Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Lamaran


__ADS_3

...Happy Reading Guys😘...


Setelah kejadian di kantor Alham, Azalia langsung dijemput oleh sopir untuk tinggal di rumah. Sudah sejak kemarin Azalia mengurung diri dan terus menangis. Ia berusaha menghubungi Rafka, tetapi ponsel pria itu tak bisa dihubungi.


Azalia semakin frustasi hingga melempar ponselnya ke sembarang arah dan berakhir di lantai dekat pintu kamarnya. "Kenapa, ini harus terjadi? Kenapa kebahagiaan yang baru saja aku rasakan harus sirna dalam sekejap mata? Kenapa Tuhan? Kenapaaa?!" raungnya seraya melempar benda-benda yang ada di meja rias.


Ia tak ada bedanya dengan Rafka. Keduanya sama-sama kacau, sama-sama merasa hancur akan takdir yang seolah mempermainkan mereka.


Berbeda dengan Sesil, ia justru bahagia. Puas dengan rencananya yang berhasil. 'Dewi fortuna kayaknya lagi berpihak ke gue. Sekarang silakan menikmati patah hati,' batinnya saat keluar dari kamar untuk menuju kampus.


***


Sementara, di rumah Alham, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk memberitahu bahwa ia akan menikah. Ia merasa seperti oksigen tak lagi mengisi rongga dadanya pagi ini.


Sang mama yang melihat gelagat aneh dari Alham pun menatap heran. "Ham, kenapa sarapannya hanya di aduk-aduk? Kamu nggak suka sarapan nasi goreng hari ini? Mau mama buatkan roti panggang? Kamu juga kayak orang kurang tidur," cecar Mama Tina.


"Hmm? Ng–nggak, Ma. Terima kasih, ini sudah cukup." Alham berusaha untuk menyuapkan nasi goreng tersebut walaupun ia terasa enggan untuk makan.


Segera ia menaruh kembali sendok dan menatap kedua orang tuanya bergantian. "Ma, Pa, ada yang mau aku omongin," ucapnya serius.


Walau bagaimanapun, ia harus bertanggung jawab. Ia tak bisa lari dari kenyataan dan terlebih, Pak Rusdi—ayah Azalia—terus mendesaknya semalam agar segera menikahi putrinya.


"Mau ngomong apa? Kayaknya serius," sahut Mama Tina.


"Aku mau menikah. Mama sama Papa harus melamar gadis itu untukku," ucap Alhm datar.


Perkataan Alham membuat kopi yang baru masuk ke dalam mulut papanya langsung menyembur karena kaget. Kerutan di dahinya semakin banyak saat menatap anaknya. "Pelan-pelan, Pa." Sang istri mengelus pundaknya.


"Papa nggak salah dengar?" tanya Papa Bayu.


"Nggak."


"Wah, akhirnya kamu menikah juga. Mama senang mendengarnya. Kapan kamu mau membawa Mama sama Papa ke rumahnya?" Berbeda dengan sang papa, mamanya merespon dengan raut bahagia.


"Secepatnya, kalau bisa besok kita ke sana. Hari ini Alham banyak pekerjaan. Alham berangkat kerja dulu." Pria itu melangkah meninggalkan ruang makan dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


"Mama senang, Pa. Akhirnya Alham bisa melupakan sintia," ucap Mama Tina seraya menatap punggung anaknya.


"Ya, Papa juga senang. Semoga keputusan dia benar dan ini akan menjadi pintu menuju kebahagiaannya."


'Nggak pernah terpikirkan kalau aku akan menikahi mantan mahasiswiku. Itu juga karena sebuah ketidaksengajaan. Kalau memang jodoh kenapa harus dengan jalan seperti ini, sih.' Alham menggerutu dalam hatinya.


Alham tak merasa heran lagi dengan jalanan ibukota yang sudah mulai macet untuk jam setengah tujuh. Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan tetap pada jalurnya; tak menyalip kendaraan lain.


***


Pagi menjelang, arunika memancarkan sinarnya. Membelah pekatnya malam yang kelam bagi sepasang anak adam yang terkurung dalam perasaan hancur.


Hari ini, Azalia harus siap untuk menerima lamaran laki-laki yang tak ia cintai. Tak ada acara lamaran mewah. Semua hanya sederhana dengan dekorasi pelaminan kecil bertuliskan Azalia dan Alham berbingkai bunga-bunga berwarna merah muda dan putih.


Azalia tak menyangka, ini hanya berselang dua hari dari kejadian itu. Papanya tak main-main dan langsung meminta untuk mereka segera menikah.


Azalia menangis, meratapi kisah percintaannya dengan Rafka yang harus kandas. Ponsel Rafka masih tak aktif, mencoba menelepon bundanya Rafka pun percuma. Semua seolah menutup komunikasi dengannya. Tak ada yang mau mendengarkan dirinya hingga ia memutuskan untuk menerima lamaran tersebut.


Balutan kebaya berwarna biru dan rambut yang disanggul membuat ia terlihat cantik. Namun, wajahnya menyiratkan kesedihan yang tiada tara. Terlebih, tak ada keluarga besar yang hadir. Azalia berpikir mungkin karena ini terlalu mendadak.


