
...Happy reading 🥰...
Bunyi yang dihasilkan oleh gesekan roda koper memasuki indra pendengaran dari wanita paruh baya di ruang tamu. Sebenarnya, suara mobil sudah ia dengar, tetapi abai karena tahu siapa yang datang.
Wanita itu tetap fokus pada benda pipih yang ia pegang. Entah apa yang dilakukannya, sehingga sesekali tersenyum dan tertawa dengan jari yang terus menekan-nekan layar benda pipih tersebut.
Wanita itu bahkan tak menjawab salam dari suaminya yang baru saja tiba dari luar kota. Hal itu membuat emosi lelaki langsung hinggap di hatinya dan mengambil ponsel tersebut.
"Apa-apaan kamu, Mas! Kembalikan ponsel aku!" jerit Lana berusaha menggapai ponselnya.
"Kamu yang apa-apaan! Suami pulang dari luar kota bukannya disambut malah asyik bermain ponsel! Kamu itu masih punya otak nggak, sih!" bentak Rusdi—Ayah Azalia.
"Nggak usah banyak gaya, deh. Balikin cepat hp aku atau–"
"Atau apa? Kamu mau mengancam aku? Aku nggak takut karena aku bisa kapan saja melempar kamu ke jalanan. Ingat itu!" Rusdi sudah pusing memikirkan pekerjaan ditambah lagi dengan kelakuan sang istri yang tak ada habisnya. "Bikinkan aku kopi kalau kamu mau hp ini kembali!" perintahnya seraya menghempas tubuhnya ke sofa.
Lana mau tak mau harus melaksanakan perintah tersebut sambil berdecak dalam hati. 'Sialan! Andai saja aku bisa menemukan surat-surat penting itu. Sudah aku pastikan kau akan bangkrut!" desisnya dalam hati.
Saat kopi dihidangkan dan diminum oleh Rusdi, tiba-tiba saja ia menyemburkan minuman itu. "Kamu ini bisa membedakan gula sama garam tidak, sih?!" hardiknya. "Ke mana Bi Eti?" imbuhnya masih dengan emosi yang memuncak.
"Ya, bisalah, Mas. Bi Eti sudah aku pecat. Buat apa bayar pembantu kalau anak kamu bisa dipergunakan. Toh, kamu juga sangat membenci anak itu, 'kan," jawab Lana dengan wajah yang cuek.
"Kamu siapa di rumah ini? Kamu tidak bisa seenaknya mengambil keputusan tanpa seizinku! Walaupun kamu berstatus istri aku. Tapi, kamu bukan nyonya di rumah. Bagiku kamu tetaplah wanita penghibur yang hanya jago di ranjang. Ini ponsel kamu!" Rusdi melemparkan ponsel itu ke Lana dan langsung melangkah menuju kamar mereka di lantai satu.
Biduk rumah tangga yang dijalani oleh Rusdi tak seperti rumah tangga pada umumnya. Selama istrinya—Mama Azalia—diketahui berselingkuh saat Azalia berusia dua tahun, membuat ia menjadi pria yang arogan dan kasar. Tak jarang Azalia menjadi sasaran amukannya.
Lana terpaku di tempatnya sambil memandang punggung sang suami. 'Aku memang pernah jadi wanita penghibur. Tapi, kalian yang tak pernah tahu akan alasannya hanya bisa menghina dan merendahkan,' batinnya bersedih mengingat kisah hidupnya dulu. 'Kau akan menyesal karena telah mengingatkan aku akan masa laluku hari ini,' imbuhnya seraya menghapus air matanya yang menetes tanpa diminta.
***
Pekatnya malam kian memudar kala sang surya mulai hadir di antara gumpalan berwarna putih di langit.
Suara denting yang ditimbulkan menjadi pemecah keheningan di ruang makan. Terlihat ketiga orang yang berbeda generasi itu menikmati sarapan.
Hingga sebuah suara membuat aktivitas mereka terhenti sejenis. "Alham, hari ini kamu ikut Papa ke kantor untuk perlahan-lahan beradaptasi dengan perusahaan. Kamu adalah penerus Papa, Ham," tutur sang papa.
Alham yang mendengarnya menatap lekat ke arah pria berusia lima puluh tahun tersebut. "Pa, sampai kapan Papa akan terus memaksa aku? Aku nggak berminat untuk jadi pemimpin perusahaan. Lebih baik Papa berikan saja sama Kak Andre. Papa, kan pemilik sekaligus pimpinan. Jadi, aku rasa Papa bisa melakukannya," timpal Alham dengan perasaan yang mulai kesal.
__ADS_1
Andre adalah sepupu dari pihak papa sekaligus suami dari mantan kekasihnya setahun yang lalu. Ia masih belum menerima keadaan hingga sekarang. Oleh sebab itu, ia menolak mentah-mentah menjadi CEO di perusahaan ayahnya.
Luka fisik mungkin bisa segera sembuh, tetapi bisa juga membekas. Sementara, luka hati akan sulit disembuhkan jika pemilik luka itu membiarkan dan malah membuatnya kian menganga.
Brak!
