Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Insiden


__ADS_3

...Happy Reading 🖤🔥...


Sudah beberapa hari sejak kejadian di kafe siang itu. Suasana kampus terlihat seperti biasa. Mahasiswa lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Tak terkecuali dengan Sesil dan dua temannya.


Saat ini, mere tengah berada di taman kampus. "Aku harus bisa menjebak Azalia agar Rafka membencinya. Tapi, gimana, ya caranya?" Sesil terus berpikir hal apa yang akan ia lakukan.


"Buat dia terjebak sama seorang pria, mungkin," celetuk Caca sambil meminum es bobanya.


Sesil menimbang saran Caca. "Boleh juga, sih. Tapi, siapa laki-laki yang bisa kita peralat. Lalu, gimana caranya?" Bukan Sesil yang menyahut, tetapi Manda.


"Pak Alham, mungkin," sahut Caca mengangkat bahu. Ia tetap asyik dengan minuman yang dipegang.


"Yang benar kalau ngasih saran, ogeb!" Manda kesal dengan Caca. Sementara, Sesil memutar matanya malas.


"Duh, Manda, dengerin aku. Saat ini aku masih kesal sama Pak Alham walaupun dia sudah tidak ngajar lagi. Kita bisa memanfaatkan keadaan yang dulu, di mana Azalia adalah mahasiswi bimbingannya waktu skripsi. Itu bisa jadi alasan buat manasin si Rafka. Untuk alurnya dan tempat, pikir aja sendiri. Aku nggak tahu," jawab Caca dengan wajah cemberut.


"Tumben bener? Kesambet jin apa lo?" Caca mendelik mendengar pertanyaan dari Manda.


Sesil tersenyum penuh arti. "Bagus juga ide lo, Ca. Kali ini, gue pastikan hubungan mereka bakal hancur. Sehancur-hancurnya," gumam Sesil.


***


Waktu kian melaju, sang surya hari ini begitu terik. Arakan awan beriringan menuju barat.


Azalia yang tampak sibuk di tokonya menoleh saat karyawannya memberikan ponsel yang tengah berdering.


"Halo, Sil?" sapanya pada orang di seberang.


"Gue ... minta tolong sama lo boleh?" Sesil berucap seakan ragu untuk mengatakan.


"Minta tolong apa?" Seperti biasa, Azalia yang tak pernah menaruh dendam pada saudaranya akan selalu bersikap baik.


"Gimana, ya. Gue sebenarnya malu buat ngomong. Lo tahu sendiri gimana gue ke lo selama ini."


"Sil, aku nggak pernah marah sama kamu. Aku sudah maafin kamu, kok. Sekarang kamu bilang saja mau minta tolong apa," ujar Azalia lembut.


"Gini, flashdisk gue ada sama Papa. Gue semalam disuruh sama Mama antar kopi, posisi gue lagi pegang flashdisk. Kayaknya flashdisk itu gue tinggalin di meja Papa, deh. Soalnya aku nyari di dalam kamar sama dapur, ruang tamu tetap nggak ada. Kayaknya dibawa sama Papa. Gue minta tolong buat ambilin, gue hari ini ada presentasi." Sesil bersikap seolah takut jika dia tak bisa presentasi.


"Baiklah, aku akan ke kantor Papa sekarang," ucap Azalia.


"Lo nggak takut Papa bakal marah dan memukul Lo seperti yang sudah-sudah?"


"Aku ke sana nggak akan buat masalah, aku hanya mengambil barang kamu."


"Tapi, Papa katanya hari ini akan ke kantor Pak Alham untuk membahas kerja sama mereka. Mungkin Papa sudah di sana sekarang." Sesil berharap Azalia bisa masuk jebakannya.


"Nggak apa-apa. Tapi, aku nggak tahu kantor Pak Alham di mana. Kamu kirim alamatnya, ya," pinta Azalia.


"Ok."


Setelahnya panggilan terputus dan sebuah pesan berisikan alamat masuk ke ponsel Azalia. Ia lantas bergegas dan memberitahu karyawannya untuk pergi sebentar.


Azalia langsung memberhentikan taksj yang lewat dan meminta untuk mengantarkan ke alamat yang ia baca.

