Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Long Distance Relationship


__ADS_3

...Happy Reading Guys🄰...


..."Katanya, rindu akan melebur setelah bertemu. Nyatanya, rindu ini semakin tak terkendali setelah bertemu."...


...--------------------------...


Dua jam berlalu, Azalia berhasil ditenangkan oleh Alham. Tapi, mereka Azalia masih betah berada di pelukan suaminya. "Sayang, kalau seperti ini, kapan aku packing pakaian?" tanya Alham.


Azalia bergeming dan justru semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami. Menghirup aroma maskulin yang membuat ia betah berlama-lama dengan posisi itu.


"Kamu berapa lama akan pergi?" Suara Azalia yang tak jelas membuat Alham terkekeh.


"Kamu ngomong apa, sih?" tanyanya.


Azalia mendongak dengan menyandarkan dagunya di dada sang suami, lalu bertanya, "Kamu berapa lama di sana?"


"Paling cepat tiga hari, paling lambat seminggu. Nggak apa-apa, 'kan?" Azalia mengangguk sebagai balasan.


"Kok, jawabnya gitu? Kamu nggak bakalan kangen sama aku? Rela aku pergi selama itu?" Alham pura-pura merajuk dan melepaskan pelukannya pada tubuh Azalia.


"Kamu lucu kalau gitu," celetuk Azalia seraya terkekeh. "Aku sebenarnya juga nggak mau kamu pergi. Tapi, ini tanggung jawab kamu. Aku bisa apa kalau Papa yang minta. Sekarang kita atur pakaian kamu."


Secepat itu Azalia melupakan masalah yang menimpa mereka beberapa saat lalu. Ia kemudian beranjak menuju lemari di susul oleh Alham di belakangnya.


Azalia tertawa melihat suaminya bagaikan anak ayam yang mengikuti induknya ke mana saja. "Kamu nggak capek ngikutin terus? Duduk, gih," titah Azalia menatap suaminya dari balik cermin yang terpasang di meja rias.


Alham menggeleng, lalu memeluk wanita yang telah mengisi ruang hatinya dengan erat. Wajahnya menyiratkan sendu. "Biarkan aku memelukmu. Lanjutkan aktivitas kamu," ucapnya.


"Loh, nanti aku kesusahan geraknya," bantah Azalia.


"Nggak, kok."


Azalia pasrah dan tak lagi menyahut karena percuma saja. Alham tak akan melepaskannya begitu saja. Ia mencoba bergerak walaupun sedikit susah dirasa dan itu berlangsung selama satu jam.


"Papa telepon." Alham menunjukan ponselnya tepat di depan wajah Azalia.


"Ih, jangan terlalu dekat juga," kesal Azalia.

__ADS_1


Alham terkekeh. "Bentar, ya."


Azalia mengangguk dan kembali sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya. "Apa Papa bilang, Mas?" tanya Azalia begitu melihat Alham selesai menelepon.


"Papa bilang, aku harus berangkat jam empat ke bandara. Masih ada waktu sejam lagi untuk siap-siap," jawab Alham.


"Ya, sudah. Sekarang kamu mandi, aku akan ke dapur untuk menyiapkan makanan. Setidaknya kamu harus makan sebelum berangkat."


"Baiklah."


Alham langsung masuk ke kamar mandi. Sementara, Azalia menuju dapur sesuai perkataannya.


...***...


Bandara akan menjadi saksi atas perpisahan Azalia dan Alham. Seolah ada awan mendung yang siap menjatuhkan hujan. Alham tampak berat meninggalkan sang istri walaupun demi pekerjaan.


Hati siapa yang tak berat, setelah melewati sekian purnama mereka harus berpisah jua untuk sementara waktu. Tentu ada rindu yang akan meluap-luap meminta untuk menguap.


Air mata yang luruh membentuk garis lurus dari sudut mata Azalia menandakan ia benar-benar telah mencintai suaminya, tetapi enggan untuk mengungkapkan. "Jaga kesehatan di sana. Kabari aku kalau sudah sampai," lirih Azalia.


"Pasti. Kamu juga, ya. Nanti kamu jangan tinggal di rumah sendirian, aku khawatir. Aku nggak akan lama, jangan nangis." Tangan Alham terulur menghapus lelehan bening yang merembes dari sudut netra cokelat milik Azalia.


...***...


