Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Pertengkaran


__ADS_3

*Gimana puasanya hari ini? Lancar? Alhamdulillah. Semangat yang masih puasa pada besok (Kamis, 20 April 2023). Semoga lancar🥰


Ok, tanpa menunggu lagi, kita langsung ke ceritanya guys😘


...Happy Reading🥰🤗...


"Yang, dia keterlaluan banget sama aku. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus membalas apa yang sudah dilakukan padaku. Kalau nggak, aku nggak mau ketemu Kak kamu lagi," rajuk Sesil.


"Sayang, jangan gitu, dong. Kamu tenang saja, aku akan membalasnya untuk kamu," bujuk Alham.


"Awas saja kalau tidak. Sudahlah, aku mending tidur saja. Tiba-tiba mood-ku hancur malam ini." Sesil pun melenggang pergi ke kamar tamu yang sudah menjadi seperti kamarnya sendiri.


Sementara, Alham pun tak ingin memperkeruh suasana akhirnya menaiki tangga menuju kamarnya.


Setibanya di kamar, ia melihat sang istri yang tengah memakai masker wajah di kursi sofa. Ia pun mendekatinya. "Apa maksud kamu berkata seperti itu sama Sesil? Kamu sengaja?!" seru Alham dengan tatapan yang mematikan.


Azalia mendongak, melihat sang suami yang sepertinya tengah dikuasai emosi. "Apa? Aku sengaja? Untuk apa?" Azalia tampak kesusahan berbicara karena masker yang ia gunakan.


Tak ingin merusak masker, ia memilih berbaring dan memasang earphone di telinganya. Sementara, Alham merasa kesal dengan tingkah Azalia.


"Aku lagi ngomong sama kamu. Apa-apaan kamu bertingkah seperti ini?!" bentak Alham seraya menarik paksa earphone Azalia.


Azalia yang kaget langsung bangun dan melepaskan maskernya. "Apa-apaan kamu ini?!" hardik Azalia.


"Kamu yang apa-apaan! Suami lagi ngomong itu didengar buk—"


"Apa kamu bilang? Suami? Aku nggak yakin sebutan itu pantas untuk kamu." Azalia tersenyum mengejek.


"Apa maksud kamu?"


"Masih tidak paham? Aku tanya sama kamu. Adakah seorang suami yang tega berselingkuh dengan adik iparnya sendiri? Bahkan membawa wanita itu ke dalam rumah mereka..Oh, tak cukup itu saja, bahkan dengan lantang dan terang-terangan meminta istrinya untuk bersikap baik sama selingkuhannya. Adakah orang seperti itu?" Azalia menatap Alham intens. "Tak perlu dijawab karena jawabannya adalah ada dan orang itu adalah kamu!" imbuhnya sambil menunjuk dada Alham di sebelah kiri.

__ADS_1


"Kamu!" Rahang Alham mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya. Jika seandainya yang di depannya bukan perempuan, sudah bisa ia pastikan sebuah bogeman melayang ke wajah itu.


"Apa? Selama ini aku nggak pernah ikut campur urusan kamu. Jadi, sekarang jangan ganggu kehidupanku walaupun kita terikat dengan pernikahan. Ingat baik-baik, pernikahan ini hanya di atas kertas. Itu yang kamu tanamkan dalam diri aku dari dulu."


Azalia mengambil kunci motor, tas, dan ponselnya yang tergeletak di atas meja depan sofa yang ia duduki tadi dan langsung meninggalkan Alham dengan kediamannya. Tak peduli dengan penampilannya yang hanya menggunakan piyama lengan pendek.


"Aaah, kenapa malah jadi seperti ini, sih?!" Alham menjambak rambutnya sendiri.


"Kenapa dia tiba-tiba berubah? Juga untuk semua kegiatannya hari ini, siapa yang mendanai? Apa dia juga punya kekasih di luar sana?" gumam Alham.


***


Udara malam terasa dingin, gigil memeluk tubuh Azalia yang saat ini tengah mengendarai motor menuju rukonya. Ia memilih tidur di sana karena tak akan ada gangguan dari siapapun.


