
...Happy reading π€π...
..."Aku rela melakukan apapun demi kamu, demi cintamu yang tak kutahu kapan akan hadir di hatimu."...
...-Rafka Sanjaya-...
Matahari semakin meninggi mengikuti denting jam yang terdengar. Sesekali terdengar suara klakson kendaraan di jalan raya, bahkan sesekali suara sirene ambulans mampu memasuki gendang telinga kedua orang perempuan berbeda generasi tersebut. Mungkin orang kecelakaan atau bisa saja orang meninggal. Bunda Raya mencoba mencairkan suasana agar gadis di depannya tak canggung lagi.
"Maaf, nama kamu siapa tadi?" tanya Bunda Raya lembut.
"Azalia, Tante." Azalia tampak canggung berbicara dengan ibunya Rafka.
"Nama yang cantik, secantik orangnya. Oh, iya, kamu sudah sarapan? Mungkin bisa Tante belikan kalau kamu mau. Maaf, ya, Tante nggak sempat beli buah tangan untuk kamu," ucap Bunda Raya merasa tak enak.
"Saya sudah sarapan, kok. Tante nggak perlu repot-repot. Tante sudah datang ke sini saja sudah cukup merepotkan bagi saya," tukas Azalia seraya tersenyum.
Bunda Raya tersenyum, lalu meminta Azalia berpindah ke sampingnya. Setelah itu, wanita paruh baya itu berdiri mengambil keranjang kecil berisi buah-buahan di nakas dekat ranjang Azalia.
"Mau makan buah?" tanya Bunda Raya setelah duduk.
"Boleh. Tapi, biar saya melakukannya sendiri, Tante. Saya tidak mau merepotkan," balas Azalia merasa tak enak hati.
"Nggak merepotkan sama sekali, kok. Justru Tante senang melakukan ini. Mau makan buah apa?" Bunda Raya terus memaksa Azalia agar itu mau mengatakannya.
Dengan terpaksa dan tak enak hati, Azalia menyebutkan buah jeruk karena ia menyukai buah bulat berwarna jingga tersebut.
Di sela-sela mengupas buah, Bunda Raya mengajak gadis itu bercerita. "Kalian memang memiliki kecocokan," ucapnya.
Tangannya menyerahkan buah yang sudah dikupas itu satu persatu, tak jarang ia pun memakannya. Biar sama-sama menikmati manisnya jeruk, pikir Bunda Raya.
"Maksudnya kecocokan bagaimana?" Azalia bingung.
"Rafka juga menyukai jeruk. Katanya manis kayak Bunda," cetus Bunda Raya seraya terkekeh. "Kalian sudah berapa lama pacaran?" imbuhnya.
"Baru jadian kemarin, Tante," jawab Azalia kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Bunda Raya melongo dengan mulut terbuka. "Tante, itu jeruknya dikunyah dan telan dulu, deh," timpal Azalia dengan wajah polos.
Bunda Raya langsung berdehem karena salah tingkah dan cepat-cepat mengunyah jeruk dalam mulutnya.
'Astaga, dasar jeruk sialan! Bisa-bisanya belum aku telan. Bikin malu saja, mana pacarnya Rafka lagi yang negur,' umpat Bunda Raya dalam hati.
__ADS_1
Pagi menjelang siang itu dihabiskan Bunda Raya untuk bersama Azalia. Mencoba mengakrabkan diri dengan gadis itu.
***
Sebuah mobil berwarna putih melaju sedang membelah jalanan ibukota. Dia mencoba menelepon seseorang, tetapi tak aktif sejak tadi. Tinggal sekali lagi panggilan itu menjadi selusin. Pemuda yang tengah duduk di bangku kemudi mencoba sekali lagi dan hasilnya tetap sama.
"Ini Azalia kemana, sih! Ditelepon nomornya nggak aktif," gerutunya.
Selepas dari kampus, dirinya ingin membelikan Azalia pakaian. Sekalian ingin bertanya apakah gadis itu mau dibelikan sesuatu.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Suara azan mulai berkumandang. Rafka dengan sengaja membelokkan mobilnya ke sebuah masjid. Saatnya ia berkomunikasi langsung dengan Sang Khalik. Mengeluhkan serta meminta pertolongan dari-Nya. Bukankah sebaik-baik tempat meminta dan bersandar adalah Allah swt., itu yang sering Rafka ingat.
Pemuda itu lantas menuju tempat mensucikan diri sebelum salat. Beruntung, di masjid itu tempatnya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Setelahnya, Rafka memasuki masjid lantas melaksanakan salat kabliah Zuhur.
Setelah salat Zuhur dilaksanakan secara berjamaah, tinggallah Rafka yang sedang duduk sambil menengadahkan tangan, bermunajat kepada-Nya.
Di dunia ini, tak ada manusia yang hidup tanpa dosa. 'Jangan tinggalkan salat, apapun keadaan kamu dan di manapun kamu berada.' Kalimat itu sering ia dengar dan ia tanamkan dalam hati. Setelah selesai, ia lantas ke luar untuk membeli pakaian Azalia.
***
Matahari hari ini cukuplah panas. Mobil Rafka membelah jalanan ibukota yang mulai macet. Polusi ditimbulkan oleh kendaraan lain membuat keadaan sekitar menjadi tidak sehat.
