
Sebelumnya, author minta maaf karena jarang update. dikarenakan author adalah seorang guru dan saat ini sedang mengikuti bimtek di provinsi, oleh karena itu author update sebisa mungkin. Semoga kalian tidak meninggalkan author 🙏🏻🥺.
Kalian adalah penyemangat author 😘😘
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
...Happy Reading Guys...
Setelah bersiap-siap, sepasang suami istri yang baru saja membina kehidupan rumah tangga mereka terlihat saling bergandengan tangan dari mulai keluar kamar hingga tiba di teras mobil.
Alham membuka mobil depan untuk mempersilakan sang istri. "Silakan, Tuan Putri," ucapnya seraya memegang pintu mobil.
"Terima kasih," balas Azalia seraya tersenyum.
Senyum yang begitu manis membuat pria tinggi itu terpana. "Cantik," lirihnya pada sang istri yang telah duduk manis. Ia pun membantu memasangkan sabuk pengaman.
Pandangan keduanya bertemu dan terkunci beberapa saat. Irama jantung yang tak normal mereka rasakan, Alham menelan saliva saat netranya tertuju pada bibir tipis yang dipoles dengan lipstik merah muda milik sang istri. Ia menggeleng agar tak mencium wanita di depannya walaupun mereka telah halal melakukannya.
Alham langsung berdiri, tetapi tak sengaja kepalanya terbentur kap mobil dan membuatnya mengaduh dengan keras. Sementara, Azalia yang kaget segera membantu sang suami.
Ia menyingkirkan tangan suaminya yang memegang dan sekarang sedang jongkok di samping mobil. "Mana aku lihat dulu," ucap Azalia.
"Sakit banget?" tanya Azalia saat Alham masih menunduk dan hanya diam. Ia semakin panik saat ketika tak ada respon apapun.
__ADS_1
"Pak? Pak? Pak Alham? Pak? Jangan bercanda, deh!" seru Azalia seraya menggoyang pelan bahu suaminya.
Alham sudah tak tahan untuk membohongi Azalia langsung mendongak dan ia tertegun karena perempuan berbaju biru itu telah menangis. "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Kamu yang kenapa? Aku panggil diam saja."
"Kamu khawatir sama aku?" tanya Alham lagi.
"Kamunya diam aja, gimana aku nggak panik." Alham tersenyum, lalu berdiri dan memeluk sang istri. Ia mengusap lembut kepala Azalia yang menempel di perutnya. "Aku minta maaf, Sudah, ya. Jangan nangis lagi, aku nggak apa-apa," imbuhnya.
"Kalau nggak berhenti nangis, kita nggak usah jalan. Di rumah saja." Azalia mendongak dengan tatapan jengkel. "Oh, iya, ganti panggilan kamu ke aku. Masa suami sendiri dipanggil Pak," sambung Alham.
"Jadi, panggil apa?" tanya Azalia polos.
"Apa saja, asal jangan Pak."
"Coba panggil aku selain Pak. Baru kita jalan," ucap Alham.
"Masa gitu? Ok, ini kita jadi jalan atau tidak? Kita dari belum berangkat." Azalia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kamu mau jalan, kita jalan. Kalau tidak, berarti tidak," ujar Alham santai.
Azalia melongo. 'Apa-apaan ini?' batinnya kesal. "Sudahlah, nggak usah pergi. Awas, aku mau masuk!" serunya mendorong Alham.
__ADS_1
Azalia masuk dengan perasaan dongkol. Bibirnya komat-kamit tak jelas. Ia begitu kesal dengan Alham karena terkesan seperti mengerjainya.
"Loh, Azalia! Azalia! Hey!" panggil Alham, tetapi dihiraukan oleh sang empunya nama. Ia pun mengejar sang istri.
...***...
Sang surya terus meninggal seiring berjalannya waktu. Kehangatannya mulai berganti panas. Sama seperti seorang perempuan yang saat ini tengah duduk di kursi sofa kamar sembari bersedekap. Wajahnya cemberut dan mengabaikan panggilan dari luar kamar.
"Azalia, buka pintunya. Kamu mau ke mana? Kita akan ke sana. Buka pintunya, Sayang. Jangan ngambek gini," ujar Alham sembari mengetuk.
"Sayang, buka pintunya, dong. Kamu nggak mau ke toko lihat teman-teman kamu? Ngasih oleh-oleh mereka." Alham terus membujuk sang istri.
Ceklek
"Ke toko," ucap Azalia pada intinya.
Alham melongo. "Serius mau ngajak nggak, sih?" kesal Azalia.
"Jadi, dong. Sini, aku bawa barangnya." Alham mengambil alih bawaan di tangan Azalia.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
__ADS_1
...to be continued ........
Ini author up lagi karena sub judulnya tidak cocok.🤭