
...Jangan lupa follow author sebelum baca🥰...
...Happy Reading 🔥...
Sebuah ruko bertuliskan Azalia Shop, tampak beberapa orang sedang mengemas barang. Tak terkecuali gadis berkuncir kuda.
"Mbak, Lia. Stok untuk baju gamis warna putih masih ada?" tanya salah satu karyawan pada Azalia yang ikut mengemas barang.
"Coba kamu cek di sana," tunjuk Azalia pada salah satu lemari berisi pakaian perempuan.
Usaha yang terbilang sangat baru itu sudah mulai mendapatkan orderan banyak. Mungkin karena kualitas barangnya yang sangat bagus sehingga banyak peminat.
Jam makan siang hampir tiba. Ponsel Azalia berdering. Tertera nama sang kekasih di layar pipih tersebut.
"Halo, assalamu'alaikum," ucapnya setelah mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, calon makmum."
"Dih, apaan, sih." Azalia tersipu mendengar perkataan Rafka.
"Aminkan, Sayang. Emang kamu nggak mau jadi makmum aku? Hmm?" tanya Rafka di seberang sana.
"Ya, sudah iya. Aamiin," ucap Azalia tulus.
"Sibuk nggak? Nanti makan siang bareng aku, ya? Kangen tahu sama kamu."
Azalia terkekeh mendengar Rafka yang seperti orang putus asa. "Insyaa Allah nggak sibuk. Nanti jemput saja. Aku tunggu," tutur Azalia.
"Baiklah. Semangat kerjanya, ya. Aku beresin pekerjaan aku dulu, baru ke sana. Assalamu'alaikum, calon makmum."
"Wa'alaikumsalam, calon imam."
Keduanya tersenyum bahagia dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
***
Matahari kian meninggi, panasnya terasa menyengat. Rafka menggunakan kacamata hitam untuk menutupi netranya.
"Nando, kalau ada berkas yang harus saya tanda tangan, taruh saja di meja, ya. Saya istirahat siang ini mau keluar," ucapnya pada sekretaris yang sudah papanya siapkan untuk membantu.
"Baik, Pak."
Rafka melangkah memasuki lift yang berada di samping ruangan sekretaris untuk menuju lantai satu. Tiba di sana, semua mata para perempuan tak pernah lepas dari memuji ketampanan dan kejeniusan Rafka. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah dipercayai untuk memimpin perusahaan yang saat ini tenga berkembang pesat.
Mobil yang dikendarai Rafka melaju di antara lalu lalang kendaraan yang saling menyalip, tetapi masih pada batas kecepatan.
"Ini kenapa awan jadi mendung, ya? Perasaan tadi cerah banget," gumam Rafka seraya menurunkan sedikit kaca mobilnya.
__ADS_1
"Sudahlah. Mending aku cepat aja, pasti calon makmumku sudah menunggu." Rafka lupa jika memakai kacamata saat ini. Ia lantas tersenyum mengingat wajah gadis yang sudah mengisi hatinya hampir setahun terakhir.
***
Lima menit mengendarai akhirnya ia sampai. Senyum manis dari seseorang telah menyambut kedatangannya, bahkan sebelum ia turun.
Azalia terpana akan sosok yang baru saja keluar dari mobil. Setelan jas warna abu-abu, sepatu hitam, dan juga kacamata hitamnya sangat cocok berpadu dengan kulit Rafka yang putih. Jangan lupakan rambutnya yang berwarna hitam. 'Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan. Kenapa aku sekarang baru sadar kalau ternyata Rafka sangat tampan,' lirih Azalia dalam hati.
"Aku tahu aku tampan." Celetukan Rafka yang telah berada di depannya membuat gadis itu langsung cepat-cepat merubah tatapannya.
Gadis itu langsung meninggalkan Azalia Rafka. "Dih, narsis. Udah, ah. Ayo, aku sudah lapar ini. Nungguin kamu kayak nungguin kamu buat ngehalalin aku." Azalia langsung menutup mulutnya keceplosan.
Ia berbalik dan menatap Rafka yang tersenyum lebar. "Memangnya sudah siap untuk aku halalin? Aku terserah kamu, Lia," ujar Rafka menatap lekat wajah tegang Azalia.
"Nanti aku pikirkan. Sekarang kita makan dulu. Ayo, jam makan siang hampir habis." Azalia kembali meninggalkan Rafka, tak ingin berlama-lama di situ. 'Jantungku rasanya mau copot. Aaa, pasti pipiku sudah merah sekarang," batin Azalia seraya menutupi kedua pipinya.
"Azalia, Azalia. Gemas aku lama-lama sama kamu." Rafka pun ikut menyusul Azalia dan langsung membukakan pintu mobil untuk kekasihnya tersebut.
***
"Sil, itu bukannya Rafka sama Azalia, ya?"
