
...Happy reading ๐๐...
..."Aku takan membiarkan gadisku tersakiti. Apapun demi dia aku rela, bahkan jika harus merenggut nyawaku."...
...-Rafka Sanjaya-...
Di sebuah rumah berlantai dua yang terlihat mewah, seorang wanita paruh baya tengah memikirkan sesuatu seraya memegang ponselnya.
"Apa benar Rafka sudah punya pacar? Kok, rasa-rasanya aneh Rafka punya pacar, ya," gumamnya berpikir keras. "Ah, mending aku cek langsung saja, mumpung Mas Azka lagi kerja dan anak-anak lagi sekolah. Tadi, kata Rafka gadis itu berada di rumah sakit mana, ya? Duh, susah banget hidup dengan otak nggak kuat ngingat gini. Mending aku siap-siap seperti biasa, kali aja bisa ingat lagi." Bunda Raya langsung bergegas ke kamarnya seraya mengingat tempat yang disebutkan oleh anaknya beberapa saat lalu.
Wanita beranak tiga tersebut masih terlihat layaknya anak ABG, padahal usianya sudah hampir empat puluh tahun. Rafka menolak untuk ia datang ke kampus, maka lebih baik ia mendatangi calon menantunya saja walaupun lupa di rumah sakit mana.
"Pak Rahmat, Pak Darson mana?" Bunda Raya menghampiri laki-laki berkumis tebal berseragam cokelat, hampir sama seperti seragam polisiย yang sedang berada di pos dekat pagar rumah.
"Kang Darson belum balik dari mengantar Non Cahya, Bu. Sebentar lagi mungkin tiba di sini," jawab Pak Rahmat selaku security di rumah itu.
Tak lama setelahnya terdengar deru mobil memasuki halaman rumah. Bunda Raya langsung menghampiri meminta untuk diantarkan ke rumah sakit yang ia sendiri pun sudah lupa.
"Ibu, kita mau ke rumah sakit mana? Bukan begini juga kalau mau jalan-jalan, Bu," timpal Pak Darson.
"Duh, Pak Darson diam dulu, deh. Saya juga lagi mikir di rumah sakit mana," kesal Bunda Raya masih terus berpikir.
Mobil berjalan sangat lambat karena permintaan sang majikan. Beruntung kemacetan telah terurai sejak setengah jam yang lalu karena sekarang telah menunjukkan jam kerja semua orang. Hanya ada beberapa pengendara saja yang masih berlalu lalang.
"Bu, mending telepon Mas Rafka saja. Daripada kita jalan entah tujuan ke rumah sakit mana. Iya, 'kan?" usul Pak Darson yang tak terlalu memperlihatkan kekesalannya karena takut dipecat.
Bunda Raya tak mengiyakan ataupun menolak saran itu, tetapi ia lebih memilih untuk terus berpikir. Kalau ia menghubungi Rafka, pastilah anak itu akan kesal dengannya yang sering lupa padahal usia belum lima puluh tahunan.
"Rumah Sakit Cendekia bukan, ya?" lirih Bunda Raya. "Eh, iya, benar. Rumah Sakit Cendekia, VIP Ruang Mawar. Namanya ... namanya siapa, ya? Namanya siapa, Pak Darson?" sambungnya bertanya pada sopir.
Pak Darson yang duduk di bangku kemudi mobil menatap bingung majikannya lewat kaca spion yang tergantung dalam mobil. "Ibu tidak salah tanya saya? Mana saya tahu namanya, Ibu Raya Sanjaya," geram Pak Darson.
Plak!
Suara pukulan di bahu terdengar bersamaan dengan Pak Darson yang mengaduh kesakitan. Tangannya mengusap bagian tubuhnya yang dipukul.
"Kamu membuat wibawa saya hilang, Pak Darson. Ah, sudahlah, tidak usah banyak drama. Sekarang kita ke Rumah Sakit Cendekia. Nanti bisa ditanya di sana siapa nama gadis itu," ujar Bunda Raya.
Kendaraan roda empat itupun melaju membelah jalanan yang tampak lengang menuju rumah sakit tempat Azalia dirawat.
***
Pemuda berkemeja biru berjalan menuju ruangan di mana ia akan menghadapi akibat dari kejadian kemarin.
