapun keinginan kamu. Istirahatlah, ini sudah larut. Papa akan pulang. Selamat malam," ucap Papa Rusdi, lalu mencium kening anaknya.
Hati siapa yang tak menghangat mendapat perhatian seperti itu. Terlebih Azalia, ia merasa menjadi orang paling bahagia malam ini.
***
__ADS_1
Malam kian larut, tetapi sepas anak adam yang saling berjauhan terlihat asyik dalam obrolan ringan mereka.
"Gimana kabar kamu?" tanya Rafka seraya mengeringkan rambut dengan handuk.
"Aku baik. Kamu habis mandi?" Azalia menatap lekat Rafka.
Tampan, itulah yang ada dalam benak Azalia.
"Menurut kamu?" Pemuda yang hanya terlihat sebagian tubuhnya tersebut menaik-turunkan alisnya, menggoda sang kekasih.
"Habis makan," jawab Azalia asal membuat Rafka terkekeh.
"Oh, iya. Maaf, aku akhir-akhir ini sibuk, sampai belum mengabari kamu. Ini saja aku baru pulang dari kantor karena lembur. Ada kendala untuk pekerjaan di lapangan," jelas Rafka.
Azalia tersenyum dan terus menatap Rafka dari layar ponselnya. Sepenting itukah dia di mata Rafka. Tanpa ia minta, pemuda itu malah langsung memberitahu.
"Tapi, kenapa kamu mandi di jam segini? Nanti kamu sakit, gimana? Paling bisa kamu buat orang khawatir. Mentang-mentang udah sibuk dan jadi CEO nggak mikir kesehatan lagi." Azalia berucap tanpa jeda membuat Rafka bahagia.
Itulah yang ia sukai dari gadis yang telah menaklukkan hatinya sejak pertama kali ia melihatnya. "Tapi, gerah, Sayang." Rafka mengedipkan matanya beberapa kali dan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Azalia memalingkan wajahnya tak sanggup mendengar panggilan baru dari Rafka. Tak tahukah Rafka jika saat ini jantungnya sudah berdetak sangat cepat seperti habis lari. "Lia, ih. Ditanya bukannya jawab malah berpaling. Nggak kangen sama aku? Aku kangen kamu tahu. Sudah berapa hari nggak berkomunikasi sama kamu," rajuk Rafka dengan wajah sesedih mungkin.
"Ya, kamu suka sekali menggoda aku. Aku, kan, malu," cicit Azalia menutup wajah dengan satu tangannya.
"Kayak sama siapa aja. Oh, iya, gimana keseharian kamu? Lancar aktivitasnya? Nggak ada masalah, 'kan?"
"Alhamdulillah, lancar. Kamu tahu, Papa malam ini meminta bertemu dan meminta maaf sama aku. Doakan, semoga hubungan aku sama Papa akan selalu baik. Papa memberikan aku apartemen dan menawarkan pekerjaan di perusahaan Papa. Tapi, aku tolak," jelas Azalia.
"Papa kamu? Alhamdulillah, aku turut senang. Jadi, sekarang lagi di mana? Kenapa ditolak pekerjaannya?"
"Aku sekarang sudah di apartemen. Papa langsung antar aku ke sini. Untuk pekerjaan, aku sudah membuka usaha sendiri seminggu yang lalu pakai tabungan aku."
Rafka kaget mendengar penuturan Azalia. "Seminggu yang lalu? Kamu kenapa nggak kasih tahu aku? Apa aku setidak begitu pentingnya untuk kamu? Aku tahu aku sibuk. Tapi, kan, bisa chat aku aja. Nanti aku baca. Au ah, kamu sekarang sudah berubah. Sudah nggak butuh aku lagi kayaknya. Sudah, ya, aku tutup dulu. Aku capek mau istirahat. Selamat malam."
Rafka langsung mengakhiri panggilan video itu secara sepihak, kesal dan kecewa juga terhadap Azalia. Ia terus menolak panggilan video yang masuk dari kekasihnya.
"Biarin sajalah. Biar dia nanti tidak mengulangi lagi. Aku ingin tahu, sampai mana dia akan berusaha membujuk aku. Mengingat dulu dia menerimaku hatinya masih belum mencintai aku. Maaf, Sayang. Silakan kamu berjuang," ucap Rafka seraya terkekeh.
__ADS_1
Pesan masuk di aplikasi hijau. Ia membukanya dan ternyata sebuah pesan suara. "Rafka, maafin aku. Angkat panggilan aku atau–atau balas pesan aku. Maafin aku." Rafka menjadi tak tega mendengar kekasihnya memohon maaf sambil menangis.
Ia pun membalas melalui tulisan.
[Iya, aku sudah maafin kamu. Sudah, ya. Jangan nangis. Aku juga minta maaf. Besok aku jemput kamu. Nanti kirim saja lokasi apartemen kamu. Ok, cantik.] Pesan Rafka diakhiri dengan emot cium.
[Kamu pasti marah. Maafin aku. Maaf] tulis Azalia dengan emot mengatupkan tangan dan menangis.
[Aku mana bisa marah sama kamu, sih? Sudah sekarang kamu istirahat. Nggak usah banyak pikiran, ini sudah larut. Selamat malam, Sayang. Jangan lupa mimpiin aku.]
[Baiklah. Selamat malam juga, Sayang. Aku cinta kamu.]
Mata Rafka langsung melotot karena pesan terakhir dari Azalia. Ia langsung memegang dada sebelah kiri, di mana jantungnya berdetak dua kali dari biasanya. Azalia memanggilnya sayang dan emot terakhir adalah emot cium.
[Aku juga cinta kamu.] Centang dua dan berwarna biru. Itu tandanya pesannya telah dibaca.
"Aaa, Azalia aku juga cinta kamu." Rafka kegirangan sampai mencium ponselnya.
Angin malam berembus, menerbangkan beberapa lembar daun kering. Gemerlap bintang menghiasa angkasa dengan indahnya. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan.
Baik Rafka maupun Azalia sama-sama bahagia hanya dengan saling mengungkapkan rasa. Terlihat sangat sederhana, tetapi semua orang tahu bagaimana rasanya.
Dicintai dan mencintai, satu timbal balik yang sangat banyak diharapkan oleh orang lain. Tak semua bisa orang bisa merasakan hal serupa.
'Semoga kelak kita bisa bersama.' Keduanya bergumam dalam hati sebelum menjemput mimpi yang telah menanti.
...to...
...b...
...e...
...continue...
................
...jangan lupa, like, komen, ya.😘...
__ADS_1