Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Sesil


__ADS_3

...๐ŸHappy Reading ๐Ÿ...


Sebulan telah berlalu, kehidupan rumah tangga Azalia dan Alham tak bisa disebut sebagai rumah tangga pada umumnya. Keduanya masih tidur terpisah, bahkan untuk keuangan mereka mencari nafkah masing-masing. Alham sama sekali tak memberikan Azalia uang. Entah bagaimana pola pikiran laki-laki berusia tiga puluhan itu.


Pagi hari, Azalia sibuk berkutat di dapur. Ya, dia selalu membuatkan sarapan untuknya dan sang suami. Ia tak menaruh dendam ataupun benci. Walau bagaimanapun, suami adalah nakhoda dalam rumah tangganya. Ke mana bahtera rumah tangga mereka berlabuh, semua tergantung pada sang suami.


Nasi goreng dan telur mata sapi menjadi menu masakan Azalia pagi ini. Aromanya menguar mengisi ruang dapur. Setelah setengah jam berkutat dengan alat memasak, kini ia akan pergi mandi untuk bersiap-siap ke toko.


***


Azalia melihat jam di dinding, jam sudah menunjukkan pukul 06:45 WIB. Biasanya Alham akan turun untuk sarapan, tetapi kali ini belum juga kelihatan ia akan keluar dari kamar.


"Tumben," gumam Azalia seraya mengotak-atik ponselnya.


Tak berselang lama, orang yang ia risaukan mendekati meja makan. Azalia berpikir Alham akan sarapan, ternyata ia salah. Sang suami hanya mengambil air minum yang sudah tersedia. Setelahnya pergi tanpa berkata-kata.


"Pak, bentar. Kenapa tidak sarapan dulu?" tanya Azalia yang berjalan di belakang Alham.


"Saya tidak berselera," sahut Alham dingin.


Azalia tak lagi banyak bertanya, ia terus memandangi suaminya hingga menghilang di depan pagar bersama mobil yang ia kendarai.


"Ada apa dengannya? Apa ada masalah di kantor?" Azalia masih terpaku di teras rumah. "Makanannya aku bawa ke toko sajalah, daripada mubazir," gumam Azalia.dan masuk kembali ke dalam rumah.


***


Matahari telah meninggi, jam makan siang akan tiba. Alham rehat sejenak dari rutinitasnya setiap hari. Memeriksa file dan menandatangani berkas penting perusahaan. Ia memijit pelipisnya seraya memejamkan mata sejenak.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Masuk?" sahutnya tanpa membuka mata.


"Hai, Kakak Ipar. Sibuk, nggak?"


Suara seorang perempuan membuat Alham membuka mata dan mengernyit melihat siapa sosok tersebut. "Kamu bukannya, Sesil?" tanyanya.


"Iya, benar." Sesil langsung duduk di kursi sofa tanpa dipersilakan.


Rok yang dikenakan oleh Sesil tampak sangat pendek sehingga memperlihatkan kakinya yang jenjang dan sebagian pahanya. Alham mengalihkan pandangannya. "Lain kali perbaiki pakaian kamu. Di sini bukan diskotik." Sindiran Alham membuat Sesil mengepalkan kedua tangannya.


"Pakai itu untuk menutupi paha kamu. Paha ayam bahkan lebih mahal daripada paha kamu." Alham melempar jasnya l dan tepat mengenai Sesil.


"Ada keperluan apa kamu ke sini?" Tatapan Alham yang tajam bak elang mampu membuat bulu kuduk Sesil merinding.


Sesil menarik napas perlahan dan mulai melancarkan aksinya. "Santai sedikit Kakak Ipar. Aku ke sini ingin meminta bantuan. Skripsi aku sering ditolak oleh dosen pembimbing. Bisakah Kak Alham membantuku?" Suara Sesil dibuat semerdu mungkin. Ia lantas berdiri dan beralih duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan meja kerja Alham.


"Oh, yakin tidak ingin membantu saya? Saya tidak yakin kalau Bapak bisa menghentikan saya untuk memberi tahu kepada orang tua Bapak alasan menikahi Azalia. Apa jadinya kalau mereka tahu, Bapak menikah karena berbuat hal tak senonoh di kantor sendiri." Sesil bersedekap menantang pria di depannya. Ia harus bisa memiliki suami dari kakak tirinya ini.


"Kamu mengancam saya?!" Rahang Alham mengeras, tatapannya nyalang pada sosok gadis yang berstatus sebagai adik iparnya.


"Saya tidak mengancam Bapak, ya. Saya berusaha bernegosiasi dengan Bapak. Bapak bantu saya dalam menyelesaikan skripsi, maka rahasia itu akan aman terkendali." Sesil meniup kukunya seolah dialah penguasa di ruangan tersebut.


"Darimana kamu tahu kejadian itu?" Tak ada yang tahu tentang kejadian itu selain dirinya, Azalia, Rafka, dan ayah mertuanya. Mungkinkah seseorang memberi tahu Sesil.


"Itu bukan inti dari pembicaraan kita. Jangan mengalihkan pembicaraan. Jadi, bagaimana? Kalau sepakat, mulai malam ini saya akan ke rumah Bapak untuk bimbingan. Tidak ada salahnya jika saya menginap, 'kan?"

__ADS_1


'Sialaaan! Pasti Azalia yang memberi tahu Sesil. Awas saja kamu, Azalia. Aku akan buat perhitungan sama kamu. Gara-gara kamu aku harus mengikuti keinginan gadis gila seperti Sesil!' batin Alham marah.


"Bagaimana? Setuju atau tidak? Saya butuh jawabannya saat ini. Saya tidak ingin menunda lagi karena saya selalu di desak sama Papa saya."


Alham menarik napas kasar, lalu mengangguk dengan pasrah sebagai jawaban. "Baiklah, saya akan membantu kamu. Tapi, ingat untuk tidak membocorkan masalah ini ke orang lain terutama kepada orang tua saya! Kalau sampai kamu mengingkari, kamu akan tahu akibatnya!" ucap Alham penuh penekanan.


"Hohoho, Bapak tenang saja. Saya jamin itu tidak akan terjadi. Jangan terlalu galak, nanti gantengnya hilang. Babay, Kakak Ipar. Sampai jumpa nanti malam, terima kasih untuk jasnya." Sesil mengedipkan sebelah matanya sebelah berbalik dan meninggalkan ruangan Alham dengan senyum penuh kemenangan.


Ia membawa jas Alham dan berniat akan mengembalikannya malam nanti.


Alham mengepalkan kedua tangannya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tak habis pikir, kenapa ia harus terjebak oleh dua gadis kakak beradik yang notabene adalah mantan mahasiswinya.


...to...


...b...


...e...


...continue guys...


...............


*Masih kurang panjang, ya?


Author sangat sibuk akhir-akhir ini makanya buatnya secepat kilat.๐Ÿ˜ฌ


Sebelumnya, terima kasih yang sudah mensupport author.๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Jika ada typo mohon dimaklumi, ya๐Ÿคญ


Jangan lupa tinggalkan jejak, readers๐Ÿ˜˜


__ADS_2