Sesil bersama Manda saat ini tengah berada di kafe dekat kampus mereka. Alunan musik pop mengiringi makan siang para pengunjung.
"Mereka kelihatan serasi, ya. Jadi pengen punya pacar kayak Rafka. Tuh, lihat, Rafka romantis banget," celetuk Caca yang langsung mendapat pukulan di bahunya.
"Bisa nggak jangan memperkeruh suasana!" seru Manda sambil melotot.
Tangannya terkepal erat dengan rahang mengeras. Harusnya dirinya yang berada di depan Rafka saat ini, bukan Azalia saudarinya.
Ia mencoba memasang senyum palsu agar Rafka tak marah padanya. "Hai, Rafka. Boleh aku duduk?" tanyanya.
Tanpa dipersilakan, ia langs menggeser salah satu kursi ada di dekat Rafka.
Azalia dan Rafka kaget akan kedatangan Sesil yang tiba-tiba. "Ngapain kamu di sini?" Rafka menatap sinis pada Sesil.
"Hei, ayolah. Ini kafe, siapa saja bisa ada di sini. Untuk apa lagi kalau bukan makan, minum, atau sekadar bersantai. Kamu ini lucu, Rafka. Ada-ada saja," ucap Sesil seraya memukul pelan lengan Rafka.
Rafka langsung menyeka bagian yang disentuh Sesil tanpa peduli dengan tatapan kesal oleh orangnya. Ia tersenyum pada Azalia yang diam dengan tatapan yang sulit diartikan oleh pemuda itu.
"Silakan dinikmati, Mbak, Mas." Pelayan telah menyajikan pesanan keduanya.
Kembali, Sesil langsung mengambil makanan dan minuman pesanan Azalia. "Terima kasih," ucapnya tersenyum ramah.
"Sil, itu punya aku. Kamu bisa pesan kalau mau." Raut tak suka terpampang di wajah cantik Azalia yang tanpa polesan make up. Berbeda dengan Sesil.
"Sayang, sudah, ya. Kamu makan punyaku saja. Ini." Rafka langsung menyodorkan makanannya dan sengaja memanggil sayang.
__ADS_1
Gadis yang dipanggil sayang itu menggeleng. "Katanya tadi lapar. Atau mau aku suapin?" tawar Rafka.
"Terus kamu nggak makan? Kalau kamu lapar juga gimana?" tanya Azalia polos.
Rafka tersenyum dan berdiri untuk berpindah di samping Azalia, tepat di depan Sesil. "Aku gampang, nanti bisa pesan lagi. Paling penting sekarang adalah sayangnya aku makan biar asam lambungnya nggak sakit," jawab Rafka lembut sambil mengelus kepala Azalia.
Sesil yang dihiraukan oleh keduanya merasa geram dengan tangan terkepal erat sehingga buku-buku jari nya memutih.
Brak!
Sesil langsung memukul meja dengan keras yang membuat pengunjung menatapnya. Ia langsung pergi begitu saja tanpa peduli bisikan orang-orang.
'Awas saja kalian. Kupastikan, kalau aku tak bisa memiliki Rafka maka siapapun juga tidak bisa, termasuk Azalia,' batinnya penuh emosi.
Kedua temannya langsung menyusul begitu melihat Sesil keluar dari kafe.
"Dih, dia marah," ucap Rafka terkekeh.
"Kamu sengaja?" Azalia menatap Rafka polos. Matanya mengerjap beberapa kali.
"Iya. Biar nggak ganggu kita lagi. Dan, kamu juga sudah membantu aku untuk mengusir dia."
"Aku nggak merasa bantu kamu, deh," tutur Azalia bingung.
"Ya, dengan kamu bersikap seperti tadi itu sudah membantu aku." Rafka tersenyum tulus.
Jauh di lubuk hati Azalia, ia merasa kasian dengan Sesil. Apa dia salah sudah merebut kebahagiaan Sesil? Ia dia salah, seharusnya di posisinya sekarang adal gadia itu dan bukan ia.
"Tapi, kasian, Ka." Azalia langsung sedih ketika pertanyaan itu hadir de benaknya.
"Baik banget, sih. Jadi makin cinta, deh." Rafka menopang wajahnya dengan sebelah tangan sambil memandang Azalia.
Azalia tersipu dan langsung mengalihkan pandangannya. Pipinya terasa panas dan jantungnya kembali berdetak cepat. Ia mencoba untuk bersikap biasa agar bisa makan dengan tenang. Namun, tangannya yang gemetar justru membuat Rafka tertawa.
"Grogi, ya," goda Rafka masih dengan tawanya.
"Tau, ah."
Rafka tertawa menikmati pemandangan di depannya. Rafka kembali memesan makanan dan menikmati alunan musik yang dibawakan oleh penyanyi. Sesekali ia ikut bersenandung kecil mengikuti lirik lagu.
...to...
...b...
...e...
...continue...
__ADS_1
.................
...🎀🖤🎀...