Perempuan Di Ujung Senja

Perempuan Di Ujung Senja
Sesama Indonesia


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


Amsterdam merupakan sebuah kota di Belanda yang menyandang status sebagai satu-satunya kota yang berada di bawah permukaan laut, sehingga berdampak terhadap penataan kota yang lebih didominasi dengan kanal yang panjang, dimana panjangnya lebih dari 100 km. Selain itu banyak bangunan jembatan di sekitar Amsterdam.


Terdapat tiga kanal utama yang ada di Kota Amsterdam yang mendapatkan status sebagai Situs Warisan Dunia dari Unesco, yakni Herengracht, Prinsengracht, dan Keizersgracht. Kondisi tersebut pada akhirnya berpadu dengan arsitektur bangunan klasik yang berada di tepian kanal menjadi sebuah pemandangan yang eksotis, nan romantis.


Dam Square menjadi tempat yang dikunjungi Rafka sore ini. Banyak pengunjung baik lokal maupun internasional berada di sana.


Sudah sebulan ia di sini dengan rutinitas menjadi seorang mahasiswa yang melanjutkan S2 di Vrije Universiteit Amsterdam. Ia tak lagi asing dengan Belanda, terutama untuk Kota Amsterdam sendiri karena ia pernah mengenyam pendidikan di bangku SMP di kota tersebut.


'Seandainya saja Azalia ada di sini. Akankah ia senang?' Rafka masih belum bisa melupakan cinta pertamanya. "Lihatlah, Li. Ragaku saat ini berada di negeri orang, tetapi hatiku seolah masih tertinggal di tanah air. Akankah kedatanganku ke sini hanya akan berakhir sia-sia karena tak bisa melupakanmu?" lirih Rafka sambil menatap langit Kota Amsterdam.


Tak ingin larut dalam perasaan sedih. Rafka melangkah menuju salah satu resto yang menyajikan makanan khas Eropa. Sudah lama ia tak mencicipinya lagi. Royal98 menjadi tempat pilihannya.


Royal98 menyediakan tempat outdoor sehingga pengunjung masih tetap bisa menikmati suasana luar, terlebih saat ini adalah sore hari dan banyak orang dengan aktivitas masing-masing di tempat tersebut.


Seorang pelayan perempuan dengan seragam khasnya datang mendekati Rafka ketika ia membuka buku menu. "Hallo, Meneer. Wat wilt u bestellen?" tanya pelayan tersebut menggunakan bahasa Belanda.


("Halo, Pak. Mau pesan apa?")


"Ik wil Pappardelle al Ragù bestellen bij Manzo en gewoon water drinken," jawab Rafka.


("Saya ingin pesan Pappardelle al Ragù di Manzo dan minumnya air putih saja,")


"Goed, wacht alstublieft, Meneer." Pelayan tersebut kemudian berlalu meninggalkan Rafka.


("Baik, mohon menunggu, Pak.")


Rafka memilih untuk minum air putih sebab ia tahu, hampir semua minuman yang ada di luar negeri memiliki kadar alkohol, baik yang rendah mau tinggi.


Sembari menikmati suasana, Rafka mengambil ponselnya. Pertama ia lihat adalah senyum manis dari perempuan yang kini tak bisa ia raih. Selama di sini, ia terus menelan pil pahit dari getirnya kisah cinta bersama Azalia.


Ia menggeleng, lalu mencari kontak sang bunda. Tiba-tiba ia merasa rindu kepada keluarganya. Saat ini adalah pukul 16:28 waktu Amsterdam, Belanja. Seharusnya di Indonesia saat ini adalah pukul 21:28 WIB.


Masih bisa untuk Rafka menghubungi mereka, semoga mereka belum tidur.


Tuuut! Tuuut! Tuuut!


"Assalamu'alaikum, Bun," saa Rafka begitu panggilan videonya tersambung dan menampilkan wajah sang bunda.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu, Ka?" Suara yang begitu lembut sangat menentramkan jiwa Rafka.


Ia tersenyum, lalu berkata, "Rafka baik, Bun. Gimana kabar kalian di sana? Sehat, 'kan?"


