
...Happy Reading π...
...jangan lupa follow author ...
Sang surya perlahan menepi, selendang jingga mulai menghiasi langit. Di sepanjang jalan nampak kendaraan berlalu lalang, saling menyalip agar bisa segera sampai di tem tujuan.
"Loh, ini bukannya jalan menuju rumah aku?" Rafka bingung, pasalnya gadis di sampingnya memandu laju mobilnya ke arah menuju kediamannya.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Azalia seraya menoleh.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu mau ke rumah aku?" Rafka menaikkan sebelah alisnya sambil melirik sekilas Azalia.
"Memangnya kenapa? Salah? Kamu yang bilang sendiri tadi, apa yang nggak bisa buat kamu," ucap Azalia menirukan gaya dan suara Rafka. "Masa cuma aku suruh bawa mobil kamu sesuai arahan aku aja banyak protes. Kalau nggak suka bilang, biar aku cari taksi buat ke rumah kamu. Gitu aja repot," sambung Azalia dengan bersedekap.
"Ya, nggak. Aku nggak merasa direpotkan, kok. Justru aku senang kamu mau main ke rumah. Apalagi Bunda, pasti lebih senang," tutur Rafka lembut.
"Ya, 'trus kenapa kamu kayak protes gitu aku arahin ke rumah kamu?" Azalia menatap sengit ke arah Rafka.
Rafka yang melihatnya merasa susah untuk menelan salivanya sendiri. 'Astaga, apa aku salah ngomong? Kok, dia jadi marah gini. Apa lagi pms, ya? Galaknya melebihi singa ini, sih,' gumam Rafka dalam hati.
"Aku nggak marah, kok. Ya sudah, aku minta maaf. Aku salah. Sekarang kamu maunya apa biar aku dimaafkan?" Rafka lebih mengalah ketimbang harus adu mulut dengan pacarnya.
"Dipercepat mobilnya, biar segera sampai," jawab Azalia.
"Baik."
Rafka langsung menambah kecepatan mobilnya sesuai arahan Azalia. Namun, gadis itu kembali berteriak dan memukulnya dengan tas selempang yang di selalu dibawa Azalia.
Rafka mengaduh karena memang terasa sakitnya dan langsung menurunkan kecepatan mobilnya. "Aduh," keluhnya seraya mengusap lengan atas yang terasa perih dan panas.
"Kamu kalau mau mati sekarang jangan ajak-ajak aku! Bukan begini juga kalau kamu ingin segera bertemu Tuhan!" seru Azalia sambil melotot ke arah Rafka.
Jantungnya dirasa hampir copot karena kelakuan Rafka. Tanpa berpikir bahwa itu juga adalah kemauannya.
'Salah lagi, 'kan' lirih Rafka dalam hati. "Tadi kamu bilang dipercepat. Giliran dipercepat kamu marah." Rafka mencoba membela diri dengan selembut mungkin.
"Tapi, bukan cepatnya melebihi pembalap, Rafka Sanjaya!" ucap Rafka penuh penekanan.
"Tapiβ"
"Tapi, apa?"
"Iya-iya aku minta maaf. Aku salah lagi. Sekarang kamu maunya kecepatan mobil ini berapa? Ini sudah mau Magrib, loh," ujar Rafka mencoba menahan kekesalan.
__ADS_1
"Terserah kamu." Azalia masih kesal karena Rafka belum menjawab pertanyaannya yang di depan toko kue tadi.
'Pasal satu, perempuan tak pernah salah. Pasal dua, perempuan selalu benar. Pasal tiga, jika perempuan salah, kembali ke pasal satu dan dua. Apes, apes," keluh Rafka dalam hati.
***
Setibanya di rumah Rafka, bundanya begitu bahagia karena kedatangan mereka. Seorang gadis kecil langsung menyambut dan memeluk Azalia.
"Kakak Lia. Akhirnya, Kakak datang lagi ke sini. Cahya kangen tahu," ucap Cahya.
"Kakak juga kangen sama kamu. Bunda ada?" Gadis kecil berambut hitam panjang itu mengangguk.
Keduanya asyik tanpa peduli pada pemuda yang saat ini tengah menggerutu. Wajahnya semakin kesal saat ia ditinggal begitu saja oleh dua perempuan yang usianya terpaut jauh.
"Bunda lihat, siapa yang datang."
Sang bunda yang tengah asyik memasak dibantu oleh asisten rumah tangga menoleh. Senyumnya terkembang saat tahu siapa yang datang.
"Eh, Azalia. Duduk dulu, Sayang." Bunda Raya menarik tangan gadis itu menuju salah satu kursi makan.
"Oh, iya, Bun. Ini tadi aku singgah di toko kue. Kebetulan lewat situ. Tapi, aku nggak tahu Bunda suka atau tidak." Azalia menyerahkan satu kantong plastik putih bertuliskan nama toko kue.
"Aduh, kenapa harus repot-repot, sih. Kamu datang saja Bunda sudah senang. Terima kasih, loh. Oh, iya, sebagai gantinya kamu makan malam di sini, ya," pinta Bunda Raya.
"Boleh. Ayo."
Keduanya asyik mengobrol sambil sesekali Bi Eti ikut menimpali. Rafka yang melihat itu merasa bahagia. Ia ingin segera melamar Azalia selepas wisuda nanti.
Rafka tak menyangka jika dirinya akan takluk pada gadis cantik dan baik. Namun, selalu mendapat kekerasan fisik. Mungkin ini cara Tuhan untuk membawa Azalia dari kubangan kesedihan yang selama ini membasahi dirinya.
