
...Happy Reading 🥰...
..."Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan. Ikhlaskan dia kalau tidak berjodoh dan mulailah menata kehidupan yang lebih baik."...
...-Bunda Raya-...
Tiga hari setelah acara lamaran Azalia. Rafka masih suka termenung dalam kamar. Ia terlihat sangat menyedihkan dengan bawah mata yang tempak menghitam dan sedikit bengkak. Ia pun hanya bicara seperlunya saja. Hati dan bibirnya seakan terkunci untuk merespon sesuatu di dekatnya.
Saat ini, ia terduduk di salah satu kursi yang ada di balkon kamarnya. Matahari pagi bersinar dari ufuk timur. Kehangatannya mengiringi langkah setiap orang, tetapi tak mampu menghangatkan hati Rafka yang mungkin saja telah beku.
Pandangannya terarah pada burung-burung yang terbang bebas di udara. Ingatannya kembali membawanya kembali pada kenangan manis bersama Azalia. Masih terekam jelas bagaimana ia bisa patuh pada gadis berparas ayu itu sewaktu di toko kue.
Ia terkekeh dengan wajah kesal Azalia. Wajah yang selalu membuatnya candu akan segaris lengkung di bibir gadis itu. Namun, sedetik kemudian air matanya mengalir. Ia mencoba menahan rasa sesak yang kembali hadir. Tangan sebelah kanannya memukul-mukul dadanya perlahan.
"Kenapa kamu tega sama aku, Li?" lirihnya seraya menunduk dengan tangan yang masih terus memukul dadanya. "Kenapa harus sesakit ini yang aku rasakan?" Kembali ia melirih.
Siapapun yang melihatnya pasti akan ikut menangis. Rafka tampak kacau. Ia tak lagi pergi ke perusahaan. Beruntung, ayahnya memaklumi karena pernah merasakan masa muda.
Rafka kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari samping. Saat ia merasakan tangan itu mengelus kepalanya dengan lembut, ia langsung menumpahkan rasa sesaknya lewat tangisan pilu menyayat hati bagi yang mendengarnya.
"Kamu harus sabar, Nak. Jangan seperti ini, kalau kalian berjodoh, pasti akan bersama suatu saat nanti." Bunda Raya ikut menangis melihat kondisi putranya.
"Apa aku tak pantas dicintai, Bun? Katakan, bagian mana dari Rafka yang tak pantas itu. Rafka ingin memperbaiki semuanya, Bun," gumam Rafka terbata-bata, tetapi masih jelas di telinga bundanya.
"Kamu pantas untuk dicintai, Ka. Tapi, mungkin kalian tidak berjodoh. Lupakan Azalia, mulailah hidup baru yang lebih baik," nasehat Bunda Raya.
"Apa Azalia menelepon Bunda? Ponsel Rafka mati dari beberapa hari lalu dan Rafka tidak mengisi dayanya." Ia mendongak menempelkan dagunya di perut sang bunda.
"Bunda sudah memblokir nomor dia sesuai keinginan kamu waktu itu. Semua orang di sini juga sama. Apa kamu mencintainya?" Rafka mengangguk.
__ADS_1
"Ingin memperbaiki hubungan kalian?" Rafka kembali mengangguk. "Lalu, kenapa kamu tidak mendengarkan penjelasan dia? Kenapa kamu malah pergi dan seperti menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Kita tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Selama ini kamu selalu bersama Azalia," tutur Bunda Raya.
Kamu tahu bagaimana sifat dan wataknya. Kamu yang bilang sendiri, dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Lalu, kamu datang ke kehidupan dia dengan sebuah janji pada diri kamu untuk membahagiakan dia. Saat itu kamu bilang dia menangis memohon untuk mendengar penjelasannya. Kamu mencintai dia, tak adakah kamu melihat bagaimana tatapannya padamu saat itu? Adakah kamu melihat sebuah kebohongan di sana?"
Rafka diam dan memikirkan kembali bagaimana Azalia saat itu. Wajah gadis ayu itu dipenuhi air mata yang tak pernah lagi ada setelah bersamanya. Hanya itu yang ia lihat.
Rafka lalu menggeleng sebagai bundanya. Ada helaan napas berat terdengar di telinga Rafka. "Rafka, kita semua tak akan luput dari sebuah kesalahan. Tingkat kesalahan tiap orang juga berbeda. Begitu juga rasa kecewa. Bunda tahu kamu kecewa dan sakit hati. Bunda takan memaksa kamu untuk kembali padanya. Tapi, kamu harus bangkit. Silakan kamu perjuangkan dia kalau masih ada cinta di hati kamu, sebelum terlambat. Bunda tak ingin anak-anak Bunda seperti ini. Cinta itu menguatkan, bukan melemahkan. Ikhlaskan dia kalau tidak berjodoh dan mulailah menata kehidupan yang lebih baik."