Dari dalam kamar, ia mendengar deru mobil yang memasuki pekarangan rumahnya. Ia mengintip dari balik tirai jendela kamarnya di lantai dua. Tak berani untuk sekadar membuka sedikit saja pintu balkon kamarnya itu.


***


"Loh, loh, Pak Rusdi?"


"Pak Bayu?"


Alham yang berdiri di belakang orang tuanya menatap bingung dua orang pria di depannya yang saling berpelukan. Sementara, Sesil terpana akan ketampanan Alham. Tubuh tingginya tampak gagah dengan balutan jas warna hitam. 'Gila. Ini beneran Pak Alham? Ganteng banget sumpah, beda banget sama style-nya waktu jadi dosen. Kok, rasanya gue jadi menyesal sudah menjebak Azalia. Sudah pacaran sama Rafka yang menjadi idola kampus, sekarang dapat calon suami yang ganteng pula. Tahu gini mending gue aja yang menjebak diri sendiri,' batin Sesil menggerutu.


"Jadi, gadis yang ingin dilamar oleh Alham itu anak anda, Pak Rusdi? Apa gadia cantik ini?" tanya Pak Bayu setelah melepas pelukannya dan menatap pada Sesil.


"Iya. Tapi, bukan dia. Oh iya, mari silakan masuk," ajak Pak Rusdi—papa Azalia—setelah saling berjabatan tangan di antara mereka.


Gadis berambut cokelat itu mengepalkan tangannya. Kabut kesal tampak menutupi netra hitamnya. Ia menjadi kesal dan marah sendiri hanya karena diperkenalkan bukan sebagai calon istri Alham. Entah kenapa, hatinya menjadi tak terima Azalia akan dimiliki oleh pria tampan seperti Alham. Ia tak lagi memikirkan obsesinya pada Rafka. Ia lantas menyusul orang tuanya dan ikut bergabung di ruang tamu yang menjadi tempat dilaksanakannya lamaran tersebut.

__ADS_1


"Sebelumnya, saya tidak menyangka kalau Alham anak saya, akan memilih anak Pak Rusdi untuk menjadi istrinya. Tujuan kami ke sini, tentunya sudah diketahui oleh Pak Rusdi dan keluarga. Kami ingin meminang anak Pak Rusdi untuk menjadi istri Alham. Tapi, kata Bapak, bukan gadis ini yang menjadi calon istri Alham. Kalau bisa, kami sebagai orang tua Alham ingin melihat gadis yang dipilih Alham. Bisa, Pak?" Pak Bayu tak pernah tahu jika rekan bisnisnya memiliki dua orang putri. Ia hanya mengetahui bahwa pria yang seumuran dengannya itu memiliki seorang putri.


"Iya, saya sebagai orang tua sudah mengetahui hal itu. Mohon untuk bersabar, ya." Pak Rusdi menatap Sesil. "Sesil, tolong panggilkan Azalia," pintanya.


Sesil dengan patuh menuju lantai dua di mana kamar Azalia berada.


Alham masih duduk dengan tenang, pikirannya saat ini tak menentu. Ingin membatalkan, tetapi sudah terlanjur sampai tahap ini. Ia tak ingin membuat keluarganya malu, terlebih ia yang meminta kedua orang tuanya meminang Azalia untuknya.


Sang mama pun sama halnya dengan dirinya, duduk dengan begitu anggunnya. Ia sebenarnya merasa sedikit tak nyaman dengan tatapan dari calon besannya. Istri dari Pak Rusdi itu menatap dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


***


Tok! Tok! Tok!


"Lia, lo dipanggil. Nggak usah buat drama nggak mau turun. Capek bolak-balik di tangga," ucap Sesil kesal.


Ceklek!


"Iya." Azalia tampak tak bersemangat. Riasannya yang natural tak bisa menutupi matanya yang sedikit merah dan sembab.


"Lo nangis? Drama banget, lo. Lo itu harusnya bersyukur bisa dapat calon suami yang ganteng banget. Gue itu heran, lo pakai pelet apa, sih? Kok, bisa dua laki-laki ganteng bisa suka sama lo," ucap Sesil sambil bersedekap.


"Astaghfirullah, aku nggak pernah pakai begituan. Hal ini terjadi juga gara-gara kamu yang meminta aku untuk mengambil barang kamu." Azalia berkata benar.


"Jadi lo nuduh gue yang salah gitu? Sadar diri, dong. Emang lo-nya aja yang tukang selingkuh, sama kayak nyokap lo. Ibaratnya lo itu buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Sesil tertawa sinis.


Azalia mengepalkan tangannya. Ia akan menampar Sesil, tetapi urung karena mama tirinya tiba-tiba muncul dan memegang tangannya yang terangkat.


"Berani kamu menampar Sesil, kamu akan berhadapan dengan Mama. Nggak peduli saat ini sedang ada tamu," tekan Mama Lana. "Sekarang kamu turun! Mereka sudah menunggu kamu dari tadi! Jangan berlagak seperti seorang putri!" perintahnya seraya menghempaskan tangan Azalia yang ia genggam, lalu kembali bergabung di bawah dengan Sesil yang melangkah di belakangnya.


...to...


...b...


...e...

__ADS_1


...continue...


.............


__ADS_2