Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Gundukan Tanah Merah


__ADS_3

Alhamdulillah, cerita ini sudah benar-benar tamat.


Sebelumnya, author ucapkan terima kasih banyak kepada pembaca yang masih setia dan terus mensupport author.


Sampai jumpa di cerita selanjutnya, ya😘✨


...Happy Reading Guys 🥰✨...


..."Semua mempunyai jalan takdir masing-masing. Bintang yang kau lihat terang, tak selamanya akan terang dan selalu ada. Jika tak bisa menjadi bintang, maka berusahalah menjadi senja yang selalu hadir meski sesaat. Kerelaannya yang hilang di balik punggung malam adalah bentuk keikhlasan sesungguhnya."...


...-----------------------------------------...


Gundukan tanah merah dan masih basah membuat sayatan perih di hati Alham. Sang istri tercinta harus bersemayam dalam rajutan doa di keabadian. Baru saja harapan itu ia bangun, kini harus kandas sebab takdir tak berpihak.


Tangannya terulur mengusap papan bertuliskan nama istrinya. Torehan tinta hitam seolah menambah kelam jiwanya yang kalut. Ia masih tak menyangka istrinya pergi secepat ini. Garis basah di kedua pipi menggambarkan betapa rasa sakit itu teramat pedih.


Beratapkan langit jingga Azalia damai di bawah tanah. Meninggalkan sejuta luka yang tak mampu untuk diungkapkan. Meninggal seutas kenangan yang sulit digambarkan. Sosok yang kuat dan pemaaf itu telah berada jauh dari sisi Alham.


'Damailah di sana, Sayang. Maafkan aku yang tak mampu membahagiakan kamu sampai akhir hayat. Aku ... aku tidak tahu harus mengatakan apa selain kata maaf. Tapi, sekarang semuanya terasa percuma. Kamu telah pergi dan takan kembali. Inikah hukuman yang kamu berikan? Sungguh ini terasa sulit untuk aku jalani,' batin Alham menjerit sakit tak terima dengan semua ini.


Para pelayat telah pergi beberapa saat lalu, tertinggal Alham, Sesil, dan orang tua mereka yang menatap pilu gundukan tanah di depan mata. "Al, kita pulang, yuk. Hari mulai gelap," ucap Mama Tina.


Alham bergeming. Ia bagai raga tanpa nyawa selepas kepergian Azalia. Ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Namun, usapan lembut di pundaknya menandakan bahwa ini adalah nyata dan itu semakin membuatnya merasa sesak. Badannya bergetar, ia menangis dalam diam seraya menunduk di papan nisan.


Penampilan lelaki yang dibalut duka itu sangat memprihatikan. Kemeja dan celananya telah berlumuran tanah, rambutnya tak lagi tertata rapi, serta matanya sembab. Kedua orang tuanya sangat kasihan. Terlebih Mama Lana. Tak pernah anaknya sekacau ini sebelumnya.


"Ikhlaskan dia, Nak. Dia pasti akan sedih melihat kamu seperti ini. Papa tidak menyalahkan kamu atas kepergian Azalia. Semua sudah kehendak Allah dan kita semua akan ke sana, tetapi dengan jalan yang berbeda." Papa Bayu ikut menimpali.

__ADS_1


Alham perlahan menegakkan tubuhnya dan mendongak menatap Sesil yang berada di samping Mama Lana. Sorot matanya tajam, seolah ada benda tajam yang siap menikam penuh kejam lawan di depannya. Ia berdiri dan melangkah mendekati Sesil yang terlihat ketakutan.


"Kamu! Kamu yang sudah membuat istri saya pergi untuk selamanya!" Suara Alham yang seperti bisikan membuat Sesil ketakutan.


"Alham, kita bicarakan di rumah, ya. Ini sudah ge–" Ucapan Mama Tina disela oleh Alham.


"Nggak, Ma! Aku nggak akan pulang karena istriku berada di sini. Aku harus menemani dia, dia pasti akan kesepian kalau kita semua pergi, Ma!" Alham meraung dan kembali memeluk papan nisan istrinya.