Beberapa menit mengendarai motor, akhirnya ia tiba di tempat tujuannya. Ia langsung membuka ruko dan menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Ia langsung merebah sambil mendesah dan menatap langit-langit kamarnya.


Sebenarnya, bisa saja ia melapor pada papa dan mertuanya, tetapi ia tak ingin hubungan baik mereka yang terjalin akan hancur. Biarlah ia menahan diri untuk sementara waktu sampai tiba waktunya perpisahan akan menjadi jalan terbaik.


Saat tengah asyik melamun, ia teringat akan kakak yang saat ini tengah berada di Amsterdam, Belanda. Ia mencoba menghubungi dan langsung tersambung.


(Halo, Princess-nya Kakak.)


"Nggak usah sok bule, Kak. Nggak cocok." Azalia terkekeh melihat raut merajuk di wajah tampan Ilyas, sang kakak. "Gimana kabar, Kakak? Kapan balik lagi ke Indonesia?" tanya Azalia kemudian.


"Alhamdulillah, Kakak baik, Dek. Insyaa Allah, kakak pulang kalau kamu sudah punya anak," canda Ilyas.


Perkataan Ilyas membuat Azalia diam dan ekspresinya berubah sendu. Ia tak pernah berpikir akan punya anak dengan Alham yang tak pernah mencoba untuk menerima pernikahan mereka. "Dek, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Ilyas khawatir.


"Ah, aku ... aku baik-baik saja, Kak. Aku kangen sama Kakak, cepat pulang." Netra cokelat milik Azalia telah dipenuhi bulir kristal sampai membentuk sebuah danau kecil di pelupuk mata yang cantik itu.


"Kakak juga kangen sama kamu, Dek. Jangan nangis lagi, ya. Kakak akan segera pulang kalau pekerjaan Kakak sudah selesai," tutur Ilyas penuh kelembutan.

__ADS_1


"Janji?" Jari kelingking Azalia ia perlihatkan pada kamera agar Ilyas yang berada di seberang sana bisa melihatnya.


Ilya tersenyum dan melakukan hal yang sama, lalu berkata, "Janji."


"Bang, hari ini jadi nggak keluar?"


Azalia terpaku mendengar suara yang begitu tak asing di telinganya. Ia menajamkan pendengarannya guna memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Jadi, dong. Mau keluar sekarang?"


"Boleh, deh. Eh, lagi video call, ya? Ganggu, dong."


"Nggak, kok, Ka. Adek gue ini, mah."


"Oh, salam aja buat adeknya, Bang. Aku tunggu di bawa, ya."


Jantung Azalia berdetak sangat cepat, bulir keringat memenuhi dahinya. Ia yakin seratus persen itu adalah suara Rafka. 'Apa Kak Ilyas kenal Rafka?' batinnya menerka dan membuat ia tak mendengar panggilan dari kakaknya.


"Dek, kamu kenapa? Sakit? Kalau sakit istirahat saja, jangan begadang."


"Ah, i–iya, Kak."


"Ya, sudah, Kakak tutup teleponnya, ya. Kamu istirahat, di sana pasti sudah larut. Kakak juga ada janji sama teman mau keluar." Panggilan terputus setelah keduanya saling menjawab salam.


Azalia masih memegang dadanya yang bergejolak. Suara itu sudah lama tak ia dengar lagi. "Aku yakin itu, Rafka," gumamnya seraya meneteskan air mata.


Tanpa ia sadari, pemilik suara itu memanglah Rafka Sanjaya, cinta pertamanya.


...💞To be continued 💞...


Puasa tinggal sehari lagi. Author mau mengucapkan maaf lahir batin lebih dulu, semoga kita semua kembali dalam keadaan suci tanpa noda.

__ADS_1


Semangat menjalankan puasa, ya readers 💞🥰


jangan lupa tinggalkan jejak dan follow author 🙏🏻🤗


__ADS_2