Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Penikmat Senja


__ADS_3

...Happy Reading Guys 🥰...


..."Orang jahat tercipta dari orang baik yang disakiti."...


...-Azalia Atmadja-...


Azalia langsung mengunci pintu begitu tiba di kamar yang ia pesan tanpa sepengetahuan Alham. Perkataan Alham tadi terus terngiang di telinganya.


"Aku nggak boleh senang dulu, bisa jadi ini adalah rencananya bersama Sesil. Membuat aku jatuh cinta, lalu akan dicampakkan setelah semuanya berhasil. Jika itu terjadi, sudah dipastikan aku akan menjadi manusia paling menyedihkan di muka bumi ini," gumamnya.


Tak ingin ambil pusing lebih jauh, ia memilih untuk menata pakaiannya dan merebah di kasur sambil menatap langit-langit. "Orang jahat tercipta dari orang baik yang disakiti." Ia kemudian menjemput lelapnya agar sore nanti bisa segera bangun untuk menikmati senja di Pulau Bunaken ini.


***


Seorang perempuan menggeliatkan tubuhnya saat sayup-sayup ia mendengar suara ketukan di pintu. "Siapa, sih?" gumamnya.


"Siapa?" teriaknya.


"Saya pemandu wisata di sini," sahut orang di luar.


Azalia langsung melihat jam di ponselnya dan ia baru ingat bahwa ia meminta seorang pemandu wisata jam empat sore.


"Kamu silakan tunggu sebentar, saya mau bersiap-siap." Azalia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah orang itu menyahut mengiyakan. Ia sengaja tak memanggil Alham karena tak ingin teringat kejadian beberapa saat lalu.


***


"Berbicara tentang objek wisata di Sulawesi Utara seolah tidak akan ada habisnya. Jika berkunjung ke utara pulau Sulawesi ini, rasanya akan kurang apabila tidak menjejakkan kaki di pulau Bunaken, yang menjadi bagian dari Taman Nasional Bunaken, sebuah kawasan konservasi yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1991. Tempat ini menjadi surga bagi para penyelam karena alam bawah lautnya yang mempesona." Pemandu wisata itu mulai menjelaskan tentang Pulau Bunaken saat mereka berjalan-jalan di dermaga yang sangat indah. "Anda pasti tidak akan menyesal berkunjung ke sini," sambungnya.


"Tahun 1991? Wah, sudah lumayan lama juga, ya. Tapi, saya salut sama masyarakat di sini karena mampu mempertahankan keindahan tempat ini. Saya yakin, kelak anak cucu kita masih akan bisa menikmati keindahannya." Mereka terus melangkah mengikuti ke mana Azalia inginkan.


"Yah, oh, iya, anda ingin mencoba diving?" tanya Rama—terdapat pada name tag-nya.


"Saya tidak bisa berenang," ucap Azalia malu-malu. "Untuk jasanya terima kasih. Kamu bisa kembali," imbuhnya.

__ADS_1


"Baik, selamat menikmati harinya, Bu." Rama pun pergi meninggalkan Azalia yang menatap liris ke depan.


Hamparan air laut yang membiru, juga selendang jingga yang sebentar lagi akan menampakkan warnanya yang sesungguhnya membuat Azalia betah berlama-lama di sana. Di tempat yang terbilang cukup jauh dari penginapan.


***


Sementara itu, Alham sudah panik mengetahui sang istri tak berada di kamarnya. Ia sudah sejam mencari di sekitar penginapan mereka tak jua ketemu. Ia pun mengambil ponsel untuk menghubungi sang istri.


"Ah, sial! Aku nggak punya nomornya lagi. Suami macam apa aku ini!" kesalnya seraya mengacak rambut merasa frustasi.


Ia memutuskan untuk kembali ke kamar sang istri yang memang tak dikunci. Ia melihat sekeliling dan mendapati ponsel Azalia ada di tempat tidur. "Astaga, kalau begini aku harus bagaimana? Kamu ke mana, sih?" gumamnya.


Tak ingin berlama-lama larut dalam pikirannya yang bukan-bukan, ia memutuskan untuk pergi mencari lagi. "Aku yakin, dia pasti ada di sekitar sini. Tidak mungkin dia pergi sedangkan barangnya semua berada di sini," lirihnya.


***


Sang surya mulai menepi, Azalia masih berdiri di pagar pem dermaga seraya menikmati semilir angin yang membelai raganya.


"Lepasin. Nggak enak dilihat orang." Azalia berusaha melepaskan tangan itu saat tahu siapa pemiliknya.


Akan tetapi, semakin ia berusaha akan semakin kuat juga tangan itu memeluknya. Akhirnya, ia pasrah saja, melawan lebih keras juga percuma.


"Kamu kenapa nggak ngajak aku ke sini? Kenapa malah pergi sendirian?" lirih Alham seraya mengecup puncak kepala Azalia yang rambutnya tergerai.


"Pengen aja."


"Kamu tahu? Aku nyari kamu di sekeliling penginapan dan ternyata kamu ada di sini. Lain kali jangan bikin aku khawatir, ponsel kamu juga kamu tinggal."


Azalia mengangguk karena tak ingin merusak suasana hatinya yang baru saja tenang. Ia melihat ke bawah, banyak terumbu karang yang hidup dengan indahnya. Seandainya saja ia bisa berenang, ia pasti bisa menikmatinya secara langsung tanpa harus menggunakan perahu.


Ya, ia berniat untuk menikmati keindahan bawah laut menggunakan perahu saja pada besok.


Alham menaruh dagunya di bahu kiri Azalia. "Kamu sudah makan?"

__ADS_1


Azalia menggeleng. 'Seandainya saja sejak awal kamu sudah bisa menerima pernikahan ini. Mungkin aku bisa menikmati suasana ini dengan nyaman,' batin Azalia.


Azalia segera menghapus lelehan air mata yang sempat mengalir.


Alham segera membalikkan tubuh sang istri ketika melihat hal itu. "Kamu nangis? Kenapa? Ada yang salah sama aku? Atau ada kata-kata aku yang menyinggung kamu? Tolong maafin aku, aku tidak berniat untuk itu," ucap Alham seraya menatap sendu wajah cantik di depannya.


"Aku nggak apa-apa." Azalia kembali membelakangi Alham.


"Nggak apa-apa perempuan itu pasti ada apa-apa. Tapi, kalau kamu nggak mau cerita, itu hak kamu. Aku tidak akan memaksa sesuatu dari kamu, apapun itu," ujar Alham kembali memeluk Azalia dari belakang.


"Maafkan aku."


"Maafkan aku."


"Maafkan aku."


Dua kata itu terus digumamkan oleh Alham di sore itu. Azalia tak tahu harus bagaimana. Sisi lain dari dirinya menginginkan agar mereka memulai dari awal, tetapi sisi lain tak menginginkan hal tersebut.


Di bawah langit jingga di Pulau Bunaken, Azalia menikmati kebimbangan juga kehangatan dari pelukan sang suami.


...to be continued ........


*selamat merayakan hari raya ketupat untuk daerah-daerah yang merayakan, ya🥰


8 Syawal 1444 H/2023 M


Jangan lupa follow author, ya.


Bisa follow akun author yang lain juga👇🏻


Ig siska.saidi


Fb Siska Saidi*

__ADS_1


__ADS_2