Baru beberapa jam berpisah, Azalia merasakan kesepian yang teramat. Gigil kian menusuk, tetapi dihiraukan karena resah kian membuncah tatkala belum mendapatkan kabar dari sang suami.


Ia paham, perjalanan ke Belanda tidaklah membutuhkan waktu sedikit. Akan tetapi, ia mulai masuk dalam labirin rindu yang entah sejak kapan tercipta dan mungkin saja akan ada api cinta yang membara seolah tak ingin padam.


Malam semakin larut, Azalia belum bisa memejamkan matanya walaupun semenit. Ia terus melihat ponselnya, tetapi belum juga ada tanda dari pujaan hatinya. Ya, Azalia telah mengakui bahwa hatinya telah tertambat pada mantan dosennya.


Kamar bernuansa putih abu-abu milik suaminya menjadi saksi bahwa ia telah dikuasai rindu yang menggebu-gebu ingin bersua.


Pagi menjelang, denting dawai yang berasal dari benda pipih di samping membuat Azalia harus bangun. "Halo," sapanya dengan suara khas bangun tidur.


"Pagi, Sayang. belum bangun? Aku ganggu, dong."


Suara yang teramat familier itu seketika membuat Azalia membuka mata dengan segera. Suara yang semalam teramat ia rindukan. "Kenapa baru ngasih kabar?" rajuknya.

__ADS_1


"Angkat panggilan videonya."


Akhirnya, rasa yang semalam membuncah kini sedikit punah. Banyak yang ingin Azalia katakan, tetapi lidahnya terasa kelu hanya sekadar mengatakan rindu. "Bangun tidur saja masih kelihatan cantiknya. Udah gitu, kayaknya nyaman banget di tempat tidur." Kalimat gombalan dari Alham membuat Azalia tak bisa menahan rona merah bersemu, serta senyum yang terus ingin terkulum.


"Maaf, ya. Aku baru ngabarin karena baru sampai juga," ucap Alham.


"Nggak apa-apa, Mas."


Mentari pagi kini menjadi saksi akan dua orang yang sama-sama memasuki labirin penuh cinta. Awan mendung yang semalam menyelimuti hati Azalia kini telah punah seketika hanya dengan obrolan hangat antar keduanya.


"Sayang, aku baru beberapa jam berpisah rasanya sudah rindu. Apa kamu merindukan aku juga?"


Bagai ada ribuan kupu-kupu yang memenuhi kamar tempat Azalia berada sekarang. Perkataan Alham mampu menyemarakkan hatinya yang pernah sepi.


"Aku juga. Cepat pulang," lirih Azalia.


Gayung bersambut, jiwa Alham pun menyemarakkan kegembiraan serta kebahagiaan tak terkira. Hati yang semula ia kira sulit diketuk, nyatanya kini mulai terbuka perlahan. Sebuah keyakinan tersemat dalam harapan yang selama ini dipanjatkan lewat untaian doa.


...***...


Dua hari berlalu begitu cepat, selama itu pula Azalia dan Alham selalu berkabar. Senyum Alham terus terkulum seolah tak ingin padam meskipun malam semakin larut.


"Sayang, kamu tidur, ya. Di sana sudah larut banget, 'kan? Apalagi kamu semalam katanya kurang enak badan." Alham khawatir dengan kesehatan sang istri yang sering mengeluh sakit.


Bukannya mengiyakan, Azalia justru menangis. Ia melirih, "Cepat pulang. Aku tidak bisa lama lagi menahan rindu ini." Rindu yang mengungkungnya selama dua hari benar-benar menyiksa.


"Sabar, ya. Pekerjaan Mas akan selesai, kok. Mas juga merindukan kamu, Sayang." Alham mulai merubah panggilannya.


Detik waktu yang terus berdetak menjadi pengisi ruangan yang terasa hampa karena sang pujaan berada jauh dari dekapan. Tak sabar rasanya meluapkan rasa yang telah merambat mengisi palung hati.


Kerlap gemintang memudar, bulan sabit yang sempat menggantung tertutup awan mendung. Tak butuh waktu lama, rintik hujan terdengar. Jatuh pasrah membasahi bumi.


Azalia telah tertidur karena kantuk yang menyerangnya sangat kuat. Sementara, Alham pun ikut hanyut dalam buaian mimpi di tengah kerinduan yang menerjang.


...to be continued.........


Tetap stay di cerita ini, ya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak🄰


__ADS_2