Rafka diam memikirkan semua perkataan bundanya. Setelahnya, ia langsung melepaskan pelukan di perut sang bunda dan berlari mencari ponselnya. Ia akan mencoba untuk berbicara dengan Azalia. Mendengarkan penjelasan pemilik hatinya.
Ia langsung mengisi daya begitu ponselnya ditemukan. Satu persen tertera di layar hitam tersebut. Tak ingin membuang waktu, ia langsung mengaktifkan ponsel tersebut.
Beberapa detik kemudian, banyak pesan masuk dan memenuhi layar pemberitahuan. Matanya fokus menatap nama-nama pengiriman pesan. Jarinya langsung mengetuk pesan dari orang yang mengisi hatinya.
Rentetan pesan ia baca dengan seksama.
Calon Makmum :
[Dengarkan penjelasan aku dulu]
[Sayang, aku mohon]
Itu adalah pesan yang dikirim oleh Azalia lima hari yang lalu. Tepat hari di mana kejadian itu ia lihat. Jarinya kembali menggulir pesan dari Azalia.
[Rafka, aku akan dinikahkan. Aku tidak mau menikah dengan orang lain selain kamu. Aku tidak mengkhianati kamu, Ka.]
[Rafka]
[Sayang]
__ADS_1
Banyak pesan yang hanya bertuliskan namanya dan sayang. Semuanya diakhiri dengan emotikon menangis dan menangkup tangan.
Hingga ia melihat pesan terakhir berupa pesan suara. Itu dikirim tiga hari yang lalu. Dengan tangan yang bergetar dan dada bergemuruh hebat, ia menguatkan diri mendengar pesan suara itu.
"Sayang ... kamu sedang apa? Apakah kamu rindu padaku seperti aku yang merindukanmu di sela-sela perihnya luka hati ini?" Rafka menangis merindukan pemilik suara tersebut.
Rafka tahu jika Azalia tengah menahan tangis. Itu terdengar dari suaranya yang bergetar. Ia kembali melanjutkan. "Sayang ... aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan padamu tentang kejadian itu agar kamu percaya sama aku. Sudah dua hari ini aku mencoba menghubungi kamu dan keluargamu, tetapi hasilnya nihil. Semua seperti memutus akses komunikasiku. Tapi, tidak apa-apa. Mungkin aku memang pantas dikucilkan. Sejak kecil aku memang sudah dikucilkan. Aku tidak menyesal mengenal kamu. Semenjak kamu hadir dalam hidup aku, semuanya berubah. Aku bisa merasakan apa itu kebahagiaan. Tapi sayang, itu hanya sebentar." Terdengar Azalia terisak.
Sayang, tak inginkah kamu memperjuangkan aku? Benarkah cintamu tulus untukku? Tolong perjuangkan aku jika iya. Kamu tahu, hari ini tepat jam sembilan pagi. Aku akan dilamar oleh laki-laki yang tidak aku cintai. Aku harus bagaimana? Haruskah aku menerima lamaran darinya? Atau aku tolak saja? Aku mencintaimu, Rafka. Sangat mencintaimu. Aku ... aku akan menunggu kamu. Jawabanku tergantung kamu. Aku cinta kamu, Rafka Sanjaya. Kemarin, hari ini, besok, dan seterusnya akan mencintai kamu." Pesan suara itu telah berakhir dengan isakan yang terdengar dari Azalia.
Rafka menangis sejadi-jadinya, cintanya telah dimiliki oleh orang lain. Ia tak hadir memperjuangkan cintanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena terlalu egois dan menutup telinga untuk mendengar penjelasan Azalia.
"Tuhan, kenapa harus aku? Kenapa? Apa salahku, Tuhan?" Ia berteriak seraya meninju dinding kamarnya. Setelahnya, ia jatuh tak sadarkan diri.
Sang Bunda yang sempat takut dengan tindakan Rafka langsung panik dan berteriak meminta pertolongan. Di rumah itu hanya ada dia, Rafka, dan asisten rumah tangga.
Segera mereka membawa Rafka yang tak sadarkan diri ke rumah sakit dengan Bunda Raya yang menyetir. Air matanya terus mengalir melihat kondisi anaknya. Begitupun dengan asisten rumah tangganya. Mereka begitu menyayangi Rafka karena telah bekerja dari Rafka masih kecil.
...to...
...b...
...e...
...continue...
...............
...🦋Marhaban ya Ramadhan🦋...
__ADS_1
...❣️Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1444 H❣️...