Sang papa memukul meja hingga menimbulkan suara yang sangat keras, wanita paruh baya di sampingnya kaget akan hal itu.
"Kenapa kamu jadi pembangkang seperti ini, Ham?! Papa sudah tidak muda lagi. Mau sampai kapan kamu kekanakan begini, hah?" bentak sang Papa.
"Papa mau tahu kenapa aku jadi begini?" tanya Alham tenang. "Karena Papa mendukung Om Faisal menjodohkan Kak Andre dengan Sintia. Sementara, Papa tahu aku dan dia sudah lama pacaran dan berencana akan melamar dia. Setega itu Papa sama aku," terangnya membuat Pak Bayu diam.
Dengan perasaan getir lelaki yang akan memasuki usia tiga puluh tahun itu meninggalkan ruang makan dengan perasaan yang teramat sulit untuk dijelaskan.
Melupakan cinta pertama tak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah lama Alham ingin melupakan mantan kekasih yang sekarang menjalani biduk rumah tangga dengan kakak sepupunya. Namun, hatinya masih saja membelenggu nama seorang wanita yang telah bersamanya sejak di bangku kuliah.
"Pa, kenapa kamu tidak mengatakan saja sama Alham apa yang sudah dilakukan oleh Sintia dan Andre? Dia berhak tahu biar tidak salah paham dengan keputusan Papa mendukung pernikahan mereka." Sang istri yang sejak tadi diam melihat perdebatan suami dan anaknya berusaha menasehati.
"Tapi, aku tidak ingin dia semakin terluka, Ma. Cukup dia terluka dengan pernikahan Sintia, aku tidak ingin dia terluka kembali dengan alasan yang selama ini kita tutupi," sahut Pak Bayu dengan perasaan bersalah yang sebenarnya kian menggunung.
"Iya," sahut Pak Bayu.
***
Matahari semakin meninggi dan jalanan mulai tampak kemacetan, tetapi sebuah mobil tak peduli akan hal tersebut. Kendaraan beroda empat yang dikendarai oleh Alham selalu menyalip kendaraan lain, tak peduli dengan umpatan para pengendara lain.
Hatinya benar-benar kacau dan saat ini tujuannya hanya satu, yaitu apartemen yang rencananya akan ditempati olehnya dan juga sang mantan kekasih.
Setengah jam berlalu, akhirnya Alham tiba di tempat tujuan. Langkahnya memasuki gedung bertingkat tersebut.
Setelah memasukkan kode, lelaki berkulit putih itu mengernyit ketika mencium aroma masakan yang begitu ia hafal. 'Apa Sintia di sini?' batinnya bertanya-tanya.
Langkahnya membawa ia memasuki ruang dapur. Sejenak ia terpaku memandang siapa yang tengah sibuk mengotak-atik makanan di wajan. Lalu, mulai mengangkat masakan tersebut.
"Tia?" panggilnya ragu-ragu.
Wanita itu berbalik dan terkejut. Matanya memanas dan tiba-tiba saja telaga bening itu tumpah ruah tak tertahan. Wanita berambut panjang itu berlari memeluk pria yang saat ini masih menempati hatinya.
__ADS_1
Alham tak membalas pelukan tersebut, ingin rasanya ia melepaskan tangan yang membelit pinggangnya. Akan tetapi, rasa rindu tak bisa ia sanggah. Dibiarkannya tangan mulus itu memeluknya.
Isak tangis yang keluar dari mulut Sintia membuat Alham dilema. Tak ingin larut dalam perasaan yang kian membuncah, Alham melepaskan tangan wanita tersebut.
"Apakah kamu sering datang ke sini?"
Hanya itu yang keluar dari mulutnya setelah beberapa saat bungkam. Pasalnya ia tak pernah lagi datang ke apartemen tersebut dan tiba-tiba saja saat ia datang langsung mendapati istri dari kakak sepupunya berada di tempat itu.
Sintia mengangguk. "Iya. Aku masih mengharapkan kamu, Al. Aku nggak bahagia dengan pernikahanku," tutur Sintia.
"Jangan gila kamu! Aku takan mau kembali lagi ke kamu. Perihal kamu bahagia aku tak peduli." Bohong jika Alham tak sedih mendapati wanita yang masih bertahta di hatinya terluka. Akan tetapi, ia mencoba acuh agar tak terlalu merasakan perihnya luka itu.
"Apa kamu tak lagi mencintaiku? Tak adakah sedikit saja cinta di hatimu, Al?" tanya Sintia dengan linangan air mata.
"Tidak ada. Cintaku lenyap bersamaan dengan kata sah yang terdengar lantang saat akad nikahmu. Cintaku terbawa hancur bersama harapan yang seketika runtuh tak bersisa. Silakan lanjutkan aktivitasmu, aku pergi."
Sintia tak percaya, secepat itukah Alham melepaskannya? Ia menjerit memanggil nama Alham, tetapi lelaki itu terus melangkah hingga hilang di pintu apartemen.
Menyesal? Sudah pasti. Sintia akan berusaha untuk mendapatkan kembali Alham. Tak peduli jika harus mengorbankan pernikahannya.
...*to...
...b...
...e...
...continue*...
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1