
...Happy Reading 🥳🥳...
Mentari kembali dari peraduannya bersama kehangatannya yang mengiringi kebahagiaan dari keluarga Alham dan Azalia.
Mereka menikmati sarapan pagi bersama dengan sesekali obrolan ringan menjadi pengisi pagi itu. "Mama sama Papa habis ini langsung pulang?" tanya Azalia.
"Iya, Sayang. Sebenarnya Mama masih pengen di sini. Tapi, masih ada tiga hari Alham libur, jadi Mama nggak akan menggangu kalian. Nikmati saja waktu berdua kalian, ya," tutur Mama Tina.
"Baiklah, Ma."
Setelah sarapan, orang tua Alham langsung pergi dan kini tinggallah mereka berdua yang masih berdiri di teras rumah.
"Terus ini kita ngapain?" tanya Azalia.
"Nge-date, mau?" tawar Alham.
"Serius ngajak nge-date?" Goda Azalia dengan tawa meremehkan.
"Mau atau tidak? Kalau nggak mau, berarti kita di rumah aja." Alham berbalik dan meninggalkan Azalia sendirian di teras.
"Dih, ngambek. Gitu doang juga. Serius ngajak bukan, sih?" Niat hati ingin mengerjai sang suami, malah ia sendiri yang kesal. Ia menghentakkan kakinya bak anak kecil.
Alham yang gemas dengan tingkah sang istri pun berbalik dan langsung memeluknya. "Kamu cantik kalau kek gitu, makin cinta aku," rayu Alham.
"Gombal!" pungkas Azalia seraya membuang muka ke samping.
Alham yang makin tidak tahan langsung menggendong istrinya ala bridal style. Namun, baru saja sampai di pintu suara seseorang menghentikan keduanya.
__ADS_1
"Oh, jadi ini kelakuan kamu di belakang aku? Pantas saja aku telepon nggak diangkat, chat nggak dibalas. Gara-gara perempuan ini? Iya?" Emosi Sesil sudah kepalang tanggung melihat interaksi sepasang suami istri di depannya.
"Turunkan aku," lirih Azalia saat Alham masih menggendongnya. Alham pun menurut. "Aku tidak ingin mengganggu kalian, silakan lanjutkan," imbuh Azalia dan pergi meninggalkan keduanya.
Alham menatap punggung istrinya dengan perasaan yang sulit diartikan. 'Semoga kamu percaya padaku, Azalia,' batinnya.
"Kita bicara di kafe dekat minimarket. Kamu duluan saja, aku mau mengambil kunci mobil dulu," ucap Alham.
"Kita bareng saja."
"Nggak!" Alham langsung meninggalkan Sesil yang menggeram kesal.
"Azalia? Azalia?" Alham mencari sang istri di dalam kamar dan tak menemukannya. Ia kemudian beralih ke kamar yang sebelumnya ditempati Azalia.
Sementara, Azalia yang mendengar decitan pintu tak peduli dan tetap fokus pada ponsel di tangannya. Suara sang suami yang memanggilnya pun tak ia hiraukan.
"Nggak!" tukas Azalia.
"Terus kenapa aku panggil nggak nyahut?" Alham masih dengan kesabarannya menatap Azalia.
"Lagi seru nonton." Azalia menatap suaminya. Bukannya takut, ia justru terkekeh melihat ekspresi datar pria tampan di depannya. "Sejak kapan aku berhadapan langsung dengan tembok? Perasaan kasur ini jauh dari tembok," canda Azalia.
"Kesal aku lama-lama sama kamu. Sudahlah, mending aku nge-date sama Sesil."
"Jadi, perasaan kamu ke aku apa? Kamu bohongi aku?" Netra cokelat milik Azalia telah berkaca-kaca membuat Alham tak tega.
Azalia tak ingin dijadikan sebagai pelampiasan setelah ia berusaha menguatkan diri untuk memulainya semuanya dari awal. Ia juga ingin seperti orang lain yang disayang dan dicintai sepenuh hati. Ia tak ingin salah orang saat sudah sepenuhnya memberikan kepercayaan pada orang lain.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Sudah jangan nangis lagi, aku minta maaf." Alham merengkuh tubuh ringkih sang istri sambil mengusap punggungnya. "Aku minta maaf," sambungnya.
"Aku izin keluar. Apa boleh?" tanya Alham hati-hati.
Azalia mendongak. Hidung dan matanya memerah karena menangis. "Mau ke mana?" Azalia menatap polos suaminya.
"Mau ke kafe dekat minimarket yang di depan itu. Mau menyelesaikan apa yang sudah aku buat. Mau ikut?" Azalia menggeleng. "Ya, sudah. Nanti agak siangan kita jalan, ya. Kamu mau nitip sesuatu?" imbuh Alham.
"Tidak ada. Tapi, cepat pulang. Aku hanya sendirian di rumah."
"Iya. Aku pergi, ya."
Alham mencium dahi sang istri begitu lama, seolah ia tak ingin melewatkan sedetik waktu mereka berdua. Namun, apa yang ia mulai harus segera diselesaikan sebelum terlambat seperti kata papanya.
Azalia menatap punggung sang suami hingga menghilang di balik pintu. "Semoga aku benar dan kamu tidak akan mengkhianati aku lagi," gumamnya.
...to be continued .......
*HuaaaðŸ˜
maafkan author yang gak bisa double up, padahal pengen double upðŸ˜
Tapi, walaupun begitu, akan tetap author usahakan untuk tetap up setiap hari.
Selamat beristirahat buat kalian semua 🥰🥰
tetap stay tuned di cerita ini, ya.😘*
__ADS_1