Sepanjang perjalanan ia melewati beberapa butik pakaian, tetapi tujuannya kali ini adalah mal, di mana setiap kebutuhan ada di sana.
"Susahnya jadi orang ganteng, ke mal aja harus pakai masker," gerutunya, lalu keluar dari mobil dan memasuki mal.
Cukup lama ia berkeliling, tetapi belum ada satu pun barang di tangannya. Bisa saja ia meminta pembantu di rumah orang tuanya untuk membelikan Azalia pakaian baru atau mengambil dari rumah gadis itu, tetapi Rafka ingin menjadi orang-orang pada umumnya. Ia ingin mulai belajar dari sekarang untuk hidup sederhana walaupun keluarganya sangat kaya.
Langkahnya membawa ia menuju toko yang menjual pakaian dalam wanita maupun pria. Saat sampai di depan toko tersebut, pemuda berhidung mancung itu bimbang antara masuk atau tidak hingga seorang karyawati datang menghampiri.
"Permisi, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawati tersebut ramah.
"Eh, aβanu, itu, iya, tolong bantu saya, ya," ucap Rafka terbata.
"Mari ikuti saya untuk melihat-lihat. Masnya mau cari yang bagaimana? Untuk laki-laki di bagian sini."
Karyawati tersebut mengajak Rafka mengelilingi tempat pakaian dalam pria. Membuatnya mengusap kepala yang terpakai topi.
"Em, Mbak. Saya cari untuk perempuan bukan laki-laki." Seandainya saja Rafka tak memakai masker, sudah bisa dipastikan pemuda itu tengah menahan malu yang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak, ia tak pernah sekalipun ke toko pakaian dalam dan saat menginjakkan kakinya di toko tersebut, ia malah mencari pakaian dalam wanita. 'Lihatlah, Azalia. Aku bahkan rela melakukan apapun demi kamu. Demi cintamu yang tak kutahu kapan akan hadir di hatimu,' batin Rafka meratapi kisah cintanya yang saat ini masih bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Oh, untuk istrinya, ya. Mari ikut saya, Mas-nya mau yang model bagaimana? Kami juga ada baju dinas untuk istri dengan model terbaru dan bahannya sangat bagus. Bajunya juga best seller di toko kami. Mau saya tunjukkan?"
Perkataan karyawati tersebut sukses membuat kedua mata Rafka melotot dengan sempurna. Bagaimana bisa ia dikira akan membelikan untuk istrinya. 'Pacaran saja baru kemarin,' keluhnya dalam hati.
Tahu jika akan seperti ini, lebih baik ia meminta bantuan orang lain saja. Bundanya mungkin. Memikirkannya membuat kepala Rafka pusing. Ia menyesal mengambil keputusan untuk turun langsung. Akan tetapi, ia ingin membuktikan kepada Azalia bahwa dirinya benar-benar sayang kepada gadis itu.
"Yang biasa dipakai perempuan saja, Mbak. Dalaman perempuan pada umumnya. Nggak usah aneh-aneh dan cari bahannya yang sangat lembut dan nyaman dipakai." Rafka langsung menyebutkan saja agar bisa segera keluar dari tempat itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia menghela napas lega. Tangannya mengusap bulir keringat di pelipisnya seraya mengangkat sedikit topinya padahal di dalam ada AC.
"Rafka?" Suara seseorang yang begitu familiar membuatnya melihat sosok tersebut.
"Kamu ngapain di sini?" tanya perempuan itu. Matanya menatap sebuah paper bag di tangan kanan Rafka, lalu beralih menatap toko di samping mereka.
"Kamu habis dari dalam?" Perempuan itu tak percaya dengan penglihatannya. Namun, masih berusaha berpikir positif.
"Iya. Kalian ngapain di sini? Bukannya ke kuliah malah keluyuran," sindirnya pada Sesil dan dua temannya.
Ya, gadis itu adalah Sesil. "Ayolah, Ka. Hari ini nggak ada mata kuliah. Jadi, wajarlah kami di sini," ucap Sesil selembut mungkin. "Makan bareng, yuk!" ajaknya.
"Maaf, aku masih ada urusan lain. Permisi." Rafka langsung berlalu begitu saja meninggalkan Sesil dengan sejuta emosi.
"Sialan! Gue kurang apa, sih? Kenapa Rafka selalu nolak gue? Kenapa?" Sesil meraung dengan mata mulai mengalirkan airnya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang.
"Sil, udah, ya. Nggak usah nangis. Lelaki seperti Rafka nggak pantas buat ditangisi, masih banyak cowok lain yang lebih dari segalanya dibandingkan Rafka," ucap Manda menyemangati Sesil.
"Tapi, Man. Rafka itu ganteng tahu. Aku saja betah lama-lama lihat dia," celetuk Caca yang masih memandang punggung Rafka yang kian menjauh.
Sesil langsung menatap tajam Caca, membuat sang empu langsung mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. "Maaf," ucap Caca.
Manda menggeleng melihat tingkah Caca yang kadang bikin tambah runyam keadaan.
...To...
...b...
...e...
...Continue...
...π€...
__ADS_1
...........................