Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Sakit tak Hanya Fisik


__ADS_3

...Happy Reading Guys 😘...


Malam semakin pekat dan langit tak ditemani rembulan ataupun hamparan bintang. Azalia berjalan bagai orang tak tentu arah. Tatapannya kosong menatap ke depan. Sementara, masih banyak lalu-lalang kendaraan.


Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menyerempet tubuhnya jika saja seseorang tak menarik tangannya.


"Mbak kalau mati jangan di jalanan, bikin repot orang nanti! Kalau ada masalah itu ngadunya ke Allah bukan terlihat seperti orang bodoh dan berakhir bunuh diri!" seru seorang wanita berpakaian syar'i.


Tatapan Azalia yang semula kosong, kini menatap penuh pada wanita itu. "Maaf, saya tidak hati-hati. Terima kasih sudah menolong saya," ucap Azalia.


Wanita yang ditaksir seumuran dengannya itu tersenyum. "Sama-sama. Maaf juga jika saya tadi sudah lepas kendali memarahi anda. Mbak mau ke mana? Perlu saya antar?" tawar wanita itu.


"Tidak perlu. Rumah saya sudah dekat dari sini." Azalia terpaksa berbohong karena tak ingin merepotkan.


"Baiklah. Kalau begitu, saya duluan. Ingat untuk selalu mengeluh kepada Allah jika memiliki masalah. Allah bersama kita." Azalia mengangguk sebagai jawaban, lalu keduanya berpisah setelah saling mengucapkan maaf dan terima kasih.


***


Di rumah, Alham sedang menonton TV dengan perasaan yang mulai gelisah. Pasalnya, sang istri belum kembali dan sekarang sudah jam sepuluh malam.


Udara malam sangatlah dingin ditambah saat ini sedang hujan. Alham tak yakin jika Azalia masih berada di tokonya hingga selarut ini. Ia mencoba menghubungi orang tuanya, barang kali Azalia kembali ke kediaman orang tuanya karena tak tahu alamat rumah mereka.


"Halo, Ma," sapa Alham begitu panggilannya tersambung. "Apa Azalia ada di sana?" Alham langsung pada intinya.


"Nggak ada. Kamu kenapa malah tanya sama Mama? Kalian nggak lagi bertengkar, 'kan? Alham pernikahan kalian bahkan baru dua hari. Apa yang sudah kamu lakukan?" cecar Mama Tina dari seberang.

__ADS_1


"Ma, aku hanya bertanya." Alham langsung memutuskan telepon itu begitu saja karena tak ingin masalah melebar ke mana-mana.


"Lebih baik aku cari saja dia. Kalau ada apa-apa pasti aku juga yang kena imbasnya," gumamnya.


Alham mematikan TV, lalu beranjak mengambil jaket dan kunci mobil di kamarnya.


Saat akan membuka pintu, bertepatan dengan pintu yang dibuka dari luar oleh seseorang. Orang itu ternyata Azalia yang dalam keadaan basah kuyup dan wajah pucat.


"Ingat pulang juga kamu. Bisa tidak untuk tidak merepotkan orang lain? Ini baru kedua dan kamu sudah sangat merepotkan saya," ucap Alham datar sambil menatap tajam Azalia.


Azalia yang diam mendongak. Tatapan tajam milik Alham dan tatapan teduh milik Azalia bertemu. Untuk sesaat Alham terpaku. "Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir Azalia.


Tak tahan dengan rasa dingin yang menyelimuti tubuh rapuhnya, ia berjalan perlahan dan seketika berhenti kemudian berbalik. "Apa koper saya masih di mobil Bapak?" lirih Azalia.


"Koper kamu ada di lantai atas." Alham masih dengan ekspresi datarnya.


***


Arunika tampak di ufuk timur, hadir setelah semalam berada di peraduannya. Malam yang pekat dengan dingin yang mampu membalut tubuh manusia kini berganti dengan kehangatan yang dipancarkan oleh sang surya.


Matahari semakin naik, tetapi Azalia masih betah berada di dalam kamar. Alham yang berada di meja makan mendengkus. "Wanita apa yang sudah aku nikahi ini, jam segini masih tidur." Alham memijit pelipisnya menahan kesal.


Ia melangkah menuju kamar Azalia. Begitu sampai ia membuka pintu kamar tersebut dan heran karena pintunya tak terkunci. Begitu masuk, ia menjadi murka melihat Azalia yang seperti kepompong di atas kasur.


'Ya Tuhaaan, dasar pemalas!' batinnya kesal.

__ADS_1


Azalia yang mulai terusik dengan sakit di kepalanya mencoba bangun untuk duduk. Ia masih belum menyadari jika ada seseorang dalam kamarnya.


Ia langsung melihat seseorang itu ketika mendengar sebuah deheman yang cukup keras. "Ba–Bapak ngapain di sini?" tanya Azalia.


"Saya yang seharusnya tanya sama kamu, kenapa jam segini belum bangun? Kamu itu seorang istri sekarang harusnya tahu tugas kamu apa saja. Jangan kamu pikir perjanjian itu hanya tertulis untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing pihak, lantas kamu menjadi pemalas dan berleha-leha. Ingat posisi kamu yang sudah memiliki orang lain untuk kamu layani. Sekarang kamu masak saya belum sarapan." Setelah berkata demikian, Alham keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.


Ia seolah buta dengan keadaan Azalia yang pucat bagaikan mayat hidup. Kekesalannya telah menutupi nuraninya sampai tak memberikan sang istri untuk berbicara.


Azalia yang terlonjak kaget hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Seandainya saja ia tak pergi ke kantor Alham, seandainya saja ia menelepon papanya lebih, mungkin ini tak akan terjadi. Mungkin ia kini bahagia karena merajut kasih bersama orang yang ia cintai.


Dalam benaknya, banyak kata seandainya dan mungkin yang terus saja berlomba untuk ia sebutkan. Kini, semuanya telah menjadi masa lalu. Ia harus kuat dan sabar karena hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.


Tak ingin sang suami kembali marah, ia dengan perlahan turun dari kasur dan menuju dapur untuk membuat sarapan. Ia mencoba menahan rasa pusing yang melanda sejak Subuh tadi dan juga demam yang sejak semalam merengkuh tubuhnya.


...to...


...b...


...e...


...continue guys...


...…………………………...


*Adakah orang seperti Alham? Mentang-mentang dijodohkan terus seenaknya memperlakukan sang istri.🤦

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak🥰


__ADS_2