
...Happy Reading...
...Jangan lupa follow author 😘...
Beberapa bulan kemudian, Azalia dan Rafka telah sah menyandang gelar Sarjana Manajemen dengan nilai terbaik.
Semua anggota keluarga dari para wisudawan sangat bahagia, tak terkecuali keluarga Rafka yang turut hadir semuanya.
Akan tetapi, hal itu tak berlaku pada Azalia. Ia berdiri di depan gedung pelaksanaan wisuda sembari menoleh ke segala arah. Ia berharap ada yang akan datang dan memberikan selamat padanya.
Rafka masih berada di dalam gedung bersama keluarganya karena suatu urusan yang Azalia sendiri tak tahu.
Sudah sejam ia berdiri, tetapi tak ada tanda-tanda harapannya akan terwujud. Air matanya menetes membasahi wajah yang telah dirias senatural mungkin oleh MUA.
Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dari balik kaca mata hitam tak jauh darinya. Lelaki itu tak lain adalah papanya. 'Selamat, Nak. Akhirnya, kamu sudah menjadi seorang sarjana. Semoga ilmu yang kamu dapatkan bisa berguna untuk banyak orang. Maaf, Papa tidak berani untuk menemui kamu. Papa akan mencoba perlahan-lahan untuk menyembuhkan luka ini agar bisa menyayangi kamu tanpa ada bayang-bayang masa lalu,' batin lelaki paruh baya itu dan memanggil salah satu wisudawan untuk menitipkan buket bunga kepada Azalia.
Azalia yang menerimanya, bingung. "Maaf, tapi ini dari siapa, ya?" tanyanya.
"Dari seseorang yang berdiri di bawah pohon sana," tunjuk wisudawan itu ke arah di mana lelaki tadi berdiri.
Azalia mengikuti arah jari telunjuk rekannya tersebut, tetapi matanya tak menangkap sosok yang memberikan bunga tersebut.
"Terima kasih, ya," ucapnya kemudian.
"Dari siapa ini?" gumamnya menatap bunga lili berwarna putih dan dihiasi beberapa bunga kecil berwarna merah muda.
"Lia, kamu sedang apa? Ini dari siapa?" tanya Rafka saat sudah di samping gadis berkebaya biru.
"Nggak tahu. Tiba-tiba ada yang ngasih. Katanya dari seseorang yang ada di bawah pohon sana. Tapi, aku lihat-lihat nggak ada orang yang sedang menatap ke arahku. Oh, iya, sudah selesai urusannya?"
"Sudah. Kita foto-foto dulu, yuk. Bareng sama keluarga aku saja. Aku tahu kenapa kamu berdiri di sini. Daripada kamu di sini, lebih baik kita ke studio foto saja. Lupakan mereka yang melupakanmu. Terlebih Sesil, hari ini dia belum wisuda. Mungkin itu karma untuk mereka. Ayo," tutur Rafka dan menarik Azalia ke studio foto.
Saat beberapa langkah, Azalia tak sengaja bertemu tatap dengan dosen pembimbingnya, Pak Alham. Gadis itu memberikan senyuman walaupun dibalas dengan ekspresi datar.
Hari ini adalah hari terakhir Alham di kampus, ia akan mulai berkecimpung di dunia bisnis. Meninggalkan cita-citanya yang belum lama ia geluti.
Sang papa terus mendesak dan ia pun sudah berjanji. Jika ia melakukan kesalahan menjadi seorang dosen, ia harus kembali ke rumah dan akan menjadi pemimpin perusahaan.
Azalia tak ambil pusing dan terus melangkah bersama Rafka.
***
Sudah sebulan dari acara wisuda, Alham tampak serius di depan laptopnya. Jari-jari tangannya tampak gesit menekan tiap tombol di laptop tersebut.
Tak sulit baginya untuk beradaptasi di lingkungan pekerjaan yang baru.
Hingga beberapa menit, terdengar ketukan di pintu. "Masuk," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Hai, sibuk, ya?"
Suara itu terdengar sangat tak asing bagi Alham. Ia mendongak, memastikan bahwa pendengarannya tak salah. Tepat sekali, seperti dugaannya.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Alham dingin. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Sintia.
"Aku sibuk. Pintu keluar masih sama." Alham terus berkutat dengan laptop, tak peduli jika wanita yang berstatus istri orang itu akan marah.
"Al ...."
"Keluar aku bilang!" Alham menatap wanita itu dengan penuh emosi.
Pipi tirus milik Sintia telah basah dengan air mata. Ia tak percaya Alham akan marah dengan kehadirannya. Padahal ia datang dengan baik-baik, tak bisakah ia menyuruh dengan baik-baik pula.
"Sayang? Kamu ngapain di sini?" Tanpa mereka duga, Andre akan datang ke kantor Alham.
Sintia dengan cepat menghapus air matanya, tetapi Andre lebih dulu melihatnya. "Kamu kenapa?" tanya Andre.
Sintia diam tak berani menjawab. Begitupun dengan Alham. "Sayang, jawab aku! Kenapa kamu di sini dan kenapa kamu menangis?" Hening itulah situasi saat ini.