Pemuda beralis tebal itu lantas meninggalkan dapur dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri, begitupun si gadis kecil yang berkuncir kuda.
Azalia sendiri hanya mengetahui bahwa ayahnya Rafka adalah seorang CEO yang saat ini perusahaannya sedang berkembang pesat. Azalia tak mempermasalahkan hal itu, cukup bagi dia mengenal orang tua Rafka sudah cukup membuat hatinya yakin akan ketulus Rafka.
Dengan rumah mewah dan mobil mewah, Azalia sudah bisa menebak siapa keluarga Rafka. Akan tetapi, ia tak membutuhkan harta itu, melainkan kebahagiaan. Andaikan Rafka berasal dari keluarga sederhana pun ia akan menerima. Baginya, buat apa bergelimang harta kalau kebahagiaan tak pernah ada di dalamnya.
Kata orang, hidup itu harus realistis. Kita semua membutuhkan uang bukan hanya sekadar cinta. Azalia tak menampik hal itu, hanya saja ia ingin merasakan apa itu kebahagiaan dan bagaimana dicintai juga mencintai. Harta, tahta, semua bisa dicari. Namun, kebahagiaan? Siapa yang bisa menjamin ada harta maka kebahagiaan akan hadir. Tak ada yang bisa menjamin hal itu, kecuali Sang Maha Kuasa.
***
Sang surya telah kembali ke peraduannya beberapa saat lalu. Kini, gelap telah memayungi alam semesta dan gemerlap bintang menghiasa dengan indahnya.
Di ruang makan, semuanya sangat menikmati hidangan yang ada. Sesekali terdengar denting sendok yang bergesekan dengan piring.
__ADS_1
"Lia, kamu nggak usah pulang, ya. Menginap saja di sini. Mau, 'kan?" tanya Bunda Raya menatap gadis yang berada di samping Rafka.
"Aku izin sama Papa atau Mama dulu, ya, Bun. Takutnya malah dicariin," jawab Azalia.
"Baiklah. Oh, iya, Rafka kamu ke apartemen saja malam ini kalau Azalia jadi menginap. Bunda nggak mau kamu ada di sini," ujar Bunda Raya.
"Lah, lah, Bunda ngusir Rafka? Bunda sudah tidak sayang lagi sama Rafka? Jahat banget Bunda, mah. Ayah, apa Ayah juga sama seperti Bunda? Mengusir Rafka dari rumah ini?" cecar Rafka penuh dramatis.
"Kak, perasaan Bunda nggak ngusir, deh. Cuma bilang Kakak ke apartemen malam ini. Mungkin Bunda ada alasan untuk itu. Lebay banget jadi orang. Malu dikit napa," timpal Rifki yang disetujui oleh Bunda Raya.
"Itu namanya diusir secara halus dodol!" Rafka menatap kesal ke adiknya.
"Dodol? Enak, tuh. Aku juga mau," celetuk Cahya.
"Sudah-sudah, biar Ayah sama Bunda yang ke apartemen kamu." Sang Ayah yang sejak tadi diam ikut menimpali. "Biar kita bisa bulan madu lagi, Sayang," imbuh Ayah Azka seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah sang istri.
"Idih, Ayah narsis," ucap anak mereka membuat Ayah Azka tertawa.
Azalia menatap haru kepada keluarga Rafka. Ia juga ini merasakan kebahagiaan seperti ini. Hatinya sakit mengingat ibu kandungnya berselingkuh dari papanya dan membuat ia menjadi korban amukan atas dendam dan sakit hati papanya yang masih tertanam.
Cerita itu ia ketahui dari papanya langsung saat ia dipukul waktu SMA. Jika bisa memilih, mungkin ia akan memilih untuk tak dilahirkan ke dunia ini yang menurutnya sangat kejam.
Makan malam itu berlangsung dengan sangat hangat karena diiringi beberapa candaan dari Rafka dan juga ayahnya.
Azalia telah meminta izin dan mengatakan akan menginap di rumah temannya. Ia pikir, papanya akan marah besar. Namun, papanya justru cuek dan hanya merespon dengan deheman saja.
***
'Seandainya kamu tahu, Lia. Papa sangat menyayangi kamu. Tapi, bayangan wajah ibu kamu yang berselingkuh di depan mata Papa membuat hati Papa kembali sakit. Maafkan Papa yang selama ini malah menyakitimu dan membiarkan ibu tiri kamu ikut menyiksa. Maafkan Papa, Nak. Maafkan, Papa,' batin Pak Rusdi menangis. Air matanya juga ikut keluar dan segera ia hapus.
Jauh di lubuk hati lelaki itu, hatinya berusaha untuk mengalahkan egonya. Namun, sakit hati itu justru lebih dominan. Bohong jika ia mengatakan tak sayang pada Azalia. Bohong jika ia mengatakan sangat membenci mantan istrinya. Nyatanya, hati lelaki paruh baya itu merasakan sakit atas sikapnya yang arogan kepada anak kandungnya dan lebih memilih menyayangi anak tirinya, Sesil.
Malam itu, hanya desir angin yang menemaninya dan sebatang rokok yang telah menyala di ujungnya. Menikmati embusan belaian sang bayu di tubuh kekarnya yang masih terlihat kuat.
...to...
...b...
...e...
...continue...
......................
__ADS_1
...π€ππ€...