
...Happy Reading...
Musim telah berganti, bahtera rumah tangga Alham dan Azalia kian menjadi. Bagaimana tidak, pagi ini saat keduanya sarapan Alham secara langsung mengatakan bahwa ia memiliki hubungan dengan Sesil.
Hubungan yang begitu dekat dengan Sesil mampu memporak-porandakan hatinya. Ia menutup mata dn telinga akan statusnya yang telah memiliki istri.
"Ada yang saya omongin ke kamu," ucap Alham tiba-tiba di sela-sela mereka sarapan.
Azalia menatap suaminya. "Apa?" tanyanya.
"Jika sewaktu-waktu Sesil menginap lagi di sini. Kamu harus melayani dia dengan baik karena dia sekarang adalah kekasih saya."
Duar!
Bagai disambar petir di siang bolong mendengar penuturan sang suami. Azalia tak percaya apa yang ia dengar. "Tidak mungkin," gumamnya seraya menggeleng.
"Apanya yang tidak mungkin? Dia sekarang adalah kekasih saya."
"Nggak! Nggak mungkin! Kenapa harus Sesil, Pak? Kenapa bukan perempuan lain?" Azalia terisak pelan.
"Apa maksud kamu? Jangan pernah lupakan perjanjian kita. Jangan pernah ikut campur urusan pribadi saya. Ingat itu!" tegas Alham, lalu pergi meninggalkan Azalia yang menangis di meja makan.
"Ternyata, kebaikanku selama ini tak ada artinya bagi kamu. Baiklah, aku akan ikuti keinginan kamu. Akan aku pastikan kamu akan menyesali perbuatanmu ini," gumam Azalia seraya menatap tempat Alham menghilang dari pandangannya.
***
Siang begitu cerah, Azalia berangkat ke toko menggunakan motornya. Sebenarnya, ia sudah mampu membeli mobil, tetapi justru memilih untuk tetap menggunakan motor. Ia paling tak senang terjebak macet menggunakan roda empat.
Setibanya di toko, ia disambut oleh kedua karyawannya yang sudah ia anggap saudara sendiri. "Gimana orderannya?" tanyanya setelah ikut bergabung.
"Alhamdulillah, semakin lancar, Mbak. Matanya kenapa, Mbak? Kok, merah," tanya Ria.
Azalia tak menyangka jika bekas ia menangis masih tetap muncul di permukaan walaupun sudah ia coba untuk menutupi. "Oh, itu ... tadi kena debu di jalan," alibinya.
"Hari ini jangan kita libur dulu fokus ke pengemasan orderan saja. Kalau sudah selesai, ikut aku, ya. Kita refreshing dulu. Ke salon atau ke mana, gitu. Mau, 'kan?"
Kedua karyawannya begitu antusias. Akhirnya, mereka bisa punya waktu untuk bersantai juga. Mereka pun langsung bekerja dengan cepat agar segera selesai.
***
__ADS_1
Sebuah salon kecantikan yang biaya perawatannya tak hanya murah menjadi tempat pilihan Azalia. Ia akan masuk, tetapi kedua karyawannya langsung mencekal lengannya.
"Ada apa? Ayo, masuk!" ajaknya. Namun, ia malah ditarik ke belakang dan hampir sja terjatuh. "Kalian kenapa, sih?" Ia bingung melihat tingkah laku Ria dan Lea—karyawannya.
"Mbak, ini salon tempatnya para sultan. Kita yakin masuk ke sini? Uang kita bakal habis kalau dipakai hanya untuk sekali perawatan di sini," ujar Ria.
"Benar, Mbak. Kita ganti tempat aja, yuk! Atau kita makan atau nonton aja, gimana?" timpal Lea.
"Astagfirullah, jadi kalian mikirin biaya? Yang ajak kalian ke sini siapa?"
"Mbak Lia." Mereka menjawab bersamaan.
"Nah, itu tahu. Jadi, kenapa masih takut masuk? Ayo, buruan!" Azalia kembali ditarik membuatnya mendengkus.
"Maksudnya kami dibayar sama Mbak, gitu?" tanya Ria dan Lea mengangguk tanda ia juga memiliki pertanyaan yang sama.
"Kenapa kalian mendadak jadi lola, sih?" kesal Azalia.
"Lola itu apa, Mbak?" tanya keduanya.