"Sayang jangan seperti ini. Sadar, Azalia telah pergi, kita harus melanjutkan kehidupan kita. Dia akan semakin sakit melihat kamu seperti ini." Tangis Mama Tina pecah karena Alham seperti kehilangan kewarasan.


Kelopak mawar berwarna merah sungguh membuat hatinya serasa remuk dihantam oleh bongkahan batu yang besar. Ia ingat tak pernah sekalipun memberikan bunga pada Azalia. Kini, bunga itu harus menjadi selimut dari gundukan tanah merah di depannya. Tempat Azalia bersemayam.


Ia mulai memungut kembali ingatannya agar kuat dan sabar. Tanpa berkata-kata, Alham bangkit dan pergi lebih dulu meninggalkan pemakaman. Lalu, disusul oleh mereka yang masih di sana.


...***...


Alham duduk di kursi meja rias dan memandangi segala macam produk istrinya yang sering digunakan. Ia menatap dalam diam, dalam luka yang menganga semakin lebar, serta sesak yang kian menghimpit dada.


Baru beberapa jam ditinggalkan, Alham seperti raga tanpa nyawa. Semangatnya pergi bersama sang istri. Cinta dan harapannya kino tinggal bayangan semu.


Tangannya terulur mengambil parfum Azalia dan menghirup aromanya dalam tangis yang terdengar memilukan. 'Kenapa hukuman yang kamu berikan sangat sakit, Sayang. Tak bisakah kamu kembali dan memukulku saja? Sakitnya sangat sulit untuk aku ungkapkan.'


Alham hanya bisa membatin, bibirnya terasa kelu untuk berucap. Semuanya terasa sulit dan hambar. Bayangan istrinya yang tersenyum dari balkon membuat Alham kembali dikungkung oleh sesak yang kian melesak di dasar hati.


...***...


Rajutan detik merenda jam dan gelap berangsur terang. Alham terbangun dari tidurnya karena merasakan usapan lembut di bahunya.

__ADS_1


"Alham, kenapa kamu tidur di sini, Nak?" tanya Mama Tina karena melihat Alham tidur sambil duduk menunduk di meja rias.


Alham hanya menatap tanpa berucap. Air mata Alham memang telah mengering, tetapi duka di dalam hatinya masih merajalela. Belum sampai sehari ia ditinggalkan Azalia, tetapi hidupnya telah kacau.


"Kamu sarapan dulu, ya." pinta Mama Tina.


Wanita paruh baya itu sabar menghadapi anaknya yang masih dirundung duka yang teramat sangat. Sementara, Alham masih membisu kemudian beranjak ke tempat tidur dan memejam.


"Makanlah kalau kamu lapar. Mama keluar dulu."


Alham menoleh, menatap nanar pada makanan yang ada di atas nakas tanpa minat. Ia kembali teringat pada istrinya. 'Bisakah aku hidup tanpa kamu, Sayang? Belum sehari saja kamu pergi, aku terlihat sangat menyedihkan. Aku seperti kehilangan arah karena tujuanku adalah kamu. Semangatku pun telah kamu bawa pergi. Tolong jangan menyiksaku lebih parah. Kuharap ini hanya mimpi, datanglah saat aku membuka mata,' ucap Alham dalam hati.


Jiwa dan raganya terasa letih menghadapi takdir. Fondasinya tak setegar karang, untaian doanya tak sekuat ranting, semuanya hancur lebur tersapu badai, lalu hilang terhalang ilalang.


...-TAMAT-...


Pesan dari author, hargai setiap detik yang berlalu karena kita tidak tahu, kapan akan kembali ke sisi-Nya.


Jangan selalu menanti hasil, tapi tak pandai menghargai proses.


*Tetap semangat menjalani kehidupan.✨


Terima kasih kembali kepada kalian semua. Jangan lupa tinggalkan jejak dan follow author.


Ig @siska.saidi


Fb Siska Saidi

__ADS_1


Sampai jumpa di cerita selanjutnya, byby😘👋🏻👋🏻*


__ADS_2