Andre beralih pada sepupunya. "Alham, ada apa ini? Kenapa kalian diam?" cecarnya.
Alham mengembuskan napas kasar, lalu berkata dengan ekspresi datar, "Nggak ada apa-apa."
Hati Alham kembali sakit mendengar wanita yang ia cintai dipanggil istri oleh orang lain dan orang itu adalah sepupunya sendiri. Ingin rasanya ia berteriak mengatakan bahwa di hati Sintia masih ada cinta untuknya, tetapi itu tak mungkin. Sebab ia melihat Andre sangat mencintai Sintia.
Biarlah luka itu hanya ia yang merasakan. Melihat bagaimana Andre pun sangat menyayangi dirinya layaknya seorang kakak dan adik kandung.
"Tanyakan padanya. Ada apa Kakak datang kemari?" Masih dengan ekspresi datar, Alham mencoba menguasai diri agar tak lepas kendali.
"Kakak ada urusan pekerjaan dengan kamu. Tapi, nanti saja Kakak bahasnya. Tia, ayo kita pulang!" Andre merasa ada yang tak beres antara istrinya dan Alham.
"Aaah! Kenapa aku masih tak bisa berdamai dengan hatiku!? Kenapa harus Sintia yang menjadi istrinya!" raung Alham seraya meninju dinding kantornya selepas kepergian Andre dan istrinya.
Darah mengalir dari buku-buku jari tangannya tak ia pedulikan. Sakit itu tak sebanding dengan sakit hati yang ia rasakan hingga saat ini.
****
Jam makan siang, Alham masih tak beranjak di tempatnya dan hanya menatap fotonya dan Sintia yang tengah berada dalam mal.
"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kamu? Haruskah aku meminta orang tuaku untuk menjodohkan aku dengan wanita lain? Ataukah aku harus pergi jauh dari negara ini?" gumamnya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Alham langsung menyimpan ponselnya ke saku celana.
__ADS_1
"Pak, kapan kira-kira saya publikasikan untuk loker menjadi sekretaris Bapak?" tanya kepala bagian HRD.
"Secepatnya. Kalau perlu saat ini," sahut Alham dingin.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Alham menjawab den deheman saja. Lalu, ia meminta kepada OB untuk dibelikan makanan dan di bawa ke ruangannya.
***
Malam harinya, Alham memutuskan untuk ke apartemen dan memesan minumal beralkohol. Selama hidupnya, baru kali ini ia akan menyentuh barang haram itu.
Tiga botol minuman telah habis, Alham terkapar tak berdaya di sofa ruang tamu apartemennya. Sesekali ia bergumam menyebut nama Sintia.
"Tia, kenapa kamu tega buat aku seperti ini," gumamnya.
Air matanya menetes tanpa diminta. Namun, sesekali ia tertawa. Mungkin tengah menertawakan takdir yang tak berpihak padanya.
Dering ponsel mengusik lelaki yang tengah dipengaruhi alkohol. Ia mengumpat sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Halo," sapanya dengan suara khas orang mabuk.
"Halo, Alham? Ini kamu, kan, Nak?" tanya orang di seberang yang tak lain adalah mamanya.
Alham berdehem sebagai jawaban. "Ma, kenapa harus sesakit ini, sih?" tanya Alham dengan suara yang terbata dan kembali menangis. "Kenapa, Ma? Kenapa harus aku? Apa salahku?" sambungnya.
Sang mama yang mendengar menjadi khawatir. "Kamu kenapa, Nak? Kamu di mana sekarang?" tanyanya.
"Aku? Aku lagi di ... apartemen. Iya, apartemen pribadi aku." Alham tertawa bak orang tak waras dan hal itu semakin membuat mamanya khawatir.
Tanpa pikir panjang mamanya langsung menutup telepon dan memanggil sang suami untuk menuju apartemen Alham.
Setibanya, ia langsung menjerit melihat keadaan anak semata wayangnya. "Ya Allah, Alhaaam. Apa yang kamu lakukan!? Cukup, Nak! Cukup!" raungnya seraya mengambil gelas berisikan minuman haram tersebut.
Air matanya menetes membersihkan botol-botol minuman tersebut. Matanya menatap sang suami yang hanya diam. "Ini semua salah Papa! Seandainya Papa menikahkan mereka mungkin ini tak akan terjadi," serunya.
"Papa? Hahaha, Papa luka ini cukup membuatku hampir gila. Menangis dan tertawa secara bersamaan," ucap Alham seraya menutup mata. Kepalanya mulai pusing, tetapi ia mencoba mencari di mana papanya.
"Hai, Pa. Papa kenapa diam saja di sana? Ayo, kemarilah, Pa. Tertawakan anak Papa yang bodoh ini. Bodoh karena menuruti keinginan Papa untuk pergi ke luar kota. Papa sudah menang, Pa. Aku sekarang telah menjadi pemimpin di perusahaan Papa. Itu yang Papa mau, 'kan?" Alham berujar, lalu pingsan akibat tak kuat menahan pusing karena alkohol.
...To...
...b...
...e...
...Continue...
__ADS_1
............