Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Pertengkaran


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


..."Ini bukan salah kamu, tetapi salahku yang mudah menaruh harapan pada orang yang tidak tepat."...


...-Azalia Atmadja-...


Tak terasa, sudah tiga hari Azalia dan Alham berada di Pulau Bunaken. Sejak dinner mereka waktu itu, Azalia terkesan menghindari Alham.


Seperti pagi ini, Azalia terlihat keluar dari kamarnya menggunakan gaun putih selutut, juga sepatu tanpa hak dengan wanita senada. Ia juga menggunakan topi dan kacamata hitam untuk melindunginya dari sinar matahari. Rambutnya ia biarkan tergerai. Hari ini ia berencana untuk berburu oleh-oleh.


"Kamu mau ke mana?" tanya Alham saat akan keluar dari kamarnya.


"Bukan urusan kamu." Azalia berjalan cepat meninggalkan suaminya.


Ia berusaha terlihat kuat dan tegar, tetapi ia tetaplah wanita dengan jiwanya yang mudah rapuh. Ia tak ingin terjatuh dalam jebakan Alham, lalu pada akhirnya ialah orang yang paling menyedihkan kelak.


"Azalia, tunggu aku." Alham meraih tangan Azalia begitu ia berhasil menyamakan langkah.


Perempuan bermata bulat dengan netra cokelat itu menghempas tangan kekar milik Alham. "Jangan ganggu aku!" tegasnya.


"Kamu kenapa, sih? Aku ada salah sama kamu? Atau karena Sesil yang menelepon aku waktu itu? Kamu cemburu?"


Rentetan pertanyaan itu membuat Azalia ingin menangis dan berteriak bahwa benar ia cemburu. Namun, yang ia lakukan hanya terkekeh, mencoba menutupi semua kebenaran yang ada. "Aku? Cemburu? Untuk apa? Kamu berharap aku cemburu? Lebih baik buang pemikiran kamu itu karena itu bukan hak aku terhadap kamu!"

__ADS_1


Alham hanya bisa menatap sendu punggung Azalia yang kian menjauh darinya. Ia tak ingin memaksa Azalia. Sang istri seperti itu juga karena kebodohannya. "Aku akan tetap berusaha mendapatkan cinta kamu. Aku yakin, suatu saat kamu akan mencintai aku juga," gumamnya.


...***...


Sepanjang hari, Azalia terus berburu oleh-oleh. Sudah banyak yang ia beli, mulai dari makanan, sovenir, pakaian, dan banyak lagi yang lainnya. Sementara, Alham masih terus mengikutinya dari jauh, tak ingin melewatkan sedetik saja aktivitas sang istri.


"Kenapa dia sudah berburu oleh-oleh sekarang? Padahal, kan masih ada waktu lain," gumamnya.


Alham mendekat saat melihat istrinya kesusahan mengangkat barang-barang. "Biar aku saja," ucap Alham seraya mengambil alih barang dari tangan Azalia.


Azalia tak menolak karena memang ia sangat kesulitan. "Kenapa kamu beli semua ini? Padahal masih ada beberapa hari untuk kita kembali ke Jakarta," ucap Alham.


"Nggak apa-apa, pengen beli aja." Azalia belum ingin memberitahu Alham tentang keinginannya untuk segera kembali besok. Biarlah nanti malam ia sampaikan. "Kamu tidak ada yang mau dibelikan untuk kekasihmu?" sambungnya.


"Aneh kamu. Padahal kalau lagi liburan gini oleh-oleh itu penting tahu. Sudahlah, aku mau makan kamu kalau mau ikut saja."


Azalia langsung mencari resto terdekat dari tempat mereka berada. Ia tak menyangka bahwa akan secepatnya ini waktu berlalu. Padahal tiga jam ia berada di pusat perdagangan oleh-oleh.


Alham menurut saja apa yang dikatakan oleh sang istri. 'Mungkin ini bisa jadi kesempatan aku,' lirih Alham dalam hati.


***


Waktu terus berjalan, sang surya perlahan menepi. Azalia dan Alham telah tiba di penginapan. Saat ini, keduanya berada di kamar Azalia.

__ADS_1


Pria berhidung mancung tersebut meletakkan barang bawaan ke kasur. Ia lalu menatap heran pada sang istri yang mengambil koper dan mulai memasukkan pakaiannya. "Kamu mau ngapain?" tanyanya.


"Aku ingin segera kembali ke Jakarta. Besok kita pulang, kalau kamu mau di sini lebih lama, silakan." Azalia terus menata pakaiannya tanpa menatap sang suami yang tengah menahan kesal.


"Jadi ini alasan kamu membeli semua oleh-oleh ini? Aku yakin pasti ada alasan lain di balik keinginan kamu ini. Katakan padaku apa alasannya? Aku berharap dengan kita berada di sini, kita bisa memulai dari awal kehidupan rumah tangga ini. Separah itukah luka yang sudah aku goreskan di hatimu sampai kamu tak bisa melihat ketulusan aku sejak awal kota tiba di sini?"


Azalia menoleh, tatapannya tajam seolah ingin membunuh orang di depannya. "Kamu tanya separah apa luka yang kamu goreskan? Apakah kamu pikir aku hanyalah mainan kamu lantas bisa kamu permainkan sesukamu? Kamu tidak gila meminta untuk memulai dari awal setelah apa yang kamu lakukan?" Azalia terus menatap tajam.


Tangannya ia kepalkan dan berdiri tegap di hadapan Alham. Matanya mulai memanas. "Sejak awal kamu sudah menekankan bahwa aku hanyalah istri di atas kertas. Pernikahan ini pada akhirnya akan berak–"


"Nggak akan! Pernikahan ini nggak akan berakhir!" tegas Alham.


"Nggak akan berakhir? Lantas maksud kamu, kamu akan menikah lagi? Menikah lagi dengan iparmu sendiri setelah kita bercerai nanti? Atau akan menikah setelah kita pulang dari sini? Apanya yang tidak akan berakhir, Alham?! Apa?! Katakan padaku, apanya yang tidak akan berakhir." Suara Azalia melemah di akhir disertai dengan isak tangis yang menyayat hati.


Alham tertegun, ini pertama kali Azalia menyebut namanya secara langsung. Ia yang tak ingin lepas kendali dan terbawa emosi, mencoba menghela napas perlahan, lalu meraih tubuh Azalia ke dalam pelukannya. "Lepas! Lepaskan aku!" Azalia berkontak, tetapi tenaganya tak cukup kuat.


Pada akhirnya ia hanya menangis tanpa perlawanan. "Maafkan aku. Aku mohon, beri aku kesempatan. Aku janji, setelah kita pulang dari sini, perjanjian itu tidak akan berlaku lagi. Hubunganku dengan Sesil akan aku akhiri. Aku dengannya hanya untuk memastikan kembali perasaanku padamu. Kamu akan menjadi satu-satunya perempuan di hati aku, Azalia. Kumohon beri aku satu kesempatan, aku mencintaimu." Alham mencium dengan lembut puncak kepala perempuan yang masih terisak dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Kalau kamu ingin segera kembali ke Jakarta, besok kita pulang. Aku akan mengemas pakaianku," ucap Alham lembut.


'Ini bukan salah kamu, tetapi salahku yang mudah menaruh harapan pada orang yang tidak tepat,' batin Azalia, setelahnya ia pingsan di pelukan sang suami.


...To be continued .......

__ADS_1


__ADS_2