"Loading Lama, Ria, Lea! Ayo, masuk! Kalau kalian masih berdiri di sini, lebih baik kita lanjut kerja," ancam Azalia.
Setelah drama dari Ria dan Lea, ketiganya memasuki salon yang hanya para orang berpunya yang mampu masuk ke sana. Namun, siapa sangka, Azalia mampu membawa dua orang dan itu semua menjadi tanggungannya.
Jika dilihat dari penampilan, Azalia seperti orang biasa terlebih usaha yang ia miliki hanyalah sebuah toko pakaian kecil dan sedang merangkak untuk maju.
***
Seharian penuh Azalia memanjakan dirinya. Melakukan perawatan tubuh, berbelanja, menonton, dan mencoba makan di kafe-kafe ternama sungguh sangat membuatnya merasakan dunia yang sebenarnya.
Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Sudah jam delapan. Seharusnya ia sudah pulang," gumamnya menatap jalanan ibukota Jakarta malam hari.
Setelah beberapa menit, akhirnya ia sampai di rumahnya. Ia membuka pintu dan mendapati suaminya sedang duduk sambil bersedekap menatap ke arahnya bersama Sesil yang berada di sampingnya.
'Azalia?!' Alham terpaku beberapa saat melihat penampilan sang istri. Begitupun dengan Sesil.
Bagaimana tidak, Azalia tampak modis dan anggun dengan balutan gaun selutut dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Tak lupa, sepatu high heels dan beberapa aksesoris melekat di tubuh rampingnya.
"Ehem, kenapa pada ngelihatin aku kayak gitu?"
__ADS_1
Ucapan Azalia yang tiba-tiba, menyadarkan kembali Alham dan Sesil dari keterkejutan mereka.
"Ingat pulang juga kamu." Tatapan tajam Alham layangkan kepada istrinya.
"Iya, dong. Kenapa aku harus nggak ingat pulang? Atau kamu mengharapkan aku untuk tidak pulang? Suami macam apa kamu?" Azalia membalas tatapan tajam milik Alham.
"Azalia, Kak Alham itu sedang mengkhawatirkan kamu," timpal Sesil.
"Khawatir? Kamu yakin?" Azalia terkekeh.
"Kenapa tidak? Oh, iya, kamu kenapa berpenampilan seperti ini?" Sesil meneliti Azalia dari ujung kaki sampai ujung rambut. 'Apa Kak Alham yang ngasih dia uang sampai bisa belanja dan perawatan diri?" batin Sesil.
"Kenapa?Apa aku tidak bisa berpenampilan begini?" tanya Azalia dingin.
"Bukan gitu. Hanya saja, terlihat sangat tidak mungkin, jam tangan kamu itu harganya bukan murah. Kecuali, kamu menghamburkan uang Kak Alham."
"Apanya yang nggak mungkin, Sil? Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Seorang perempuan jadi selingkuhan suami orang aja mungkin, loh." Azalia menyindir kedua orang tersebut dengan senyum mengejek.
Alham mengepalkan kedua tangannya. Sementara, Sesil langsung berdiri dan menunjuk Azalia penuh emosi. "Apa maksud kamu? Kamu nuduh aku selingkuh sama Kak Alham?"
"Wow! Santai, Sil. Aku nggak ada ngomong kamu jadi selingkuhannya SUAMI AKU. Tanya aja sama SUAMIKU YANG TERCINTA ini," ucap Azalia menekan beberapa kata yang ditujukan untuk Alham.
"Cukup, Azalia! Mau kamu apa, hah?!" bentak Alham.
"Kamu tanya mauku apa? Aku nggak mau apa-apa, sih. Hanya mau istirahat aja, capek soalnya."
Azalia melenggang pergi menuju kamar Alham karena Sesil kembali menginap. Beruntung ia tak perlu memindahkan banyak barang karena Sesil berada di kamar tamu di lantai bawah. 'Ini baru permulaan.' gumam Azalia dalam hati seraya tersenyum smirk.
'Dari mana dia mendapatkan keberanian itu? Selama ini ia selalu diam." Alham menatap punggung Azalia yang menaiki anak tangga sambil terus memikirkan perubahan Azalia.
'Sial! Awas kamu, Azalia! Aku pastikan kamu akan menangis karena suamimu berada dalam genggamanku!' batin Sesil.
...... to be continue ......
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰
Follow author juga🙏🏻🤗
Terima kasih juga untuk sudah support sampai detik ini🙏🏻🥰
__ADS_1