
...Taqabbalallahu minna wa minkum...
...Taqabbal yaa kariim...
...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H/2023 M...
...Minal 'aidin walfaizin...
...Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏🏻...
...Semoga di tahun ini kita kembali menjadi suci. Hati kita bersih, iman kita semakin kuat.🤲🏻😇...
...Happy Reading Guys 😘...
Suara azan yang telah berkumandang mengganggu tidur nyenyak seorang perempuan yang tengah bergelung dalam selimut. Ia perlahan membuka mata, lalu duduk berusaha untuk melawan rasa kantuk.
Perempuan itu adalah Azalia, ia kemudian mengambil gelas yang berisi air putih di meja kecil dekat tempat tidur.
Sebagai seorang hamba, ia pun melaksanakan kewajibannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan walaupun dirinya begitu berlumuran dosa.
Setelah melaksanakan salat Subuh, ia berganti pakaian yang telah ia sediakan sebelumnya dan menyesuri jalanan untuk mencari penjual makanan. Masih terlalu pagi, bahkan langit pun belum sepenuhnya sirna dari sisa pekatnya malam. Namun, rasa lapar telah mendera sejak selesai salat tadi.
Sekitar sepuluh menit dari rukonya, ia menemukan sebuah warung bubur ayam yang tengah bersiap-siap untuk berjualan. Segera ia mempercepat langkah.
"Pak, sudah buka, 'kan?" tanyanya pada seorang laki-laki paruh baya yang tengah menyusun kursi-kursi.
"Eh, iya, Neng. Mau pesan, ya?"
"Iya, Pak." Azalia memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Ya, sudah. Duduk dulu, atuh. Bapak siapkan dulu."
Azalia kemudian duduk setelah laki-laki paruh baya itu berlalu ke belakang. Azalia menggosokkan kedua tangannya guna mengusir sedikit rasa dingin yang ia rasa. Celana tidur panjang dan kaos lengan pendek tak mampu menghalau rasa itu, terlebih warung itu berada di antara deretan pohon beringin.
"Ini, Neng. Silakan dinikmati, Bapak ke belakang lagi, ya," ucap laki-laki penjual bubur tersebut.
"Iya, Pak. Terima kasih."
__ADS_1
"Sami-sami."
Azalia menatap makanan di depannya. Semangkuk bubur ayam masih mengepulkan asapnya dan secangkir teh hangat, juga ada segelas air putih.
Ia kemudian membaca basmalah sebelum mengaduk bubur tersebut. Di sela-sela ia mengaduk, pikirannya kembali mengingatkan dulu saat Rafka merawatnya di rumah sakit.
"Nggak boleh memikirkan dia dulu. Aku harus fokus membahagiakan diriku dan merdeka dari jeratan pernikahan palsu ini," gumamnya kemudian memakan bubur tersebut.
***
Matahari perlahan kembali setelah semalaman berada di peraduannya. Pekatnya malam telah berlalu. Alham bangun dengan perasaan hampa. Biasanya, di nakas ada segelas air yang telah tersedia, tetapi hari ini tak terjadi.
Ia kemudian membasuh muka di kamar mandi, lalu turun menuju dapur. Di dapur, ia kembali dilanda rasa hampa tersebut. Tak ada tanda-tanda seseorang di sana, semua wajan masih tergantung indah di tempatnya, sisa-sisa aktivitas orang pun tak ada tandanya.
Sebulan selalu melihat sosok Azalia di dapur, membuatnya terbiasa akan hal itu. Namun, tak berlaku untuk hari ini. Ia keluar dari dapur berniat bersiap-siap ke kantor dan tak berniat membangunkan Sesil.
***
Hari ini begitu banyak berkas yang harus ditandatangani oleh Alham, bahkan sampai membuatnya merasa lelah.
"Pak, Sekretaris anda bagaimana? Soalnya, yang baru sudah mengundurkan diri lagi. Saran saya, untuk perekrutan kali ini, tambahkan poin pinalti jika memutuskan hubungan kerja sama. Biar ada yang akan bertahan menjadi asisten anda," ujar asistennya.
"Makanya senyum dikit. Dinding ini saja kalau datar sama muka lo."
"Sialan, lo!" serunya. "Untuk saran lo itu, boleh juga. Oh, iya, jangan dulu direkrut yang baru. Aku coba tawarin ke istri aku dulu." Ia kembali menandatangani berkas yang tersisa empat lagi.
Begitulah Alham, ia hanya akan banyak bicara dengan orang yang ia percayai. Seperti pada Raja—sahabatnya sejak SMP—sang asisten.
"Cieee, roman-romannya sudah ada yang kepincut sama istri sendiri, nih. Eh, tapi, gimana sama Sesil? Gue nggak yakin lo jatuh cinta beneran sama anak itu." Jiwa kepo Raja mulai aktif.
"Besok nggak usah masuk kantor. Lo dirumahkan selamanya dari perusahaan ini." Wajah datar Alham membuat Raja menelan saliva.
"Ja–jangan, dong. Berkasnya sudah selesai ditanda tangan? Kalau sudah, saya permisi dulu." Raja langsung mengambil berkas-berkas di meja Alham dan keluar dari ruangan yang melebihi kutub utara tersebut.
Kring! Kring! Kring!
Alham melihat siapa yang menelepon. Tertera nama sang mama di sana. "Halo, Ma?" Sapanya begitu menjawab telepon.
__ADS_1
"Halo, Alham. Kamu lagi di kantor, 'kan? Siang ini datang ke rumah, ya. Makan siang di rumah, jangan lupa ajak istri kamu. Mama tunggu."
"Tapi, Ma—"
"Pokoknya harus datang."
Tut! Tut! Tut!
"Astaga, sudah ditutup! Jadi, aku harus pergi menemui Azalia?" monolognya.
Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, pukul 10:58 WIB. Ia berdiri dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu pergi untuk menemui sang istri.
***
Azalia yang akan keluar dari ruko menatap heran pada sosok yang berjalan ke arahnya. "Kamu sibuk? Ikut aku ke rumah Mama!" Tanpa basa-basi, Alham langsung menarik Azalia.
"Lepasin! Apa-apaan kamu ini!" bentak Azalia seraya menghempas tangan Alham.
"Mama meminta kita untuk makan siang di rumah," ucap Alham dingin.
"Tapi, bukan begini caranya. Kau mau aku teriak dan bilang kalau kamu KDRT?"
Alham berdecak, hanya memanggil Azalia untuk ke rumah orang tuanya saja harus pakai drama. "Ya, sudah. Ayo pergi!" titah Alham dan ia pun berlalu meninggalkan Azalia yang masih bengong.
...***to...
...b...
...e...
...continue***...
...^^^Minal 'aidin walfaizin^^^...
...Mohon disayang, jangan di-ghosting...
Jangan meng-ghosting cerita ini, ya🤭.
__ADS_1
Pantau terus walaupun alurnya kurang menarik dan banyak typo (mungkin)😁