__ADS_1
Para mahasiswi yang ia lewati terus berbisik-bisik yang memekakkan telinganya, tetapi tetap berusaha abai. Tak jarang ada pula yang mengagumi ketampanannya.
Rafka telah menyiapkan dirinya untuk menerima segala bentuk konsekuensi dari apa yang ia perbuat. Apalagi dirinya akan dikeluarkan, maka Azalia akan ia bawa serta. Tak ingin gadisnya merasa sendiri di kampus ini.
Saat akan tiba di ruangan yang dituju, netranya menatap sosok dosen yang ia benci. Siapa lagi kalau bukan Pak Alham. Kedua pasang mata itu saling menatap tajam, seolah saling membunuh dengan sebilah pedang tak kasat mata.
Pak Alham berdehem, lalu meninggalkan pemuda yang menjadi mahasiswanya itu berdiri di depan pintu sebelum akhirnya menyusul.
"Rafka, mana orang tua kamu?" tanya Pak Anis.
"Mereka sibuk, Pak," jawab Rafka dingin.
Pemuda yang biasa hangat di keluarganya itu berubah seratus delapan puluh derajat saat menghadapi masalah ini.
Ada helaan napas kasar yang terdengar dari Pak Anis, selaku penengah dan pengambil keputusan dalam hal ini. "Jujur Rafka, saya sangat kecewa sama kamu. Kamu ini termasuk mahasiswa berprestasi di kampus ini. Tapi, hanya gara-gara masalah mahasiswi yang pingsan, rasa sopan santun kamu ke dosen hilang," tutur Pak Anis.
"Bapak bilang hanya gara-gara seorang mahasiswi yang pingsan? Pak, seandainya dosen yang berada di kelas langsung sigap menolong, kejadian kemarin saya bisa pastikan tidak akan terjadi. Tapi, apa buktinya? Dosen itu justru bersikap santai. Apa mungkin merasa tampan? Jika iya, saya rasa tak semua mahasiswi akan memandang sama ke arah beliau. Cara pandang setiap orang berbeda." Rafka tak percaya dalam hal ini ia disalahkan.
Jelas-jelas ada orang lain yang lebih bersalah. Matanya menatap nyalang ke arah Pak Alham yang diam tanpa ekspresi dan pembelaan. Tangannya terkepal erat berusaha menahan emosi yang sudah sejak tadi bersarang di dadanya dan kapan saja bisa meledak.
Pak Alham yang berada di sampingnya merasa tersindir oleh kalimat panjang Rafka. Tapi, ia diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. Dalam hati, dosen berusia dua puluh sembilan tahun itu membenarkan apa yang dikatakan pemuda itu. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya.
"Sudah, sudah. Kemarin Pak Alham sudah saya interogasi. Dengan berat hati saya harus memberitahukan keputusan saya. Untuk kamu Rafka, kamu diskors selama dua minggu dan Pak Alham, anda juga diskors selama sebulan. Tidak ada penolakan dan silakan kalian keluar. Saya harap ini menjadi kejadian pertama dan terakhir. Jika masih terjadi lagi, jangan salahkan saya kalau kalian dikeluarkan dari kampus ini." Pak Anis begitu tegas menjelaskan. Ia masih berpikir bahwa kejadian itu tak begitu fatal hingga mengakibatkan mereka dikeluarkan.
Beberapa dosen yang hadir di ruangan itu turut merasa kecewa atas tindakan Pak Alham dan juga Rafka.
Dosen tampan bak artis Cina itu menghela napas berat. Ia yakin, setelah ini dirinya tak akan lagi bisa menapak di kampus yang baru beberapa bulan ia tekuni pekerjaannya. Jari dan hatinya harus dikuatkan untuk menyiapkan surat pengunduran diri.
Keduanya berpisah setelah sampai di depan pintu. Namun, sebelum itu Rafka masih sempat melayangkan tatapan sinisnya.
'Aku takan membiarkan gadisku tersakiti. Apapun demi dia aku rela, bahkan jika harus merenggut nyawaku,' batin Rafka seraya melangkah menuju parkiran.
***
Bangunan bercat putih dengan kolam air mancur di depannya menyambut netra hitam milik Bunda Raya. Tulisan Rumah Sakit Cendekia dengan deretan bunga-bunga berwarna-warni begitu indah dipandang mata.
Bunda Raya tersenyum, tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang diakui pacar oleh anak sulungnya.
