
...Happy Reading 🥰...
Menikah adalah impian setiap orang. Hari di mana bersatunya dua hati yang saling melengkapi. Hari yang membuat semua orang tersenyum bahagia. Menikah bukan hanya menyatukan dua hati hati, tetapi juga menyatukan dua keluarga besar.
Akan tetapi, itu semua tak berlaku bagi kedua mempelai yang baru saja melangsungkan akad nikah beberapa saat lalu. Keduanya berdiri berdampingan, sangat serasi bila orang lain memandang. Namun, senyum yang diperlihatkan adalah senyum palsu.
Baik Azalia maupun Alham tak menginginkan pernikahan ini. Keduanya terpaksa dengan alasan masing-masing. Azalia yang kecewa dengan Rafka dan Alham yang ingin membuktikan pada mantannya bahwa ia telah move on. Pernikahan mereka cukup mewah. Semua kerabat, rekan bisnis, dan keluarga datang memberi selamat.
Sepasang suami istri yang masih terbilang muda datang menghampiri Azalia dan Rafka yang berada di pelaminan. Raut wajah dari wanita itu menunjukkan ketidaksukaan.
"Selamat, Al. Akhirnya, kamu menikah juga," ucap Andre seraya berjabat tangan dengan Alham, lalu beralih pada Azalia.
Ya, sepasang suami istri tersebut adalah Andre dan Sintia. "Selamat. Semoga kalian bahagia," ucap Sintia.
"Iya, terima kasih doanya," balas Alham seraya tersenyum. Sebelah tangannya langsung memeluk perut ramping Azalia. Hal itu sukses membuat gadis yang baru saja berubah status menjadi istri itu kaget. "Kami pasti akan bahagia. Iya, 'kan, Sayang?" Ucapan Alham sukses membuat jantung Azalia berdetak tak beraturan.
Napasnya tercekat. Serasa pasokan udara di dadanya telah habis. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Alham seraya mengelus lembut pipi Azalia. Ia tahu gadis itu tengah gugup.
"Ng-nggak, nggak apa-apa, kok." Ingin rasanya Azalia pergi, tetapi tubuhnya terkunci oleh tangan Alham.
"Kamu kenapa jadi gugup? Padahal malam masih lama, loh." Alham sengaja menggoda Azalia di depan Sintia dan Andre sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Pipi Azalia yang sudah terdapat blush on, kini semakin memerah karena malu. 'Kenapa dengan Pak Alham? Bisa-bisanya dia berbicara begitu,' batinnya.
"Mesranya nanti aja kalau sudah di kamar. Ini masih banyak tamu, loh," celetuk Andre seraya tertawa kecil.
Sintia yang tak tahan melihatnya langsung pergi begitu saja meninggalkan ketiga orang itu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang telah berembun menatap mereka. Embun itu perlahan-lahan turun menjadi tetes bening yang mengaliri pipi. Mata yang memerah itu, kini semakin memerah.
Ya, Rafka hadir di pernikahan Azalia sebagai rekan bisnis dari papanya. Tak hanya itu, kedua orang tuanya pun turut hadir. Bunda Raya sedih melihat anak sulungnya yang harus merelakan kekasihnya bersanding dengan orang lain.
"Ka, kita pulang, yuk! Bunda tiba-tiba nggak enak badan." Bund Raya berbohong karena tak sanggup lagi. Suaminya berada dengan rekan bisnis lain. Sehingga dia yang menemani Rafka.
"Sebentar, Rafka ingin menemui Azalia dulu." Rafka ingin bertemu dengan Azalia untuk yang terakhir kali sebelum ia akan pergi ke luar negeri.
Rafka berdehem begitu sampai di pelaminan. Mengalihkan atensi pengantin baru yang asyik saling bertatapan.
Jantung Azalia berdetak tak karuan, matanya memanas melihat sosok laki-laki yang sampai saat masih mengisi relung hatinya.
"Selamat, ya." Rafka mengulurkan tangannya kepada Azalia.
Dalam benaknya, ia ingin sekali berteriak bahwa gadis yang berbalut gaun putih itu adalah orang yang sangat ia cintai. Ia menatap dalam manik cokelat milik Azalia. Sorot teduh penuh cinta itu tak berubah, masih sama seperti dulu saat mereka bersama.
__ADS_1
Tangan Rafka dibiarkan begitu saja oleh Azalia. Ia kemudian terisak tak mampu menahan sesak. Tak peduli tatapan para tamu yang sedang kebingungan.
Ingin rasanya Rafka merengkuh tubuh ringkih tersebut. Tubuh yang terlihat tegar, tetapi sebenarnya rapuh. Namun, akal sehatnya masih berfungsi dengan baik.
Tak ingin larut dalam perasaan yang telah kacau. Rafka akan menurunkan tangannya, tetapi urung karena sebuah tangan kokoh telah lebih dulu menyambut uluran tangannya. Tangan tersebut tak lain adalah milik suami dari gadis yang sedang menunduk karena terisak.
Nyeri terasa di ulu hati Rafka ketika tangan itu saling bersentuhan. "Terima kasih," sahut Alham seraya tersenyum dan dibalas anggukan oleh Rafka.
"Semoga kalian bahagia." Setelah mengatakan kalimat singkat tersebut, Rafka langsung pergi meninggalkan gedung tempat dilangsungkannya pernikahan Azalia dan Alham.
Bunga berwarna putih dan merah muda yang mendominasi dekorasi pernikahan seolah seperti mengejek Rafka, alunan musik yang dimainkan begitu merdu seperti hinaan baginya. Sungguh malang nasibnya.
Ia telah memantapkan hatinya, meninggalkan negara tempat ia lahir dan dibesarkan juga tempat di mana ia bertemu cinta pertama yang berakhir perpisahan.
'Sakitku buka. tentang kepergianmu. Tapi, tentang siapa yang bersamamu setelah aku.' Rafka melirih dalam hati dengan perasaan yang teramat pedih.
...to...
...b...
...e...
__ADS_1
...continue...
.............