__ADS_1


Suara bising kendaraan yang berlalu lalang memekakkan telinga, polusi udara dari knalpot memenuhi sepanjang jalan. Namun, tak mematahkan keinginan Azalia untuk menurunkan kaca jendela mobil.


'Kenapa hatiku tidak enak, ya? Ah, lupakan, mungkin hanya perasaan aku saja,' lirihnya dalam hati dn masih terus melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta.


Sebuah gedung yang menjulang bertuliskan A Corp telah menyambut kedatangan gadia berbaju hitam. Rambutnya yang panjang tergerai indah. Sang bayu ikut memainkan helain demi helain hitam itu. Cantik, itulah yang terlihat oleh orang-orang yang memandangnya.


"Permisi, Bu. Saya mau ke ruangan Pak Alham ada keperluan di dalam. Apa bisa saya masuk?" tanya Azalia begitu sampai di meja resepsionis.


"Maaf, apa sudah membuat janji sebelumnya?" Wanita bernama tag Nindi itu tak ingin kena marah karena membiarkan orang tanpa izin masuk.


"Belum. Tapi, saya ada keperluan di dalam."


"Maaf, Mbak. Direktur kami sedang sibuk dan tidak menerima tamu jika tidak memiliki janji sebelumnya," ujar resepsionis tersebut.


Azalia berpikir mungkin memang papanya berada di dalam karena mendengar kata sibuk dari resepsionis di depannya. Tak ingin Sesil terlibat masalah karena tidak melakukan presentasi, Azalia terus berusaha agar bisa masuk.


"Mbak, bisa ditelepon nggak? Kasih tahu nama saya saja. Saya Azalia mantan mahasiswi Pak Alham."


'Semoga bisa. Kasian Sesil kalau nggak presentasi.' Ia terus melirihkan harapan dalam hati.


Resepsionis itu mengangguk dan langsung menelepon Alham di ruangannya. "Baik, Pak," ucapnya saat panggilan terputus.


"Silakan, Mbak. Ruangan Pak Alham ada di lantai paling atas, nanti Mbak tanya saja sama sekretarisnya."


"Terima kasih, Bu." Azalia langsung menuju lift yang saat itu pintunya terbuka.


***


"Masuk," ucapnya dingin.


Azalia masuk setelah sekretaris Alham menyuruhnya. Matanya menyapu seluruh ruangan Alham, tetapi tak menemukan orang yang ia cari, hanya ada mantan dosennya yang duduk sambil menatapnya tajam.


"Untuk apa kamu di sini?"


Pernyataan yang begitu dingin dan menusuk itu mampu membuat lutut Azalia lemas. Namun, ia tetap berusaha agar tak jatuh.


"Mmm ... anu, Pak. Itu ...," ucap Azalia terbata.


"Bicara yang jelas Azalia!" tegas Alham.


"Saya ... saya ...." Alham yang merasa geram langsung mendekati gadis itu.


Azalia berusaha menghindar dengan mundur perlahan-lahan. "Kamu tahu saya paling tidak suka diganggu saat kerja dan kamu malah membuat saya membuang waktu dengan mendengar kamu berbicara yang tidak jelas," tegas Alham dengan sorot matanya menajam seolah akan membunuh Azalia.


Azalia terus mundur hingga kakinya mentok di ujung sofa. Merasa akan jatuh, ia secara tak sengaja menggapai kerah kemeja yang dikenakan pria di depannya saat mereka berhadapan. Kejadian tak terduga pun terjadi, Alham yang kaget langsung memeluk pinggang Azalia dengan satu tangannya. Namun, nahas, keduanya jatuh di atas sofa dengan bibir yang saling menempel. Tanpa mereka sadari, itu adalah ciuman pertama bagi keduanya.


Keduanya melotot tak percaya dengan apa yang terjadi. Jantung keduanya seakan berlomba siapa yang paling cepat detakannya. Waktu seperti berhenti menurut mereka.


Ceklek!


"Pak Alham?"


Keduanya menoleh saat seseorang bersuara masih dengan posisi Alham yang memeluk dan menindih Azalia.