"Suster, saya mau tanya. Ruang VIP dengan nama Ruang Mawar di sebelah mana, ya?" tanya Bunda Raya begitu sampai di meja resepsionis.
"Maaf, Ibu siapa, ya?" Suster itu bertanya, memastikan bahwa perempuan di depannya adalah keluarga pasien.
"Saya ibunya, Sus. Saya baru saja tiba dari Makassar karena mendapat telepon anak saya di rumah sakit sini." Bunda Raya terpaksa berbohong agar bisa masuk.
__ADS_1
Raut wajah Bunda Raya yang meyakinkan membuat suster itu percaya dan memberitahu ruangan itu.
***
Azalia yang sedang berdiri memandang hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang di bawah langsung berbalik begitu terdengar suara pintu dibuka.
Senyumnya yang merekah tiba-tiba saja meredup, berganti dengan tatapan bingung begitu melihat siapa yang datang.
Sementara, orang yang berada di ambang pintu terpaku akan pahatan wajah gadis di depannya. Walaupun tak dipoles make up ataupun bedak yang tipis, wajah itu masih terlihat sangat cantik, terlebih gadis yang rambutnya digelung asal itu sempat tersenyum. Sangat cantik.
'Apa ini pacar Rafka? Kalau pun benar, anakku nggak salah pilih. Benar-benar sangat cantik. Tapi, ini Rafka pakai pelet apa bisa mendapatkan gadis secantik ini,' batin Bunda Raya.
Ya, orang itu adalah Ibu dari Rafka.
"Maaf, Ibu cari siapa, ya?" tanya Azalia lembut.
'Suaranya saja sangat lembut. Sepertinya ia gadis baik-baik. Calon mantu idaman ini, mah. Nggak sabar Rafka segera menikah dan aku bisa punya cucu.' Bunda Raya gemas sendiri dengan pacar Rafka dan jadi berangan-angan.
"Bu?" panggil Azalia.
"Eh, iya. Maaf, boleh saya masuk dan duduk dulu?" tanya Bunda Raya bersikap kalem.
Walaupun dalam keadaan bingung, Azalia tetap mempersilakan wanita itu masuk. Ia pun duduk di salah satu sofa satu dudukan.
"Maaf, Ibu ini siapa dan mau cari siapa, ya?" Azalia masih penasaran dengan wanita yang tiba-tiba ke ruangannya ini.
"Saya calon mertua kamu," tukas Bunda Raya membuat alis gadis itu hampir bertautan.
Menyadari ia salah bicara, Bunda Raya langsung terkekeh dan mencoba mengalihkan topik. "Saya sedang mencari seseorang, cuma saya lupa siapa namanya. Kamu sejak kapan ada di rumah sakit ini? 'Trus kamu sakit apa? Siapa yang bawa kamu ke sini?" cecar Bunda Raya.
"Oh, begitu. Saya Azalia. Saya berada di sini sejak kemarin dan yang membawa saya ke sini adalah pacar saya. Ibu mau saya temani cari seseorang itu? Sekalian saya mau jalan-jalan," tawar Azalia.
"Nama pacar kamu siapa?" Semakin menjadi saja rasa keingintahuan Bunda Raya.
Azalia tak menjawab, ia tampak berpikir siapa wanita ini sampai bertanya hal pribadi. "Begini, saya ke sini mencari pacar anak saya. Katanya dia sakit dan di rawat di rumah sakit ini. Letak ruangannya juga ruangan ini yang disebutkan," jelas Bunda Raya.
"Maaf, kalau saya boleh tahu, siapa nama anak Ibu?"
"Rafka. Rafka Sanjaya, itu nama anak saya."
Penuturan wanita paruh baya yang masih terbilang cantik itu membuat Azalia syok. Bagaimana tidak, Rafka tidak memberitahunya perihal ini. Secepat itukah Rafka berkata kepada orang tuanya? Ia malu, sangat malu. Ingin menghilang, tetapi ini bukan dalam sinetron.
'Rafkaaa, kenapa kamu nggak bilang kalau Ibu kamu mau datang. Awas saja kalau kamu datang ke sini,' geram Azalia dalam hati.
__ADS_1
Sementara, Rafka yang sedang berhenti di lampu merah langsung bersin dan menggosok hidungnya. "Siapa lagi yang berani mengumpat aku," gerutunya.
...To be continued ๐...