"Alhamdulillah, sehat."


"Aku nggak ganggu waktu istirahat Bunda, 'kan?" tanya Rafka.


"Tidak, kok. Kebetulan Bunda dari dapur terus sekalian lihat Cahya di kamarnya," jawab Bunda Raya.


"Ayah sudah tidur?"


"Kamu kayak nggak kenal Ayah saja. Jam segini mana ada Ayah molor. Bunda sampai kesel jadinya. Oh, iya, Om Darwin gimana?"


"Om Darwin baik, Bun. Ya, sudah. Bunda istirahat saja dan Bund coba ancam Ayah biar nurut kata Bunda." Rafka ingin mengerjai ayahnya.


Tanpa mereka sadari orang yang menjadi topik mereka tengah berada di pintu kamar sambil bersedekap. Melihat rencana apa yang akan dilakukan oleh anak dan istrinya.


"Ancam gimana maksud kamu?" Bunda Raya benar-benar tak paham.


"Ya ... mungkin nggak usah dikasih jatah." Rafka tertawa terbahak-bahak dengan idenya. Sementara, sang bunda masih mencerna dengan baik.


"Wow, Ayah bertanduk. Duh, jadi ngeri. Bunda, hati-hati malam ini. Kalau bisa persiapkan balsem biar besok nggak encok." Rafka kembali tertawa terbahak-bahak.


"Rafkaaa!" seru Ayah Azka membuat Bunda Raya menatapnya bingung.


Rafka langsung mematikan sambungan ponselnya. I merasa sedikit terobati dari rasa sakit hatinya. "Menggoda Ayah ternyata bagus juga," lirihnya.


Makanannya sudah datang dari tadi, tetapi ia memilih untuk berbicara dengan bundanya. Kini, saatnya ia untuk makan.


***


Langit mulai menguning, Rafka masih betah berada di tempatnya. Ia fokus pada ponselnya sampai suara seseorang mengalihkan atensinya.


"Pardon, mag ik hier zitten? De andere stoelen zijn vol."


("Permisi, bolehkah saya duduk disini? Kursi yang lain sudah penuh")


"Oh natuurlijk. Alsjeblieft." Rafka mempersilakan orang tersebut.

__ADS_1


("Oh, tentu saja. Silakan.")


Rafka kembali fokus pada ponselnya, ia berselancar di aplikasi berwarna hijau. Jarinya menekan sebuah room chat bersama Azalia. Ia tersenyum melihat bagaimana ia menggoda Azalia hingga perempuan itu tersipu. Hal itu terlihat dari emotikon yang selalu ada di akhir pesan.


"Sekarang, mungkin kamu sudah bahagia," gumam Rafka yang tak sengaja didengar oleh laki-laki di depannya.


"Maaf, kamu orang Indonesia?" tanya orang itu.


"Iya. Orang Indonesia juga?" tunjuk Rafka.


"Iya. Wah, nggak nyangka bisa ketemu sesama Indonesia di sini. Walaupun memang sudah banyak WNI di sini. Oh, iya, kenalkan aku Ilyas." Tangan laki-laki itu terulur untuk berjabat tangan.


"Rafka." Keduanya saling bersalaman. "Kelihatannya kamu lebih di atas saya. Mungkin Bisa saya panggil Abang?" tanya Rafka.


"Baiklah, boleh. Saya tak masalah, justru saya suka dengan panggilan itu. Mengingatkan saya pada Indonesia."


Keduanya berbincang-bincang santai di bawah langit senja kota Amsterdam tanpa ada rasa canggung sedikitpun, seolah keduanya pernah mengenal sebelumnya.


...to...


...b...


...e...


...continue...


................


*Dahlah, sesuai atau tidak latar negara Belanda tergantung ara readers, deh.. Author sudah berusaha semaksimal mungkin untuk itu🥺


Terima kasih yang sudah support author 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Selamat menjalankan ibadah puasa untuk beberapa hari ke depan🤗🥰


Nb : Pappardelle al Ragù di Manzo (Pasta Ragu Daging Sapi Abon)


__ADS_1


__ADS_2