__ADS_1


"Azalia." Kedua orang laki-laki berpakaian formal itu kaget dengan apa mereka lihat.


"Rafka. Papa."


Azalia yang kaget langsung mendorong Alham dengan sekuat tenaga dan langsung menghampiri Rafka. Sedangkan Alham, ia berdiri seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.


"Papa, Rafka, ini nggak seperti yang kalian bayangkan. Itu–itu, tadi–"


"Rafka, dengerin penjelasan aku." Azalia berusaha menggapai tangan Rafka, tetapi pemuda itu mundur.


"Rafka, aku mohon dengerin penjelasan aku. Pa–"


"Papa kecewa sama kamu, Lia. Kalau ingin menikah bilang, Papa bisa menikahkan kamu. Tapi, bukan begini caranya. Kenapa, kenapa kejadian seperti ini harus terulang lagi." Papa Rusdi kembali teringat akan mantan istrinya yang berkhianat.


Sementara, Rafka diam dengan tangan terkepal erat. Sorot matanya nyalang menatap Alham yang cuek dan akan berubah sendu ketika melihat Azalia yang saat ini menangis.


"Pa, ini nggak seperti yang papa bayangkan. Rafka, aku mohon percaya sama aku. Aku nggak berkhianat, Rafka," raung Azalia menatap lelaki yang telah menemani hari-harinya beberapa bulan terakhir.


"Pak, Bapak harus menjelaskan kalau tadi itu hanya kecelakaan dan tidak disengaja. Bapak jangan diam saja, Pak." Azalia kini beralih pada Alham.


"Maaf, Pak Rusdi. Apa yang dikatakan Azalia itu benar–"


"Benar? Sebuah kecelakaan? Apa kalian pikir saya bodoh? Kalian terlihat sangat mesra dengan tangan kamu yang memeluk anak saya. Saya tidak mau tahu, sebelum kalian terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar. Kalian harus segera menikah. Untuk kamu Rafka, Om minta maaf. Om harap kamu mengerti dengan keadaan sekarang." Setelah mengatakan itu, Papa Rusdi langsung meninggalkan ketiga anak muda tersebut.


"Nggak, Pa! Pa, Papa nggak bisa seperti ini. Rafka, aku mohon percaya sama aku." Azalia kembali memohon dengan derai air mata.


"Aku kecewa sama kamu, Li. Selama ini aku mencurahkan segalanya untuk kamu. Tapi, ini balasan kamu. Aku akan berusaha ikhlas untuk kamu. Terima kasih atas semuanya selama ini walaupun aku tahu, cinta dan sayangmu hanya palsu belaka." Rafka berusaha mengontrol dirinya agar tak lepas kendali di kantor orang.


Ia pergi dengan luka yang menganga lebar. Cinta yang sebelumnya bertepuk sebelah tangan dengan sekejap mata terbalaskan. Namun, saat ini, sembilu menggores hatinya. Ia hancur, lebih dari saat Azalia menolaknya berkali-kali semasa kuliah dulu. Air mata pemuda itu tak bisa lagi ia bendung. Tak peduli dengan tatapan karyawan yang melihat.


Sementara, Azalia meraung-raung tak terima dengan keputusan ini. "Kenapa? Kenapa takdir selalu mempermainkan aku? Kenapa?" Matanya menatap Alham dengan tajam.


"Ini semua gara-gara kamu! Kenapa kamu tak berusaha menjelaskan!" teriak Azalia seraya menunjuk wajah Alham.


"Jangan bermain playing victim, Azalia. Kamu yang datang ke sini dengan tujuan yang saya sendiri tidak tahu apa tujuan kamu," sahut Alham cuek dan kembali ke kursinya.


Tangis Azalia semakin pecah dan tiba-tiba saja ia jatuh begitu saja di atas lantai.


"Merepotkan saja," gerutu Alham dan langsung memanggil OB untuk memindahkan Azalia ke sofa.


...to...


...b...


...e...


...continue...


...............


...🎀JANGAN LUPA FOLLOW, LIKE, DAN KOMEN, YA🎀...


...Insyaa Allah, author akan update setiap hari 🤗...

__ADS_1


__ADS_2